THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Knalpot bising itu lagi


__ADS_3

"Ehh, ada tukang kacang rebus. Gue mau beli dulu ya beb." Seru Erina sambil beranjak dari duduknya. Via hanya mangut-mangut, pandangannya tak beralih dari layar ponsel, sepertinya sedang chattingan dengan doi-nya.


Erina bergegas meninggalkan Via, melewati banyak remaja yang juga sedang nongkrong di alun-alun ini. Ada yang sembari memainkan gitar, banyak juga yang sedang melakukan selfi. Memang keindahan alun-alun akan terpancar lebih cantik pada malam hari, lampu hias yang menyala di setiap penjuru jalan membuat suasana alun-alun menjadi semakin hangat.


"Er! Awas!"


Erina mendengar seruan itu saat tiba-tiba saja tubuhnya disambar sepasang tangan. Erina dan pemilik tangan itu terlempar hingga ke trotoar. Tadi saat hendak menyebrang jalan, fokus Erina tertuju pada lampu hias yang menyala di sepanjang lintasan jalan. Dia sama sekali tak sadar akan adanya motor yang melaju kencang ke arahnya.


Untung saja Devan yang baru selesai memarkirkan mobilnya melihat Erina hendak menyebrang, dan dari sebelah kiri jalan, sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Devan langsung menyambar tubuh Erina sehingga dirinya dan perempuan itu sama-sama terlempar ke trotoar. Dengan posisi Devan yang tertindih oleh Erina.


Deg!


Mata teduh itu lagi. Devan semakin yakin dengan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, perasaan itu hadir bukan semata-mata karena ada kemiripan antara tatapan Erina dengan Ameera. Melainkan mata teduh Erina berhasil mengalihkan dunia yang Devan pijaki. Bahkan dalam kegelapan sekalipun, mata Erina mampu memancarkan sinar terangnya. Devan menyukai mata itu dan semua yang ada pada diri Erina.


Lagi-lagi Albi yang baru saja tiba dan masih berada di atas motornya harus menyaksikan mereka yang terlibat saling tatap menatap. Hatinya mencelos, kekecewaan nampak terlihat jelas di wajah laki-laki sembilan belas tahun itu.


Saat tiba-tiba saja suara bising menyadarkan Erina akan dimana posisinya sekarang, dia berusaha bangkit dari atas tubuh Devan. Devan pun segera bangkit, punggungnya terasa sedikit sakit akibat berbenturan dengan trotoar. Tapi itu tak menjadi masalah besar baginya, asalkan Erina tidak mengalami luka.


Pun dengan Albi, lamunannya seketika buyar saat mendengar suara bising yang berasal dari knalpot itu.


"Emm, makasih ya Dev kalau nggak ada loe mungkin gue udah ketabrak tadi." Ucap Erina terlihat gugup sambil menepuk bajunya yang sedikit kotor.


"Nggak apa-apa Er, apa badan loe ada yang sakit?" Tanya Devan sambil memindai Erina dari atas sampai bawah.


"Gue nggak apa-apa kok." Jawabnya sambil mengulas senyum.


Brott... brott... brottt...


Albi yang sedari tadi tak berhenti menatap Erina dan Devan yang sedang bercengkrama dengan tatapan tidak sukanya, beralih pada suara bising itu, Albi baru tersadar jika suara knalpot itu sangat mirip dengan suara motor yang tempo hari gagal ia kejar.


Albi melihat motor itu yang melesat, cepat-cepat dia menarik pedal gas yang sedari tadi mesinnya tidak ia matikan. Kali ini orang itu tidak akan lolos lagi. Albi akan membuktikan kepada Erina jika dirinya bisa di andalkan dsn lebih baik dari pada si Devan. Dia harus bisa mengambil hati Erina dan segera menangkap pelakunya agar Erina juga segera memberinya jawaban.


Suara knalpot bising itu juga menarik perhatian Erina, sontak Erina mengalihkan pandangannya ke asal sumber suara.


"Ehh, itu Albi!" Seru Erina saat melihat motor Albi yang juga ikut melesat, sepertinya Albi hendak mengejar motor knalpot bising itu.

__ADS_1


Devan mengikuti arah telunjuk Erina.


"Beb, loe nggak kenapa-napa?" Via yang baru sampai dihadapan Erina terlihat panik. Via langsung berlari saat melihat Erina di selamatkan oleh Devan.


"Gue nggak kenapa-napa kok beb. Itu tadi motor yang hampir nabrak gue, sama persis sama motor yang nendang motor loe waktu itu." Seru Erina.


"Apa?" Tanya Via dan Devan kompak.


"Iya, itu Albi kayaknya lagi ngejar motor itu. Ayo Dev, susul Albi, kita bantu dia. Takutnya Albi kehilangan jejak lagi." Seru Erina.


"Ya udah, mumpung belum terlalu jauh. Gue minjem motor loe Vi, loe bawa mobil gue! Siniin kuncinya cepetan!" Devan memberikan kunci mobilnya dan meminta kunci motor Via. Merekapun barter kunci.


Untung saja parkirannya berada tepat di belakang mereka sehingga Devan bisa cepat-cepat menyusul Albi. Erina menatap motor Via yang dikendarai Devan dengan penuh harap. Semoga saja Albi dan Devan biasa menangkap orang itu dan Erina bisa segera tau siapa dalang di balik pembunuhan Ameera.


Via melongo menatap kunci mobil Devan yang dia gantungkan di udara.


"Gue kan nggak bisa nyetir mobil!" Ucap Via sambil mengedikkan bahu.


***


Sadar akan dirinya dibuntuti, pengendara motor bising itu menambah laju kecepatan kendaraannya. Albi yang melihat motor itu semakin melaju kencang, juga tak mau kalah, Albi menarik pedal gasnya hingga habis tak bersisa, dia melajukan motornya dengan kecepatan penuh.


Tidddd... Tidddd...


Albi menekan klakson dengan gemas saat ada orang yang hendak menyebrang jalan. Beruntung orang itu segera menarik lagi tubuhnya ke atas trotoar sehingga motor Albi tak jadi menyentuhnya.


"Woy, kalau bawa motor itu hati-hati dong!"


"...cari mati loe!" Orang yang hendak menyebrang tadi berteriak mengutuki perbuatan Albi. Namun Albi yang sudah terlanjur melesat jauh sama sekali tak mendengar umpatan-umpatan yang di ucapkan orang itu.


Kedua motor itu terus saling kejar mengejar, jalanan kota yang ramai membuat Albi maupun motor yang sedang ia kejar terpaksa harus menyalip kendaraan yang ada di depannya.


Tidddd.... Tiddddd...


Brottt... Brottt... Brottt...

__ADS_1


Brem... Brem...


Bunyi klakson mobil terdengar memekakkan telinga saat motor knalpot bising itu mencoba menyalip kendaraan roda empat di depannya demi bisa menghindar dari kejaran Albi.


Albi melakukan hal yang sama, beberapa kali dia menyalip kendaraan besar yang menghalangi jalannya. Tak jarang si pengendara mobil yang Albi salip membunyikan klakson dan berteriak memarahi Albi karena ugal-ugalan di jalan raya yang sedang di padati kendaraan itu.


Pengendara motor bising itu berbelok, kali ini jalanan terlihat lebih senggang dari jalanan utama tadi. Albi terus mengejarnya, disana mereka lebih leluasa memacu kendaraannya karena bebas hambatan dari kendaraan lain.


"Woy, berhenti loe!" Teriak Albi saat motornya berhasil menyamai motor milik rivalnya.


Brem.... Brem... Brem....


Brott... Brott.... Brott...


Hanya terdengar suara tarikan gas dan knalpot bisingnya hingga memekakkan telinga Albi.


BUKKKK!!!


BRAKKKK!!


Albi menendang motor yang sedang melaju kencang di sampingnya itu sampai motor dan pengendaranya terguling-guling di aspal. Seperti halnya dia menendang motor Via waktu itu. Albi menepikan motornya ke sisi lalu berlari kecil menghampiri pengendara motor bising itu yang dia curigai sebagai dalang dari masalah yang sedang di hadapi Erina.


Orang itu terlihat sedang menahan kesakitan setelah terjungkal dari motor yang sedang melaju kencang tadi. Helm full face masih melekat di kepalanya.


"Bangun woy!" Albi berteriak di depan helm orang itu dengan penuh emosi, lalu menarik jaket kulit yang orang itu kenakan dengan kasar, memaksanya untuk bangkit dan berdiri. Sehingga mau tak mau orang itu tertarik oleh gerakan Albi.


"Loe biang kerok ya! Loe mau celakain Erina? Hah?" Albi kalap, dia meninju perut orang itu dengan sadis. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Orang itu yang masih meraskan kesakitan di sekujur tubuhnya belum siap menerima pukulan Albi sehingga dia tak berkutik saat di beri pelajaran oleh Albi.


"Siapa loe! Ada masalah apa loe sama Erina? Hah?" Sentak Albi setelah puas meninju perut orang itu.


Orang itu bahkan tak mau buka suara, dia memilih untuk tetap tutup mulut.


"Buka helm loe!" Albi menarik paksa helm yang melekat di kepala orang itu, namun helmnya sulit untuk terlepas meskipun Albi telah berusaha berulang kali.


Helmnya saja yang keren, tapi motornya bodong!

__ADS_1


_________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setah membaca... corat coret juga di kolom komentar, jangan jadi pembaca gelap, nanti matanya bintitan lho 😁🙈✌️


__ADS_2