
Hamdan mengantarkan teman-temannya sampai di depan rumah sakit. Teman-temannya berpamitan.
" balik dulu ya bro, semoga lekas sehat kak Hanafi" ucap Tomi
" okey makasih ya tom, Yara Anita trimakasih udah jenguk kak Hanafi "
" iya sama-sama semoga lekas sembuh kak Hanafi " jawab Anita dan Yara hanya manggut-manggut saja.
Hamdan melambaikan tangan melepas kepergian teman-temannya.
Hamdan berjalan menuju kamar rawat inap hanafi. Ia berhenti kala melihat satu sosok yang membuat nya penasaran dari kemarin, entah kenapa jantungnya serasa berdebar padahal belum mengenalnya.
Zakia lekas menuju kamar rawat inap abinya, pasalnya hari ini abinya sudah di perbolehkan pulang. Setelah dari kampus zakia bergegas menuju kamar rawat inap.
" Ketemu bidadari itu lagi, astaghfirullah kenapa aku ini padahal aku belum mengenalnya tapi jantung ku berdebar. agrh... " tampak Hamdan frustasi dengan dirinya, ia mengusap wajahnya dengan kasar. ngga tau apa yang terjadi pada dirinya sehingga selalu memikirkan wanita itu.
wanita yang terbalut cadar wajahnya pun tak terlihat, Hamdan mengikuti pandangan wanita itu berjalan sampai masuk ruangan.
***
" Assalamu'alaikum "
" wa'alaikumsalam nak kamu sudah pulang " tanya umi.
" Alhamdulillah sudah um, jam berapa abi di perbolehkan pulang um"
" tunggu dokter periksa siang ini dan kita harus menyelesaikan administrasi nya "
" Sudah hubungi kakakmu kia" tanya Abi.
" Sudah bi nanti kakak kesini mungkin setelah Zuhur"
" memangnya Zidan tidak berkerja, kita naik taksi saja tidak apa-apa"
" kerja ibu, kakak bilang suruh tunggu kakak." jelas Zakia.
" Lebih baik jangan ganggu kakakmu kerja, kakakmu barusan masuk bekerja takut nanti bosnya berfikir Zidan tidak profesional "
" insyaallah tidak ibu, kakak itu pasti sudah memikirkannya. Zakia yakin bos kak Zidan orang baik, baru aja bekerja kakak sudah dapet izin. "
" Alhamdulillah syukurlah, semoga kita selalu di kelilingi orang baik "
__ADS_1
" aamiin " Zakia masih sibuk memasukkan barang-barang yang akan di bawa pulang.
***
Suara adzan Zuhur berkumandang, Hamdan dan abinya aisha bergegas ke masjid yang ada di rumah sakit tersebut.
Sedangkan setelah pemeriksaan dokter siang tadi sudah di perbolehkan pulang abinya Zakia.
Nampak Abah datang sendiri ke rumah sakit, Abah dari kantor yang akan menjemput umma pulang dan menjenguk anaknya Hanafi.
Abah melihatnya sosok yang ia kenal sedang duduk di kursi roda yang di dorong oleh seseorang. Zidan pun mengenal bosnya di kantor itu yang memberikan izin dirinya bahwa ia akan menjemput orang tuanya di rumah sakit. mereka berpapasan zidanpun menghentikan langkahnya, menypaa bos dimana ia sedang bekerja dan menyalami dengan takzim.
" Pak kebetulan bertemu disini, bapak sedang apa"
" Bapak mau jemput istri bapak, jadi yang sakit orang tua mu ini "
" iya pak, Abi sakit Alhamdulillah sudah diperbolehkan pulang saya tadi minta izin untuk pulang cepat"
yang duduk di kursi roda masih mengingat wajah Abah seperti familiar dalam benaknya, mungkin perubahan nya karena mereka sudah tua dengan ada beberapa rambut yang memutih dan sedikit kumis yang timbul.
" Bambang Yudhoyono... benarkah kamu "
Keduanya seperti tidak percaya mereka bertemu kembali, meski dalam keadaan satunya tidak baik-baik saja.
" Bambang kamu semakin tua saja, sedikit pangling aku dengan mu tapi tetap aku ngga akan pernah lupa denganmu "
" Wahyu rambutmu sudah memutih kamu jelek sekali "
Keduanya tertawa terbahak-bahak seperti masa mudanya dulu, mereka tidak memperdulikan ada orang-orang di samping mereka.
" Kenapa kamu duduk di kursi roda ini, jangan lembek kamu harus tetap kuat "
" iya teman tak ada teman sebaik sahabat yang merangkul ku kecuali kamu".
Abi Wahyu menitikkan air mata kala mengingat masa-masa lalu dimana mereka yang selalu bersahabat, Abi Bambang yang selalu menguatkan selagi Wahyu dalam keadaan tidak baik-baik saja.
" Jadi Abi kenal sama pak Bambang"
Zidan membuyarkan dua sahabat yang sedang melepas rindu itu.
" iya nak dia sahabat Abi semasa SMA dan kuliah"
__ADS_1
" jadi Zidan ini anakmu bro, "
Abi Bambang mengulang masa remajanya dengan panggilan saat mereka masih muda dulu.
" iya dia anakku laki-laki satu-satunya"
" takdir yang membawa kita bertemu kembali. Pantas saja dia hebat, keturunan Wahyu Prayoga luar biasa aku ngga nyangka"
Abi Wahyu mengerutkan keningnya saat Abi Bambang mengatakan bahwa Zidan hebat.
" Kamu bertemu anakku dimana hingga tau kemampuan nya"
" Abi, Zidan bekerja di perusahaan pak Bambang bi "
" Luar biasa jadi kamu bos anak saya, pantas saja anak saya di perbolehkan izin menjemput saya tak semua bos bisa bersikap seperti mu Bambang"
" Zidan karyawan andalan saya, meskipun dia baru beberapa bulan bekerja sudah bisa mwmpwrlajari situasi perusahaan."
" Trimkasih Bambang sudah menerima anak saya "
" Zidan saya terima kerja karena kemampuan nya benar-benar bisa di andalkan, kalau tidak ada Zidan ngga tau saya bagaimana menghandle pekerjaan saya ini "
" oh ya Bambang perkenalkan istri saya, ini Zidan nak laki-laki saya dan Zakia anak perempuan saya. pak Bambang adalah sahabat Abi semasa kuliah. orang yang luar biasa"
Zakia dan umi memberikan salam pada pak Bambang.
" Baiklah lain kali kita bertemu lagi Wahyu, masih banyak yang ingin aku bicarakan dengan mu. Kamu lekas sehat jangan lembek, besok kita bertemu lagi. Kamu banyak istirahat kamu harus sembuh demi aku juga, tidak ada sahabat sebaik kamu Wahyu"
" Rasanya seperti tidak percaya bisa bertemu lagi dengan mu Bambang Yudhoyono, terimakasih banyak kamu selalu membantu ku tidak dulu bahkan sampai sekarang. Aku akan sehat demi kamu, teman ngopi dan main catur. Lawanku main catur sudah ku temukan, ayo kita beradu lagi di papan catur "
" Baiklah ku tunggu tantangan mu, kamu harus sehat kawan. Aku ingin mendengar banyak cerita darimu sampai kamu bisa duduk di kursi ini. Perpisahan kita membuat ku sangat sedih, bahkan kontak pun hilang."
Akhirnya mereka berpamitan karena waktu sudah terik sekali dan Abi Zakia harus segera istirahat. Tak lupa para orang tua lelaki itupun kembali saling memeluk melepas kepergian dan rindu yang masih bergemuruh di dada.
Abah berjalan memasuki ruangan Hanafi di mana disana sudah ada besannya. Abah baru tau kalau besannya datang mereka langsung bertukar kabar.
Hamdan keluar dari masjid, setelah shalat Zuhur tadi Hamdan tidak langsung keruangan tapi ia lebih memilih istirahat sejenak di masjid. Lagi-lagi Hamdan melihat sosok Zakia yang mbuatnya tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Meski tertutup cadar terlihat dari matanya bahwa wanita itu sangat manis, kernyitan matanya terlihat di balik cadar itu saat tersenyum. Hamdan tidak melepaskan pandangannya.
" Astaghfirullah kenapa aku ini " Hamdan mengacak rambutnya sendiri sedikit frustasi dengan dirinya yang selalu memikirkan wanita itu.
....
__ADS_1