THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Lemah tanpa Via


__ADS_3

Erina menyusut wajahnya yang sembab dengan kasar, melirik orang-orang di sekitarnya. Tak sengaja tatapannya bertemu dengan Violla and the genk.


"Haha, kasian banget ya nggak punya temen sekarang. Siapa suruh punya temen kok malah di bunuh sih. Hiii ngeri gue." Violla bercerita sambil bergidig.


"Memangnya temennya yang satu lagi kemana La?" Temannya Violla menanggapi.


"Loe nggak tau?" Tanya Violla sambil menuding ke arah tiga temannya.


"Nggak!" Ketiga temannya berseru serempak dengan nada lebay, terlihat sekali kalau mereka sedang bermain-main. Padahal Erina yakin mereka pasti tau kalau Via sudah pergi.


"Temennya kan udah cabut dari kota ini, dia pasti takut dibunuh juga sama dia." Violla bicara sambil mendelik-delik ke arah Erina.


"Hiii, ngeri juga ya temenan sama pembunuh kayak gitu." Seru salah satu teman Violla.


"Kalau bukan karena nyokap gue ya, dia sekarang pasti lagi meluk lutut di pojokan penjara sambil nangis-nangis bombay. Hahaha." Di akhir kalimat Violla tertawa puas.


"Huuu, kasian banget sih."


"Gue nggak tau terbuat dari apa sih hati nyokap loe itu La? Kenapa dia bisa sebaik itu sama seorang pembunuh?"


Obrolan mereka masih terus berlanjut, tanpa memperdulikan jika ada sekeping hati yang terasa di sayat-sayarlt saat mendengar obrolan mereka. Hati siapa lagi kalau bukan hati Erina? Meskipun mereka tak memyebutkan secara spesifik nama Erina di dalam onrolannya, namun Erina cukup tau diri dan merasa jika dirinyalah yang sedang mereka bicarakan.


Liat beb, tanpa loe disini gue lemah. Kalau loe ada di sini mungkin loe bakalan hajar si Violla buat belain gue. Plis beb, balik lagi kesini, gue butuh loe!


Erina hanya bisa menjerit di dalam hati. Dia beranjak dari duduknya, hendak pergi ke toilet untuk sekedar membasuh wajahnya yang mungkin sekarang sudah tak berbentuk lagi.


Perempuan itu berkalan sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya dari murid-murid yang berdiri di sepanjang koridor saat tiba-tiba saja...


BUKKK!


Tak sengaja Erina menabrak bahu seseorang yang juga sedang berjalan sambil menunduk. Seketika sebuah berkas jatuh berhamburan ke udara sebelum akhirnya mendarat di lantai.


Erina terkesiap, sepertinya itu adalah berkas-berkas yang di bawa oleh orang yang tak sengaja ia tabrak tadi. Orang itu langsung berjongkok dan merapihkan kembali berkas-berkasnya.


Segera Erina berjongkok dan membantu memunguti berkas orang itu, tanpa sadar siapa orang yang baru saja ia tabrak itu.

__ADS_1


"Sory ya gue nggak sengaja." Ucap Erina sambil memunguti berkas yang berhamburan di lantai.


"Iya." Orang itu menjawab singkat sambil tangannya tak berhenti mengumpulkan berkasnya.


Sekilas Erina membaca lampiran yang ada di salah satu berkas itu.


FORMULIR BEASISWA MASUK PERGURUAN TINGGI.


Mendadak Erina jadi penasaran, siswa pintar mana yang mendapatkan beasiswa itu? Setau Erina, hanya ada 3 murid yang beruntung mendapatkan beasiswa, itupun diambil dari nilai tertinggi hasil ujian.


Erina lanjut membaca data diri siswa yang berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa di berkas itu.


Nama : Dea Adisti.


Ternyata si Dealah orang yang baru Erina tabrak itu. Erina menoleh ke depan, dan benar saja, si mata empat itu kini sudah kembali ke bentuk buruk rupanya, memakai kaca mata tebal itu lagi. Sangat jauh berbeda dengan yang di foto saat bersama Albi. Dea masih sibuk memunguti berkasnya yang lain.


Pandangan Erina kembali beralih pada data yang sedang dia pegang.


No induk :19000486.


Tempat tanggal lahir : Bandung, 2 Februari 2001.


Nama ayah kandung : Yana Suryana.


Nama ibu kandung : Devi Permata.


Deg!


Astaga!


Erina berhenti membaca berkas milik Dea setelah mengetahui nama ibu kandung Dea ternyata adalah Devi. Tunggu dulu! Erina sibuk menstabilkan irama jantungnya yang mendadak berdebar dengan kecepatan tinggi. Jadi, benarkan dugaan Erina selama ini, kalau si Dea adalah orang yang sedang dia cari-cari. Nama ibunya adalah Devi, yang itu artinya Dea adalah adik tirinya, begitu?


Tangannya bergetar sambil memegangi berkas data diri milik Dea. Si Dea tidak akan bisa mengelak lagi, buktinya sudah ada di tangan Erina sekarang.


Erina dengan gerakan cepat beranjak berdiri, perempuan itu menatap Dea dengan tatapan tajam dan menusuk. Emosinya sudah naik ke ubun-ubun sejak tadi, saat Erina tau jika nama ibu Dea adalah Devi.

__ADS_1


Dea yang mendapat tatapan tajam dari Erina terlihat gelagapan. Apa Erina marah karena Dea sudah menabrak dirinya? Tapi kan itu bukan kesalahan Dea sepenuhnya, Erina juga berjalan sambil menunduk tadi. Dea menunduk dalam, mencoba menghindari tatapan Erina yang terasa menusuk itu.


BAKK!


Tanpa aba-aba, Erina mendorong tubuh Dea hingga punggungnya menyentuh dinding. Dea terkesiap sambil meringis, tak menyangka jika Erina akan bersikap kasar seperti ini.


"Awwwh." Dea merintih, punggungnya lumayan sakit juga, Erina mendorongnya dengan kasar


"Loe!" Telunjuk Erina kini sudah menyentuh hidung Dea, wajahnya sudah merah menyala, seperti ingin menelan orang hidup-hidup.


Dea ingin beringsut mundur, namun punggungnya sudah mentok di dinding sehingga tak bisa mundur lagi.


"Dasar pengecut! Ternyata bener kan dugaan gue selama ini. Loe ternyata anaknya Devi! Loe nggak bisa ngelak lagi! Sekarang, loe akuin ke semua orang kalau loe yang udah bunuh Ameera!" Sentak Erina dengan nada tinggi.


"Kamu kenapa sih Er? Aku nggak bunuh Ameera, memangnya kenapa kalau ibu aku namanya Devi? Sikap kamu sama Albi sama-sama aneh waktu tau kalau nama ibu aku Devi?" Ucap Dea yang mulai tak terima dirinya dituduh secara terang-terangan telah membunuh Ameera.


"Apa?" Mata Erina membulat sempurna saat Dea mengatakan kalau dirinya dan Albi bersikap aneh saat tau nama ibu Dea adalah Devi. Jadi, Albi sudah tau kalau Dea ini anaknya Devi? Sejak kapan? Kenapa laki-laki itu tak memberi tahu dirinya?


"Jadi bener? Selama ini loe sama Albi sering ketemuan di belakang gue? HAH?" Erina mengguncang bahu Dea dengan emosi, perempuan itu tak bisa mengendalikan kemarahannya saat ternyata Albi merahasiakan hal sebesar itu dari dirinya.


"Sakir Er!" Bukannya menjawab, Dea malah meringis.


"Loe, bener-bener keterlaluan De, loe udah nerror gue, culik Baim, naruh bangkai tikus di meja gue, kirim paket terror ke rumah gue. Dan yang lebih parahnya lagi loe bunuh Ameera dan sekarang loe mau rebut Albi dari gue? HAH? Loe itu munafik, nggak tau diri, nggak tau malu. Diluar aja keliatannya lugu dan sok polos, tapi ternyata hati loe itu BUSUK!" Erina berkata dengan menggebu-gebu, bahkan perempuan itu hampir menangis saking emosinya.


Dea menyangkal dengan menggelengkan kepalanya. Kenapa Erina bisa menyimpulkan demikian tentang dirinya? Apa sebenarnya kesalahan yang telah Dea lakukan pada Erina? Sehingga dia terlihat sangat membenci Dea? Masalah Albi? Sungguh, tak pernah terbesit di benak Dea untuk merebut Albi darinya meskipun jujur Dea menyukai laki-laki itu.


"Sejak kapan Albi tau tentang ini?" Sentak Erina kemudian. Dea bingung harus menjawab seperti apa, dia benar-benar ketakutan saat melihat Erina yang marah seperti orang kesetanan.


"JAWAB! LOE NGGAK BISA JAWABKAN?!" Nada bicara Erina semakin tinggi, emosinya tak terkendali. Dia sudah mengangkat tangannya ke udara, dan bersiap untuk melayangkan tamparannya pada wajah so polos Dea itu.


Namun sebelum telapak tangannya mendarat di pipi Dea, sebuah tangan menahan tangan Erina.


"Cukup Er!" Seru si pemilik tangan.


_________________________

__ADS_1


Hayo hayo, gimana lagi nih kelanjutannya? Authornya nisfuan dulu ya. Selamat malam nisfu sya'ban untuk yang menjalankannya. Nanti kita lanjut lagi setelah beres nisfunya...


__ADS_2