
Setelah di kampus Hanafi bergega menemui dokter yang biasa keluarga nya datangi.
seperti halnya dokter pribadi keluarga mereka, karena sang dokter sahabat dari abahnya sewaktu masa SMA dulu.
" Bismillah apapun yang terjadi ya Rabb aku yakin semua adalah kehendak Mu, yang terbaik. insyaallah aku ikhlas " dengan gagahnya bergegas menuju parkiran mobil dengan senyum bahagia tak ada rona wajah kesedihan sama sekali.
Sekitar 30 menit sudah akhirnya sampai dirumah sakit itu. Karena sudah menghubungi terlebih dahulu Hanafi bisa dengan cepat langsung menemui sang dokter.
" ceklek " suara pintu dibuka.
" Dokter, ada pak Hanafi yang ingin bertemu dengan dokter. Beliau bilang sudah buat izin dengan dokter " salah satu perawat memberi tau dokter dengan kehadiran pasien atas nama Hanafi.
" Oh iya suruh masuk saja sus, dan tolong ambilkan hasil dari pemeriksaan kemarin atas nama Tuan Hanafi " ucap dokter.
" Baik dok "
" Pak Hanafi dokter sudah menunggu didalam, silahkan masuk "
" terimakasih sus "
Hanafi pun bergegas memasuki ruang praktek dokter. Dokter membalas salam dari Hanafi dan mempersilahkan duduk menunggu hasil pemeriksaan yang masih di ambil oleh perawat. Tampak Hanafi yang sudah siap dengan kemungkinan terburuk nya, ia terlihat sangat tegar.
Sebelumnya dokter dan Hanafi asyik mengobrol tentang keluarga abahnya, dan dokter bercerita sedikit masa yang telah mereka lewati persahabatan yang sangat lama. Suster datang membawa hasilnya, kemudian mereka berhenti untuk bercerita. Dokter membaca seksama atas hasil yang telah keluar, dokter terduduk sangat lesu mengusap kasar wajahnya.
Dokter berdiri menghampiri Hanafi lalu memeluknya, hanafipun tampak bingung dengan sikap dokter.
" Ada apa dok, saya siap dengan hasilnya meski kemungkinan terburuk sekalipun. " Hanafi melerai pelukan dokter.
" Hanafi dari hasil yang saya baca disini, nak Hanafi mengidap kanker otak "
Bukannya sedih atau terpukul tapi Hanafi justru tersenyum dengan ramahnya.
__ADS_1
" Alhamdulillah Allah masih sayang denganku dok, sakit ini akan menghapus segala dosa-dosaku mudah-mudahan yang akan membawaku kesurgaNya lantaran kesabaran ku " Dokterpun heran terbuat dari apa hati anak ini. Biasanya mereka yang mendapat vonis seperti ini akan mengalami syok.
Tapi tidak dengan Hanafi, ia berusaha tegar dan selalu mengingat Allah. Tak ada yang luput- dari pandangan Allah tanpa terkecuali. Allah menitipkan penyakit ku ini karena aku kuat menurut Allah baik. batin Hanafi yang menampakkan ketegarannya.
" Nak karena kankernya sudah cukup menjalar sebaiknya nah Hanaf lekas menjalani kemoterapi." jelas dokter.
" Apakah secepat itu saya melakukan kemoterapi dok ".
" lebih cepat lebih baik nak " kembali dokter mengusap punggung Hanafi.
Dokter memberikan hasil ronsen kepada Hanafi, Hanafi hanya memperhatikan isinya. karena memang ngga tau isi hasilnya.
" Sementara ini obat yang saya berikan hanya pereda nyeri saja. Jangan sampai kamu telat meminumnya. " ucap dokter dan memberikan obat yang ada di tangannya.
" Dokter saya harap dokter tidak menceritakan hasil dari ronsen saya oleh siapapun meski kedua orang tua saya ataupun istri saya. Saya tidak ingin mereka semua sedih. "
" Nak apa tidak sebaiknya istri dan orang tua mu tau. Kamu harus segera melaksanakan kemoterapi. "
" Iya dok sekarang belum saatnya, pernikahan saya baru berjalan lima bulan saya tak ingin memberikan kesedihan kepada istri saya. Nanti di waktu yang tepat saya akan beritahu sendiri. mohon kabulkan permintaan saya dok. Rahasia kan, hanya dokter dan saya yang tau masalah ini. "
" Baiklah jika itu keinginan mu, saya tidak bisa menolak. Tapi ingat segera berikan keputusan, nak Hanafi harus segera kemoterapi "
" Baik dok, terimakasih banyak. Saya akan segera menghubungi dokter jika saya siap " dokter mengangguk.
Hanafi pamit untuk segera pulang, dokter kembali memeluk Hanafi.
" Anak yang tegar, dengan keadaan seperti ini pun ia masih tersenyum dan tidak ingin berbagi kesedihan nya dengan yang lain. Semoga Allah berikan kesembuhan untuk mu nak " terlihat dokter bergumam dan masih menatap punggung Hanafi yang berlalu pergi meninggalkan ruangan nya.
Sesampai dalan mobil Hanafi kembali melihat hasil ronsennya tadi. Tanpa di sadari air mata pun jatuh mengenai kertas yang masih berada ditangannya.
" Astaghfirullah kenapa saya menangis, kuatkan hatiku ya Allah, ikhlaskan aku menerima takdir ku "
__ADS_1
Tak lama Hanafi melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah sakit itu. Sebelum pulang ia mampir membelikan makanan kesukaan Aisha, pisang krispi dan roti bakar isi coklat.
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumsalam, sudah pulang mas. Bawa apa ini" Hanafi menyodorkan apa yang di bawanya.
" Bawa ini kemeja makan biar mas bawa tas mas sendiri ke kamar saja, siapin saya ingin makan ini"
Hanafi tak ingin memberikan tasnya karena disitu ada hasil ronsennya. Hanafi ingin menyimpannya dahulu agar tidak ketahuan Aisha. Aisha pun tidak curiga ia bergegas menyiapkan makanan penyela sore hari itu, karena Hanafi menginginkan nya.
Setelah menyimpan kertas itu Hanafi langsung mandi membersihkan dirinya. lengket terasa seharian di luar rumah mandi membuatnya akan lebih segar.
" ceklek "
suara kamar mandi terbuka, terlihat ada Aisha menyiapkan baju ganti suaminya. Begitulah Aisha sangat memperhatikan suaminya, melayani dengan baik. Sebelumnya belum ada cinta diantara mereka, karena orang tua yang melamar Aisha untuk Hanafi. Lambat laun cinta yang terus di pupuk mulai mekar.
" kenapa mas pulangnya sampai sore lagi"
glek
Hanafi nampak bingung mau menjawab, tapi ia juga tak mau berbohong.
" Ada hal yang harus mas selesaikan supaya esok tak numpuk lagi kerjaannya, lalu mas pergi beli pisang itu buat kita makan udah lama sekali kita ngga beli. mas menginginkan nya dek." Aisha manggut-manggut.
" Sebaiknya tak perlu mas, ini terlalu jauh harus ke pusat kota."
Pisang krispi dan roti bakar kesukaan Aisha emang belinya harus di pusat kota, karena yang rasanya sangat enak di situ. Sudah menjadi sedikit alasan saja buat Hanafi agar ia tidak berbohong.
" Hayuk mas makan aisha juga sudah tidak sabar mengigit kriuknya pisang itu " Aisha tampak nyengir menggandeng lengan suaminya, Hanafi menoel hidung Aisha yang mancung itu.
Keduanya berjalan kebawah, memulai dengan bismillah menikmati sore hari dengan mesra.
__ADS_1
Hanafi terus saja memperhatikan Aisha yang menceritakan kesibukan nya seharian dirumah.
Aisha terus bergelayut manja dengan suaminya, entah apa yang di rasakan Aisha hari ini ia sangat merindukan sosok suaminya. Keduanya tertawa bahagia dengan candaannya, kebahagiaan itu mungkinkah akan terus ada. Semua orang melewati ujiannya masing-masing, terus ikuti kisahnya yang bikin meleleh.