
"Itu mereka!"
Dea datang membawa warga sekitar yang jumlahnya lumayan banyak.
"Bubar bubar! Bubar semua!"
Pertarungan sengit pun berakhir setelah warga memisahkan kedua kelompok itu. Entah kubu mana yang menang, semua orang dalam dua kubu itu tidak ada yang baik-baik saja, mereka mendapatkan tanda biru di sekujur tubuh mereka sebagai bukti jika mereka baru saja melakukan perkelahian.
Nafas Albi dan kawan-kawan tersengal, merasai nyeri di sekujur tubuh. Mereka melihat kawanan geng motor itu pergi menunggang motor masing-masing.
"Ayo Bi! Kita harus cepet sampai di rumahnya Erina." Seru Dea.
"Iya, loe bener De!"
Merekapun sepakat untuk segera pergi menuju rumah Erina. Semoga setelah ini tak ada halangan lagi. Padahal jarak antara rumah Erina dengan sekolah tidak terlalu jauh, tapi mereka membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk bisa sampai disana.
***
"Via, gue mohon hentikan semuanya Vi!" Erina berteriak-teriak meminta ampunan dari Via. Sekujur tubuhnya kini licin akibat di guyur minyak tanah.
Hanya tinggal Via menyalakan korek, maka tamat sudah riwayatnya, Erina akan habis terbakar. Via tertawa penuh kemenangan membayangkan hal itu.
Sari tiba-tiba datang dengan paniknya.
"Via, gawat!" Seru Sari dengan nafasnya nafas yang tak beraturan.
"Ada apa tante? Mana Dea?" Tanya Via.ikut panik.
"Dea berhasil lolos. Anak-anak itu sedang memuju kemari sekarang. Lebih baik kita cepat selesaikan semuanya dan pergi dari sini." Ucap Sari.
Tiba-tiba....
PRAAAANGGG!!!
PRAAAANGGG!!!
Semua orang menoleh ke arah pintu dapur saat terdengar suara pecahan kaca.
Erina tersenyum saat tau kalau Albi akan datang, Albi akan menyelamatkannya dari Via yang ternyata psikopat itu.
"Loe liat kan Vi, kejahatan nggak akan bertahan lama. Dan pada akhirnya kebenaran yang akan menang, seperti apa yang loe katakan dulu ke gue." Ucap Erina.
"DIAM LOE! Om, cepat cek kedepan!" Seru Via.
__ADS_1
Suami Sari dan semua anak buahnya segera berlari ke arah ruang tamu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, mereka harus menghabisi orang yang berani ikut campur dengan misi balas dendamnya Via ini.
"Albi pasti bakalan bebasin gue. Dan kalian, gue pastiin kalian bakalan masuk penjara!"
"TUTUP MULUT LOE ITU!"
Plak!
Via kembali menampar pipi Erina, dia masih belum puas menyakiti Erina.
"Cukup Via! Ini saatnya. Cepat nyalakan koreknya!"
"Nggak tante, kita nggak mungkin nyalain koreknya sedangkan kita masih ada disini sedangkan minyak tanahnya udah di sebar sampai ke depan. Lebih baik kita keluar dulu sekarang."
***
Albi dan kawan-kawan tiba di rumah Erina, mendapati rumah Erina yang ruang tengahnya gelap, lalu terdengar teriakan demi teriakan yang tak begitu jelas dari dalamnya.
Devan memutar handlenya berkali-kali, namun pintu tak kunjung mau terbuka, sepertinya dikunci dari dalam.
"Kita pecahin aja kacanya!" Ide Iqbal.
"Iya, loe bener."
Satu persatu dari mereka masuk melalui jendela itu. Mereka tak menemukan keberadaan Erina disana, sedangkan suara keributan semakin terdengar jelas. Sebelum akhirnya enam orang berbaju serba hitam juga mengenakan topeng kain hitam datang dan menyerang Albi juga kawan-kawan.
Dea terlihat kebingungan sambil menggigit bibir bawahnya diteras. Apa iya dirinya juga harus ikut masuk? Mengingat situasi ini terlalu bahaya baginya.
Lebih baik Dea kembali menelpon polisi untuk menanyakan mereka sudah sampai di mana.
Sesekali dia melongok ke dalam, namun tak melihat keberadaan Erina. Kemana dia? Lalu siapa sebenarnya orang yang ingin mencelakai Erina itu?
Abi dan kawan-kawan harus kembali bertarung menghadapi anak buah Sari, mereka menyerang Albi dengan membabi buta, tanpa belas kasih dan tanpa ampun. Sedangkan tenaga Albi, Devan dan Iqbal sudah lumayan terkuras saat melawan geng motor di jalanan tadi.
Pertarungan terhenti saat Via dan Sari muncul. Albi dan yang lain tertegun saat melihat Via, kenapa Via ada disana?
"Via? Kenapa loe ada disini? Bukannya loe lagi ada di Jakarta sekarang?" Tanya Devan menatap Via dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
Via tak menjawab, kenapa rencananya bisa kadi berantakan seperti ini? Ini semua di luar ekspektasinya.
"Tunggu, jangan bilang kalau loe..." Albi menunjuk ke arah Via dengan wajah tak percaya.
Via menyunggingkan senyum kejahatan.
__ADS_1
"Dia adiknya Erina." Pekik Devan dan Iqbal bersamaan. Sedangkan Albi terpaku, masih belum percaya dengan semua fakta ini.
"Tunggu apa lagi? Serang mereka!" Via berseru dan memerintahkan anak buahnya untuk kembali menghajar Albi dan kawan-kawan.
Mereka kembali berbaku hantam. Albi yang masih tertegun baru sadar saat Suami Sari memukulnya.
Iqbal menyambar vas bunga yang nangkring cantik di atas meja kemudian menghantamkannya pada kepala Suami sari yang sedang memukuli Albi. Seketika kepala Suami Sari berdarah, dia ambruk seketika.
"Suamiku!" Pekik Sari sambil memghampiri suaminya.
"Habisi mereka! Jangan beri ampun. Mereka sudah melukai suamiku!" Sari panik melihat darah yang keluar dari kepala samg suami.
Para preman semakin menjadi-jadi menyerang Albi dan teman-temannya. Devan menghindari kejaran preman yang hendak menghajarnya, dia menggeser sofa sehingga menghantam preman itu. Preman itu terjepit antara kursi dan tembok.
Iqbal membanting tubuh lawannya ke lantai, menendang lalu menghajarnya tanpa ampun.
Albi terpeleset saat menginjak lantai yang licin akibat tumpahan minyak tanah, itu di jadikan kesempatan untuk lawannya menghabisi Albi.
Albi meringis menahan nyeri saat preman itu memukuli perutnya. Dalam keadaan genting seperti ini pun sepertinya Albi masih bisa berpikir dengan bijak, dia menarik kaki preman yang memukulinya sehingga tubuhnya terjatuh. Albi tak membuang kesempatan, dia segera membalas memukuli perut preman itu.
BUKK!!
BUKK!!
Hantaman demi hantaman terus saja mereka layangkan, tak jarang mereka yang diserang.
Via terlihat kebingungan, sepertinya ini tidak akan berakhir dalam waktu yang singkat
Lantas dia menghampiri Sari yang sedang mengkhawatirkan suaminya.
"Tante, kita keluar sekarang. Kita bawa om dan setelah itu kita bakar rumah ini. Mumpung mereka lagi lengah." Bisik Via yang tentu saja tak di dengar oleh kubu Albi maupun kubu preman. Mereka terlalu sibuk mengalahkan satu sama lain.
Dengan susah payah Via dan Sari membopong tubuh Bayu keluar dari rumah yang sebentar lagi mungkin akan habis terbakar.
Setelah berhasil, Via mengeluarkan korek dari saku celananya, menyalakan kemudian melemparkannya pada teras yang sudah tergenang oleh minyak tanah.
Dan dalam hitungan detik, api langsung menjalar ke setiap sudut rumah yang sebelumnya sudah di sirami minyak tanah.
Via dan Sari tertawa penuh kemenangan melihat kobaran api yang semakin membesar melahap kediaman papanya itu. Sudah di pastikan semua orang yang berada di dalam sana tidak akan selamat. Terutama Erina.
"Sempurna!"
____________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca....