
Semua orang panik melihat Aisha yang tiba - tiba pingsan, Almira menyuruh azzam membawa istrinya ke dalam. Azzam menggendong tubuh Aisha, ia rebahkan ke ranjang, Azzam sangat panik begitu juga dengan yang lain.
" Biar aku periksa, tunggu ya" ya Almira juga seorang dokter selebihnya ia adalah spesialis kandungan.
" bagaimana mir " tanya azzam panik.
" sebentar biar aku periksa" Almira cukup tenang ia mendapati sesuatu yang sedikit ganjil. Ia sangat tau setiap pasien yang ia tangani, ia coba sekali lagi benar tidak salah lagi. Almira pun tersenyum manis, Azzam yang masih dengan raut wajah sangat panik. Hamdan sedang menunggu di luar karena memang meski sudah menjadi kakaknya Aisha bukanlah mahramnya.
" Semoga pradugaku tidak salah zam "
" apa maksudmu Almira cepat katakan" suaranya sedikit meninggi.
" aku sangat yakin jika kamu sangat mencintai istri mu terlihat dari ke khawatiran mu, Aisha sedang hamil. sebaiknya periksakan ke dokter untuk lebih jelasnya " Azzam melotot dengan yang di ucapkan Almira, Azzam sangat terkejut ada pancaran rona kebahagiaan dalam dirinya.
" kamu serius mir" Almira mengangguk. Azzam langsug melakukan sujud syukur tanda ia mengucapkan syukur kepada Allah sang pemberi kehidupan. Almira membiarkan Azzam bersama Aisha di dalam. sepertinya sebentar lagi Aisha akan sadar, ia memberikan waktu untuk pasangan itu berbicara dari hati ke hati.
" bagaimana dengan kak Aisha dok" tanya Hamdan khawatir.
" selamat ya kamu akan segera punya keponakan"..Hamdan pun terkejut.
" apa dok, maksud dokter kak Aisha hamil. Alhamdulillah." Almira mengangguk, Hamdan senang sekali rasanya ia bahagia mendengarnya.
di dalam kamar Aisha baru saja siuman, Azzam masih setia menunggu sang istri di samping nya. Aisha menatap setiap sudut kamar apartemen milik Almira, ia menoleh mendapati suaminya yang masih di sana. ia ingat bahwa saat itu Aisha sedang bersitegang dengan Azzam.
" Aisha kamu sudah siuman Ais " Aisha sangat prihatin melihat wajah suaminya yang tampak lusuh, matanya seperti ada lingkarannya hitam terlihat semalam ia tidak tidur. tidurnya hanya sebentar-sebentar tak sabar ia menunggu pagi.
" mas, maafin Ais" kini Aisha sudah bisa berfikir lebih jernih, apalagi saat ia melihat tatapan mata suaminya yang sendu. Aisha membelai pipi suaminya. Azzam menggeleng kemudian ia memeluk Aisha, Azzam meneteskan air matanya hingga membasahi pundak Aisha.
" Jangan pergi lagi ais, mas ngga sanggup melewati nya." Aisha tidak tega lagi melihat suaminya menangis. Azzam melerai pelukan nya kemudian ia menciumi sang istri disetiap inci wajah sang istri.
__ADS_1
" Terimakasih sayang, mas sangat berterima kasih, cup" di kecupnya lagi dahi sang istri yang putih mulus. Azzam sudah tampak lega, ia tersenyum melihat istrinya. dikecupnya lagi padahal baru semalam mereka berpisah.
" terimakasih untuk apa mas, seharusnya aku yang berterima kasih. maaf membuat mu khawatir"
" tidak hanya aku yang khawatir bahkan semua orang. terimakasih sekali lagi" Aisha bingung dengan ucapan Azzam ia berterima kasih terus menerus dari tadi. Azzam mengelus perut istrinya yang masih rata itu, Aisha memegang tangan suaminya ia merasa sedikit geli saja. Azzam mendekati Aisha dengan menaruh wajah'nya dekat telinga istrinya.
" terimakasih, kamu akan menjadi ibu" Azzam berbisik di telinga Aisha. seketika mata Aisha terbelalak lebar, ia melotot dengan ucapan suaminya yang menurut nya bercanda.
" mas ngomong apa sih ngga lucu mas" Aisha ngga percaya dengan ucapan Azzam. Aisha mencoba berdiri ia lalu keluar dari kamar Almira, di dapatinnya sosok Almira dan azzam yang sedang menunggu mereka.
" Aisha tunggu Ais pelan-pelan jalannya"
" Almira terimakasih sudah memberiku tumpangan semalam" Almira mengangguk, Azzam keluar dari kamar.
" mir tolong jelaskan pada istriku, ia tidak percaya dengan ku mir." Azzam mengajak Aisha untuk duduk terlebih dahulu. Almira tersenyum ia senang melihat Azzam bahagia, dulu saat bersamanya Almira menunda semua itu hingga dalam pernikahan mereka tak ada hadirnya anak.
" Aisha benar yang dikatakan Azzam, kamu hamil sa sudah memasuki Minggu ke empat. lebih baik besok kalian lakukan USG di rumah sakit, datanglah di rumah sakit xxxxxx. aku bekerja di sana besok pertama kali aku masuk kerja." ucap Almira.
" oh ya, syukur lah ada orang yang sudah aku kenal di tempat kerja yang baru"
" Almira ini dokter kandungan sayang, tepat nya spesial kandungan"
" kalian tidak bercanda kan" Aisha masih tidak percaya dengan ucapan Almira maupun suaminya.
" kak Aisha, hamdan bahagia udah mau punya ponakan, apalagi jika Abah dan umma senang pasti lebih bahagia dari Hamdan" Aisha justru malah menangis mengeluarkan air matanya, Azzam memeluknya.
" mungkin ini alasannya emosimu labil Ais, ibu hamil memang tidak bisa tertekan. " ucap Almira.
" trimakasih Almira kalau tidak ada kamu ngga tau apa yang terjadi sama aku kemarin, entahlah rasanya aku ini saat mendengar itu rasanya sesak sekali pikiran ku pendek sekali". azzam mengelus istrinya mengusap punggung Aisha.
__ADS_1
" maafin hamdan ya kak, kak Azzam kemarin sampai seperti orang ngga waras mencari kak Ais. untung ada Hamdan yang selalu siaga, kalau ngga mungkin kak azzam akan lompat dari gedung setinggi beberapa kali kilometer" Hamdan cekikikan mengingat sikap Azzam kemarin, semrawut. Aisha pun menahan senyumnya.
" Jaga baik kandungan mu Ais, makan makanan sehat dan ingat jangan stres kasihan bayi yang ada dalam kandungan mu"
" kapan kamu datang si Indonesia mir, " Azzam sudah tidak canggung lagi dengan Almira, cintanya benar-benar sudah hilang. hatinya sudah di penuhi oleh Aisha istrinya.
" dua hari yang lalu aku sampai, kemarin baru aku keluar dari rumah dan bertemu Aisha. aku udah ngga di Amerika lagi, aku akan menata hidup ku yang baru di sini." Almira memutuskan untuk pulang ke Indonesia ia menyudahi karirnya di negara orang.
" terimakasih sudah menjaga istri ku," Azzam memegang tangan Aisha.
" Baiklah ayo kita pulang kak semuanya sudah bereskan, semoga tidak ada kesalahpahaman lagi. " semuanya tersenyum senang melihat Aisha dan Azzam bersama lagi.
" sekali lagi terimakasih Almira, kita pamit"
" sama-sama, kalian hati-hati "
Hamdan yang menyetir mobilnya Aisha dan Azzam duduk di belakang seakan Azzam benar-benar enggan melepaskan Aisha tangan Azzam tak pernah lepas ia genggam terus.
" kak Azzam jangan di sini ya, ada jomblo" Azzam dan Aisha cekikikan, Hamdan hari ini bagaikan sopir pribadi mereka.
" kemarin umma nawarin kan dek, udah ngga papa walaupun masih kuliah Hamdan kan sudah sukses sudah bisa ngasih makan anak orang". ucap Aisha .
" kak nikah itu ngga sembarang cuma kasih makan aja, butuh cinta dan masih banyak lagi. aku ngga mau punya yang tanpa adanya cinta, bagaikan sayur tanpa garam. hambar kak" sambil menyetir Hamdan menjawab Aisha yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.
" benar kata kamu Ndan, makanya kakak ngga mau berjanji sama Hanafi saat Hanafi selalu meminta kakak untuk menikahi aisha. dulu selama satu tahun meyakinkan diri kakak untuk benar-benar yakin bahwa dalam hati ini ada cinta untuk nya. Setiap malam aku bermunajat kepada Allah agar keyakinan ku sama dengan yang Allah pilihkan untukku. wanita salihah bidadari surgaku, trimakasih ya sayang" Azzam mengecup kening Aisha.
" tuh kan kak Azzam mulai lagi" Aisha dan Azzam kembali cekikikan.
____
__ADS_1
bersambung.