Titip Istriku

Titip Istriku
kemoterapi


__ADS_3

Hanafi sudah berada diruang periksa, dokter memeriksa keadaan Hanafi. Aisha dan Hamdan menunggu di luar dengan sedikit perasaan was-was.


Aisha selalu melantunkan dzikir di sela-sela menunggu sang suami yang sedang cek kesehatan nya.


" ceklek"


pintu terbuka Dokter keluar dari dalam.


" Bagaimana dok kakak saya." Hamdan mendekati dokter menunggu Jawaban.


" Kita akan lakukan kemoterapi nanti, biarkan pasien istirahat sejenak untuk menetralkan pikirannya. Silahkan ke dalam menunggu pasien."


" Terimakasih dok." dokter berlalu masuk keruangan nya.


Aisha dan Hamdan masuk keruang rawat Hanafi, kini Hanafi terlihat berbaring. mungkin karena efek obat yang di masukkan dalam infus Hanafi terlelap tidur.


Waktu sudah siang adzan Zuhur berkumandang, setelah shalat Hamdan mencari makan siang untuk nya dan Aisha.


" Makan dulu mas, Aisha suapi." Hanafi juga sudah bangun dari tidurnya. ia mengangguk mengiyakan.


***


kemoterapi berlangsung sudah beberapa kali, kini sudah masuk bulan ketiga Hanafi sudah tiga kali melakukan kemoterapi. Tampak rambut yang sudah tidak ada lagi di kepala, efek dari kemoterapi mematikan semua sel kanker. Untuk yang ketiga kalinya ini Hanafi harus di rawat terlebih dulu.


di pagi hari Aisha mengajak Hanafi keluar ruangan untuk melihat-lihat sekitar rumah sakit. Dengan Hanafi yang duduk di kursi roda, ketampanan sudah tidak seperti dulu. wajah yang pucat ditambah rambut rontok yang sudah habis.


" Lihatlah anak kecil itu mas, meskipun dia di uji Allah dari kecil ia tetap ceria. beruntung ya mas kita diuji setelah kita menikmati hidup selama lebih dari dua puluh tahun. sedangkan ia dari kecil sudah tidak bisa menikmati hidup, kehidupan nya hanya dokter dan dokter." Aisha menunjuk anak kecil yang sedang bermain, anak yang sakit jantung bocor dari bayi.


Dari bayi sudah Allah uji dengan sakitnya.


Hanafi tersenyum melihat anak kecil itu, hal yang bisa menguatkan hatinya.


Keadaan nya kali ini tidak baik, pasalnya di kemoterapi yang ketiga kali Hanafi drop hingga harus di rawat beberapa hari.


Aisha selalu setia mendampingi sang suami.


" Aisha..."

__ADS_1


" Hmmm" Aisha duduk di depan Hanafi mensejajarkan suaminya yang duduk di kursi roda.


" Skenario hidup kita yang kita jalani sekarang ini apakah kamu menyesal menjadi istriku"


" mas jika aku menyesal, aish akan meninggalkan mas semenjak mas di vonis dengan penyakit ini. Aisha tidak menyesal mas, di sini Allah mengajarkan ku untuk banyak bersabar dan ikhlas. Semoga banyak pahala untuk kita." Aisha tersenyum manis.


" trimakasih Aisha maafkan aku yang tak bisa menemanimu hingga waktu yang akan datang".


" jangan selalu bicara seperti itu mas, mas akan sembuh kita sedang ikhtiar untuk itu" Hanafi mengangguk tersenyum dan mencium tangan Aisha.


Hamdan datang membawa sarapan untuk Aisha, pagi sekali tadi Hamdan pulang dan hari ini ia ada jadwal kampus dan kantor nya.


" selamat pagi kak"


" pagi Hamdan sama siapa"


" sendiri kak, Hamdan jam 9 nanti ke kampus dan siang ke kantor. nanti Abah sama umma kesini menemani kak Aisha" . jelas Hamdan duduk ditaman rumah sakit yang ada kursi.


" Bagaimana perusahaan Hamdan apa ada kendala, kakak yakin kamu bisa menyelesaikan nya". tanya Hanafi.


" Alhamdulillah semuanya lancar kak, ada zidan yang siap membantu Hamdan. Kakak jangan khawatir, kakak fokus dengan kesembuhan kakak ya." Hamdan menguatkan kakaknya dan mendorong kursi rodanya masuk kedalam kamar rawat inap.


" Kak Aisha sarapan dulu saja biar kak Hanafi Hamdan yang menemani. masih ada waktu buat Hamdan sebelum ke kampus." Aisha mengangguk berlalu mengambil bungkusan yang di bawa Hamdan.


" Kakak tau perusahaan sekarang berkembang sangat pesat, Hamdan kelelahan mengurus nya kak. Kakak segera sembuh ya bantu Hamdan."


" Kakak tak mungkin bisa membantu mu Hamdan, keadaan kakak semakin hari begini."


" ini proses penyembuhan kak, sebentar lagi kakak juga sembuh akan tampan seperti dulu idola mahasiswi."


Hanafi tersenyum mendengar ucapan adik satu-satunya itu, masih saja bisa bercanda.


Sebenarnya Hanafi merasakan sakit yang luar biasa pasca kemoterapi tapi ia tidak menunjukkan nya kepada siapapun..


Bagi Hanafi rasanya sudah tidak kuat lagi, ia tak mungkin akan bertahan hidup.


Abah dan umma datang, siang ini akan menemani Hanafi di rumah sakit dan menyuruh Aisha istirahat. Karena malamnya Aisha menemani Hanafi kemungkinan tidur nya tidak selelap saat di rumah.

__ADS_1


Hamdan pamit untuk pergi ke kampus kemudian akan ke kantor. Ada banyak tugas kampus yang ia harus selesai kan juga, untuk kantor Zidan sudah membantu menyelesaikan.


Dokter datang untuk memeriksa pasiennya, sudah menjadi rutinitas seorang dokter bertanggung jawab kepada pasien.


" jika siang ini nak Hanafi cek laboratorium bagus, sudah bisa pulang dan lakukan pengobatan jalan. Nak Hanafi ingat pikiran adalah salah satu kunci kesehatan mu, selalu berfikir lah positif. Lihatlah orang-orang yang menyayangimu di sekitar, istri saliha yang sangat setia orang tua yang terus mendukung mu." Dokter masih terus saja memeriksa nya. darah sudah normal dan yang lainnya juga sudah lebih membaik tinggal sedikit pemulihan agar bisa pulang.


" Dok adakah cara lain agar anak saya segera sembuh."


" ada pak, dengan doa dan usaha pasien bersemangat untuk kesembuhan nya." ucap Dokter.


" Oh ya pak Wahyu, nak Hanafi, bulan depan saya akan pergi ke Amerika untuk melakukan seminar dan pelatihan mungkin sekitar satu bulan. nanti akan ada dokter pengganti, ia juga dokter terbaik untuk sementara menggantikan saya. Saya harap setelah saya pulang ada perubahan yang mengejutkan untuk saya." jelas Dokter menepuk pundak Hanafi.


" iya dok terimakasih untuk semuanya, dokter sudah maksimal memberikan pengobatan kepada saya." ucap Hanafi.


" itu sudah menjadi tugas saya." kemudian Dokterpun pamit untuk mengunjungi pasien yang lainnya.


***


" Hamdan apa kabar, beberapa hari baru muncul" Tomi datang menghampiri Hamdan yang akan turun dari motor nya.


" aku kerumah sakit menjaga kakakku, "


" Bagaimana keadaan kak Hanafi"


" masih sama, doakan ya tom"


" iya sob, semoga kak Hanafi lekas sehat"


" Aku dengar perusahaan mu bekerja sama dengan perusahaan papa Anita"


" iya, saya belum bertemu hanya papa Anita sudah mengajak kami untuk bekerja sama"


" sukses ya bro, kamu hebat"


" Aku di bantu oleh zidan, ia yang hebat aku hanya sibuk tanda tangan saja hehe..."


" Bisa aja Lo bro, tetap saja perusahaan sekarang ada di tangan mu. kalau kamu tak setuju mana ada perusahaan itu akan jalan dengan proyeknya. brilian banget kamu."

__ADS_1


" Udah yuk masuk, aku akan ke kantor siang nanti"


" oke" keduanya berjalan memasuki kampus.


__ADS_2