THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Tersangka pertama


__ADS_3

Erina, Albi dan Via melewatkan jam pelajaran pertama. Dan saat pelajaran kedua di mulai, barulah mereka ikut bergabung. Guru pengajar memberi mereka toleransi karena Devan langsung yang menjelaskan bahwa Erina pingsan karena terkena lemparan bola darinya.


Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat mengintrogasi Devan, sepanjang pelajaran berlangsung pikiran Erina benar-benar tak fokus, ia harus menyusut tuntas kasus kematian Ameera yang menjerat dirinya ini.


Waktu terasa berjalan sangat lambat, Erina berulang kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Perasaan sedari tadi jam tetap saja menunjukan pukul 10 pagi, apa jamnya mati? Tapi tidak, jarum panjangnya masih bergerak dengan normal.


Sesekali Erina menoleh ke arah Devan, Devan yang sadar jika dirinya sedang di pantau oleh Erina balik menatapnya, sehingga kedua pasang mata milik mereka bertemu.


Astaga!


Apa Erina marah ya karena terkena lemparan bola tadi? Mana gue belum sempet bilang maaf lagi.


Entah kenapa Devan tidak bisa marah kepada Erina meskipun perempuan itu telah di tetapkan sebagai tersangka. Hati Devan mengatakan jika memang bukan Erina pelakunya, saat Erina dengan tegasnya berkoar-koar seantero sekolah, Devan merasa jika Erina tidak sedang berbohong.


Disaat semua orang merundung perempuan itu, Devan sama sekali tak tertarik untuk ikut merundung. Yang ada Devan malah merasa kasihan, Erina terlihat sangat tertekan.


***


Akhirnya bel tanda istirahat menjerit juga. Semua murid bergegas pergi meninggalkan kelas, kantin adalah tujuan utama mereka para manusia-manusia yang kelaparan.


Hanya tinggal si Dea sendirian di dalam kelas, dia kan tidak akan meninggalkan bangkunya kalau tidak kebelet. Entahlah, mungkin perutnya tidak pernah merasa lapar.


Erina melupakan tentang temuannya kemarin saat mengintai Dea, karena temuannya semalam jauh lebih besar dan mengalihkan perhatiannya dari Dea.


Erina, Via dan Albi menghadang jalan Devan yang hendak pergi ke kantin.


"Woy, tunggu dulu bro!" Albi membenturkan tubuh Devan hingga menyentuh dinding. Gerakannya cukup pelan, Devan tak merasa kesakitan, hanya sedikit kaget saja karena mendapat serangan mendadak seperti itu.


Via muncul dari samping kiri Devan, sedangkan Albi berdiri di samping kanannya. Disusul Erina yang kemudian berdiri tepat di hadapan Devan.


"Ada apaan ini?" Devan yang merasa di kepung dari segala sisi jadi was-was, apa lagi dengan tatapan mereka bertiga yang terasa sangat mengintimidasi. Bukan takut, Devan justru bingung dengan tingkah teman-teman sekelasnya itu.


Erina menatap tajam wajah Devan, yang di tatap mengerutkan alis hingga hampir menyatu.


"Loe yang udah bunuh Ameera kan?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut Erina, penuh penekanan, ekspresinya sangat menantang. Mendadak Erina kehilangan rasa hormatnya terhadap laki-laki yang ia kagumi itu.


"Loe ngomong apa sih Er? Bukannya loe yang udah bunuh Ameera?" Devan malah balik bertanya.


"Dan loe percaya kalau gue yang bunuh dia? Loe salah besar. Loe kan yang udah buat Ameera hamil, loe nggak mau bertanggung jawab terus udah gitu loe bunuh Ameera dan menjadikan gue kambing hitam?" Tuding Erina dengan nada tinggi.


Via dan Albi menyimak dengan seksama, mereka akan menjadi saksi saat Devan mengakui semuanya. Bahkan Albi sudah siap merekam pengakuan dari Devan dengan ponsel miliknya.


"Apa? Ameera hamil? Loe, loe kalau ngomong jangan asal ya Er!" Devan terlihat terkejut, bahkan Dia sampai bicara dengan tergagap.


"Udahlah, loe jangan pura-pura bego. Mendingan sekarang loe serahin diri loe ke polisi dan bersihin nama gue." Ucap Erina dengan tegas.

__ADS_1


"Astaga! Loe bener-bener ya Er! Gue nggak tau apa-apa soal Ameera yang hamil." Sergah Devan.


"Ini buktinya. Gue nemuin ini di bukunya Ameera." Erina memperlihatkan test pack itu kepada Devan.


"Ihh, jauh-jauh Er! Itu kan bekas kencing. Jorok tau." Devan menepis tangan Erina.


Erina menjauhkan test packnya, lalu memasukannya kedalam saku seragam, baru sadar kalau benda itu memang bekas kencing.


"Udahlah bro, loe ngaku aja. Ini semua nggak bener, loe tega liat Erina harus masuk penjara gara-gara kesalahan yang nggak dia lakuin? Lagian hidup loe nggak bakalan tenang, perasaan bersalah pasti bakalan terus ngehantuin loe." Ucap Albi.


"Astaga bro! Gue kan udah bilang gue nggak tau apa-apa." Balas Devan.


"Sekarang loe ngaku dulu, kalau loe yang udah hamilin Ameera kan?" Lagi-lagi Erina menuding ke arah Devan. Dia sudah sangat marah karena Devan tak mau mengaku.


"Loe ngaco tau nggak Er! Orang gue masih perjaka kok." Jawab Devan bersungguh-sungguh.


Erina menurunkan jari telunjuknya saat merasa kalau Devan sedang tidak bicara bohong, sorot matanya memancarkan kejujuran. Namun, Erina tak bisa begitu saja percaya dengan mudah. Semua orang memiliki potensi yang sama.


"Terus kalau bukan loe siapa lagi? Loe kan pacarnya." Kali ini Via angkat bicara.


"Kalian tau sendiri kan, satu bulan sebelum Ameera meninggal, sikapnya itu banyak berubah. Dia jadi dingin, gue kasih perhatian dia malah marah-marah sama gue." Jawab Devan.


Semua kemudian terdiam, tenggelam dengan pikirannya masing-masing.


Devan berpikir apa sikap Ameera yang berubah ada kaitannya dengan kehamilannya? Jadi Ameera berselingkuh di belakang Devan selama ini, begitu?


***


Saat jam pulang sekolah tiba...


Albi mengejar Erina dan Via yang sudah keluar terlebih dulu dari kelas.


"Er! Vi! Tunggu!" Seru Albi sambil berlari kecil ke arah kedua perempuan itu.


Erina dan Via menoleh bersamaan.


"Apa sih Bi? Kita lagi ngejar si Dea, mau labrak dia ini." Jawab Via.


"Oh ya? Si Deanya mana?"


"Udah pulang kayaknya. Kita telat, gue heran deh, jalannya cepet banget itu anak." Jawab Erina.


"Ya udahlah biarin, kita bisa introgasi dia besok lagi. Gimana kalau kita pergi kostannya Ameera sekarang. Kita cari info disana. Siapa tau kita bisa dapat petunjuk." Ucap Albi.


"Oh iya, bener juga loe Bi. Ayo kita kesana sekarang!" Erina terlihat sumringah saat Albi lagi-lagi memiliki ide untuk mencari barang bukti. Dia harap semuanya akan segera terungkap agar dirinya bisa benar-benar bernafas lega.

__ADS_1


Kemudian mereka pergi ke arah parkiran untuk mengambil motor masing-masing.


Ternyata Devan sedari tadi mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari balik dinding koridor. Dia jadi merasa tertarik untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Sepertinya Erina tidak sedang main-main.


***


Via dan Albi memarkirkan motornya tepat di depan kostan Ameera. Mereka turun kemudian berjalan mendekat. Garis polisi berwarna kuning masih melintang mengelilingi kostan itu.


"Gimana caranya kita masuk?" Tanya Via sambil garuk-garuk tengkuk.


"Iya nih, gimana Bi?" Tanya Erina.


Albi terdiam, pertanda dia sedang berpikir. Dia melongok melalui jendela samping pintu, namun dia tak bisa melihat keadaan di dalam sebab gordennya tertutup dari dalam.


"Hey! Kalian lagi ngapain?" Sebuah suara asing tiba-tiba saja terdengar. Sontak membuat ketiganya menoleh.


Terlihat Devan yang sedang berdiri disana. Astaga! Kapan dia datang? Kenapa bisa langsung ada di depan mereka? Dan mobilnya sudah terparkir di samping motor Albi, bahkan mereka bertiga tak mendengar suara deru mesin mobil Devan.


"Loe, ngapain loe kesini? Loe ngikutin kita ya?" Sewot Erina. Karena bagaimanapun Erina masih menyimpan curiga terhadap Devan.


"Iya, ngapain sih loe?" Albi ikut sewot. Bisa bahaya kalau sampai Erina dekat-dekat dengan Devan. Pikirnya.


"Yaa, gue juga mau cari tau siapa orang yang sebenernya udah menghamili Ameera, memangnya nggak boleh?" Jawab Devan.


"Nggak boleh, gue masih curiga sama loe ya!" Balas Erina.


"Udahlah beb, kayaknya memang beneran bukan Devan deh pelakunya. Biarin dia ikut kita cari orang itu, semakin banyak yang bantu, semakin besar kemungkinan kita bisa nemuin orang itu secepatnya." Via mengemukakan pendapatnya.


Benar juga apa yang di katakan Via. Batin Albi. Ehh, tapi kenapa dia jadi membela si Devan itu? Bukankah kemarin dia bersemangat sekali mencomblangkan Albi dengan Erina. Jadi sebenarnya dia sedang berada di pihak siapa?


"Nggak bisa, nggak bisa, gue nggak setuju, ini kan misi kita. Dia juga kan salah satu tersangkanya." Ucap Albi.


"Loe kenapa sih Bi?" Devan tak terima dirinya di tolak mentah-mentah.


"Udah mendingan loe balik aja deh. Sana! Sana!" Albi mengibaskan tangannya mengusir Devan. Yang di usir malah bergeming tak perduli.


Erina terdiam, perkataan Via tidak ada salahnya. Mungkin dengan Devan bergabung, dirinya bisa mempercepat menemukan pelaku yang sebenarnya.


"Gue berhak tau dong, Ameera kan pacar gue." Jawab Devan.


"Oke, oke. Loe harus kasih tau info sekecil apapun sama kita mulai sekarang."


"Tapi Er..." Protes Albi terpotong saat perempuan paruh baya datang dan menegur mereka.


"Hey, apa yang kalian lakukan disini?!"

__ADS_1


________________


Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2