
Sudah saatnya Azzam dan Aisha pulang ke rumah mama Raisa, Azzam tidak ingin meninggalkan mamanya sendirian di rumah. Azzam dan Aisha berkemas, tak banyak yang mereka bawa karena mereka akan tetap main ke rumah Abah. Aisha menyisakan beberapa pakaian di lemari juga pakaiannya Azzam.
Azzam yang memerintah kan agar membawa baju tidak banyak, jika mereka ke sini tidak akan repot membawa baju ganti.
" Sudah siap semua Ais, ayo kita turun Hamdan sudah menunggu karena siangnya dia akan ke kantor" ucap Azzam menarik kopernya.
" Sudah mas Alhamdulillah, kalau memang Hamdan mau ke kantor kenapa antar kita. kita bisa naik taksi atau di antar sopir Abah kan mas"
" mas sudah bilang begitu tadi sama hamdan, mas juga bisa telepon sopir di rumah mama" Azzam menggandeng istrinya untuk di ajak turun ke bawah.
" anak itu bener-bener kekeh kalau sudah apa maunya"
-
-
" umma, Abah, Aisha dan mas Azzam pamit ya, umma dan Abah jaga kesehatan jangan lupa minum obatnya. Aisha pergi ngga jauh cuma di rumah mas azzam, nanti kalau umma butuh Aisha bisa langsung telepon" Aisha menyalami tangan kedua orang tua yang sudah berumur itu.
" iya sayang umma dan Abah ngga akan lupa minum obat, nanti umma telepon jika umma perlu kamu. Aisha juga kaga kesehatan jangan lelah, biar bisa cepat kasih umma cucu." begitulah yang diharapkan orang tua dari hasil pernikahan. dulu Aisha dan Hanafi tidak bisa lekas punya anak karena hormon Hanafi yang tidak normal pengaruh penyakit nya dan terlalu kebanyakanan minum obat.
Umma dan Aisha saling memeluk, melepaskan itu memang berat apalagi orang yang sudah bersama kita bertahun-tahun. Tapi itulah hidup kita harus ikhlas terima kenyataan.
" Hamdan hati-hati bawa mobilnya jangan ngebut"
" siap umma "
Sebelum menuju ke rumah mama Raisa mereka pergi ke pemakaman tempat Hanafi di makamkan. Dari semenjak menikah mereka belum mengunjungi sama sekali.
" Assalamu'alaikum Hanafi sahabat ku, kamu tau aku bawa siapaa. iya ini Aisha istrimu yang selalu menyayangi mu dan mencintaimu hingga detik ini, dan sekarang dia juga menjadi istriku. Ternyata dari dulu selera kita sama ya he.... aku juga mencintainya seperti dirimu. doakan kami jadi keluarga sakinah mawadah warahmah."
" mas seperti harapan mu kini aku meraih kebahagiaan. ternyata tidak jauh-jauh Aisha menikah dengan mas Azzam mas, iya sahabatmu. Terimakasih sudah menjadi bagian hidupku semasa hidupmu. "
Akhirnya mereka melantunkan doa buat Hanafi. juga Hamdan ikut duduk dekat makam Hanafi, Hamdan merasa lega wasiat terakhir kakaknya tertunaikan.
Sudah tidak ada air mata lagi datang ke makam ini tidak dengan sebelumnya.
Hamdan melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, ia mengantar Azzam dan Aisha ke rumah mama Raisa. Mama Raisa sudah menunggu dari tadi, sebelumnya Azzam sudah memberi tahu bahwa hari ini mereka akan pulang sungguh bahagia mama Raisa mendengar nya. Kini kata menantu tidak hanya di bayangan saja tapi kenyataan ia akan tinggal dengan menantunya. Harapan-harapan ia lantunkan dalam setiap sujudnya, berharap anak satu-satunya bahagia bersama pasangannya.
" assalamu'alaikum ma"
__ADS_1
Azzam memberi salam kepada mamanya yang sedari tadi menunggu kedatangan nya.
" wa'alaikumsalam, anak-anak mama" mama Raisa langsng memeluk Azzam kemudian Aisha padahal Aisha ingin mencium tangannya tapi mama Raisa langsug memeluknya. Sepertinya mama Raisa benar-benar bahagia dengan kedatangan anak dan menantunya.
" Hamdan ayo masuk dulu nak, kamu juga anaknya mama. bolehkan mama punya anak laki-laki satu lagi." Hamdan menyalami mama Raisa dengan takzim, mama Raisa pun memeluk Hamdan sama seperti apa yang mama lakukan dengan Azzam dan Aisha.
" Tante Hamdan ngga bisa lama harus ke kantor maaf ngga bisa masuk dulu" ucap Hamdan setelah ia mengecek jam tangan di pergelangan tangannya.
" Panggil mama ya jangan panggil Tante, kamu anak mama Hamdan "
" Baik ma lain kali Hamdan kesini ikut makan masakan mama, Hamdan benar harus ke kekantor".
" ya udah baiklah nak kamu hati-hati jangan ngebut".
Hamdan mengangguk mengiyakan ucapan mama Raisa.
" kak, Hamdan pergi dulu ya"
" iya trimakasih ya Hamdan kamu selalu ada buat kami, "
" kalau itu pasti kak, Aisha kakakku otomatis kak Azzam juga jadi kakakku. sekarang aku anaknya mama Raisa sudah pasti kak Azzam adalah kakakku". mereka semua tertawa mendengar runtutan yang ribet.
-
-
" Aisha rumah ini adalah rumah kamu juga jangan canggung nak, sekarang istirahat dulu bawa koper nya ke dalam. nanti siang turun makan siang sama mama ya. Azzam bawa istrimu istirahat di kamar, ia pasti lelah setelah dari Amerika pasti belum pulih tenaganya."
" iya ma. ayo sayang kita ke atas istirahat dulu"
Azzam menggandeng tangan Aisha naik ke kamar atas, rumah dengan lantai dua lumayan besar. Rumah peninggalan sang ayah.
" nah ini kamar kita Ais, mas harap kamu betah di sini tak sebagus dan seluas rumah Abah"
" mas bukan besar atau kecilnya, apapun itu kita harus bersyukur. masih banyak orang di luaran sana yang ingin punya rumah tapi takdir mereka membawa mereka harus tidur di bawah kolong jembatan."
" trimakasih ais kamu memang istri saliha ku yang menenangkan setiap jiwaku."
Azzam mengec*p pipi Aisha hingga membuat Aisha merona wajahnya.
__ADS_1
" mas biarkan Aisha rapikan pakaian yang di koper itu dulu"
" nanti saja apa kamu tidak lelah sayang"
" ini hanya sedikit mas sebentar saja, mas istirahat dulu"
" mas bantu biar cepat selesai"
-
" bagaimana kafe ren, ada komplain atau ada yang perlu di perbaiki.".
" tidak pak Alhamdulillah semua berjalan lancar"
" oh ya kak Aisha sudah balik, insyaAlloh sebentar lagi ia akan ke kafe"
" tapi inget ya ren jangan biarkan kak Aisha kerja, jika itu terjadi tolong kamu larang ya"
" oh iya siap pak"
" kembalilah bekerja saya akan ke kantor"
Hamdan melajukan mobilnya menuju kantor setelah mengecek kafe. Di perjalanan ia kepikiran soal umma, siapa wanita yang akan di jodohkan dengannya. pasti umma akan terus menekan Hamdan menuruti kemauannya. Seperti yang terjadi pada kak Hanafi di paksa menikah dengan kak Aisha.
emang benar si pilihan mama ngga pernah salah.
brugh...
" astaghfirullah" Mobil Hamdan seperti menabrak sesuatu. Hamdan berhenti dan segera keluar dari mobil melihat apa yang terjadi pada mobilnya.
" Hoe jangan mentang-mentang orang kaya terus seenaknya saja bawa mobil, anda tidak melihat ya"
" maaf saya tidak sengaja"
wanita itu berdiri dan mendongak melihat ke arah Hamdan.
" Kiran.....
__________
__ADS_1
bersambung