THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Mengintai


__ADS_3

Akhirnya, mereka bertiga sepakat untuk mengikuti Dea dengan berjalan kaki. Mereka bergerak cepat mumpung Dea sepertinya belum terlalu jauh berjalan.


Dengan hati-hati Via melongok mengintip dari mulut gang. Dia melihat ada beberapa anak-anak sedang main kejar-kejaran, lalu ibu-ibu yang sedang nangkring menghalangi jalan yang pas-pasan itu. Ditengah-tengah pemandangan yang sesak itu, punggung Dea bergerak semakin jauh. Via memberikan kode pada Albi dan Erina bahwa situasinya cukup aman.


Merekapun keluar dari tempat persembunyian dan mulai melancarkan aksinya. Baru selangkah Erina menginjakkan kaki ke dalam gang, tiba-tiba....


"Ptok, ptok, ptok!" Suara ayam yang akan bertelur.


"Aaaaaaa." Erina menjerit saat si ayam dengan tidak sopan nya melayang lalu naik ke atas kepala Erina.


"Woy, jangan berisik. Nanti ketahuan!" Via yang tidak merasakan bagaimana jadi Erina malah mengomel.


"Aaaa, tolongin gue!" Erina mengibas tangannya agar ayamnya mau menyingkir, namun usahanya tidak membuahkan hasil.


"Astaga Er! Syuh syuh syuh!" Albi memukul ayam itu dan caranya cukup ampuh, si ayam terbang kemudian mendarat ke tanah.


"Loe nggak kenapa-napa kan Er?" Tanya Albi sambil memindai Erina dari atas sampai bawah. Erina bisa bernafas lega sekarang.


"Iya nggak kenapa-napa kok. Untung itu ayam nggak berak di kepala gue." Jawab Erina.


"Itu ayam suka kali sama loe beb." Ucap Via


"Apaan sih loe ngaco banget!"


"Udah udah, nanti aja debatnya. Kita kan lagi dalam misi pencarian penting sekarang." Lerai Albi.


"Hah, iya bener. Si Dea nya kemana ya? Kok ilang?" Tanya Erina sambil celingukan mencari Dea.


"Tadi dia belok kanan, ayo kita cari!" Seru Albi.


"Iya, ayo!"


Pencarianpun dilanjutkan, ibu-ibu yang sedang berkerumun sambil mencari kutu itu memandang aneh ke arah Via, Albi dan Erina. Jika Albi terlihat biasa saja saat di pandang seperti itu, justru Via dan Erina merasa risih.


"Permisi bu." Albi berkata sambil membungkukkan badannya saat melewati mereka.


Duh, sopan sekali dia. Erina membatin.


"Permisi." Merasa malu dengan sikap Albi, akhirnya Erina dan Via mengikuti apa yang laki-laki itu lakukan.


Setelah berhasil melewati ibu-ibu itu, tiba-tiba saja.


BUKK!


Seorang anak laki-laki tak sengaja menabrak Albi, beruntung anak itu tidak sampai terjatuh.


"Hati-hati dek! Jangan lari-larian gitu nanti jatuh sakit lho!" Albi mengacak pelan rambut gondrong anak itu sambil membungkuk menyamai posisinya.


Erina dan Via melongo melihat Albi bisa bertutur selembut itu kepada bocah di hadapannya.


"Iya bang, maaf!" Setelah berseru, si anak itupun berlalu dari hadapan mereka.


"Ayo kita ikutin lagi si Dea. Nanti keburu dia hilang lagi." Ujar Erina.


Pengintaian kembali mereka lakukan, sengaja mereka bersembunyi dari satu tembok ke tembok lain, agar Dea tak mengetahui kalau dirinya sedang di buntuti.


Di dalam gang itu jalannya cukup sempit, bahkan sepertinya motor tidak bisa masuk ke dalam sana, apalagi jalannya yang berbelok-belok membuat orang awam pasti akan merasa jika setiap belokan itu sama. Membingungkan.


"Itu dia!" Via berseru setengah berbisik.

__ADS_1


"Psstt!" Albi menempelkan jari telunjuknya di bibir menyuruh mereka diam.


Dea berhenti melangkah saat merasa ada yang aneh. Diapun meoleh ke belekang untuk memastikan kecurigaannya.


Albi menarik tangan Erina dan Via untuk bersembunyi saat sadar Dea akan menoleh. Erina dan Via terkesiap dengan gerakan reflek Albi itu.


Dea mengedikkan bahunya saat tak menemukan keanehan di belakangnta. Mungkin hanya angin yang lewat. Pikirnya. Diapun kembali melanjutkan perjalanannya.


"Huft!" Albi, Erina dan Via menjatuhkan bokongnya ke tanah. Mereka berhasil mengelabui Dea.


"Ehh, bau apaan nih?" Tanya Via saat indra penciumannya menangkap bau tak sedap.


"Iya, busuk banget!" Jawab Erina.


Mbeeee.


Ketiga orang itu mendongak ke atas saat merasa familiar dengan suara binatang itu. Dan tepat saat mereka menoleh, wajah kambing itu berada tepat di depan wajah Via dan Erina, mereka saling berpandangan dan...


"Whaaaa." Erina dan Via secepat kilat beranjak. Mereka sangat kaget seperti baru saja bertemu dengan hantu. Tidak, wajah kambing itu lebih menyeramkan dari pada hantu saat di lihat dari sedekat tadi.


"Hey hey, kalian kenapa sih? Jangan berisik! Nanti ketauan." Albi berdiri dan menyusul kedua perempuan itu.


"Ihh, serem banget tau itu kambing, mana bau lagi." Erina bergidig ngeri, wajah kambing terus terngiang di pikirannya.


"Heeh beb, mirip si Albi ya itu kambing." Via menepuk-nepuk rok yang ia kenakan untuk membersihkan tanah yang menempel.


"Sialan loe, muka gue ganteng gini di samain sama kambing!" Protes, merasa tak terima di sama-samakan dengan kambing.


***


"Tuh kan, kita jadi kehilangan jejaknya si Dea." Ucap Albi, mereka masih saja menyusuri gang yang semakin lama semakin banyak kandang ternaknya.


"Terus gimana dong? Masa kita udah jauh-jauh kesini tapi nggak nemuin petunjuk apa-apa?" Ucap Via.


Albi mencoba berpikir keras, kira-kira apa yang harus ia lakukan lagi untuk mendapatkan bukti? Karena sampai sejauh ini, mereka belum punya bukti apapun untuk menunjukkan bahwa Erina tidak bersalah.


"Ehh, eh eh. Tungggu-tunggu!" Albi terlihat panik, dia menahan tubuh Via dan Erina agar berhenti melangkah. Saat matanya menangkap sosok yang ia cari sedang berbincang dengan dua orang laki-laki berumur.


"Itu si Dea." Albi menunjuk ke arah mereka. Via dan Erina mengikuti arah telunjuk Albi. Dan benar saja, Dea sedang bicara dengan dua orang berpakaian ala-ala preman.


"Iya bener. Ngapain dia ngobrol sama preman?" Tanya Erina.


Kemudian mereka mengintip kegiatan Dea dari tempat persembunyiannya. Terlihat Dea merogoh saku seragamnya, lalu memberikan sejumlah uang kepada preman itu. Dea celingukan ke kanan dan kekiri memperhatikan keadaan sekitar. Seperti sedang memastikan kalau situasinya aman atau tidak.


"Astaga! Ini mencurigakan. Foto beb, foto. Pake hp gue nih!" Erina menepuk tangan Via agar cepat melaksanakan perintahnya.


Cepat-cepat Via mengambil ponsel Erina dan mengabadikan momen itu.


"Apa mungkin Dea nyuruh preman itu buat bunuh Ameera?" Albi berspekulasi.


"Bisa jadi. Kita harus tangkap basah mereka sekarang!" Erina bergegas hendak melabrak Dea dan keluar dari tempat persembunyiannya.


"Er!" Albi manarik tangan Erina untuk kembali bersembunyi.


BUK!


Tubuh Erina tertarik dan tak sengaja menimpa tubuh Albi. Sehingga keduanya jatuh tersungkur kebelakang dengan posisi Erina yang berada di atas Albi.


Pandangan mereka bertemu di satu titik yang sama. Erina menatap Albi yang juga sedang menatap wajahnya. Bahkan kini Erina bisa mendengar detak jantung Albi dengan jelas saking dekatnya jarak di antara mereka.

__ADS_1


Dan, apa ini? Kenapa jantung Erina jadi ikut berdebar-debar, apalagi saat melihat kumis tipis yang menaungi bibir sexy Albi.


Astaga!


Plak!


Erina ingin menampar pipinya sendiri atas semua pemikiran konyolnya itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk menyanjung laki-laki itu.


Albi tersenyum memperhatikan wajah Erina dari jarak sedekat itu, dia tak ingin berpaling barang sedetik saja saat melihat pemandangan indah yang di suguhkan di depan matanya. Sungguh, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?


Albi melingkarkan tangannya di punggung Erina, tak rela jika sampai perempuan itu terlepas dari dekapannya. Albi berharap waktu berhenti berputar saat ini juga.


Krek!


Dengan pikiran konyolnya Via sengaja memotret kejadian yang mungkin langka terjadi itu. Dia menggigit bibir bawahnya, mereka sangat manis sekaki. Saling tatap-tatapan, peluk-pelukan. Sudah mirip dengan adegan di film-film Korea kesukaannya.


"So sweet." Ucap Via sambil memperhatikan hasil jepretannya barusan.


Erina tersadar saat mendengar gumaman Via. Dia berusaha bangkit namun sulit. Ternyata tangan Albi mengunci tubuhnya.


"Bi, lepasin gue!" Erina berontak karena tubuhnya sulit untuk di gerakan.


"Sebentar lagi ya Er!" Tawar Albi.


"Ihh, apaan sih loe Bi! Halu banget! Lepasin gue cepetan!"


"Udahlah Bi, lepasin aja. Kita kan lagi dalam misi pencarian." Perkataan Via membuat Albi tersadar dari kehaluannya. Dengan berat hati dia melepaskan Erina.


Mereka sama-sama beranjak dari posisi jatuhnya. Erina membetulkan seragamnya yang kusut.


"Maaf ya Er!" Seru Albi saat melihat kekesalan di wajah Erina. Takut juga kalau sampai perempuan itu marah.


"Awas kalau nanti kayak gitu lagi." Erina memajukan bibirnya.


Fiyuh!


Untung saja Erina tidah marah.


"Bagusan yang mana? Yang ini apa yang ini?" Tanya Via sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Erina.


"Astaga! Loe apa-apaan sih beb? Hapus nggak?!" Mata Erina membulat saat melihat foto dirinya dan Albi yang sedang bertatap-tatapan dalam diam.


"Kirim ke gue dong!" Albi menimbrung.


"Haha, oke oke." Via kemudian mengirimkannya kepada nomor Albi.


"Ihh, beb. Siniin. Malu-maluin tau! Mau gue hapus itu!" Erina merebut ponselnya dari tangan Via.


"Ya hapus aja, hp hp loe!"


"Udah masuk nih. Keren-keren juga hasil jepretan loe!" Puji Albi.


"Siapa dulu dong. Via." Ucap Via pongah.


"Astaga guys! Fokus fokus! Kalian lupa tujuan kita datang ke tempat ini buat apa?"


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...

__ADS_1


Buat yang tanya kapan pelaku sebenarnya terungkap... Saya jawab ya, pelakunya akan ketahuan nanti di akhir cerita, kalau sekarang ketahuannya, berarti novelnya tamat doong... Disini pencarian baru di mulai... Karena mencari bukti itu sulit ya, Erina dan teman-temannya akan di buat pusing dan bakalan banyak drama nantinya...


Author peringat kan dari sekarang ya, mungkin nanti ceritanya akan sedikit bertele-tele... Karena akan ada tersangka baru yang muncul di tengah pencarian mereka... Belum lagi konflik percintaan antara Erina, Devan dan Albi... Jadi buat kalian yang nggak suka boleh di skip aja... Terimakasih....


__ADS_2