
Senja telah tiba. matahari yang sejak siang tadi terus bersinar dengan terik kini sedikit demi sedikit mulai tenggelam menghilangkan sinarnya di muka bumi yang akan segera digantikan dengan cahaya bulan dan bintang yang redup
Fira saat ini menikmati matahari tenggelam yang tampak sangat jelas terlihat dari balkon tempatnya ia berdiri. tatapan matanya kosong. ntah apa yang sedang ia fikirkan.
di ruang makan semua keluarga dari Abraham telah berkumpul. belum ada makanan yang tersentuh karena Raniah belum mengizinkan siapapun untuk makan.
rasa penasaran Abimanyu, membuat bibirnya gatal jika tak bertanya, ia tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan orang tuanya " mami.. ini sebenarnya ada apa?? tadi siang papi nelfon aku, Arkana, dan fhatan untuk makan malam dirumah dan kami sudah disini tapi kalian tidak bicara sepatah katapun " tanya Abimanyu
sedang fhatan dan Arkana hanya diam memperhatikan ekpresi dari kedua orang tuanya. seolah pertanyaan abimanyu sudah mewakili apa yang mereka ingin ketahui
sedikit kekhawatiran tergambar jelas di wajah wanita paru bayah itu, ia sebenarnya tidak tahu harus memulai dari mana, sebab keputusan yang dia ambil bersama suaminya untuk mengadopsi anak terkesan buru-buru.bahkan tidak melibatkan anak-anaknya. tanpa bertanya apakah mereka setuju atau tidak
" apakah mereka akan menerima kehadiran Fira??? " pertanyaan itu terus berputar didalam fikiran Rania. hingga genggaman tangan sang suami mampu memudarkan sedikit keraguan yang menyangkut kuat di hatinya. genggaman itj seolah mengisyaratkan bahwa ' semuanya akan baik-baik saja'
seperti mendapatkan kekuatan dari sang suami. Rania langsung memanggil salah satu pelayannya. " Bik Minah, panggil dia kesini..!!!! "
Arkana mengerutkan matanya, sedang Abimanyu dan fhatan saling bertatapan, seolah mempertegas berbagai pertanyaan yang menggelayuti fikiran mereka.
hingga terlihat seorang gadis cantik turun menapaki satu demi satu anak tangga yang di dampingi oleh bik Minah
Fira berjalan dengan wajah yang tertunduk. tidak berani menatap wajah orang-orang yang ia ketahui tidak hanya ada Rania dan Hamis tetapi ada tiga laki-laki tampan yang tengah memperhatikannya.
" mereka siapa??? " Fir bertanya, namun dalam hati.
Arkana, Abimanyu dan juga Fhatan, mata mereka bersiborok dengan gadis yang ada dihadapannya saat ini. kemudian beralih melihat ke arah kedua orang tuaya. mereka seolah-olah meminta penjelasan, siapa gadis yang ada di depan mereka.
Rania beranjak dari tempat duduknya berjalan menuju Fira berdiri. meraih lengan gadis it dan menggiringnya lebih dekat dengan meja makan.
__ADS_1
Rania menarik nafasnya dalam-dalam
" dia Fira.. " maafkan mami. karena mami dan papi mengambil keputusan tanpa sepengetahuan kalian. bahkan tanpa bertanya dulu ke kalian tapi mami dan papi sudah memikirkan ini dengan matang"
" keputusan??? apa maksud mami " potong Arkana dengan cepat
" biarkan mami mu menyelesaikan ucapannya Arkana " sarkas Hamis
" mulai saat ini dia adalah........ adik kalian " ucap Raniah sedikit ragu.
refleks Arkana menjatuhkan gelas yang ada disampingnya hingga pecah tak bersisa, namun itu bukan yang terpenting saat ini. rasa terkejutnya dengan apa yang ia dengar dari maminya ini lebih menyita perhatiaannya.
Rahangnya terkatup. ekpresi wajahnya mengeras. menahan emosi yang siap meledak melihat gadis yang ada di hadapannya saat ini. sedang Abimanyu dan fhatan tertegun. syok mendengar ini?? tentu saja, tapi saat ini mereka lebih khawatir dengan apa yang akan dilakukan Arkana setelah ini.
mereka faham betul, apa yang akan dilakukan kaka sulungnya itu, jika ada yang berusaha menjadi adik perempuan bagi mereka.
ketika rasa marah membuncah. Arkana berdiri dari duduknya mengepalkan tangannya. menahan segala emosi yang bergolak di dalam dadanya. " TIDAK!!!!!!!!!!! " tegas Arkana dengan sangat jelas membuat siapapun yang mendengarnya akan berdelik ketakutan.
" jadi maksud mami. mami akan menggantikan posisi Arlita di keluarga ini dengan membawa gadis yang kami tidak tau asal usulnya itu.. " ucap Arkana dengan mata menyala penuh amarah
" mami... ini bukan waktunya untuk bercanda, mami sadar apa yang mami lakukan, Papi.. tolong jelasin ke mami, kalau ini salah " imbuh Abimanyu sembari menatap Hamis
namun Hamis tak memberi respon apapun,
" Mami. pliiisss deh!!! mami lagi nge prank kita kan??? " lanjut fhatan sambil mengedarkan pandangannya mencari sesuatu, kamera tersembunyi 'misalnya' dia merasa ini hanya sebuah prank dari salah satu statiun televisi (tidak se sederhana itu fhatan..hah, dasar aktor drama \= author )
" Mami kalian tidak sedang bercanda " Hamis beranjak dari tempat duduknya. melangkahkan kakinya untuk berdiri di samping sang istri. " dan papi setuju dengan ini..!!!! " lanjut Hamis
__ADS_1
" kamu Arkana, bagaimana kamu bisa berfikir kalau kami akan menggantikan arlita dengan gadis ini.? "
" kalo memang kalian tidak berniat menggantikan arlita. untuk apa mami dan papi membawa gadis ini kehadapan kami dan memperkenalkannya sebagai adik kami..? " sarkas arkana dengan amarah yang masih tampak jelas.
" Mami tidak punya alasan untuk itu Arka, dan ini adalah keputusan Mami suka atau tidak. ini tetap keputusan mami.. " Rania dengan penuh penekanan.
" Abimanyu mengerti.. tapi apa ini tidak terlalu buru-buru. kami juga tidak mungkin menerima gadis ini sebagai adik kami begitu saja kan mi...? " kini abimanyu yang mulai mengutarakan ketidak setujuannya
Fira, apa yang dilakukan gadis itu. dia masih terlihat menundukan wajahnya. masih tak berani untuk menatap orang-orang yang saat ini tidak bisa menerima kehadirannya. cairan bening akhirya lolos mengalir dari pelupuk matanya. mewakili perasaannya yang campur aduk dan Raniah menyadari itu.
" bi minah..!!!!!!!!! " panggil Raniah ke salah satu pelayannya " kamu bawa Fira kembali ke kamarnya dan setelah itu antarkan makan malamnya ke kamar " perintah Raniah.
Fira menyeret langkahnya. perasaan bersalah yang mencuat dalam dirinya begitu besar, atas pertengkaran antara ibu dan anak yang terjadi di hadapannya saat ini.
" tolong pertimbangi keputusan Mami, aku benar-benar tidak setuju, " kini fhatan ikut mengemukakan penolakannya.
" dan keputusan Mami sudah final. Mami akan tetap mengangkat Fira sebagai anak Mami " putus Raniah tak terbantahkan
" Mami egois " pekik Arkana dan segera beranjak, melangkahkan kakinya keluar dari rumah dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Rania dan Hamis hanya bisa menatap kepergian Arkana tanpa berniat memcegatnya, karena mereka sadar, Arkana butuh waktu untuk menerima ini.
Lalu sekarang tatapannya beralih kepada ke dua anaknya yang juga beranjak dari tempat duduknya meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun. berbeda dengan arkana yang memilih pergi dari rumah. Abimanyu dan fhatan lebih memilih masuk ke kamar mereka.
dan kini hanya meninggalkan pasangan suami istri itu yang masih terdiam dalam kesedihan yang tidak mampu Raniah sembunyika " kenapa mereka tidak bisa mengerti dengan perasaan Mami pi..??? " Raniah terduduk sambil menangkup kedua tangannya untuk menyembunyikan air mata yang sedikit lagi akan menetes.
Hamis meraih kedua lengan sang istri, meremasnya dengan lembut dan menghadapkan wajah Rania untuk ia tatap dengan seksama. Hamis sangat mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya saat ini. " Mami yang sabar yah, Papi yakin, suatu saat mereka akan mengerti dan bisa menerima Fira " di bawanya badan sang istri untuk ia rengkuh dan menenangkannya..
__ADS_1
****
Tinggalkan jejak kalian ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜