Titip Istriku

Titip Istriku
operasi


__ADS_3

Hamdan tak bisa berkata apapun di depan orang tuanya, setelah semuanya tau. umma menangis di pelukan Abah tak kuasa menahan kesedihannya, kabar yang membuatnya sangat syok.


tiba-tiba umma lemah lemas tak sadarkan diri.


" umma..ma..." panggil Abah sambil menepuk pipi umma.


" astaghfirullah umma " Aisha mendekat.


begitupun dengan Hamdan langsung menggendong ummanya dan memanggil perawat.


tak lama perawat datang dan membawa umma ke ruangan. Dokterpun langsung memeriksanya.


" jangan khawatir ibu anda hanya syok saja, biarkan istirahat dulu. "


dokter menyuruh semuanya keluar ruangan.


" Hamdan, jujur Abah sangat terpukul mendengar semua ini apalagi umma kamu liat sendiri keadaan nya. kenapa kamu tidak kasih tau Abah berita sebesar ini."


" maaf Abah sebelumnya tidak ada yang tau tentang keadaan kak Hanafi begitupun kak Aisha dan hamdan. Hamdan mendesak dokter bah, kak Hanafi yang tidak mau semuanya tau, kakak tidak ingin kita semua sedih."


" terus bagaimana dengan Aisha "


" Aisha juga baru tau tanpa sengaja mendengar kan pembicaraan Hamdan dan dokter bah. dan sampai saat ini mas Hanafi belum mengetahui kalau kita semua sudah tau penyakit mas Hanafi" Aisha menahan air matanya.


Abah mengelus kepala aisha yang terbalut dengan jilbab itu menenangkan menantu kesayangan nya.


" maafkan Abah nak, Abah benar-benar tidak tau "


" bukan salah Abah, takdir bah yang membuat kita agar selalu kuat. ini terjadi setelah pernikahan kami bah, penyakit itu diketahui setelah kami menikah bukan sebelumnya. tidak ada yang salah terlebih Abah ataupun mas Hanafi. manusia akan di uji dengan kemampuannya masing-masing." Aisha tersenyum menenangkan mertuanya. abah mengecup kepala Aisha, dan mendoakan kebaikan untuknya.


ceklek.


" saudara pak Hanafi " suster memanggil.


" iya sus saya ayahnya"


" mari ikut kami keruangan untuk melakukan persetujuan operasi pak "


" baik sus "


Abah melakukan apa yang diminta dokter demi kebaikan anaknya. dengan mengucap bismillah Abah menandatangani persetujuan operasi itu.


operasi akan dilakukan jam 2 siang ini, dokter sedang mempersiapkan semuanya. Hamdan Aisah dan Abah menunggu di luar.


Tak lama suster memanggil keluarga pak Wahyu, umma sadar.

__ADS_1


Semuanya masuk dalam ruangan umma.


Abah langsung menghampiri umma, tampak umma yang masih mengeluarkan air matanya.


" maafin hamdan umma " Hamdan memeluk ibunya itu. bahkan Aisha ikut mendekat.


" Aisha, maafin umma dan Abah nak " Aisha mendekat dan memeluk mertuanya itu.


" tidak umma, umma dan Abah tidak salah. semuanya sudah Allah gariskan tinggal kita kuat atau tidak menjalani nya" Aisha tersenyum untuk membuat mertuanya tenang.


" kita doakan untuk kesembuhan Hanafi ma " ucap Abah, umma pun mengangguk.


***


Lampu ruang operasi menyala, semua dokter sudah siap untuk melakukan tindakan operasi.


Aisha, Hamdan, Abah dan umma menunggu di luar dan mendoakan kelancaran operasi Hanafi. Tanpa hentinya semuanya berdzikir memohon yang terbaik kepada sang pemilik diri.


Sudah hampir tiga jam belum ada kabar dari ruang operasi. tepat pukul lima sore lampu dalam ruang operasi mati. Semua lebih tegang dari sebelumnya, menunggu kabar dari dokter. Dokter pun keluar dari ruangan.


" Dok.." panggil Hamdan mendekati dokter.


" Alhamdulillah Operasi lancar nak"


" Alhamdulillah..." ucap keempat orang yang sedang menunggu.


" trimakasih dok" ucap Abah.


" ini sudah tugas saya, saya permisi dulu " kemudian dokter meninggalkan keluarga pak Wahyu.


semuanya langsung menatap jendela melihat keadaan Hanafi pasca operasi. Selang infus yang tertancap dimana-mana. Rasanya seperti ditusuk-tusuk hati Aisha melihat keadaan suaminya yang sedang berjuang di dalam sana.


Hamdan yang mengeluarkan air matanya melihat kakak satu-satunya yang terbalut benda-benda menyeramkan baginya.


" Jangan terus bersedih, kita harus menguatkan Hanafi seperti halnya kakakmu yang tak ingin melihat kita semua sedih kan" Abah menepuk pundak hamdan, Hamdan pun mengangguk atas penjelasan Abah.


***


" Abah sebaiknya bawa umma pulang agar beristirahat tak baik berada disini, umma juga harus memperhatikan kesehatan umma" Hamdan menyuruh orang tua nya agar pulang untuk beristirahat.


" biarkan Aisha dan Hamdan yang menunggu bah, lagian mas Hanafi akan sadar esok " ucap Aisha.


" Apa kakak tidak sebaiknya ikut pulang Abah, biar Hamdan yang jaga kakak"


" Kak Aisha ingin disini hamdan, dirumah akan membuat kak Aisha tidak tenang."

__ADS_1


" Baiklah jika itu keinginan mu Aisha, kamu jaga kesehatan jangan lupa makan" Aisha mengangguk. kemudian Abah dan umma meninggalkan rumah sakit. melihat keadaan umma tak mungkin Abah akan bermalam di rumah sakit.


" Kak istirahatah biar aku yang berjaga."


" tidak apa-apa Hamdan kakak baik-baik saja"


" besok kak Hanafi sadar kak, kasihan kak Hanafi jika melihat kakak pucat. Ia selalu ingin melihat kebahagiaan kakak, istirahat lah demi kak Hanafi"


Akhirnya Aisha mengangguk dan beristirahat di ruang tunggu, memejamkan matanya meski sulit ia lakukan.


meski menunggu sekali-kali Hamdan tanpa sengaja tertidur memejamkan matanya karena mungkin sangat kelelahan..


***


Pagipun tiba Aisha dan hamdan sudah terlihat segar dan rapi. Pagi itu Abah dan umma datang membawa sarapan dan baju ganti keduanya. Hanafi akan sadar sekitar jam 9 pagi kata dokter, mereka tak ingin ada kesedihan di mata mereka karena itu yang dilakukan Hanafi sebelumnya. menutupi penyakitnya tidak ingin melihat orang yang di sayangi bersedih. Aisha memakai bedak tipis agar terlihat lebih segar didepan suaminya nanti.


" Hamdan kamu sudah beritahu Zidan untuk menghandle kantor hari ini "


" belum bah, sebentar Hamdan hubungi Zidan dulu"


Hamdan sedikit menjauh untuk menelepon Zidan.


" baik pak, tapi ini ada beberapa yang harus bapak tanda tangani "


" jika kamu bisa, tolong bawa kerumah sakit"


" baik nanti saya akan kesana "


***


" dek jadi kerumah sakit " tanya Zidan di seberang telepon.


" insyaallah jadi kak, ini Zakia sedang bersiap-siap"


" kakak jemput ya "


" tidak usah kak, Zakia sudah pesan taksi online dan itu sudah datang. kita ketemu di rumah sakit saja kak." Zidan mengiyakan lalu menutup teleponnya segera menuju taksi.


Ketika hendak melakukan shalat duha di masjid Hamdan mendapati gadis pujaannya itu. ia berpapasan, tapi memang Zakia selalu menunduk kan pandanganya jika bertemu dengan lawan jenis.


" gadis itu lagi, ya Allah kenapa hatiku bergetar hebat saat melihatnya" gumam Zidan lalu mengusap kasar wajahnya dan beristighfar.


Zakia pun langsung menuju tujuannya, ia akan mengambil obat untuk ayahnya. Ayah Zakia harus meminum obat dengan rutin, dan setiap dua Minggu sekali Zakia menebusnya.


Setelah kejadian dimana ayah Zakia ditipu oleh rekan kerjanya, ayah Zakia mengalami sakit jantung dan harus menjalani perawatan.

__ADS_1


****


lanjut nanti ya...


__ADS_2