THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Pencarian dimulai


__ADS_3

"Gue bukan Ameera." Perkataan Erina membawa Devan membali ke dunia nyata.


"Hah?" Devan menarik tangannya dari wajah Erina, jadi malu sendiri akibat kehaluannya itu.


"Sory Er, gue pikir tadi loe itu Ameera."


Devan memang baik, meskipun dia tau Erina menjadi tertuduh, namun dia masih bisa bersikap baik kepada dirinya. Tidak seperti mereka yang malah semakin memojokkannya.


"Nggak apa-apa kok. Loe yang sabar ya Dev." Ucap Erina prihatin. Devan hanya mengangguk sambil tersenyum. Meskipun Erina sendiri tau kalau itu senyum penuh kepalsuan.


Merekapun berjalan beriringan menuju kelas karena sebentar lagi kelas akan segera di mulai.


"Loe nggak marah sama gue?" Tanya Erina di tengah langkah mereka.


"Kenapa harus marah? Kalau dengan marah bisa balikin lagi Ameera, gue pasti bakalan jadi orang pertama yang marah sama loe." Jawab Devan.


Astaga!


Tegar sekali hati laki-laki itu, beruntungnya Ameera bisa dicintai oleh laki-laki sesempurna Devan. Meskipun kini Ameera telah tiada, namun sepertinya kadar cinta Devan kepada sahabatnya itu tidak akan pernah berkurang.


Sikap Devan yang seperti ini yang justru membuat Erina merasa bersalah. Disaat orang-orang dengan terang-terangannya menuduh Erina, Devan seolah menutup mata kalau Erinalah pelakunya.


Mereka berbelok arah saat tiba di depan kelas. Pemandangan itu tentu saja menjadi sorotan bagi setiap murid yang sudah terlebih dulu ada di sana, terutama Violla. Dia seperti menemukan celah untuk kembali memojokan Erina. Seharusnya setelah Ameera tiada, Devan bisa ia miliki, namun sepertinya prediksinya itu meleset, justru kini muncul saingan baru untuk dirinya bisa dekar dengan Devan.


"Ehh guys, liat deh aja yang lagi modus tuh! Belum kering kuburannya Ameera sekarang dia udah mepet-mepetin pacarnya Ameera. Keliatan banget kan dia itu mau nyingkirin Ameeranya." Ucap Violla yang berhasil membuat Erina menghentikan langkahnya.


Dia menatap Violla dari posisinya berdiri dengan tatapan membunuh. Jika Erina adalah benar-benar seorang penjahat, bukan Ameera yang jadi korbannya tapi si Violla itu yang akan Erina bunuh.


Kebersamaan Erina dan Devanpun menjadi pusat perhatian Albi, serasa ada sebuah tangan tak kasat mata yang mencekik lehernya saat mereka bersanding seperti itu. Dadanya sesak.


"Loe ngomong apa sih La?" Ucap Devan. Entah dia benar-benar tak mengerti atau pura-pura tak mengerti apa yang Violla katakan.


"Si pembunuh itu kan suka sama loe Dev! Jadi buat bisa deket sama loe dia bunuh Ameera biar dia nggak ada saingannya lagi. Loe pasti paham kan maksud gue? Secara loe kan salah satu murid pinter di kelas ini." Violla berkoar lagi.


Wajah Erina bersemu merah saat Violla mengatakan kalau Erina menyukai Devan, di depan mata kepala orangnya langsung.


Astaga! Malu setengah mati yang Erina rasakan, ingin sekali ia lenyap saja dari muka bumi ini. Apalagi saat sadar kalau Devan sedang memperhatikannya, Erina semakin salah tingkah.


Via yang sedari tadi hanya diam mendengarkan ocehan Violla, kini sudah muak dan tak tahan lagi untuk memberinya pelajaran.


"Heh Violla, jaga mulut loe itu ya! Apa itu mulut mau gue kaput biar loe nggak bisa bicara lagi seumur hidup loe?" Via beranjak dari duduknya kemudian menghampiri bangku Violla.


"Apa loe? Gue nggak takut ya sama ancaman murahan loe itu." Violla ikut beranjak dan menatap Via tak kalah tajam.


"Loe belum pernah nyobain sepatu gue kalau dipakein mayones? Mau gue kasih tau gimana rasanya? Mau itu mulut gue jejelin hah?" Via bersiap melepaskan sepatu yang ia kenakan, lalu mengeluarkan mayones dari saku seragamnya.

__ADS_1


Ehh, dia benar-benar mau melakukan ancamannya itu ya? Dan sejak kapan Via membawa-bawa mayones ke sekolah?


Erina segera menghampiri mereka, kemudian menghentikan kegilaan Via itu.


"Udah beb, nggak usah kotorin tangan loe buat kasih dia pelajaran!" Seru Erina.


"Tapi dia udah bener-bener keterlaluan beb. Gue udah gedeg banget sama ini orang dari dulu, tapi Ameera selalu aja halang-halangin gue buat kasih dia pelajaran."


"Ayo, kenapa berhenti? Apa loe juga takut ya sama si pembunuh ini? Hahaha." Violla tertawa sumbang.


Dan itu berhasil membuat emosi Erina terpancing lagi.


"Udah gue bilang berapa kali kalau bukan gue yang bunuh Ameera. Hah. Udahlah, mau gue bicara sampai mulut gue berbusa pun loe nggak akan pernah percaya. Jadi percuma gue jelasin sama kalian yang nggak pernah mau percaya sama kebenaran yang ada. Dan loe, seharusnya sekarang lagi berkabung atas kematiannya Ameera, tapi kenapa loe malah masuk sekolah dan terlihat sangat bahagia. Gue kok jadi curiga kalau loe sana nyokap loe yang sebenernya bunuh Ameera." Ucap Erina dengan nada tinggi, kemarahannya benar-benar meluap sekarang. Dan berhasil, Erina berhasil membalikkan perkataan Violla.


Semua orang tercengang mendengar penuturan Erina. Termasuk Albi dan Devan.


Violla mengambil ancang-ancang, tak terima jika dituduh seperti itu. Dia sendiri merasa tak terima saat dirinya di tuduh, tapi kenapa dia senang sekali menuduh-nuduh orang lain tanpa tau fakta yang sebenarnya. Entahlah!


Sejurus kemudian, tangan Violla berhasil mencengkam rambut Erina yanh tergerai. Dia menarik rambut itu kuat-kuat.


"Awww." Erina mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya yang sakit. Violla benar-benar keterlaluan, sekarang dia sudah berani main fisik.


"Heh, ngapain loe tarik-tarik dia? Loe bener-bener minta di hajar ya!" Via mendorong tubuh Violla hingga perempuan itu terjungkal dan menimpa teman sebangkunya.


"Aww."


"Udah Vi, Er. Cukup. Dan loe La, loe nggak ada kapok-kapoknya ya udah di hukum sama kepsek juga. Loe mau habis ini loedi suruh bersihin gudang sekolah? Hah?"


Devan memilih untuk duduk di bangkunya tanpa ingin mendengar perdebatan itu, semakin mereka mengungkit tentang kematian Ameera, semakin hatinya terasa sakit.


"Gue mohon sama loe La, berhenti buat komentar ini itu. Biarin Erina membuktikan kalau dia nggak bersalah dalam kasus ini." Ucap Albi penuh penekanan.


"Selamat pagi semua!"


Suara berat pak Zian mengakhiri perdebatan panas yang terjadi pagi itu.


***


Saat jam pulang sekolah tiba, semua murid berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing. Koridor kini mendadak jadi lautan manusia yang berdesakan ingin segera pergi dari tempat itu.


Erina mengikuti Via sampai ke parkiran karena dia tak mau sendirian. Ternyata disana sudah ada Albi yang sedang memanaskan motornya.


"Hai Er." Sapa Albi.


"Hai juga Bi." Jawab Erina.

__ADS_1


"Gue nggak di sapa nih." Via menimbrung.


"Hai juga Vi." Albi menunjukkan deretan giginya pada Via.


"Alah, udah basi." Via mengibaskan tangannya di depan wajah. Erina cekikikan melihat reaksi Via. Ehh, ini pertama kalinya Erina tertawa setelah kasus yang menyandung dirinya.


"Emm, gini Er. Buat membuktikan kecurigaan loe sama Dea, gimana kalau kita ikutin dia. Siapa tau aja kita dapat petunjuk atau malah dapat bukti kalau Dea yang udah bunuh Ameera." Albi mengacuhkan Via dan bicara serius kepada Erina.


Erina bahkan tak pernah berpikir jauh sampai ke sana. Pikirannya benar-benae buntu untuk mencari bukti, tapi Albi seolah memberinya cahaya di tengah kegelapan yang menyelimuti hati Erina. Via bahkan memberikan dua jempolnya untuk Albi atas ide briliannya itu. Kalau bisa, Via ingin meminjam jempol tetangganya untuk si persembahkan kepada Albi.


"Bener banget loe Bi. Gue setuju, kita harus ikutin si Dea. Gue juga penasaran gimana kehidupan dia di luar sekolah itu kayak gimana sih?" Ucal Via.


"Iya, loe bener Bi. Thanks ya udah kasih saran. Ini berarti banget buat gue." Ucap Erina tersengar tulus.


"Oke, jadi misi kita dimulai dari sekarang ya! Deal?!" Seru Albi menatap Erina dan Via bergantian.


"Oke, deal. Detektif Via, Erina dan Albi segera beraksi." Dengan lebaynya Via berkata.


Beribu-ribu syukur Erina panjatkan di dalam hatinya, di saat seperti ini, masih ada Via yang setia mendukung dirinya. Dan satu orang yang tak pernah Erina duga sebelumnya akan berhasil masuk ke dalam hidupnya. Albi.


"Ya udah, ayo buruan kita jalan. Biasanya kalau kita lewat di depan, si Dea lagi nunggu angkot kan?" Ujar Via.


***


Erina dibonceng Via mengikuti angkot yang Dea tumpangi. Agar tak terlihat mencurigakan, Via menjaga jarak agar keberadaannya tak begitu mencolok. Begitupun dengan Albi, dia memastikan kalau angkot yang di tumpangi Dea tidak sampai lepas dari pengawasannya.


Angkot yang sedang mereka pantau menepi setelah beberapa lama melaju. Albi dan Via terpaksa harus berhenti mendadak. Lalu Keluarlah seseorang dari dalam sana yang ternyata bukan Dea. Erina mendengus.


"Bukan, ayo ikutin lagi beb!" Erina menepuk bahu Via agar lekas memutar lagi gasnya setelah angkot itu kembali melesat.


"Iya beb. Sabar dong!"


"Ayo Bi!" Albi mengangguk di balik helmnya.


***


Ternyata rumah Dea lumayan jauh. Terbukti setelah mengikuti angkot itu selama hampir setengah jam. Dea baru keluar dari dalamnya. Erina bisa bernafas lega karena mereka tak sampai kehilangan jejak.


Dari posisi mereka memantau, terlihat Dea berjalan memasuki gang kecil. Albi, Via dan Erina berhenti untuk sejenak berdiskusi.


"Kayaknya kita nggak bisa bawa motor masuk ke gang ini deh." Ucap Albi saat melihat kawasan padat penduduk dalam gang kecil itu.


"Iya, yang ada nanti motor gue rusak keluar dari sana." Sahut Via.


"Ya udah, kita jalan aja. Lagian kalau naik motor nanti yang ada si Dea bisa tau kalau kita lagi ngikutin dia." Ucap Erina.

__ADS_1


_______________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2