
sesampainya dirumah Aisha menyuruh Hanafi langsug istirahat di kamarnya, Aisha merapikan semua belanjaan tadi dan menyimpan di lemari yang berada di dapur. Hamdan hanya berganti kendaraan nya memakai motor lalu bergegas pergi ke kampus. Hamdan lebih suka membawa motornya daripada mobil, yang jelas terhindar dari macet dan lebih cepat sampai.
Setelah selesai Aisha menyusul suaminya di kamar.
" Mas belum istirahat" Hanafi masih sibuk dengan ponselnya.
" Belum sini..." Hanafi menepuk tempat tidur yang ada di sebelahnya agar Aisha mengikuti arahannya juga istirahat.
" Istirahat mas taruh ponselnya, mumpung belum adzan Zuhur." Aisha meminta ponsel Hanafi agar Hanafi tidak lagi memainkan ponsel.
" Simpan sajadah dan tasbih dari mas tadi ya, jaga baik-baik. Hanya itu ynag bisa mas tinggalkan untuk mu sayang." entahlah Hanafi meracau hari ini kata-katanya tak enak sekali di dengar oleh Aisha.
" mas kenapa hari ini mas selalu ngomo seperti ini, mas tau kita tidak boleh mendahului Allah atas apa yang belum di kehendaki"
" Mas takut belum sempat berwasiat di panggil olehNya"
"mas...." Aisha langsug menjatuhkan kepalanya di bidang dada suaminya.
" Doakan mas Husnul khatimah ya sayang". Aisha mendongak dan menutup mulut Hanafi dengan satu tangannya.
" Aisha tidak ingin dengar lagi, istirahat lah mas" pikiran Aisha sudah sangat kacau mendengar suaminya terus berucap seperti itu.
" dek dengarkan mas.." Hanafi meletakkan kedua tangannya di pipi Aisha.
" jika memang mas pergi berjanji lah pada mas dek, jangan berlarut dalam kesedihan. jadikan mas sebagai kenangan indahmu. Menikahlah lagi lanjutkan masa depan mu, mungkin memang Allah menakdirkan mas sampai disini mendampingi mu. Mas bangga bahagia bahkan sangat bahagia memiliki istri sepertimu."
" mas apa itu tandanya mas menyerah, mas tidak ingin hidup bersama Aisha lagi" Aisha menatap mata suaminya, tangannya memegang tangan suaminya yang masih berada di pipi Aisha.
" bukan seperti itu maksud mas dek, mas ingin selalu melihat mu bahagia"
" Aisha bahagia mas bersanding dengan mas, bahkan kebahagiaan ini tak bisa Aisha ucapkan dengan kata apapun. kamulah takdirku mas, jangan bicara itu lagi ya Aisha mohon. ikuti saja semua alur takdir kita, kita harus terus berjuang mas. Mas Hanafi akan sembuh kita akan melanjutkan kehidupan kita kedepannya mas. sudah ayo kita tidur" Aisha tak ingin lagi melanjutkan obrolan yang sangat menyayat hatinya itu, Aisha menenggelamkan kepalanya di dada suaminya lagi lalu memejamkan mata. bulir air mata pun menetes tanpa Hanafi ketahui karena posisi kepala Hanafi lebih tinggi dari Aisha.
Hanafi mengelus kepala istrinya sesekali mengecup kepala istrinya yang sudah tak mengenakan jilbab. Rambut yang halus panjang dan wangi membuat nyaman orang yang selalu di dekatnya.
***
__ADS_1
Hamdan memarkirkan motornya sedikit berlari menuju kampus. takut telat karena dosen kali ini tak peduli jika telat sudah memberi nilai merah pada mahasiswa nya. tak ingin mendengar alasan mahasiswa nya kenapa telat, sudah langsung tidak di perbolehkan masuk.
" hai boy, kenapa kamu lari-lari" teriak Tomi.
" hayuk cepat hari ini pelajaran nya Miss Lauren, bisa kena dis kita jika telat" sambil berteriak kepada Tomi Hamdan mempercepat jalannya.
" what... kenapa aku lupa" Tomi langsug ikut berlari menyusul Hamdan.
Didalam sudah ada teman-temannya itu yang menunggu. Hamdan sudah di sisakan tempat duduk oleh Anita wanita yang mengaguminya.
" Hamdan ini tempat dudukmu" Hamdan langsug saja menempati. Anita sangat senang jika sudah berada di samping Hamdan. Tomi juga duduk tepat dibelakang Hamdan kebetulan masih kosong juga.
" bro kamu akhir-akhir ini ngga pernah nongkrong sebentar aja sama kita, kamu sibuk banget sih".
" iya Hamdan kamu selalu langsung pulang, ada masalah?" tanya Anita .
" aku harus ke kantor setelah dari kampus Tom, kak Hanafi sakit tak mungkin ia membantu ku. Abi ia sakit punggung tak bisa berlama-lama duduk tom, sesekali saja Abi ke kantor mengecek semua laporan" ucap hamdan.
" sabar Hamdan kamu memang kuat masih bisa menjalani waktumu untuk pendidikan mu" ucap Yara .
" sukses bro..." Tomi menepuk pundak temannya itu.
Lima menit sudah dosen yang di nanti pun datang semua tegang tak ada satupun yang mengeluarkan suara. Jika ada yang bersuara saat pelajaran sudah pasti akan di keluarkan.
" kita kuis ya" semua mahasiswa melongo ada yang memegang kepala, tanpa ada yang bisa mengeluarkan suara. kelimpungan sudah dengan aksi dosennya yang bikin gemas itu.
Satu jam berlalu semua sudah mengerjakan tugasnya masing-masing. Hamdan dengan santainya mengerjakannya, berbeda dengan Tomi yang resah masih membolak-balikan kertas.
" sepuluh menit lagi kumpulkan," ucap Miss Lauren. masih dengan wajah yang kusut para mahasiswa menyelesaikan tugasnya.
Waktu terasa cepat berlalu akhirnya hasil kerja di kumpulkan. setelah selesai Miss Lauren pergi meninggalkan kelas. terdengar suara ricuh kembali di kelas itu, ada yang mengendus nafas kasar ada yang mengatai dosennya dengan yang tidak berperasaan. macam-macam mahasiswa hari ini di buat syok oleh dosennya.
" Kamu langsung pulang Hamdan" tanya Anita.
" nanti anita, sholat dulu di kampus sebentar lagi adzan Zuhur. habis itu aku ke kantor." sudah menjadi rutinitas setiap harinya, Hamdan sudah mulai terbiasa dengan kesibukan nya di kantor.
__ADS_1
Mereka mengobrol masih dengan topik yang sama tentang kuis yang mereka kerjakan tadi. Hamdan , Anita dan Yara tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Tomi dengan jawabannya itu. jawaban yang mereka anggap konyol karena tak sesuai dengan pertanyaan sama sekali.
Terdengar suara adzan dari musola di kampus. Hamdan segera menyudahi obrolannya dan bergegas ke musola dengan menarik kerah baju milik Tomi.
" Hamdan rusak kaos aku ini."
Hamdan tak peduli terus saja menarik Tomi hingga sampai musola.
Hamdan selalu tanpa basa basi dengan sahabat nya Tomi itu...
Zakia melihat tingkah dua anak muda yang sama-sama tampan, banyak mahasiswi yang mengidolakan. Hamdan tak pernah peduli banyak mahasiswi yang ngefans dengannya beda dengan Tomi yang selalu memanfaatkan keadaan dengan mendekati adik tingkat yang ia suka.
Zakia tersenyum di balik cadar nya dan menggelengkan kepalanya. lalu menunduk melanjutkan langkahnya ke musola kampus untuk melaksanakan shalat Zuhur.
empat rakaat sudah selesai di tunaikan Hamdan segera melangkah ke parkiran mencari motornya untuk melaju ke kantor.
nampak Zakia lewat lagi di depannya, Zakia yang selalu menunduk tidak memandang lawan jenis. Lagi- lagi hati Hamdan berdesir, ia menyesali kenapa harus menyukai wanita yang sudah bersuami.
" heh Hamdan macem gitu wanita yang kamu sukai" Tomi menyenggol lengan tangannya cukup keras.
" apa-apaan si sakit tau tom"
" kejer dan, kenali lamar langsug bila perlu"
" gila lo wanita sudah punya suami nyuruh buat ngedeketin"
" what, ngga salah lo dan "
" Sudahlah ayok, aku mau ke kantor"
Tomi masih bingung tidak percaya dengan ucapan Hamdan.
_______
bantu like dan komennya kakak 🥰
__ADS_1