Tiga Cinta Di Hidupku

Tiga Cinta Di Hidupku
* I love You


__ADS_3

Happy reading...


***


" saya anggap keterdiaman bapak sebagai jawaban, saya permisi " Fira keluar dari mobil begitu saja tanpa memperdulikan Arka yang bibirnya seolah keluh.


Shit! pengecut loe arka!


Arka mengumpat dirinya sendiri sambil memukul stir mobil dengan kencang. ia mengacak rambutnya frustrasi. sungguh pemandangan yang berantakan untuk seorang CEO di pagi hari.


ia harusnya meminta maaf bukan?! lalu apa ini, menatap luka di dalam mata Fira saja ia tak mampu, ia lupa bahwa luka itu ada karena dirinya. loe emang brensek Arkana!


***


Berdiri di dalam lift sendirian, membuat Fira tidak mampu menahan bulir Air mata yang mengaliri pipinya tanpa permisi. gadis itu meremas erat ujung kemeja kantornya, seakan itu mampu mengurangi sakit yang ia rasakan sekarang.


apa yang ia fikirkan, berharap bahwa tadi Arkana akan meminta maaf dan memulai semuanya kembali? Bodoh! nyatanya lelaki itu hanya diam, seakan tidak ada sesuatu yang penting untuk ia ucapkan.


Tahan hatimu Fira!


ting!


pintu lift terbuka, dengan cepat Fira menghapus jejak air mata yang masih setia betengger di pipi gadis itu, memasang wajah seakan semuanya baik-baik saja, memberikan senyum palsu untuk menutupi luka hatinya. yah! setidaknya itu lebih baik, ketimbang harus menampakkan rasa sakitnya kepada orang lain dan membuatnya terlihat menyedihkan


" Sendirian? " tanya Billy pada Fira yang baru saja menyandarkan bokongnya di kursi kerjanya.


" seperti yang kamu lihat! " Fira memaksakan senyumnya.


" pak Arka? "


Fira mengerdikkan bahunya " aku nggak tau " dan Fokus dengan dokumen yang sedang ia buka.


" loe ada masalah? " tanya Billy hati-hati " loe bisa anggap gue temen kalau loe mau cerita " Billy tau keadaan gadis itu. gadis yang selalu berusaha tegar dengan memasang topeng palsunya, namun sayangnya tatapan pilu yang tergambar jelas di mata indahnya tidak mampu membuat Billy percaya bahwa ia baik-baik saja.


Fira yang mendengar itu, gerakannya sedikit terhenti lalu berdehem, ia menggeser sedikit badannya agar berhadapan dengan Billy " aku nggak papa', aku han__ " kalimat Fira terhenti setelah mendengar dentingan lift , tanpa harus melihat, gadis itu tau siapa yang datang. ia langsung mengalihkan perhatiannya kembali pada dokumen yang sedang ia pegang.


" Selamat pagi pak! " sapa Billy


Arka hanya mengangguk tipis dan melihat sekilas ke gadis yang duduk di sebelah Billy, lalu kembali melangkah dengan tatapan datarnya.


****

__ADS_1


tok. tok. tok...


" Masuk! "


" Permisi pak, saya di suruh pak Billy mengantarkan ini, " Fira meletakkan Map di atas meja Arkana " katanya ini harus bapak tanda tangani "


Arka melihat map itu sekilas, lalu mengalihkannya ke gadis yang sedang berdiri di depannya saat ini " sampai kapan Fir? "


kening Fira berkerut " maksud bapak? "


" sampai kapan loe mau jauhin gue kaya gini? " ujar Arka putus asa " sampai kapan loe bersikap dingin sama gue? " Arka bangkit dari kursi kebesarannya, mengikis jarak antara dirinya dan juga Fira.


gadis itu mundur satu langkah menjauh dari Arka yang semakin mendekat padanya " ma. maaf pak, sa... saya permisi " Fira gelagapan, dan memilih beranjak dari tempatnya, namun Arka menghentikan langkahnya dengan menarik lengan gadis itu " berhenti bicara formal sama gue! "


Fira menepis tangan Arka dengan kasar " saya tidak mengerti maksud anda, tapi urusan saya sudah selesai disini " kembali, gadis itu melangkah menjauhi Arka. yang paling penting saat ini untuknya adalah menjauhi lelaki itu dan jangan sekali lagi terperangkap dengan omong kosongnya.


bukan Arka tak ingin menahan gadis itu sekali lagi, tapi mungkin waktunya bukan sekarang. memberikan waktu untuk Fira mungkin pilihan terbaik untuk saat ini.


***


jam kantor selesai...


Fira merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas mejanya, " Fir, gue duluan ya " Billy menepuk punggung Fira pelan. gadis itu mengangguk tipis " Hati-hati "


Arkana?


" Fir_ "


" Maaf pak, ini tidak baik " Fira menepis tangan Arka meskipun tidak sekasar tadi.


" ini pertanyaan gue lagi, sampai kapan loe mau bersikap seperti ini sama gue, loe nyiksa gue Fir "


Fira diam.


" please Fir, jangan kaya gini " Ucap Arka bermohon.


Fira memejamkan matanya sebentar, lalu menghela nafas pelan dan menatap Arka dengan tatapan yang tidak mampu lelaki itu tebak " jadi saya harus seperti apa ke bapak? "


" jangan bicara formal sama gue Fira!! " bentaknya


" ada yang salah pak Arkana? sepertinya anda lupa, kita masih di kantor, dan saya sekertaris bapak, anda Fikir saya harus bicara seperti apa? aku kamu? tapi maaf pak, itu hanya akan saya lakukan untuk orang terdekat saya dan saya rasa itu bukan bapak. " Jelas Fira yang tentu saja menohok di hati Arka.

__ADS_1


" gue__ "


Drrt. drrt. drrt...


ponsel Fira yang berada di atas meja kerjanya bergetar membuat Arka menghentikan ucapannya lalu beralih melihat ponsel Fira.


kak Dirga is calling...


Gadis itu baru saja akan mengangkat telfonnya, namun dengan cepat Arka merampasnya. " apa yang anda lakukan! " menatap Arka dengan tidak suka.


" jangan temuin dia lagi Fir, jangan dekat dengan lelaki lain lagi, itu buat gue hancur Musfira!!! " Arka benar benar berada di titik terendahnya.


Fira tertawa sinis " Hancur kamu bilang?" Musfira berdecih " Hancur mana sama hati yang sudah mencintai kamu tapi kamu abaikan begitu saja,! memberikannya harapan setinggi langit dan detik selanjutnya kamu hempaskan. Jika kamu berniat menyakiti aku karena sudah berani mengganti posisi Arlita di tengah-tengah keluarga kamu, Selamat Arkana kamu berhasil..!!!!! "


Arka diam.


" kamu membangun benteng tak kasat mata di tengah-tengah kita tanpa menoleh sedikitpun ke arahku, apa itu masih belum cukup, kamu melarangku dekat dengan laki-laki lain sedangkan kamu dengan sengaja mengabaikanku? lalu disini siapa yang lebih hancur?? " ucap Fira semakin pelan seakan ia tak mampu lagi menahan rasa sesak yang begitu menyeruak ke dalam hatinya.


ia benar-benar sakit!


Arkana, tak mampu lagi mendengar semua yang Fira katakan seolah ikut merobek hatinya. ia benar-benar menjadi laki-laki brensek. Menyakiti Fira, gadis yang sudah berhasil duduk di singgah sana hatinya.


Lelaki itu menarik Fira dalam pelukannya, memeluk gadis itu seakan ia tak akan melepasnya, menyalurkan kerinduan yang tertahan, perasaan cinta yang membuncah. " Maaf " lirihnya


" Maafin gue Fir, gue bodoh! sangat bodoh! dengan sengaja menyakiti orang yang gue cintai. Maaf sayang.. " Arka menciumi puncak kepala Fira.


" A...Arka?? " rasa tak percaya mendengar pengakuan itu, Arka mencintainya? tapi?


" iya Fir, ini gue. " Arka memengang kedua pundak Fira dan beralih menatap gadis itu " loe mau apa? loe mau mukul gue, pukul gue sebanyak dan sekencang yang loe bisa, tampar muka gue Fir, tampar!!. gue ikhlas asal jangan tinggalin gue lagi, jangan jauhin gue. gue nggak sanggup " Arka kembali memeluk Fira dengan begitu erat.


bibir Fira seolah keluh, ia tak tau harus memberikan reaksi apa sekarang. namun mengingat kembali perlakuan Arka padanya, dengan cepat Fira mendorong lelaki itu agar menjauh darinya. " apa lagi ini? setelah mengatakan ini, besok kamu akan berubah menjadi Arka yang dingin lagi? , tapi maaf! gadis yang ada di hadapan kamu sekarang tidak tertarik dengan permainan ini "


Arka menggeleng dengan cepat " nggak.. nggak.. loe salah " Arka menangkup pipi Fira dengan kedua tangannya " tatap mata gue Fir...... ada cinta disana buat loe, cuma buat loe! "


pertahanan Fira runtuh, tatapan mata Arka menjawab semuanya. tidak ada kebohongan disana. laki-laki itu memang mencintainya.? " Ta... tapi? "


" Nggak ada tapi, yang ada sekarang loe harus dengar ini " Arka menarik Fira lagi di dalam pelukannya, " i love you Musfira, i really love you " bisik Arka pelan " Maaf karena terlambah nyadarin itu " kembali mengecup puncak kepala gadis itu.


***


Gimana.. gimana??? kurang grerget yah.. maafkan author yang masih Amatiran ini.. Firanya gimana nih? maafin Arka nggak yah???

__ADS_1


Btw.. sekali lagi mau ngingatin, jangan lupa mampir di novel aku yang lain judulnya Arabelle..


Tinggalkan jejak kalian 😭😭


__ADS_2