
Happy reading guys...
"Papa!" Seru Erina saat melihat papanya keluar dari mobil. Ia lantas menghampiri sang papa dan memeluknya.
"Er, syukur alhamdulillah kamu sudah bisa bebas nak." Papa Heri balas memeluk Erina dengan posesif.
"Iya pa." Balas Erina. Papa Heri melepaskan pelukan itu dan menatap Erina dengan serius.
"Kenapa papa liatin Erina kayak gitu?" Tanya Erina yang merasa aneh dengan tatapan papanya itu.
"Ada yang harus papa bicarakan sama kamu Er." Papa Heri lalu menoleh pada Albi yang mematung sambil memperhatikan adegan teletabis ala-ala kedua ayah dan anak itu.
"Dia Albi, temen Erina pa, dia bantuin Erina buat nemuin pelaku pembunuhan Ameera." Jawab Erina saat menangkap sebuah kejanggalan di wajah papanya tentang Albi.
Albi mengangguk sopan sambil memperlihatkan seulas senyum.
"Baiklah, kita bicara disana." Papa menunjuk kursi teras yang tadi Erina dan Albi duduki.
"Bi, sini!" Erina melambaikan tangannya saat melihat Albi masih mematung di posisinya sedari tadi.
"Nggak apa-apa Er, kayaknya gue tunggu disana aja!" Albi menunjuk gerbang rumah Erina.
"Tidak apa, duduklah, kamu boleh mendengarkan cerita om. Om rasa kamu bisa membantu Erina keluar dari masalahnya." Tutur papa Heri sambil mengedikkan bahu pada kursi yang kosong. Albi mengangguk patuh.
"Baik om."
Lampu hijau dari calon papa mertua.
Albi tak segan mendekat dan bergabung dengan papa dan anak itu.
"Tadi papa bertemu dengan Sari." Satu kalimat yang papa Heri ucapkan mampu membuat Erina dan Albi terkejut. Nama itu adalah sumber permasalahan yang sedang mereka hadapi.
__ADS_1
"Papa serius? Terus gimana? Apa papa udah tau siapa anak papa itu dan dimana dia sekarang?" Tanya Erina dengan tak sabaran.
"Belum Er, Sari keburu kabur bersama temannya. Dan soal teror meneror itu, memang merekalah pelakunya. Mereka ingin membalas dendam pada papa." Tutur papa Heri, Erina menghela nafas kecewa karena pelakunya berhasil melarikan diri.
"Kenapa bisa kabur sih pa? Kenapa papa nggak bawa dia ke kantor polisi dan suruh dia ngaku kalau yang bunuh Ameera juga mereka!" Seru Erina dengan geramnya.
"Papa udah berusaha Er, tapi temannya itu menendang papa dan papa jatuh tadi. Dan mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur."
Erina menyugar rambutnya, hilang lagi kesempatan untuk dia menemukan siapa pembunuh Ameera. Albi masih menyimak pembicaraan mereka dengan baik.
"Tapi Sari sempat berkata kalau anak papa dan Devi bersekolah di sekolahan yang sama denganmu Er!" Erina yang hampir frustasi, beralih menatap netra papanya dengan tatapan yang sulit di artikan. Begitupun dengan Albi, dia terkejut dengan fakta yang baru saja di beberkan papa Heri.
"Apa? Adik tiri Erina juga sekolah di Bina Muda? Tapi siapa pa? Siapa adik Erina itu?" Tanya Erina meminta penjelasan lebih.
"Papa juga belum tau Er, Sari keburu kabur tadi." Jawab papa Heri.
"Sepertinya mereka mengajak kita bermain teka-teki." Ucap Albi tiba-tiba. Anak dan ayah itu kompak menoleh ke arahnya.
"Kami juga sedang mencurigai salah satu teman kami di sekolah om. Dia adalah Violla, dan ibunya. Apa mungkin mereka adalah tante Devi dan anaknya yang sedang om cari-cari?" Terang Albi dengan segala keyakinannya.
"Itu bisa saja terjadi. Kita harus mastikan apa ibunya Violla itu benar Devi atau bukan." Ucap papa Heri. Erina berharap jika permasalahannya ini akan segera menemui titik terang.
***
Setelah melalui proses diskusi yang panjang, akhirnya Albi dan Erina ikut serta mengunjungi rumah Ameera bersama papa Heri.
Dengan alasan utama mereka adalah untuk berterimakasih karena pak Nandi karena telah mau mencabut tuntutannya terhadap Erina, juga ada niat terselubung untuk membuktikan jika mamanya Violla itu Devi atau bukan.
Untung saja ini adalah akhir pekan, dan pak Nandi kebetulan sedang berada di rumah.
"Saya mengucapkan terimakasih banyak kepada pak Nandi karena telah mencabut tuntutan terhadap putri saya Erina. Saya tidak tau bagaimana nasib putri saya ini jika bapak tidak mencabut tuntutannya. Bahkan saya sudah membawa pengacara handal untuk menangani kasus ini namun hasilnya nihil." Tutur papa Heri bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Pak Nandi nampak menghembuskan nafas sebelum berujar.
"Itu berkat nasihat dari istri saya, berterimakasih lah kepadanya karena dia yang telah membuka pikiran saya. Lagi pula, ini semua sudah terjadi, saya tidak ingin masa depan anak lain hancur, cukup putri saya yang hancur. Dan mungkin keluarga anda sudah mengetahui hasil otopsi putri saya. Saya harap keluarga anda bisa tutup mulut dan jangan sampai rahasia ini sampai tersebar." Ucap ayahnya Ameera itu panjang lebar.
Erina dan Albi hanya diam saja mendengarkan percakapan formal antara dia pria paruh baya itu. Mata Albi tak bisa diam, dia terus saja jelalatan menyapu setiap sudut ruang tamu untuk mencari foto ibu tirinya Ameera. Siapa tau papanya Erina bisa mengenali orang yang mereka duga sebagai Devi hanya dengan melihat fotonya.
Namun, Albi tak bisa menemukan satu foto mamanya Violla disana. Apa iya Albi perlu mengobrak-abrik kamar utama rumah ini untuk menemukan foto mamanya Violla? Tidak mungkin kan? Yang ada Erina, Albi dan papanya langsung di depak keluar dari sini dengan tidak terhormat.
Albi pernah melihat beberapa kali bagaimana wajah ibu tirinya Ameera itu saat ke sekolah untuk pertemuan orang tua murid ataupun pengambilan rapot, tapi jika hanya dengan menjelaskannya itu tidak cukup. Mana mungkin papanya Erina bisa mengetahui mamanya Violla itu adalah Devi atau bukan hanya dengan Albi menyebutkan ciri-cirinya saja.
"Baik, saya sangat paham pak. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak. Dan saya juga ingin mengucapkan terimakasih kepada istri anda. Apakah saya bisa bertemu dengan beliau?" Nah, bagus sekali ide papanya ini. Dengan bertemu langsung dengan mamanya Violla, papa Heri pasti akan mengetahui benarkan dia adalah Devi atau bukan?
"Sayang sekali, istri saya dan Violla sedang mengunjungi rumah ibu mertua. Mungkin lusa saat Violla akan melaksanakan ujian mereka baru pulang." Ucap pak Nandi.
Erina dan papa Heri menghela nafas kecewa, ternyata mereka belum berkesempatan untuk bertemu dengan mamanya Violla. Albi berencana untuk mencari foto mamanya Violla di media sosial milik Violla. Siapa tau saja dia bisa menemukan petunjuk disana.
"Tapi om percayakan kalau bukan Erina yang udah bunuh Ameera?" Tanya Erina ragu-ragu. Takut papanya Ameera itu merasa tersinggung atau apa.
"Sudahlah, terlepas dari itu semua, yang terpenting kamu bebas sekarang." Jawab pak Nandi yang sebenarnya tidak menjawab pertanyaan Erina.
"Tapi om tenang aja, kami masih terus berusaha untuk mencari siapa orang yang udah perkosa dan bunuh Ameera." Tanpa di duga, perkataan Albi malah memancing kemarahan pak Nandi.
"Saya meminta polisi menutup kasus ini karena saya tidak ingin ada pihak yang mengungkit-ungkit lagi tentang kematian Ameera. Jadi sebaiknya kalian berhenti mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Ameera. Paham!" Sentak pak Nandi tiba-tiba marah. Padahal sikapnya beberapa waktu yang lalu masih bersahabat.
Albi dan Erina sampai tercengang mendapat bentakan itu. Mereka pikir pak Nandi akan mendukung apa yang akan mereka lakukan, tapi ternyata tidak. Dia tak suka jika kematian Ameera di ungkit-ungkit. Entah apa alasannya.
"Baik om, saya paham. Maaf kalau misalnya om tersinggung dengan perkataan saya." Ucap Albi bersungguh-sungguh.
"Baiklah, apa ada hal lain yang ingin kalian sampaikan lagi?" Pertanyaan pak Nandi terdengar seperti mengusir.
Mereka bertiga cukup tau diri dan akhirnya mereka pamit untuk pulang meskipun masih tak menemui titik terang.
__ADS_1
____________________
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca guys...