
" dari hasil lab di sini Aurel mengidap penyakit gejala leukimia" rasanya seperti tersambar petir mendengar ungkapan dokter. Kiran gemetar menerima kertas hasil lab yang sudah keluar hari ini.
" dok apakah Aurel bisa sembuh" tanya Kiran dengan berlinang lah air matanya. Hamdan mengambil kan tisu untuk Kiran agar menghapus air matanya.
" ngga ada yang ngga mungkin bagi Allah, ikhtiar dulu. masih bersyukur sudah di ketahui dari awal. kita berusaha untuk penyembuhan Aurel ya". Azzam menguatkan Kiran.
" iya Kiran kamu jangan sedih, nanti ibu panti dan Aurel ikutan sedih. kita ikhtiar dulu ya."
" tapi kak..."
" tenang saja untuk pengobatan Aurel kita di sini akan bantu, kamu jangan terlalu kepikiran kamu harus kuat untuk mereka." ucap hamdan menguatkan Kiran.
" dan pastinya akan menghabiskan begitu banyak kak, hasil kerja ku apakah cukup. mungkin Kiran akan berhenti kuliah kak."
" Jangan Kiran pendidikan itu penting apalagi kamu dapat beasiswa juga, jangan berhenti untuk mencapai cita-cita mu"
" tapi kak Aurel..."
" setiap manusia itu punya rezeki masing-masing Kiran, kamu harus percaya itu" hamdan mencoba mengelus kepala Kiran seperti yang selalu ia lakukan.
" iya betul itu, jangan menerka-nerka apa yang belum terjadi. kami semua disini insyaallah siap membantu."
" trimakasih dok, saya sangat merepotkan kalian semua. hiks..hiks.." Kiran menangis lagi mengingat kebaikan mereka, meski kehidupan nya pahit tapi Allah masih hadirkan orang-orang yang baik di sekeliling nya. Hamdan dan Kiran keluar tapi ia tidak memberikan hasil lab nya kepada ibu panti, takut ibu panti kepikiran. Didalam masih ada Zidan dan Zakia, waktu sudah sore mereka pun pamit.
" Kamu pulang duluan saja Zidan saya nanti naik taksi, tolong telponkan Geri agar mengantarkan mobilku kerumah" Hamdan tidak membawa mobil tadi saat mereka pergi hanya bawa mobil satu yaitu mobil zidan. Hamdan pastinya tak melihat Zidan dan Zakia saat berdua, melihat tangan Zakia di sentuh sama zidan saja dia merasa marah. marah sama dirinya sendiri kenapa harus mencintai wanita yang sudah bersuami.
" kakak ngga langsug pulang, apa tidak capek setelah seharian bekerja "
" iya sebentar lagi kakak pulang" Hamdan sudah memperkirakannya Zidan dan Zakia pergi kemudian ia pamit sama ibu panti dan Kiran menyusul pulang. Sesampainya di depan rumah sakit ia bertemu azzam yang akan pulang juga.
" Hamdan mau pulang, kamu sendiri"..
" Hamdan mau mampir ke kafe sebentar,".
" kamu bawa mobil"
" kebetulan tidak kak tadi aku meeting bareg Zidan"
__ADS_1
" naik mobil kakak saja kakak juga mau ke kafe jemput Aisha" akhirnya Hamdan dan Azzam pergi bersama menuju kafe.
Aisha yang seharian tadi males-malesan di kafe, ngga tau badannya rasanya tidak enak. Seperti masuk angin saja, sidikit lemas iapun tidak membantu karyawan saat ramai jam makan siang tadi.
" assalamu'alaikum sayang "
" wa'alaikumsalam mas, sudah pulang"
" iy mas mau jemput kamu Ais"
" Lo Hamdan, kebetulan bisa barengan," Hamdan muncul dari belakang tubuh azzam membuat Aisha terkejut.
" iya tadi Hamdan di rumah sakit terus kita bareng ke kafe"
" siapa yang sakit mas " tanya Aisha takut nya umma yang sakit atau Abah.
" Adik dari karyawan Hamdan di kantor kak" kini hamdan yang menjawab.
" aisha buatkan minum, duduklah"
Azzam dan Hamdan berbincang banyak tentang semua dari kuliah Hamdan dan perusahaan nya. Hamdan sudah merasa Azzam adalah kakaknya jadi dia lebih leluasa bercerita tentang semua hal. Bahkan tentang wanita sekalipun Hamdan selalu curhat dengan Azzam.
deg
Aisha mendengar kata yang di ucapkan Hamdan, hatinya sakit perih ternyata selama ini Azzam hanya berpura-pura menikahinya dan mencintai nya. hal itu Azzam lakukan semata-mata karena janji Azzam kepada Hanafi bukan dari hati Azzam untuk menikahi Aisha.
" entahlah sahabat ku satu itu berwasiat kok aneh"
prang....
Suara gelas dan nampan terjatuh dari tangan Aisha. tubuh Aisha gemetar ia menangis mengingat Hanafi orang yang pertama kali ia cintai, menurut nya Azzam sangat kejam pernikahan nya bukan berdasarkan cinta tapi wasiat yang menurutnya itu tidak perlu di kabulkan. Karena menikah itu haruslah berdasarkan cinta bukan karena memenuhi janji orang yang telah tiada.
" Aisha..."
" kak..."
keduanya menoleh ke arah Aisha, Azzam segera mendekati Aisha dan menyentuh nya tapi Aisha menghindari ia mundur.
__ADS_1
" Aisha ada apa"
" jangan sentuh Ais mas, jadi pernikahan kita bukan karena mas mencintai Ais tapi karena janji mas azzam sama mas Hanafi"
" tidak Ais, mas tidak pernah mau berjanji kepada Hanafi semua murni aku mencintaimu"
" tidak mas, Ais kecewa dengan mas juga kamu Hamdan. kenapa hal sebesar ini kalian sembunyikan kepada Ais, mas Hanafi benar menyuruh ais menikah lagi tapi bukan dengan siapapun yang ia mau Aisha bebas memilih. dengan orang yang selalu berada di mimpi dan shalat istikharah ku. tapi mas bikin Ais kecewa..."
" Ais bukan seperti itu Ais dengarkan mas bicara dulu" Azzam mencoba mendekat dan memegang tangan Aisha tapi Aisha langsung menepisnya.
" iya kak bukan seperti itu biar Hamdan dan Azzam jelaskan."
" apa yang akan kalian jelaskan, semuanya sudah jelas. Ais kecewa dengan kalian" Aisha menangis ia mengambil tas nya kemudian berlari pergi, Azzam dan Hamdan pun mengejar aisha.
" Aisha tunggu, kita bisa bicarakan baik-baik Aisha" untung saat sore di jam 3 kafe sepi jadi tidak ada yang tau kejadian itu.
Azzam terus saja mengejar Aisha, tapi Aisha sudah pergi berlari.
" aaaa...." hampir saja Aisha tertabrak oleh mobil yang melintas.
" Aisha, itu seperti istri Azzam" batin pengendara mobil itu. Pengendara mobil itu langsung keluar melihat Aisha yang masih memegangi dadanya karena kaget.
" Aisha, ada apa kamu berlari. hati-hati Aisha kamu mau kemana terburu-buru"
" bawa aku pergi dari sini, cepetan bawa aku" tanpa berpikir lagi akhirnya Almira membawa pergi Aisha. Almira tidak bertanya lagi kepada aisha, karena melihat Aisha yang berderai air mata.
Azzam dan Hamdan melajukan mobilnya mereka mencari kemana Aisha pergi. ternyata mereka sudah kehilangan jejak Aisha pergi dengan mobil Almira.
" ada apa dengan kak Aisha kak, biasanya kak Aisha orang yang bijak tidak seperti ini. bahkan ia tidak mau mendengarkan penjelasan kita"
" entahlah Hamdan kakak juga tidak mengerti apa yang terjadi dengannya. sebaiknya kita cari"..
" gini saja kak, kakak pulang siapa tau kak Aisha pulang ke rumah biar Hamdan pulang siapa tau juga pulang ke rumah Abah" Azzam mengiyakan dan Hamdan akhirnya turun naik ojek agar segera sampai ke rumah. ia sangat mengkhawatirkan keadaan Aisha.
_____
bersambung....
__ADS_1
aduh aisha mau kemana kamu, tunggu lanjutannya y kak. Jangan lupa like.
terimakasih ،🥰