THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Ada apa dengan Ameera?


__ADS_3

Saat jam istirahat tiba, seperti biasa Erina dan Via habiskan dengan mengisi perut mereka. Membeli makanan di kantin lalu memakannya di tempat favorit mereka. Satu yang terasa kurang, Ameera tak ada bersama mereka.


"Duh, si Meera nggak biasanya kayak gini. Apa mungkin dia sakit ya beb?" Tanya Erina disela mengunyah makanannya.


"Mungkin aja. Nomernya masih nggak aktif?" Jawab dan tanya Via.


"Iya, masih nggak aktif. Pulang sekolah nanti kita samperin dia ke kost-annya yuk!" Ajak Erina.


"Oke, tapi kayaknya kita harus tanya si Violla dulu deh. Dia kan adiknya Ameera, pasti dia tau sesuatu. Buat mastiin juga kalau Ameera nggak lagi balik ke rumah bokapnya." Usul Via.


"Bener juga. Yuk kita cari si Violla!" Erina sudah bersiap-siap, memunguti plastik bekas makanan, setelahnya ia buang ke tempat sampah.


"Yo dah. Ehh, itu brownis loe tenteng terus dari tadi. Dimakan nggak. Gimana sih loe?" Via ikut beranjak. Sambil berjalan, ia menanyai Erina.


"Ehh, iya nih. Mau gue makan kok." Berdusta, gengsi juga kalau mengaku di depan Via ia akan memberikannya kepada Albi.


"Dari tadi ngomongnya mau di makan, tapi nggak jadi terus. Kalau loe nggak mau biar gue bayarin sini, buat nenek gue di rumah nanti." Ucap Via.


"Emm, nggak deh beb. Beneran mau gue makan. Ehh, tapi kok ya perut gue mules ya? Loe bisa nggak cari si Violla nya sendirian? Gue udah nggak tahan!" Erina meringis sambil memegangi perut ratanya.


"Hah? Ya udah sana loe ke toilet! Jangan sampai loe BAB di celana ya! Malu-maluin tau nggak!" Via khawatir melihat wajah Erina yang menahan mulas.


"Heeh heeh, loe bener. Gue ke toilet dulu ya. By!" Secepat kilat Erina berlari meninggalkan Via. Via menghembuskan nafas kasar, kemudian dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan Erina.


***


Erina berdiri mematung dengan gelisah di depan toilet pria. Dia menunggu seseorang keluar dari dalam sana, sempat melihat orang yang sedang di carinya masuk kedalam sana.


Krek!


Pintu toilet pria terbuka. Erina terlonjak kaget, gugup juga. Bagaimana dia harus berbasa-basi di hadapan Albi? Bagaimana? Bagaimana?


"Hai!" Ucap Erina sambil melambaikan tangan sambil tersenyum ke arah orang yang baru saja keluar dari dalam sana.


Senyumnya memudar saat sadar jika orang yang dia sapa bukanlah Albi. Dia langsung menurunkan tangannya yang tadi melambai di udara.


"Loe kenapa Er berdiri di sini? Jangan-jangan loe mau ngintip ya?" Iqbal menatap Erina penuh selidik, juga dengan menunjuk Erina dengan jari telunjuknya.


"Ihh nggak. Apaan sih loe." Salah tingkah Erina menjawab. Lantas ia membetulkan rambutnya yang mungkin saja berantakan.


"Udah loe balik sana. Nggak baik tau diem sendirian di depan toilet. Loe mau kesambet sama setan toilet ini?" Tanya Iqbal menakut-nakuti.


"Amit-amit. Loe kok ngomongnya gitu sih!" Ucap Erina. "...loe aja selama jam istirahat sering diem di dalam toilet ini. Tapi gue nggak pernah denger loe kesurupan. Gue heran kenapa loe betah banget di dalam sana. Nggak bau apa?" Sambungnya kemudian, di ujung kalimat sia menutup hidungnya dengan tangan.


Bahkan Erina heran, apa sih yang sering Iqbal lakukan di dalam toilet?

__ADS_1


"Ada apaan nih rame-rame?" Satu orang lagi yang baru saja keluar dari dalam toilet, bertanya.


Astaga! Itu Albi.


Masa iya Erina harus memberikan brownis nya di depan Iqbal.


"Nggak kok. Gue cabut duluan!" Iqbal berlalu pergi setelah menepuk pundak Albi.


Tinggallah mereka berdua disana. Iqbal sudah tidak ada, lantas apa lagi yang Erina tunggu? Dia malah terlihat semakin gugup.


"Loe nggak ke kelas Er? Bentar lagi masuk lho." Ucap Albi yang melihat Erina hanya diam saja.


"Emm, gue..." Ucap Erina menggantung di udara. Dia meremas baju seragamnya menahan malu.


"Kenapa?" Tanya Albi yang melihat keraguan di mata Erina.


"Sebenernya gue cuma mau minta maaf sama loe Bi." Akhirnya terucap juga kata-kata yang sedari tadi sudah ada di ujung lidahnya itu.


"Maaf buat apa Er? Loe nggak punya salah sama gue." Jawab Albi.


"Banyak Bi. Salah satunya gue udah nuduh loe yang naruh bangkai tikus si kolong meja waktu itu. Gue bener-bener malu sama loe." Ucap Erina tertunduk sambil menatap ubin. Tak berani menunjukkan wajah di depan Albi. Dia tak tau sudah semerah apa pipinya sekarang.


"Ya udahlah santai aja Er. Lagian itu udah lewat kan? Terus gimana sama Baim? Apa loe udah tau siapa orang yang udah berusaha buat nyulik Baim dan yang meneror loe itu?" Tanya Albi kemudian.


"Belum Bi. Bokap gue mencurigai seorang perempuan paruh baya dan kita lagi nyari dimana keberadaan perempuan itu." Jawab Erina.


Ahh, kenapa semakin hari sikap Albi semakin sulit di tebak saja? Kadang-kadang kata-katanya terlalu bijak, namun kadang juga sikap menyebalkan nya minta ampun.


"Thank ya Bi." Jawab Erina sambil tersenyum.


"Ya udah, kita ke kelas yuk!" Ajak Albi, sudah nyelonong duluan. Segera Erina mencegahnya.


"Emm, Bi!" Seru Erina. Sontak Albi berbalik badan.


"Kenapa?" Tanya Albi. Erina menyodorkan satu box brownis yang sedari tadi dia pegang kepada Albi.


"Ini buat apa Er?" Tanya Albi sambil menatap tangan Erina yang terulur. Belum mengambil benda yang ada di tangannya.


"Ini dari nyokap gue. Katanya sebagi ucapan terimakasih karena loe udah bantu gue cari Baim kemarin." Nah, itu alasan yang tepat. Menjual nama mamanya. Loe memang jenius Er. Memuji diri sendiri di dam hati. Yes!


Albi tersenyum mendengar penuturan Erina. Satu langkah menuju hati perempuan itu. Hubungannya dengan Erina sudah banyak kemajuan sekarang. Berkat tarik ulur yang Via sarankan waktu itu.


"Ya udah. Bilangin makasih sama nyokap loe nanti. Boleh gue ambil?" Tanya Albi kemudian.


"Iya, nih!" Albi pun mengambilnya dari tangan Erina. Rasa hangat langsung menjalar ke ulu hati Albi saat tangannya dengan tangan Erina tak sengaja bersentuhan.

__ADS_1


"Ehh, sory!" Albi langsung menarik tangannya takut Erina merasa tak nyaman.


"Nggak apa-apa." Keduanya terlihat salah tingkah. Segera Erina membuang nafas dan menormalkan detak jantungnya.


***


Lelah juga Via mencari keberadaan Violla di seantero sekolah. Karena merasa pencariannya sia-sia, diapun memutuskan untuk pergi ke kelas saja. Tanpa di sangka, orang yang dia cari-cari sedang berada di kelas bersama dengan gengnya.


Astaga!


Via telah membuang-buang waktunya yang berharga hanya untuk mencari orang tak penting seperti Violla. Dia kemudian berjalan menghampiri meja Violla.


"Ehh, Olla. Loe tau nggak kenapa hari ini Ameera nggak masuk? Apa dia sakit? Atau kenapa?" Tanya Via, biasa kalau bertanya tidak bisa satu-satu, intonasinya cukup bersahabat.


Violla yang sedang ketawa-ketiwi dengan teman-temannya menghentikan aktifitasnya. Merasa terganggu dengan kedatangan Via. Lalu menatap Via dengan lirikan sinis nya.


"Gue nggak tau dan nggak mau tau apapun tentang dia. Paham?" Jawab Violla singkat namun benar-benar tajam, menancap di hati Via.


"Loe kan adiknya,. Gue cuma mau tau aja apa Ameera ada pulang ke rumah bokap nya atau nggak? Kalau gue nggak nanya sama loe, terus gue mau nanya sana siapa lagi?" Niatnya ingin bertanya secara baik-baik, namun jawaban yang di lontarkan Violla membuat Via tersulut emosi.


"Loe kan SAHABAT nya, harusnya loe tau dong dia dimana sekarang. Malah nanya ke gue lagi. Ehh, gue itu nggak perduli ya mau dia nggak masuk sekolah kek, mau dia sakit kek, mau dia mati ketabrak kereta sekalipun gue nggak perduli." Mulai menyolot. Dan itu berhasil membuat emosi Via naik hingga ke ubun-ubun. Merasa sakit hati atas perkataan Violla. Bukankah perkataan adalah do'a? Dia tak terima sahabat terbaiknya di do'akan yang jelek-jelek seperti itu.


"Loe itu bener-bener ya punya mulut! Mau gue jahit itu mulut loe? Hah? Buat apa punya mulut tapi nggak digunain sesuai dengan fungsinya!" Sudah level akhir kemarahannya, Via balik menyerang Violla dengan kasar.


"Apa loe? Mau ribut sama gue? Ayo gue jabanin!" Violla sudah menaikan kedua lengan seragamnya bak preman. Menantang.


Suasana kelas seketika menjadi riuh melihat pertengkaran Via dan Violla. Sudah banyak murid-murid di dalam sana, menjadikan mereka bahan tontonan. Ada yang mendukung Violla, tapi tak sedikit yang mendukung Via.


"Ayo sini!"


Violla mengambil ancang-ancang untuk melayangkan tangannya ke arah Via, Via sudah siap untuk menghindar dan berniat untuk menyerang balik setelahnya. Namun sayang, sebelum perkelahian itu terjadi, guru pengajar datang dan melerai. Erina juga nampak mengekor di belakang pak Hilman.


"Hey hey hey! Apa apaan kalian ini? Apa disekolah ini ada pelajarkan tentang kekerasan?" Suara pak Hilman menggelegar, memenuhi sudut ruang kelas.


Via dan Violla sama-sama terkesiap. Sejurus kemudian mereka merapikan diri masing-masing. Bisa-bisa mereka akan mendapat hukuman kalau sampai ketahuan berkelahi.


"Maaf pak." Via memilih mengalah dulu, dia akan memberi Violla pelajaran. Namun nanti, saat mereka sedang tak berada di lingkungan sekolah.


"Sudah sudah! Duduk di bangku kalian masing-masing!" Seru pak Hilman kemudian. Menatap heran kedua muridnya yang berulah.


Murid yang berkerumun untuk melihat pertengkaran Via dan Violla tadi seketika membubarkan diri, duduk di bangku masing-masing. Sebelum benar-benar pergi, Via melayangkan tatapan mautnya ke arah Violla. Tatapan matanya itu seperti mengatakan. Awas loe!


Setelah semua murid menjatuhkan diri di bangkunya, mengheningkan cipta pun dimulai.


_______________

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2