
Zidan melajukan mobilnya dengan sedikit cepat, diikuti Kiran dan ibu panti. di balik keceriaan Kiran setiap hari ada hal yang ia tutupi dalam menjalani hidupnya. Kiran menangis melihat adik nya yang sudah tidak sadarkan diri.
Sesampainya di rumah sakit Zidan langsung membopong tubuh aurel dan mencari dokter yang berjaga saat itu, suster menghampiri Zidan yang tergopoh-gopoh membopong tubuh aurel. Aurel langsung di masukkan dalam UGD, dokter pun juga langsung menangani aurel.
" tenang Kiran kita berdoa semoga adikmu baik-baik saja " Kiran masih menangis begitu juga dengan ibu panti, Zidan mencoba menenangkan ibu panti dan Kiran.
Semua panik menunggu kabar dari dokter, Aurel anak yang selalu ceria seperti Kiran kini ia sakit. sebenarnya itu sudah terjadi berkali-kali tapi Aurel tidak separah saat ini.
terdengar suara pintu di buka.
" Bagaimana keadaan anak saya dok". ibu panti sangat khawatir tubuhnya gemetar.
" Alhamdulillah sudah melewati masa kritis nya, jika lima menit terlambat anda membawanya ke sini mungkin sudah tidak bisa tertolong." Zidan dan Kiran pun lega mendengarnya.
" sebenarnya anak saya sakit apa dok" tanya ibu panti.
" kita akan lakukan cek lab ya bu, dan hasilnya akan keluar besok. untuk sementara Aurel di rawat di sini dulu."
" iya dok terimakasih banyak". ibu panti gelisah, berapa uang yang akan di keluarkan nanti sedangkan ia tidak punya uang.
" keluarga nona Aurel"
" iya saya dok" ucap Kiran.
" silahkan urus admistrasi terlebih dahulu " Kiran hanya mengangguk. melihat kelesuan Kiran , Zidan mengerti ia langsung meminta kertas itu.
" Biar saya yang ke bagian administrasi, kamu masuk saja melihat Aurel " Zidan mengambil kertas' yang ada di tangan kiran.
" tapi kak ini" Kiran merasa tidak enak, kalau untuk menebusnya pun Kiran tidak mempunyai uang. Uang dari hasil kerjanya ia pakai untuk mengisi motornya tiap hari juga untuk keperluan kuliahnya. terkadang ia pakai untuk kebutuhan sehari-hari di panti, meskipun perusahaan Hamdan menjadi donatur masih saja dalam kekurangan. karena ibu panti tetap mengutamakan pendidikan untuk anak-anak panti, otomatis dana yang di keluarkan banyak. belum lagi jika keperluan habis dan uang saku sehari-hari.
Zidan memberikan kode dengan anggukan, Kiran mengerti maksud Zidan. akhirnya Kiran masuk menyusl ibu panti.
Hanya 15 menit kemudian Zidan kembali ke ruangan rumah sakit.
" maaf nak Zidan sudah merepotkan" ibu panti merasa tak enak dengan Zidan.
__ADS_1
" tidak bu, mungkin kalau pun bukan saya orang lain juga akan bertindak sama seperti saya".
" trimakasih nak Zidan" Zidan mengangguk.
seluruh isi ruangan itu melihat Aurel yang sedang terbaring begitu lemahnya.
" nak kamu baru saja pulang dari bekerja, lebih baik kamu pulang, istirahat . biar ibu yang berjaga di sini"
" tidak bu, Kiran juga ikut berjaga di sini. Kiran tidak apa-apa"
" Kiran lebih baik kamu pulang dulu, bersih-bersih dirimu yang baru dari kantor. setelah itu tidak apa-apa kamu kembali berjaga di sini.
" Tapi kak ngga mungkin Kiran bolak balik motor kiran masih di bengkel".
" saya antar kamu pulang Kiran, nanti jika sudah selesai akan ke rumah sakit kita berangkat bersama"
" Kiran dan keluarga sudah mereoptkan kakak maaf ya kak, "
" tidak saya hanya bantu saja selagi saya bisa" Zidan tersenyum dan mengajak Kiran pergi pulang.
" Kamu turun kemudian mandi, saya pulang dulu nanti saya ke sini lagi. jangan menolak kamu juga tanggung jawab saya, jika ada apa-apa sama kamu siapa yang nanti bantu aku selesaikan pekerjaan" Kiran melongo mendengar ucapan zidan ternyata ada maunya kebaikan zidan.
" kak Zidan, kakak baik sama Kiran karena ada maunya" Zidan tertawa.
" iya dong Kiran di dunia ini ngga ada yang gratis" Zidan kembali terkekeh, Kiran memanyunkan bibirnya membuat Zidan makin gemas.
***
Hari libur seharian di nikmati oleh Azzam dan Aisha, mereka sama-sama pergi ke kafe hingga sore hari. Azzam menunggu Aisha di ruangannya, Azzam bisa tertidur di sofa. karena tak biasanya Azzam menunggu istrinya, karena kafe cukup ramai sedikit-sedikit Aisha membantu pekerjaan karyawan.
" ya ampun mas kamu sampai tertidur, maaf kan Ais ya mas" Aisha mengelus pipi suaminya.
Sudah pukul empat sore biasanya jam seperti itu Aisha udah siap-siap pulang selepas sholat asar. Azzam menggeliat ia kemudian bangun, Aisha yang melihat terkekeh melihat wajah lucu suaminya saat bangun apalagi ini di kafe.
" jam berapa ini Ais" Azzam mencoba membuka matanya.
__ADS_1
" jam empat mas, nyenyak tidur nya" Aisha terkekeh.
" lumayan tapi tak senyenyak tidur di pelukan istriku" ucap Azzam menggoda Aisha.
" tau gitu tadi kita ngga usah ke kafe mas, di rumah aja tiduran biar bisa pelukan" Aisha membalas menggoda suaminya, Azzam pun tersenyum.
" mulai nih ya udah pintar menggoda mas, kasihan anak-anak kalau kamu tidak ke sini. aku lihat ramai sekali kafe ini"
" iya mas kasihan mereka keteteran" Aisha mendekati Azzam dengan membawakan minuman.
" Belum dapet karyawan baru " tanya Azzam.
" kemarin sudah ada yang mendaftar tapi Ais tunggu Hamdan dulu mas, keputusan tetap di tangan hamdan meskipun Hamdan selalu bilang Aisha bebas memutuskan apapu di kafe ini. tapi Aisha takut salah mas, jiwa Aisha bukan pebisnis"
" iya jiwa istriku itu, melayani suami dengan baik " Aisha mencubit pinggang suaminya.
" aw... sakit Ais" Azzam hanya bercanda padahal tidak sakit cubitan Aisha.
" ya udah yuk shalat asar habis itu kita pulang, kalau sore sudah ada karyawan yang sift sore banyak" Kafe buka sampai jam sembilan malam, karyawan bekerja di bagi menjadi dua sift. kebanyakan mereka itu memang mahasiswa yang kerja part time, kini kafe semakin ramai. Aisha dan hamdan bermaksud untuk menambah karyawan nya.
Aisha dan Azzam pamit kepada karyawan, Aisha sangat menghormati karyawan nya ia tidak semena-mena meskipun di bilang bos kafe itu. Aisha selalu memperlakukan mereka seperti teman ataupun adik jadi tidak ada ketercanggungan antara karyawan dan bos.
" wa sweet ya liat bu Aisha dan pak Azzam, romantis, serasi" Rini meletakkan kedua tangannya di dagu melihat Aisha dan Azzam berlalu meninggalkan kafe.
" ya ampun Rin kamu itu, udah nikah sana dari pada ngiler terus liat kemesraan bu boss" Salwa memukul kepala Rini yang masih memandangi pasangan suami istri itu.
" sakit tau wa, kamu duluan wa yang nikah aku masih serius kuliah"
" kalau serius ya udah serius kerja sama kuliah mu, jangan mikirin pasangan dulu. eh emang ngga ada laki-laki yang kamu suka Rin. jangan-jangan kamu, hi...." Rini balik memukul Salwa, membuat Salwa minta ampun.
_____
bersambung
kakak readers ini hari Senin bantu vote nya kakak semua.
__ADS_1
trimakasih 🥰.