Titip Istriku

Titip Istriku
berita hamil


__ADS_3

Satu masalah sudah terpecahkan, kini kesalahpahaman sudah tidak ada lagi di antara Azzam dan Aisha. Hamdan mengantar Azzam dan Aisha pulang ke rumah mama Raisa, Hamdan pun pamit langsung pulang. sepertinya ia memang harus ke kantor takut Zidan kewalahan sendirian ngga ada Kiran yang biasa membantu nya. Mama Raisa yang tahu menantu dan anaknya pulang ia langsung memeluk Aisha, mama khawatir dari kemarin di beri tahu jika menantunya pergi.


" Mama Raisa, kak, Hamdan langsung pamit pulang ya mau ke kantor"


" iya trimakasih ya sudah temani kakak dari kemarin"


" tidak apa-apa kalian keluarga ku kak, masalah kalian masalahku juga" hamdan langsung melaju ke kantor menaiki taksi. karena kemarin mobil yang di pakai mobilnya Azzam, Hamdan menolak untuk memakainya.


" maafin Aisha ma membuat mama khawatir" mama Raisa memegang tangan menantunya.


" tidak apa-apa sayang mama mengerti, lain kali setiap ada masalah jangan pernah lari. selesaikan masalah kalian hadapi dengan kepala dingin" Aisha mengangguk.


" ma Azzam bawa kabar baik untuk mama"


" apa sayang, " mama memandangi wajah dua bocah itu.


" Mama akan jadi nenek" spontan mulut mama terbuka lebar, kaget mendengar kabar bahagia.


" benarkah kamu ngga bohong zam, jangan bikin Mama mengharap yang ngga jelas. benar itu Ais" Aisha tersenyum dan mengangguk, seketika mama mencium kening Aisha.


" terimakasih sayang, ya Allah terimakasih" mama sangat bahagia, Azzam dan Aisha yang melihat nya juga bahagia.


" sekarang kamu istirahat makan yang banyak jangan terlalu banyak aktivitas, ayo Azzam bawa istri mu ke dalam." Mama bahagia ia langsung ke dapur membuat makanan cemilan untuk ibu hamil, di buat stok taruh di kulkas.


" bik buat puding taruh kulkas, pokoknya kulkas jangan sampai kosong bikin cemilan sehat tiap hari untuk calon cucuku"..

__ADS_1


" apa maksudnya nyonya, apa non Aisha hamil" bibi senang sekali hari kebahagiaan menyertai keluarga Azzam dan Aisha.


" iya bik, aku akan jadi nenek. ini uang belanja pokoknya beli untuk keperluan ibu hamil makann sehat ya, jangan lupa banyakin buahnya." Mama Raisa sangat semangat, bibi pun juga semangat ia langsung ke pasar di antar sopir.


Azzam dan Aisha sudah sampai di kamar bia bersih-bersih dan menuju ranjang duduk santai menikmati hari.


" mas Azzam ngga kerja " Azzam yang baru saja keluar dari kamar mandi, berganti pakaian kemudian duduk di ranjang bersama istrinya. dengan kaki bersila dan memangku bantal keduanya saling berhadapan.


" ngga mungkin mas azzam kerja dalam keadaan seperti ini, pikirannya ngga fokus. mas itu dokter bedah bisa-bisa salah yang mas bedah, kan mas inget apa yang sering kamu katakan. utamakan nyawa orang jangan Ais, nah mas kan ngutamain nyawa orang biar ngga salah yang mas bedah. mas juga manusia dek, kalau fikiran lagi kalut takut salah yang mas kerjakan " Aisha cekikikan mendengar suaminya. bener juga yang di katakan Azzam, urusan nyawa harus hati-hati.


Azzam kemudian menyingkirkan bantal yang ada pada dirinya dan mendekati Aisha ia memegang dagu sang istri kemudian satu kecupan manis di b*bir untuk sang istri.


" mas mencintaimu sayang, disini ada dua wanita yang mas cintai dalam hidup " Azzam memegang dadanya. Aisha pun mengerutkan keningnya, jantungnya mulai berdetak kencang saat azzam mengatakan dua wanita. Aisha meletakkan bantal yang di atas kakinya kemudian berbaring, jiwanya memang sangat labil. Azzam kemudian memeluknya dari belakang dan berbisik.


" Mama dan istriku Aisha yang cantik ini tak akan terganti kan di hati mas, apalagi istriku salihah ini membuat mas tak bisa sedetik pun berjauhan dengan nya." Aisha lega mendengar pernyataan suaminya kemudian ia berbalik menghadap suaminya.


" mas juga sangat mencintai Ais calon ibu dari anak-anakku, ciumnya yang lama sayang biar kerasa"


" emangnya ngga kerasa mas"


" dikit cuma kayak kesetrum" Aisha terkekeh, suami dokternya bisa humoris juga.


" Dulu Aisha pikir punya suami dokter itu Aisha harus siap dengan konsekuensi, pasti akan mengutamakan orang lain dari pada istrinya. kala itu Aisha pasrah, dan Aisha fikir mas itu ngga humoris orangnya tenang lurus aja. ehh ternyata....." kembali Aisha terkekeh.


" ternyata apa sayang hmmmm" Azzam mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


" ternyata juga bisa asyik, bisa bikin Aisha cekikikan"


" bisa bikin anak juga"


" mas,,," mereka kembali terkekeh.


" kalau di luar aku memang dokter sayang, tapi kalau dirumah ya tetap suami yang wajib memberikan kebahagiaan, perhatian, kasih sayang sama istrinya." keduanya masih mengobrol hingga Azzam meminta Aisha untuk tidur, takut jika Aisha kelelahan dan masih stres pikirannya.


***


Hamdan sampai di kantor ternyata ia mendapati Kiran yang sudah masuk kerja. cukup terkejut karena Hamdan taunya Aurel masih di rawat di rumah sakit.


" kamu sudah masuk kerja Kiran" Kiran mendongak kan wajahnya ke atas mendengar ada seseorang yang memanggilnya, saat itu Kiran masih serius di depan laptop mengerjakan banyak pekerjaan. perusahaan memang semakin maju membuat seluruh karyawan makin sibuk.


" iya kak baru masuk hari ini," Kiran tersenyum kemudian balik ia memandang laptop nya.


" gimana Aurel sudah keluar rumah sakit"


" Alhamdulillah Aurel cukup membaik kak, sudah di izinkan dokter pulang."


" syukur Alhamdulillah, semoga anak itu cepat dapat obatnya bisa kembali ceria lagi."


" aamiin, kak terimakasih." Kiran melanjutkan pekerjaannya, Kiran ini memang tipe anak yang rajin dia ngga pernah setengah-setengah dalam mengerjakan suatu pekerjaan. apalagi melihat kebaikan Hamdan selama ini Kiran tidak ingin mengecewakan dewa penolong baginya itu. Hamdan pun berlenggang pergi masuk ke ruangan nya. ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, rasanya dia lelah sekali setelah insiden kemarin mencari Aisha. Hamdan tersenyum sendiri mengingat pasangan Azzam dan Aisha yang sangat mesra, melihat Aisha ia bahagia sudah menemukan pasangan yang tepat. Mengingat kak Hanafi yang selalu berdoa untuk kebahagiaan istrinya meski ia tak bersamanya, dalam hati Hamdan rasanya lega kak Hanafi tidak salah menitipkan pada orang yang tepat. Walaupun sejatinya istri di titipkan itu ngga bisa ia ambil kembali. Hamdan pun mengingat lagi umma nya yang antusias ingin menikahkan nya dengan wanita pilihan umma. Umma sangat begitu yakin, Hamdan selalu menolak dengan alasan kuliah dan pekerjaan nya, bener juga si jika Hamdan nikah sudah ngga bingug menafkahi istrinya kelak. Hamdan bos muda yang sukses meski dia masih menyandang status mahasiswa. Kemudian tidak sengaja bayang mata wanita bercadar itu lagi mengusiknya, Hamdan memegang kepalanya kemudian menjambak dengan sedikit kasar. jika ia mencoba melupakan Zakia namun selalu sorot matanya yang terlintas di benak Hamdan. begitu sulitnya melupakan jika hati sudah terpaut, padahal wajahnya saja Hamdan tidak tau hanya sorot mata yang lembut seakan mengikuti seiring langkah jalannya pergi.


_______

__ADS_1


bersambung...


Like dong kak novelnya 😁.


__ADS_2