THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ujian berakhir


__ADS_3

Hari kedua ujian nasional, Albi mulai bersikap bijak dan bisa menerima Devan meskipun masih sering merengut. Dia sadar jika sikapnya yang kekanakan justru malah akan membuat dirinya semakin jauh dengan Erina. Ikhlas tidak ikhlas, mau tidak mau Albi harus menerima Devan dalam tim itu.


Semua berjalan sebagaimana semestinya. Hingga hari ketiga ujian, Via berinisiatif untuk mencari tahu murid mana saja yang memiliki ibu bernama Devi. Karena sehabis hari ini mungkin mereka sudah jarang berkeliaran lagi di sekolah.


Seperti sekarang ini, Via nampak mengintrogasi murid-murid secara terang-terangan, mendatangi bangku mereka satu persatu.


"Woi, nama emak loe siapa?" Tanya Via galak, jadilah siswa yang ditanya menjawab dengan ketakutan.


"H...Hani." Jawab murid yang mendapat giliran pertama diintrogasi Via.


"Bohong loe ya!" Sentak Via saat tak medapat jawaban sesuai dengan yang ia inginkan.


"Nggak, ngapain gue bohong." Jawab murid itu. Kemudian Via beralih pada murid berikutnya.


"Nama ibu loe siapa? Jawab yang jujur!" Todong Via masih dengan galaknya.


"Komara." Jawab murid itu dengan takut-takut.


"Hah? Loe bohong ya? Komara kan nama cowok!" Via bersungut-sungut.


"Ya gue juga nggak tau, nenek gue yang ngasih nama sama nyokap gue. Salahin aja nenek gue!" Balas murid itu.


Via yang hendak kembali marah, namun percuma, sepertinya memang bukan dia pelakunya.


"Nyokap loe siapa namanya?" Via beralih pada bangku selanjutnya. Bukannya menjawab, murid yang ditanya malah merengut keheranan. Sebenarnya, Via sedang kerasukan setan mana sih? Kenapa dia seperti orang kesurupan bertanya kesana kemari. Dan menurutnya, pertanyaan yang di lontarkan Via itu sama sekali tak penting.


"Ayo jawab! Malah bengong loe!" Sentak Via.


Erina dan Devan yang melihat tingkah laku bar-bar si Via itu hanya geleng-geleng kepala di bangkunya. Albi tidak satu ruangan dengan mereka, dia ada di ruangan sebelah.


Segera Erina dan Iqbal menghampiri Via sebelum sahabatnya itu kembali berbuat hal yang jauh lebih gila dari ini.


"Udahlah beb, percuma loe lakuin ini. Pelakunya pasti nggak akan ngaku." Ucap Erina sambil menahan Via agar berhenti mengintrogasi.


"Iya Vi. Kita coba pake cara lain aja. Jangan terang-terangan kayak gini." Devan berbisik di telinga Via.


"Hah, gimana caranya?" Tanya Via penasaran.


Sebelum Devan menjawab, pengawas sudah datang, jadilah mereka di tegur agar cepat-cepat kembali ke bangku masing-masing.


***


Erina menghirup udara sedalam-dalamnya, kemudian menghembuskan nya dalam satu kali tarikan nafas.

__ADS_1


"Whaaaa, akhirnya ya ujian beres juga. Tinggal nunggu hasilnya, deg degan gue lulus nggak nya." Ucap Erina saat mereka keluar dari ruang ujian.


"Insyaallah lulus Er, kita udah berusaha dengan keras dan hasilnya pasti memuaskan." Ucap Devan.


Via mengangguk setuju sambil memainkan ponselnya, chatingan dengan doinya.


"Ehh, tadi loe bilang apa sih Dev? Loe punya cara lain, emangnya rencana apaan?" Via sontak memalingkan perhatiannya dari ponsel jadi ke arah Devan.


"Kita harus cari data satu persatu murid di sekolah ini di ruang penyimpanan data biar orang itu nggak bisa ngelak karena kita punya buktinya dengan data itu." Jawab Devan dengan mantap.


"Ide bagus Dev. Gue setuju, tapi gimana caranya kita bisa masuk ke ruang penyimpanan data?" Tanya Erina.


"Iya, ruangan itu kan selalu dikunci." Balas Via.


"Udah jangan dipikirin. Nanti biar gue yang cari cara buat dapetin kuncinya. Oke guys. Kalian cuma perlu siapin diri kalian buat ikut gue nanti." Ucap Devan.


"Oke deh. Gue percaya sama loe. Semoga aja kita bisa secepatnya nemuin pelakunya." Balas Erina.


"Ehh, itu apaan sih rame-rame di depan mading?" Tanya Via saat netranya tak sengaja menangkap kerumunan di depan mading.


"Kita liat yuk beb!" Erina yang juga merasa kepo menarik tangan Via untuk ikut melihat ada pengumuman apa di mading, sampai-sampai wajah murid yang sudah melihat terlihat sumringah.


Erina dan Via ber jinggit untuk bisa membaca pengumuman itu. Namun, jangankan membaca, melihat kertas pengumumannya saja mereka tidak bisa karena banyak murid yang menghalangi pandangan mereka.


Malam perpisahan akan di adakan pada hari Sabtu, 28 Juni 2018. Ayo persiapkan diri dan tunjukkan bakat tersembunyi kalian disini. Daftarkan diri segera ke panitia pelaksana untuk mengisi acara sekarang juga! Don't miss it guys.


Begitu kira-kira isi pengumumannya, singkat tapi padat dan sangat jelas.


Via terdiam, tak seperti murid-murid lain yang terlihat antusias menyambut malam acara perpisahan itu.


"Kenapa sih beb?" Tanya Erina saat melihat wajah Via di tekuk.


Mereka sedikit menjauh dari mading, memberikan ruang kepada murid lain untuk membaca isi pengumumannya juga.


"Ameera pernah bilang ke gue Er, kalau dia pengen banget tampil dan nyanyi di acara malam perpisahan sekolah. Tapi sayang, dia udah pergi duluan, cita-citanya ikut terkubur sama jasad dia." Ucap Via dengan sendu.


Erina terdiam, hatinya pasti akan merasa sedih jika nama Ameera di sebut. Karena bagaimanapun juga, dimalam saat Ameera terbunuh, Erina terlambat datang dan menyelamatkannya.


"Kalian bisa kok mewujudkan cita-citanya Ameera dengan ikut berpartisipasi di malam perpisahan nanti." Tiba-tiba saja Albi datang dan menimbrung. Erina dan Via menoleh.


"Hah? Loe bener Bi. Pasti disana Ameera bakalan seneng banget liat kita bisa mewujudkan impiannya." Seru Via dengan semangat, tadi saja dia loyo.


"Apa? Nggak ahh, gue kan nggak bisa nyanyi." Erina membulatkan matanya merasa kaget, kemudian mengedikan bahu.

__ADS_1


"Ayolah beb. Kita tampil buat Ameera." Rengek Via bergelayut di lengan Erina.


"Loe aja sendiri sana, gue mah nggak percaya diri." Erina berusah melepaskan lengannya dari dekapan Via.


"Loe kan bisa latihan dulu Er, waktunya juga masih lama kok, sekitar satu bulan setengah lagi." Jawab Albi.


"Iya beb, kita latihan dulu ya. Plis plis plis." Via ini, pemaksa sekali orangnya.


"Nggak nggak nggak. Lagian ya, gue kan mau fokus cari pelaku yang bunuh Ameera. Pasti nggak akan ada waktu buat latihan-latihan nggak jelas kayak gitu." Erina masih dengan pendiriannya.


Via mencebik karena kalah telak dari Erina, tapi sahabatnya itu ada benarnya juga, mereka harus fokus untuk mencari pelakunya. Bukankah waktu itu Erina sudah memproklamasikan kalau dia bersumpah akan menemukan orang jahat itu sebelum malam perpisahan tiba?


"Ya udah gini aja. Kalau kita bisa nemuin pelakunya dalam waktu dekat ini, loe janji loe harus mau ikut tampil sama gue di malam perpisahan nanti. Setuju?!" Via menawarkan sebuah perjanjian.


"Nggak janji ahh." Erina memang seperti itu, tidak suka menjadi pusat perhatian, orangnya sedikit judes tapi juga pemalu.


"Hay guys!" Devan yang entah muncul dari mana tiba-tiba datang dan menegur tiga orang yang sedang berbincang itu.


"Apa?" Tanya Albi datar, sedikit malas.


"Kalian liat, gue dapat apa ini?" Devan memamerkan sederet kunci di genggamannya.


"Kunci apaan tuh?" Albi bertanya.


"Itu kunci ruang penyimpanan data Dev?" Tanya Via.


"Tepat banget." Devan menjentikkan jarinya.


"Loe dapet kunci itu dari mana Dev?" Tanya Erina.


"Tunggu dulu, apa kita mau cari barang bukti di ruang penyimpanan data?" Tanya Albi yang langsung bisa menangkap rencana Devan.


"Sttt, jangan berisik. Nanti ada orang yang denger." Ucap Devan.


"...oke, kita bagi-bagi tugas sekarang! Loe..." Seru Devan. Lalu dengan bijaknya Devan menugaskan ini itu kepada Via, Albi dan Erina. Via dan Erina mengangguk-anggukan kepala pertanda mengerti.


Hey, apa-apaan ini? Dia kan member baru disini, tapi kenapa dia bersikap seolah dia adalah pemimpinnya? Albi menggerutu di dalam hati.


Oke, kita liat aja nanti. Gue juga bisa lebih keren dari loe.


___________________


Hai semua aku update 3 ban lho hari ini, jangan lupa tinggalkan jejaknya di setiap episode ya... Do'a kan juga biar besok bisa up 3 episode lagi 🤗

__ADS_1


Dan ada sedikit bocoran nih dari othor, pelaku yang sebenarnya bakalan terungkap di acara malam perpisahan sekolah nanti yaa... Jadi tunggu aja sebulan setengah lagi 😁


__ADS_2