Titip Istriku

Titip Istriku
libur kerja


__ADS_3

waktu berjalan terasa begitu singkat, Azzam menikah dengan Aisha sudah menginjak di bulan ke empat. Mereka masih asyik menikmati masa pengantin barunya. Azzam sedikit pun tak pernah menyinggung soal anak kepada Aisha, ia tidak ingin membuat Aisha sedih mungkin memang belum saatnya Allah amanahi seorang anak.


" mas hari ini libur ngga kerja," setelah mereka solat subuh yang biasanya Azzam membuka laptop atau tas kerja nya kali ini tidak ia lakukan, Azzam duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya.


" ngga sayang hari ini mas libur, mas juga minta jam kerja mas di kurangi mas merasa waktu mas habis di rumah sakit ngga ada waktu untuk istirahat sejenak bersama istri mas tercinta" Azzam merentangkan tangannya agar Aisha datang menghampiri.


" maafkan Aisha ya mas" Azzam mengerutkan keningnya heran saja kenapa malah istrinya yang minta maaf.


" maaf untuk apa Ais.." Azzam melingkar kan tangannya di pinggang Aisha dengan kepala yang mendongak ke atas.


" maaf, Ais belum bisa memberikan apa yang di harapkan mas juga mama." Aisha menatap suaminya dengan wajah yang sedih.


" apa maksudmu Aisha, apa soal anak." aisha mengangguk.


" ada atau tidak nya seorang anak ngga akan merubah rasa cinta dan sayang mas terhadap istri mas, kita bisa adopsi anak Ais. pernikahan bukanlah semata-mata hanya untuk menghasilkan anak. tapi pernikahan adalah ibadah sepanjang hidup. setiap aktivitas kita bersama pasangan bernilai ibadah. mas ngga akan pernah mempermasalahkan itu, kita menikah baru saja empat bulan Ais masih banyak waktu untuk ikhtiar contohnya hari ini mas mengurangi waktu kerja mas untuk itu juga" Azzam tersenyum dan memainkan alisnya menggoda Aisha.


" masih pagi mas, semalam kan sudah. liat ni rambut Ais aja masih basah" Azzam terkekeh melihat wajah malu nya Aisha.


" Ya sudah buatkan mas kopi nanti kalau sedikit terang kita olahraga di halaman rumah" Aisha mengangguk dan ia turun untuk membuat kopi.


Terlihat azzam turun sudah lengkap dengan baju olahraga nya, mama Raisa heran melihat anaknya biasanya ia akan kerja meski tanggal merah sekalipun.


" ngga kerja zam, tumben jam segini belum siap kamu" mama yang masih mengeluarkan bahan masakan di dalam kulkas.


" ngga ma Azzam libur, sudah ada dokter lain jadi kita ada waktu untuk libur. dokter juga manusia ma kalau di forsir tiap hari ya pastinya akan bobrok juga"


" Azzam ajak Aisha jalan-jalan di depan ya ma " pinta Azzam.


" iya ngga papa Ais, udah sana mama masak kan di bantu sama bibi." Aisha sebenarnya tidak enak meninggalkan mama Raisa di dapur karenaa dia menantu satu-satunya. Mama Raisa seorang mertua yang sangat pengertian apa lagi menyangkut soal anak laki-laki nya yang meminta.


" ada dokter baru di rumah sakit mas, kok mas bisa libur gini" tanya Aisha ngga biasanya begini dan ia tau suaminya jika tidak ada hal urgent ngga mungkin mau libur.


" iya ada"


" siapa dokter barunya mas".


" mas juga belum tau." dokter itu baru di tugaskan hari ini ada dua dokter kabarnya.


" ke kafe nya nanti agak siangan aja Ais"

__ADS_1


Aisha tersenyum.


" iya mas ". ternyata Azzam belum hafal dengan istrinya, jika suami di rumah tak mungkin ia pergi ke kafe kalaupun pergi itu akan sama suaminya.


"""


Kiran sudah dua bulan lamanya bekerja bersama Hamdan, ia sangat cekatan mengerjakan pekerjaannya. membuat tim jadi suka dengan pekerjaan Kiran, hamdan seperti biasa masih sibuk dengan dunia bisnisnya. Kuliah nya masih sangat bisa di ikuti, dan zakia seperti biasa melakukan kegiatannya.


" saya ada jadwal apa hari ini Kiran" tanya hamdan.


" free kak hari ini hanya banyak berkas yang harus kakak tanda tangani" ucap Kiran yang masih sibuk dengan laptop nya.


" baiklah bawa ke ruangan saya supaya cepat selesai"


" baik kak"


" panggilkan Zidan ke ruangan saya" Kiran segera menghampiri Zidan, entah apa yang terjadi tiba-tiba Kiran akan jatuh ada sedikit air tumpah di lantai ia terpeleset. Zidan kebetulan memperhatikan gerak Kiran ia langsung menangkap tubuh Kiran.


" hati-hati Kiran kalau jalan"


" maaf kak aku terpeleset" masih tubuh berada di tangan zidan.


" eh maaf Kiran, ada apa kamu kesini" ngga tau kenapa jantung Zidan berdetak begitu kencang saat bersama Kiran itupun terjadi tidak hanya sekali.


Zidan kemudian membawa berkas yang sudah selesai ia kerjakan dan menemui Hamdan, Kiran pun kembali ke tempat kerjanya.


" bagaimana pembangunan hotel kita yang bekerja sama dengan Mr. Jack"


" berjalan dengan baik hamdan kemarin saya sudah mengecek keadaan nya"


" baiklah semua saya percayakan sama kamu Zidan, saya sibuk di kampus akhir-akhir ini."


" insyaallah semaksimal mungkin saya lakukan"


" terimakasih banyak kalau tidak ada kamu ngga tau saya zidan seperti apa perusahaan ini"


" takdir yang membawa saya ke sini dan bertemu dengan kalian, terimakasih atas semua yang sudah di berikan ini lebih dari cukup buat keluarga kami"


" semua atas prestasi kamu Zidan, semua bukan karena orang tua kita berteman tapi hasil kerja keras mu" Hamdan menepuk bahu Zidan.

__ADS_1


Zidan kembali ke ruangannya dan Hamdan sibuk dengan berkas yang harus ia tanda tangani. Akhir-akhir ini Hamdan sibuk dengan kampusnya. untuk Kiran ia bekerja sesuai jadwal kampus, jika jadwal kampus kosong ia berangkat bekerja. Kiran termasuk anak paling disiplin, perusahaan Hamdan juga menjadi donatur utama panti yang Kiran tempati.


Saatnya pekerjaan usai, seperti biasa mereka pulang dengan kendaraan nya masing-masing. Kiran yang hari ini tidak banyak bicara membuat zidan aneh saja.


" bawa motor Kiran"


" tidak kak motornya rusak"


" kamu naik apa tadi "


" naik ojek kak" jawab Kiran sedikit lesu.


" Zidan antar Kiran pulang ya"


" okey sebentar saya ambil mobil"


" ngga usah kak biar Kiran sendiri saja, Kiran selalu merepotkan kalian"


" udah jangan bantah kakak, kalau ada apa-apa sama kamu saya mau bilang apa sama ibu panti. lebih baik kamu di antar Zidan itu akan lebih aman" akhirnya mau tidak mau Kiran menuruti Hamdan.


" tumben neng kamu lesu hari ini, ngga biasanya. biasanya ceria ngomong sana ngomong sini, lagi mikirin apa"


" ngga papa kak" Zidan masih curiga seperti ada yang di tutupi dari diri Kiran.


Zidan sudah memberhentikan mobilnya di depan panti, tapi saat Kiran turun terdengar teriakan dari panti. Kiran kemudian berlari masuk ke dalam, Zidan pun reflek mengikuti Kiran.


suara tangis ibu panti dan anak-anak panti melihat Aurel yang tak sadarkan diri dengan darah keluar dari hidungnya. Kiran pun menangis histeris melihat keadaan itu.


dengan sigap Zidan menggendong Aurel ke mobilnya agar di bawa ke rumah sakit.


" tapi kak..."


" ayo cepat kita bawa, ngga ada tapi-tapi sekarang darurat Kiran"


" kita ngga punya uang"


" udah jangan kamu pikirkan yang penting kita bawa dulu ke rumah sakit".


bersambung

__ADS_1


minta bantu like, komen ya kakak.


trimakasih 🥰.


__ADS_2