
"Loe semalam tidur jam berapa sih beb? Tiap hari perasaan kesiangan mulu." Omel Via di sela langkah mereka menuju kelas. Langkah mereka terlihat tergesa-gesa karena jam hampir menunjukan pukul 7 pagi.
"Hampir jam 12, si Albi sih gangguin gue terus." Jawab Erina.
"Hah? Gangguin gimana? Dia datang ke rumah loe?" Via mencecar Erina dengan pertanyaan.
"Nggak, dia chat-in gue terus semalam. Ehh, itu si pak Buambuang beb. Ayo cepetan cepetan!" Erina heboh sendiri saat melihat pak Bambang keluar dari ruangan guru. Mereka semakin mempercepat langkah sebelum keduluan oleh pak Bambang tiba di kelas.
***
Saat jam istirahat tiba, Erina, Albi dan Via mengerumuni Dea yang selalu menghabiskan waktunya dengan hanya berdiam diri di kelas. Albi sudah siap merekam dengan ponselnya sebagai barang bukti kalau-kalau Dea mengaku nanti.
"A... Ada apa?" Tanya Dea tergagap sambil menatap Erina dan Via penuh kebingungan, bibirnya yang bicara juga terlihat gemetar, dia ingat kejadian tempo hari saat dirinya si buntuti oleh mereka bertiga.
Erina semakin menajamkan tatapannya, sudah sangat muak melihat wajah so polos si Dea itu.
"Loe kan yang udah bunuh Ameera?! Ngaku loe! Gue udah curiga ya sama loe dari awal loe nemuin Baim, dan loe juga kan yang udah nerror nerror gue sama keluarga gue selama ini? Ayo ngaku!" Tuduh Erina sesuka hatinya.
Entah kenapa Albi yang melihat Dea ketakutan dengan bentakan Erina jadi sedikit merasa kasihan. Namun Albi segera menepis semua pemikirannya itu. Yang salah tetap bersalah, dan kebenaran harus tetap di tegakan.
"A... Aku nggak tau apa-apa. Sumpah." Bibirnya semakin gemetar, jelas terlihat jika dia sedang ketakutan karena di sudutkan.
Erina mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku rok abu-abu dan memperlihatkannya tepat di depan wajah Dea.
"Ini apa? Masih mau ngelak loe? Loe bayar preman-preman ini buat menghabisi Ameera kan? Dan loe limpahkan semua kesalahannya sama gue?! Loe itu bener-bener keterlaluan ya De, apa sih sebenernya salah gue sama loe? Hah?" Nada bicara Erina semakin tak terkendali, untung saja semua murid sudah pada pergi, jadi Erina bisa mengekspresikan kekesalannya dengan leluasa tanpa takut malah dirinya yang akan di buli.
Mulut Dea membulat saat melihat layar ponsel Erina yang menampilkan dirinya bersama dua laki-laki berpakaian preman itu, tak menyangka jika kemarin Erina sampai mengambil potretnya segala.
Kepanikan terlihat dengan jelas di wajah Dea. Kulit wajahnya uang putih mendadak jadi pias. Keringat dingin juga mulai membasahi pelipis perempuan itu. Dia benar-benar terpojok sekarang.
"Coba loe jelasin dulu tentang foto itu sama Erina De!" Seruan dari Albi yang pelan mampu menyentak hati Dea. Diapun sama dengan Erina, menuduh dirinya telah menghabisi Ameera. Padahal, Dea sudah mulai percaya pada Albi karena sikap baiknya belakangan ini.
"Loe ngaku atau kita seret loe ke kantor polisi sekarang juga? Biar nanti polisi yang bikin loe buka mulut!" Sentak Via.
Dea hanya mampu menggeleng, mulutnya seolah terkunci dan tak sanggup untuk menyangkal yang mereka tuduhkan. Dia tak tau harus berbuat apa saat sedang di kepung seperti ini. Satu hal yang nelintas di pikirannya.
Kabur!
Dea mendorong tubuh Erina yang menghalangi jalan keluarnya dari bangku. Secepat kilat dia berjalan meninggalkan kelas yang terasa bagaikan ruang persidangan bagi dirinya.
"Aaawh!" Erina mengaduh saat tubuhnya di dorong Dea tadi. Sikunya membentur meja sebelah sehingga menimbulkan rasa linu.
"Er!" Albi yang sedari tadi berdiri di belakang Erina dengan sigap menahan tubuh itu sebelum jatuh menyentuh lantai.
"Woy! Jangan kabur loe!" Itu suara teriakan Via. Namun Erina hanya mendengarnya samar-samar karena yang jadi fokusnya saat ini adalah Albi. Wajah laki-laki itu sangat dengan wajahnya sekarang. Dadanya berdebar tak terkendali, kemarahannya seolah padam saat menatap wajah teduh milik Albi.
__ADS_1
"Ekhm." Deheman Via mampu menyadarkan dua anak manusia yang saling bersitatap dalam diam.
"Ehh." Albi terlihat salah tingkan, begitupun Erina. Erina cepat-cepat menarik tubuhnya dari rengkuhan Albi. Malah jadi Via yang malu sendiri karena menyaksikan adegan yang sering ia tonton dalam drama korea kesukaannya.
"Sori Er!" Albi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Seulas senyum terlihat di ujung bibirnya saat sadar wajah Erina kian memerah.
"Oke." Jawab Erina sambil membenarkan seragamnya yang sedikit kusut akibat hampir terjatuh tadi
"Pacaran mulu, jadi si Deanya kabur kan!" Celetuk Via. Erina Baru sadar kalau si Dea sudah tak ada di bangkunya sekarang.
Ahh, sial!
Mendadak emosi Erina membuncah lagi saat mengingat Dea.
"Tuh kan, itu anak bener-bener mencurigakan. Kalau dia nggak salah, harusnya dia nggak kabur dong?!" Seru Erina sambil memecak kesal.
"Ya udah, kita cari dia!" Seru Albi.
Mereka bertigapun sepakat untuk mencari si Dea untuk di introgasi lebih lanjut. Namun setelah mencarinya di seantero sekolah, mereka tak menemukan keberadaan si Dea.
Dimana sebenarnya dia bersembunyi? Bahkan Erina, Albi dan Via sampai tidak pergi ke kantin untuk mengisi perut demi mencari Dea. Benar-benar misterius.
Mereka akhirnya menyerah saat bel tanda berbunyi, merekapun kembali ke kelas karena pelajaran terakhir akan segera di mulai. Dan mereka saling bersitatap saat melihat orang yang sedang mereka cari-cari sudah duduk dengan cantik di bangkunya.
Erina merasa di kelabui oleh si introvert itu, sudah lelah-lelah mencarinya sampai ke tempat terpencil di sekolah ini. Namun ternyata dia ada di kelas.
Saat Erina, Via dan Albi tiba di kelas, saat itu pula guru yang akan mengajar masuk, hilang lagi kesempatan untuk membuat si Dea mengaku.
Lalu, sepulang sekolah, Erina Via dan Albi kehilangan jejak Dea di tengah lautan murid yang hendak meninggalkan sekolah. Sosok Dea seolah tertimbun atau bahkan mungkin tenggelam. Entahlah!
"Gue semakin yakin kalau si Dea memang pelakunya!" Akhirnya Erina menarik benang merah atas sikap menghindarnya Dea.
***
Siang itu, di sebuah perusahaan yang berdiri tegak di tengah pusat kota. Dua orang polisi nampak keluar dari mobil dinas. Berjalan masuk melalui pintu utama.
Seorang satpam yang berjaga di depan pintu masuk membungkuk hormat ke arah petugas negara tersebut.
"Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya satpam segan.
"Kami ingin menemui pak Nandi, presdir di perusahaan ini. Apa bisa tolong panggilkan?" Jawab polisi satu.
"Baik pak. Akan saya sampaikan. Silahkan bapak bisa menunggunya di lobi." Ramah si satpam mempersilahkan.
***
__ADS_1
Lift terbuka, nampaklah ayah Ameera keluar dari dalamnya. Dia berjalan menuju lobi, tempat polisi sedang menunggunya.
"Selamat siang pak." Pak Nandi menjabat tangan polisi secara bergantian. Polisi berdiri untuk menghormati sang pemilik perusahaan.
"Selamat siang." Sambut kedua polisi itu.
"Silahkan duduk pak!" Kemudian keduanya kembali duduk di tempat semula.
"Kami datang ke sini untuk memberikan hasil otopsi jasad putri anda. Anda bisa mengeceknya sendiri." Polisi satu menyodorkan amplop berwarna coklat di atas meja.
Pak Nandi menatapnya sejenak, menghela nafas, sebelum dia meraihnya lalu membukanya. Menyakitkan jika teringat akan putri satu-satunya yang ia miliki kini telah tiada.
Pak Nandi membaca isi surat itu dengan seksama. Matanya membulat sempurna saat melihat ada kejanggalan dalam isi surat itu.
"Apa ini maksudnya pak?" Pak Nandi memperlihatkan bagian yang ia sedikit tak pahami.
"Ternyata saat meregang nyawa, putri anda sedang berbadan dua. Dan hasil sidik jari yang kami lakukan, ternyata sidik jari yang ada di pisau itu sama dengan sidik jari tersangka kami sebelumnya. Saudari Erina." Tutur polisi dua.
Pak Nandi nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Kekecewaannya kian berlipat ganda, ternyata dia benar-benar telah gagal menjadi seorang ayah dalam mendidik anaknya. Dia sudah gagal bahkan sebelum Ameera meninggal. Kenapa dia sampai tidak tau permasalahan apa yang sebenarnya sedang menimpa putri semata wayangnya itu?
"Bapak tidak perlu khawatir, siang ini juga kami akan melakukan penahanan terhadap tersangka yang sudah terbukti sebagai pelakunya."
Pak Nandi mengangguk samar. Dalam hati sedang berpikir keras, kira-kira pria brengsek mana yang telah berani-beraninya menyentuh putri kandung kesayangannya, Ameera?
***
Saat pulang dari sekolah, Erina yang baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumahnya, langsung dikejutkan oleh mobil dinas polisi yang terparkir di halaman.
Langkahnya mendadak berhenti saat kata-kata polisi waktu itu kembali terngiang di kepalanya.
Setelah hasil otopsinya keluar. Tim kami yang akan menjemput langsung saudari Erina ke kediaman anda.
"Itu pelakunya!" Suara berat itu tertangkap oleh indra pendengaran Erina. Erina menoleh, saat itulah Erina melihat dua orang polisi yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Erina mundur beberapa langkah. Merasa ketakutan.
Tidak!
Jangan sekarang!
Bahkan Erina belum memiliki bukti yang kuat untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
"Tolong jangan tangkap putri saya!" Itu suara mama Sofi yang berteriak histeris, mata Erina berkabut, cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya saat bayangan bui kini sudah nyata ada di hadapannya.
_____________________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...