THE SECRET : Terror Brings Love

THE SECRET : Terror Brings Love
Peduli


__ADS_3

"Gue nggak tau masalah apa yang lagi loe hadapin sekarang. Entah itu soal Devan atau masalah di keluarga loe. Tapi satu hal yang perlu loe tau Meer, loe nggak sendirian menghadapi masalah loe itu. Ada gue, ada Via. Jujur kita sedih Meer dengan perubahan sikap loe yang drastis kayak gini. Gue paham kok kalau loe belum siap cerita sama kita, tapi datanglah Meer saat loe udah siap cerita semuanya sama kita. Telinga gue ini, siap dengerin semua masalah loe. Dan siapa tau aja gue sama Via bisa bantu buat nyelesain masalah loe itu." Ucap Erina panjang lebar.


"Udah lah Er! Plis berhenti buat cari tau gue kenapa. Nggak usah kepo loe jadi orang!"


Deg!


Erina terkejut, benar-benar terkejut saat Ameera membentaknya seperti itu. Bahkan semua murid yang melintas di koridor itu beralih menatap mereka karena suara Ameera yang cukup keras. Merasa jika bentakan dari Ameera adalah sesuatu yang langka dan menjadi hal yang seru untuk di jadikan bahan tontonan.


"Loe kok gitu sih Meer? Gue nggak bermaksud kepo, kita kan sahabatan udah lama, gue care sama loe. Loe lupa apa komitmen kita waktu pertama kita memutuskan buat sahabatan? Kita bakalan selalu ada buat satu sama lain. Kita bakalan hadapin kerasnya hidup bareng-bareng. Apapun yang terjadi, dan apapun masalahnya, kita bakalan hadapin semuanya sama-sama. Itu mantra persahabatan kita. Loe lupa apa?" Ucap Erina dengan sendu, sungguh, bentakan dari Ameera tadi membuat hatinya down.


Dia tak menyangka, Ameera yang lemah lembut mampu menaikan nada bicaranya seperti tadi. Ini bukan seperti Ameera yang Erina kenal sebelumnya. Erina benar-benar sedih dengan perubahan sikap Ameera.


"...gue tau loe sekarang lagi ada masalah coba loe cerita sama gue sama Via, kita cari jalan keluarnya sama-sama." Sambung Erina kemudian.


"Apa loe bilang? Care? Loe bukan care, tapi so care. Dan satu yang perlu loe tau ya! Masalah gue itu nggak akan pernah ada jalan keluarnya." Nada bicara Ameera semakin meninggi.


"Gue tau loe itu muna Er, selama ini loe suka kan sama Devan? Didepan gue aja loe so baik, tapi di belakang, loe itu nusuk gue."


Para murid terlihat berbisik-bisik mengomentari tentang kemarahan Ameera pada Erina. Persahabatan mereka yang lengket, kini sedang di guncang badai asmara. Wajar sih Ameera marah, beberapa murid tau kalau Erina memang menyukai Devan.


Erina gelagapan menjawab mengetahui jika alasan perubahan sikap Ameera ini ternyata gara-gara Devan. Apa Ameera sedang cemburu sekarang sehingga memusuhi Erina seperti ini?


"Nggak gitu Meer, loe salah paham. Gue... Gue..." Ucap Erina menggantung, bingung juga mau menyangkal seperti apa. Karena apa yang di katakan Ameera memang benar, Erina menyukai Devan.


"Loe apa? Loe boleh berbahagia sekarang Er. Silahkan loe ambil Devan kalau loe mau, DASAR PENGHIANAT!"


Deg!

__ADS_1


Kata-kata terakhir Ameera sungguh menusuk hingga menyayat ulu hati Erina. Dia tak percaya jika yang baru saja menuduhnya itu adalah Ameera, sahabatnya sendiri. Hampir saja Erina menangis, namun sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tak tumpah.


"Nggak Meer, loe salah paham. Oke gue minta maaf kalau seandainya gue salah. Tapi gue nggak berniat buat rebut Devan dari loe!"


"Kalau loe nggak salah, kenapa loe harus minta maaf? Udahlah, lupain! Gue ENEK liat muka loe!" Setelah mengucapkan kata-kata telak itu, Ameera berlalu pergi, membawa serpihan hati yang hancur berkeping-keping, meninggalkan Erina dengan sejuta tanya besar di hatinya.


Ameera berlari, terus berlari dan menjauh. Dia benci dengan keadaan ini. Hatinya ikut tersayat seiringan dengan kata-kata kasar yang keluar melalui bibirnya. Sebenarnya ia tak ingin melakukan ini, tapi keadaan yang memaksa.


Jika boleh jujur, Ameera ingin menyerahkan Devan yang baik hati dan sempurnanya kepada Erina, yang ia ketahui jika Erina menyukai Devan sejak lama. Dibandingkan Devan harus bersanding dengan dirinya yang tak layak.


Mungkin dengan cara memusuhi Erina dan menghindari Devan, adalah solusi yang tepat bagi Ameera sekarang.


Erina masih mematung di tempatnya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bentakan Ameera bagaikan sambaran petir di hatinya, apa benar perubahan sikap Ameera ini karena Ameera tau jika Erina menyukai Devan? Tanpa Ameera ketahui jika Erina telah bersusah payah untuk melupakan Devan dan mencoba merelakannya bersama Ameera? Meskipun itu sulit.


Erina menghapus asal setetes air mata yang baru saja keluar dari pelupuk matanya. Berusaha menetralkan hati dan pikirannya. Kemudian beralih menatap beberapa murid yang sedang berkerumun sambil menatapnya dengan iba. Erina benci tatapan seperti itu, tanpa menggubris mereka, Erina pun segera pergi untuk menyusul Via.


Sementara itu di parkiran sekolah, Via sedang memanaskan motornya saat Albi datang juga hendak membawa motornya.


"Sendirian aja, temen loe mana?" Tanya Albi.


"Ehh, loe. Siapa maksud loe? Temen gue yang mana? Temen gue kan banyak." Via malah balik bertanya.


"Erina lah, memangnya siapa lagi yang mau gue tanyain?" Jawab Albi sambil menyelah motornya. Via terkekeh kecil.


"Ada, palingan dia lagi nungguin gue." Jawab Via. Dia menaruh sikutnya pada stang motor, kemudian menjadikannya sebagai tumpuan kepala. Dengan gaya kerennya Via bertanya.


"Gimana gimana? Erina udah mulai jinak dong sama loe. Gue liat kalian suka jalan bareng belakangan ini?" Via bicara sambil menaik turunkan alisnya, menggoda Albi yang sedang kasmaran.

__ADS_1


"Haha. Loe tau aja. Thanks ya Vi, berkat saran dari loe gue bisa lebih deket sama dia." Albi tertawa melihat gaya konyol Via.


"Oke, gue saranin jangan terburu-buru nembak dia. Yang ada nanti dia kabur lagi. Selow aja, udah ada hilal ini." Ucap Via.


"Oke deh Vi, gue bakalan selalu inget nasehat loe ini." Albi memberikan jempolnya untuk Via.


"Dan satu hal lagi, loe jangan terlalu deket sama si Dea, bisa-bisa Erina cemburu dan loe bisa tereleminasi buat jadi calon pacarnya dia." Ucap Via asal.


"Maksud loe apa sih Vi? Pake bawa-bawa tereleminasi segala? Gue deketin Dea karena gue lagi cari informasi, apa bener Dea yang neror Erina?" Balas Albi.


"Nah, ini nih. Salah satu cara buat dapetin hatinya Erina. Gue suka sama cara loe Bi, gue yakin setelah terbukti kalau si Dea yang udah neror Erina, gue pastiin kalian bakalan jadian."


"Amiin." Albi mengamini.


"Hahaha." Kemudian keduanya tertawa bersamaan.


Tanpa mereka ketahui jika ada seseorang di sebrang sana yang mendengar dengan jelas apa yang baru saja mereka bicarakan. Dia adalah Dea. Kecewa yang Dea rasakan saat tau jika Albi hanya memanfaatkan dirinya saja.


Padahal Dea sudah berbesar kepala karena Albi mau mendekatinya, ternyata itu palsu. Tidak ada satu manusia pun yang benar-benar perduli kepadanya. Dia hanyalah butiran debu di mata semua orang.


Sampai kapanpun, Albi takan pernah berpaling dari cintanya Erina. Meskipun Dea mengetahui fakta itu, namun tetap saja perempuan itu tak bisa membuang bayangan Albi di hati dan pikirannya. Dea sadar, siapa dia dan siapa Erina. Dirinya tak sepadan jika harus dibandingkan dengan Erina. Erina terlalu sempurna, sedangkan dirinya, tak ada satu hal pun yang bisa ia banggakan di dalam dirinya.


____________________


Jangan lupa jejaknya ya teman-teman...


Oh ya, sambil nunggu novel ini up, ada baiknya kalian kepoin juga novelku yang satu ini. Masih berbau misteri, jalan cerita susah di tebak 😨 udah tamat pastinya, dan tentunya masih sepi pembacanya juga dooong 😭 hiksss 😆

__ADS_1



__ADS_2