THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Bukan penghianat


__ADS_3

"Loe jangan asal bicara ya Dev! Loe kalau nggak tau duduk permasalahannya mendingan diem dan tutup mulut loe itu!" Seru Albi dengan nada tinggi, telunjuknya kini hampir menyentuh wajah Devan.


"Apa? Loe mau ngelak? Dasar PENGHIANAT!" Devan berseru dengan penuh penekanan pada kata penghianat, terlihat sangat menantang. Membuat Albi semakin kalap. Oke, mulutnya bisa diam sekarang, namun tangannya yang mulai bicara.


BUKKKK!


Kepalan tangan Albi mendarat dengan mulus di wajah Devan. Devan menyusut sudut bibirnya yang mengeluarkan cairan merah.


Kurang ajar, berani-beraninya dia! Sakit akan lukanya sih tidak seberapa, namun harga dirinya terasa diinjak-inajak disini.


Devan tak terima, dia balas memukul Albi.


BUKKK!


Satu sama. "Haha." Devan menyeringai saat melihat Albi memegangi pipinya setelah diberi bogeman mentah olehnya.


"Sialan loe Dev!"


BUKKK!


Albi melayangkan lagi pukulannya, di perut Devan kali ini. Devan tak ingin kalah, dia akan menunjukkan siapa yang paling kuat disini.


BUKKKK!


BUKKKK!


BUKKKK!


Entah sudah berapa banyak pukulan yang mereka layangkan, kedua laki-laki itu sama-sama tak mau kalah. Mereka terus ber-baku hantam meskipun kini sekujur tubuh mereka sudah di penuhi luka lebam, tak memperdulikan Erina yang berteriak histeris menyaksikan perkelahian mereka.


"Stop plis! Ini bukan arena tinju!" Erina hanya berseru sambil berteriak, tak berniat melerai, terakhir kali dia mencoba memisahkan Devan yang memukuli Iqbal, namun malah dirinya yang terkena pukulan.


"Brengsek loe Bi, ternyata loe penghianat nya!


BUK!


"Loe yang brengsek! Loe mau cari muka di depan Erina?"


BUK!


Dea memanfaatkan momen itu untuk kabur, dia tak ingin di seret-seret lebih jauh kedalam permasalahan mereka. Masalah hidupnya saja sudah berat.


Keduanya masih saja ber-baku hantam, bahkan pertarungan mereka semakin sengit Devan tak ingin kalah dari Albi, begitupun sebaliknya. Sampai akhirnya seseorang datang dan menjadi penengah di antara mereka.


"Berhenti! Kalian jangan kayak anak kecil gini!"

__ADS_1


"Iqbal?" Pekik Erina saat Iqbal berhasil memisahkan Devan dan Albi. Keduanya bringsut ke dua arah yang berlawanan setelah Iqbal menyentak bahu keduanya dengan kasar. Nafas yang memburu, dada kembang kempis, menandakan jika mereka kelelahan. Meskipun mereka sudah terpisahkan namun tatapan tajam dari mata mereka masih terpaut satu sama lain, sorot kebencian terpancar nyata dari netra masing-masing.


"Kalian kenapa jadi ribut begini sih? Bukannya kalian satu tim buat bantuin Erina? Harusnya kalian kompak dong bukannya malah main pukul-pukulan kaya gini!" Seru Iqbal.


Erina menyugar rambutnya dengan kasar, ingin rasanya dia melepaskan rambut itu dari kepalanya, siapa tau saja setelahnya Erina tak akan merasakan pusing lagi.


Cih.


Albi segera membuang pandangannya dari Devan dan beralih menatap pada Erina yang terlihat sangat frustasi.


"Udah, bubar semua!" Seru Iqbal galak pada teman-temannya yang berkerumun. Satu persatu siswa yang berkerumun mulai membubarkan diri, lagi pula keseruannya sudah berakhir. Iqbal lantas membawa Devan pergi dari sana agar tak terjadi perkelahian lagi.


Tinggal Erina dan Albi yang tersisa.


"Maafin gue Er, gue bener-bener nggak bermaksud bohongin loe." Ucap Albi bersungguh-sungguh. Dia hendak meraih tangan Erina, namun Erina segera menepis sebelum tangan Albi menyentuh kulit tangannya.


"Gue kecewa sama loe Bi. Loe diem-diem temuin Dea di belakang gue, loe bohongin gue soal Devi. Loe pikir gimana perasaan gue hah?" Meskipun nada bicaranya sudah sedikit rendah, namun di setiap kata yang ia lontarkan masih terkesan marah.


"Tapi gue lakuin itu semua buat loe Er." Ucap Albi sendu.


"Gue kira loe tulus sama gue Bi, tapi ternyata... Udahlah, gue bener-bener kecewa! KECEWA!" Erina bicara dengan penuh penekanan.


Setelahnya dia berlari menjauhi Albi, dia takut kalau Albi akan menahannya. Yang diperlukan Erina saat ini adalah sendiri dan menangis, Erina tak ingin ada satu orangpun yang melihat air matanya termasuk Albi.


"Er!" Albi hendak mencegah, namun terlambat, Erina terlanjur menjauh. Laki-laki itu menjambak rambutnya frustasi.


Kata-kata sialan itu memenuhi otak Albi bersamaan dengan munculnya wajah Erina yang banjir dengan air mata.


"Aarrrgh!"


BUKKK!


Albi menendang tong sampah tak berdosa yang sedari dulu nangkring di pojok koridor hingga terjungkir dan isinya berserakan di lantai.


***


Hari-hari Erina semakin suram setelah kejadian itu, meskipun dia sudah mengetahui fakta jika anaknya Devi itu adalah Dea, namun dia masih ragu untuk mengatakan itu pada kedua orang tuanya. Erina akan bicara, tapi tidak sekarang. Dia perlu menenangkan diri dan belajar merima kenyataan kalau ternyata Dea memanglah adik tirinya.


"Er!" Mama Sofi mendorong masuk pintu kamar Erina yang sedikit terbuka.


Terlihat Erina sedang melamun sambil menatap ke luar jendela. Meskipun tau mamanya memanggil, Erina tak sedikitpun menoleh.


Ya, begitulah kegiatan Erina selama beberapa hari terakhir, melamun dan menyendiri. Seperti tidak memiliki gairah untuk hidup. Hatinya hampa dan kosong.


"Ada temen kamu itu di depan." Ucap mama Sofi kemudian.

__ADS_1


"Bilang aja Erina nya lagi tidur." Jawab Erina. Dia tau kalau temannya yang datang itu Albi, dari posisinya sekarang, Erina bisa melihat motor Albi yang terparkir di depan gerbang rumahnya.


"Kenapa sih kamu nggak mau temuin dia akhir-akhir ini Er? Biasanya kalau dia datang kamu langsung ngacir keluar." Ucap mama Sofi kepo.


"Nggak kenapa-napa kok ma, lagi males aja." Jawab Erina malas-malasan.


"Beneran nih nggak mau ketemu? Mama suruh dia ke sini aja ya?!" Tawar mama Sofi kemudian. Ke sini maksudnya ke kamar Erina, begitu? Sontak Erina menoleh ke arah ibu kandungnya itu.


"Jangan ma, mama kok mau masukin cowo ke kamar anak gadisnya sih? Suruh dia pergi aja." Ucap Erina sewot.


Terdengar helaan nafas dari mama Sofi.


"Ya udah kalau kamu nggak mau ketemu. Mama suruh dia pulang aja." Mama Sofi kembali menutup pintu kamar Erina.


Erina bergegas mengunci pintu, takut mamanya benar-benar akan membawa si Albi itu masuk ke kamarnya. Lalu kembali ke tempatnya semula, menatap lagi ke luar jendela.


Dia bisa melihat Albi yang berjalan keluar dari pekarangan rumahnya dan naik ke atas motor.


Syukurlah, ternyata dia mau pergi juga. Erina masih kecewa.


Segera Erina menyibak tirai jendela saat melihat Albi yang tiba-tiba saja menatap ke arahnya.


***


Albi melajukan motornya keluar dari komplek perumahan tempat Erina tinggal. Perempuan itu masih marah kepadanya, padahal Albi sudah menjelaskan panjang lebar melalui pesan chat. Namun Erina hanya membacanya saja tanpa mau membalas. Albi menelfon tapi Erina tak pernah mengangkat satupun panggilan darinya. Entah sudah berapa kali Albi datang ke rumahnya, namun Erina tetap tak mau menemuinya. Lalu Albi harus apa lagi sekarang?


Albi bisa melihat kesedihan di wajah perempuan itu meskipun hanya sekilas melihatnya tadi sebelum perempuan itu menyibak tirai jendela.


Sepertinya Albi harus menyelesaikan masalahnya hari ini juga. Ya, sebelum kesalah pahaman ini semakin jadi besar Albi harus segera menghentikannya. Albi mencintai Erina, Albi menyayangi Erina, Albi ingin perempuan itu tersenyum dan tidak menangis.


Albi membelokkan motornya ke arah kiri saat melalui persimpangan jalan. Setelah berkendara kurang lebih 20 menit, Albi sampai di tempat tujuannya. Dia menepikan motornya di pinggir lapangan dan berjalan kaki. Lapangan terlihat ramai sore itu, banyak anak-anak yang sedang bermain sepak bola disana. Albi menendang bola kembali ke tengah lapangan saat bola itu tak sengaja terlempar ke arahnya.


"Makasih kak." Ucap salah satu anak itu. Albi hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum ke arah anak itu sebelum akhirnya dia kembali berjalan menuju rumah Dea.


Tok... Tok... Tok...


Albi mengetuk pintu rumah Dea yang sepertinya sudah diperbaiki setelah dirusak oleh dirinya malam itu.


Krek!


Tak berselang lama, pintu usang itu dibuka seseorang dari dalam.


_____________________


Si Albi mau ngapain lagi ya? Mau cari gara-gara lagi kali ya?

__ADS_1


Tetap tinggalkan jejak setelah membaca...


__ADS_2