
Albi menghela nafas, Erina bahkan tak ingin mendengarkan tentang isi hatinya. Terbukti perempuan itu malah mengalihkan topik pembicaraan. Namun Albi kembali mengingat akan pesan Via, jangan terburu-buru untuk kembali menyatakan perasaan kepada Erina.
Hanya saja, hati Albi kian tak tenang saat bayang-bayang Devan menghantui pendekatannya dengan Erina. Bukan tak mungkin jika Devan akan jatuh hati kepada Erina setelah kepergian Ameera. Lalu, Erina yang pada dasarnya memang menyukai Devan akan menerima laki-laki itu tanpa syarat. Tanpa mereka sadari jika nantinya hati Albi yang akan remuk, hancur lebur berkeping-keping menjadi serpihan tak berarti. Perjuangannya selama ini apa akan sia-sia?
Akhirnya niat Albi urung, ia memilih berusaha meredam gejolak di hatinya. Padahal kata-kata cinta telah ia susun dengan indah nan manis, sudah berada di ujung lidahnya juga, hanya tinggal mengucapkannya saja.
Albi kini sadar, Tuhan sedang menguji kesetiannya dengan menghadirkan Devan di tengah-tengah mereka. Tuhan ingin melihat seberapa besar dirinya mampu memperjuangkan Erina. Tugasnya sekarang bertambah, dia harus ekstra berusaha agar membuat Erina jatuh cinta kepadanya.
"Pakai hp loe aja ya Bi!" Seru Erina kemudian. Albi memperlihatkan seulas senyumnya, iapun mengeluarkan ponsel miliknya dari saku seragam.
"Full body ya, danau nya yang keliatan!" Ujar Erina lagi. Albi hanya mengacungkan jempolmya pertanda ia mengerti.
Erina lantas berpose, memegang ilalalang sambil menatapnya dengan senyum yang mengembang. Albi ikut tersenyum melihat itu. Bak photoghrafer handal, Albi memotret Erina dari berbagai sisi, sambil jongkok jongkok juga agar mendapat hasil jepretan yang sempurna.
Yang jadi foto modelnya juga, Erina yang pada dasarnya hobi ber swa foto tak pernah kehabisan gaya. Sesekali Albi mengarahkan agar Erina berfose seperti apa yang ia perintahkan. Dengan senang hati Erina menurut.
"Gantian, gue yang foto loe sekarang!" Seru Erina yang mulai lelah berpose. Ia rasa, audah cukup banyak potret dirinya yang di ambil Albi.
"Nggak ahh, gue nggak suka di foto sendiri." Tolak Albi mentah-mentah.
"Ya udah, kita ambil foto berdua aja." Erina lantas mengambil ponsel dari tangan Albi, mengatur timer, lalu mencari batu untuk di jadikan sandaran ponsel itu agar berdiri tegak.
"Ayo Bi, timernya cuma 10 detik!" Seru Erina sambil berlari kecil ke arah Albi. Siap tak siap, Albi terpaksa harus siap.
Krek!
Satu gambar berhasil di ambil. Dengan pose Albi tersenyum ke arah Erina yang sedang tertawa menghadap kamera, ilalang seakan menjadi bingkai yang indah, langit kemerahan di atas danau menjadi latar foto itu karena memang hari hampir senja. Air danaupun telah berubah menjadi merah akibat pantulan sang lembayung.
Untuk sejenak Erina benar-benar melupakan permasalahan hidup yang sedang menerpa dirinya, dan atas itu semua, Albilah orang yang mampu membuat ini terjadi.
"Kita liat dulu hasinya Bi!" Erina berlari untuk mengambil ponsel Albi. Albi hanya memperhatikan gerak-gerik Erina dari posisinya. Setelah mendapatkan ponselnya, Erina kembali menghampiri Albi.
"Wah, keren banget Bi! Kirim ke gue ya!" Erina nampak sumringah.
Bahagianya hati Albi saat melihat Erina tersenyum seperti itu, ia ingin selamanya membuat bibir itu tersenyum. Jika Erina mengizinkan.
"Sayang kita lagi pakai seragam. Nanti kalau kita kesini lagi, sekalian bawa kamera SLR biar hasil fotonya lebih jernih." Ucap Albi. Erina mengangguk setuju.
***
Erina mendorong pintu rumahnya perlahan, hari telah berubah jadi gelap malam. Tak terasa dirinya dan Albi menghabiskan banyak waktu di danau indah itu
Dia berharap orang rumah tidak menyadari jika dirinya pulang terlambat. Namun sialnya, baru saja dua langkah kaki perempuan itu terayun, sebuah suara berat menegur dirinya. Erina kaget bukan kepalang saat mendapat teguran itu. Seperti maling yang sedang ketahuan mencuri.
"Dari mana saja Er?" Itu suara papa.
"Ehh, hehe papa." Eruna cengar cengir canggung, dia sudah terciduk oleh papanya.
__ADS_1
"Jam berapa ini? Anak gadis kok kelayapan terus kerjaannya." Papa bicara dengan nada yang cukup bersahabat, justru cara bicara papanya yang seperti ini yang membuat Erina jadi malu sendiri.
"Iya pa. Udah hampir jam 7, hehe." Lagi-lagi Erina cengar-cengir.
"Kamu lagi ada di bawah pengawasan polisi Er, ingat itu!" Ujar pria paruh baya itu.
"Iya pa, Erina ingat kok. Tapi kan Erina lagi berusaha buat cari siapa orang yang sebenernya udah bunuh Ameera." Air wajah Erina mendadak berubah jadi sendu.
"Kamu jangan khawatir Er, kalau sampai hasil sidik jari dan otopsinya sudah keluar dan memberatkan kamu, papa sudah menyiapkan pengacara terbaik di kota ini."
"Iya pa. Erina percaya kok sama papa. Terus papa gimana? Apa papa udah dapat informasi soal keberadaan anak papa sama ibunya itu?" Tanya Erina kemudian.
"Papa masih berusaha untuk mencari mereka. Keberadaan mereka benar-benar tidak terdeteksi. Papa rasa mereka telah memalsukan identitas."
"Apa? Memalsukan identitas?" Tanya Erina.
"Iya, tapi kamu tidak perlu khawatir. Ini tugas papa, papa akan berusaha lebih keras lagi untuk menemukan mereka."
"...kamu tetap berhati-hati ya. Karena kita tidak tau apa yang bisa peneror itu lakukan kepada keluarga kita." Erina mengangguk mendapat nasihat dari papanya itu.
"Ya udah, kalau gitu Erina mau mandi dulu ya pa. Lengket banget ini."
Setelah berpamitan, Erina melenggang pergi, menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju lantai dua, dimana kamarnya berada.
***
Apalagi saat mata lentiknya mengerling, Albi ingat saat pertama kali dirinya menyukai Erina adalah dari kerlingan matanya. Judesnya Erina, cueknya dia, marahnya, itu yang semakin membuat Albi tertarik untuk semakin mendekat.
Albi mencoba mengirimkan pesan chat untuk mengobati sedikit rasa rindunya. Padahal baru beberapa jam mereka berpisah setelah Albi mengantar Erina hingga ke depan gerbang rumahnya.
Albi tak sabar agar malam cepat berganti pagi agar dirinya bisa bertemu Erina di sekolah. Bahkan kalau bisa, Albi ingin matahari tak tenggelam dan bumi terus berada di pagi hari.
[P]
[P]
Ehh, fast respon.
[Belum tidur?]
[Udah.]
[Kok bisa ketik pesan?]
[Ehh iya lagi mimpi ini]
[Ya udah, gue susul ke alam mimpi ya!]
__ADS_1
[Coba aja kalau bisa.]
[Foto kita gue jadiin wallpaper lho.]
Lalu Albi mengirimkan screenshotan pada layar ponselnya.
[Iya, bagus Bi.]
[Baim udah tidur?]
[Udah dari tadi.]
[Nyokap loe?]
[Udah kayaknya.]
[Bokap loe?]
[Udah juga kayaknya.]
[Nggak sekalian nanya pembantu gue udah tidur apa belum?]
Begitulah Albi seterusnya mencoba mencari bahan obrolan dengan Erina yang malah terkesan tidak nyambung.
***
Pagi itu Albi datang ke sekolah lebih awal, dengan harapan bisa segera bertemu dengan Erina. Meskipun dia merasa dirinya datang awal, namun ternyata, ada murid yang datang jauh lebih awal dari dirinya.
Mereka adalah Iqbal dan Dea, mereka nampak sibuk di bangkunya masing-masing. Albi berjalan masuk ke barisan bangku, melewati Dea yang matanya tak berhenti mengikuti pergerakan Albi. Albi jadi bingung sendiri harus bersikap seperti apa kepada Dea sekarang.
Mengingat Dea adalah tersangka dalam misi pencarian mereka. Apalagi tempo hari dia bersama Erina dan Via menemukan fakta yang kurang mengenakan tentang Dea.
Akhirnya Albi hanya tersenyum singkat saat melewati bangku Dea, sambil menyapanya sekilas.
"De!" Sapanya. Dea membalas seyum Albi sambil mengangguk. Hanya sebatas itu, setelahnya Albi kembali melangkah menuju bangkunya.
Dan saat melintasi bangku Iqbal, Albi tak sengaja melihat foto seorang perempuan yang sedang di pegang Iqbal. Iqbal sepertinya sedang melamun sambil memperhatikan foto itu.
"Foto siapa itu Bal?" Pertanyaan Albi menyentak Iqbal dari lamunannya. Cepat-cepat Iqbal memasukan foto itu kedalam saku celananya.
"Bukan siapa-siapa." Iqbal nampak gelagapan menjawab.
"Coba gue liat! Cewek baru loe ya? Anak sekolah sini juga?" Tanya Albi yang memang tidak sempat melihat wajah perempuan di foto itu dengan jelas.
"Kepo banget sih loe! Udah gue bilang bukan siapa-siapa." Iqbal mengelak. Albi hanya mengedikan bahu, jika sudah seperti itu Albi jadi tak berminat untuk mengepoi urusan si Iqbal kaku itu. Diakan serius sekali orangnya, susah untuk di ajak kompromi dan bercanda.
_________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...