
Azzam mendekat di ranjang rumah sakit di mana Aisha masih terbaring di situ, rindu yang ia rasakan. senyuman nya, canda tawanya bahkan sikap manjanya kini tak di dapati oleh Azzam dua hari ini. Azzam memegang lembut tangan istrinya yang belum sadarkan diri itu ia mengecupnya. Berharap istrinya lekas sadar, dunia seakan berhenti kala patient monitor menunjukkan garis lurus.
" Sayang bangun ya, semua orang menunggu mu sayang." Azzam kembali menitikkan air matanya terjatuh membasahi tangan Aisha. masih belum ada perubahan sedikitpun, sama Aisha belum merespon. Hingga Azzam tak keluar dari situ, adzan Zuhur berkumandang Azzam keluar untuk melakukan shalat Zuhur.
" umi Abi, kapan datang" Azzam menyalami keduanya.
" tadi nak sekitar tiga jam yang lalu"
" kenapa tidak ada yang mberitahuku"
" tidak apa-apa kami menunggu di luar"
" maaf kan Azzam umi, Abi." Azzam meneteskan air matanya.
" tidak nak, semua atas kehendaknya. Kamu harus kuat ini ujian untuk kalian" Abi mengusap pundak Azzam.
" Azzam akan shalat Zuhur dulu, silahkan umi masuk melihat Aisha"
" baik nak" kemudian umi masuk menggantikan Azzam yang sedang melakukan shalat. umi juga sangat ingin melihat keadaan anak bungsunya itu.
Sedih melihat anak perempuan nya terbaring lemah di ranjang, dua tahun yang lalu ia juga harus berjuang demi penyakit suaminya. Kini Aisha di ranjang itu berjuang demi dirinya sendiri, umi meneteskan air mata ia mengelus kepala Aisha.
" umi yakin kamu kuat nak, bangunlah untuk anak dan suamimu mereka menunggu mu segera sadar". Sekitar 30 menit umi menunggu Aisha. Kemudian umi keluar, ia tidak ingin berlama karena Azzam pasti sudah menunggu. Azzam tidak ingin terlewat sedikitpun.
__ADS_1
Azzam masuk ke dalam lagi, ia menunggu Aisha lagi. Azzam mengusap kepala Aisha dan mengecup nya. Duduk di sebelah ranjang ia terlelap sejenak karena semalam ia sedikit sekali untuk tidur. Azzam merasakan tangan Aisha yang bergerak ia terbangun, Azzam terkesiap melihat Aisha yang bangun. Langsung ia memencet tombol yang berfungsi untuk memanggil dokter. Azzam tersenyum senang wajahnya berbinar melihat pergerakan Aisha yang segera sadar. Almira langsung menuju ruangan Aisha kala suster mengabarkan ada panggilan darurat dari ruangan Aisha di rawat. Almira sedikit berlari membuat semua yang sedang menunggu panik, yang duduk bahkan langsung berdiri. di susul dari belakang dokter Vito juga berjalan dengan cepat.
" ada apa dok, " tanya Hamdan.
" berdoa saja tidak akan terjadi apa-apa, saya ke dalam untuk memeriksa nya dahulu ". ucap dokter Vito.
" ada apa zam, kenapa sepertinya urgen"
" lihat Al tangan Aisha bergerak, tolong lakukan sesuatu." Almira tersenyum senang mendapati Aisha sudah ada kemajuan. Dokter Vito pun datang ia mendekat langsung memeriksanya Aisha, Azzam memohon pada keduanya agar ia bisa tetap di ruangan. Dokter Vito pun mengizinkan, karena dokter Vito tau Aisha akan lekas membuka matanya.
" M as..." suaranya lemah. saat membuka mata yang di ingat adalah suaminya. Azzam bahagia ia mendekati istrinya.
" iya sayang mas selalu ada di sini" Aisha tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi, ia sangat lemah.
" Istirahat lah sayang semua menunggu mu, anak-anak kita, mama Raisa, umma, Abah, Abi dan umi bahkan semuanya tanpa terkecuali. kamu harus kuat lekas membaik sayang, mas selalu di sini menunggu mu". Aisha meneteskan air matanya yang langsung di usap lembut oleh tangan Azzam, Azzam menggelengkan kepalanya memberi tanda bahwa Aisha tidak boleh sedih.
Dokter Vito dan Almira sudah selesai memeriksa, dokter Vito tersenyum melihat sepasang kekasih melepas rindu. di dalam sisi dokter Azzam ada sisi terlemahnya kala di hadapkan oleh sang istri. Almira dan Dokter Vito pun pamit untuk keluar. Kala dua dokter itu keluar semua menunggu jawaban dari mereka. Almira tersenyum kepada semua, membuat mereka lega pasti kabar baik yang di dapat.
" Alhamdulillah Aisha sudah sadar"
" Alhamdulillah,,," hampir serentak semua berucap syukur. dokter pamit undur diri, ia berfikir sudah ada Almira yang menjelaskan.
" namun saat ini ia harus istirahat kembali mengingat fisiknya yang masih sangat lemah. kalian bisa menjenguk nanti sore kala Aisha bangun." semua senang, mereka namun tidak ada yang pergi. masih menunggu ingin langsung melihat Aisha sadar.
__ADS_1
Di dalam Aisha kembali terlelap dokter memberinya obat tidur agar Aisha beristirahat dulu sebelum oksigen di lepas dari mulutnya. Azzam dengan seksama menunggu istrinya, ia juga ikut terlelap sambil duduk di kursi tepi ranjang.
Jack yang baru saja datang ia melihat istrinya bahagia senang. Jack baru saja ke kantor polisi untuk memberikan laporan atas kecelakaan atas Aisha.
" kenapa kamu senyum-senyum sayang" Almira langsung memeluk Jack. Jack pun mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Almira, ia tidak mengerti apa yang di lakukan istrinya itu.
" Aisha sadar mas, perubahan Aisha lumayan pesat semoga ia lekas membaik"
" Alhamdulillah, benar sayang. jadi kita bisa pulang kan" Almira cekikikan mendapati suaminya yang begitu senang, karena Aisha sadar. Jack akan pulang bisa menghabiskan malam panjang dengan istrinya. pengantin baru yang sudah lama tidak melakukan enak-enak, pak duda dan bu janda waktu itu.
" iya mas tapi tunggu Aisha sadar setelah ini ya, kini dokter memberinya obat tidur dan vitamin agar Aisha tidak lemah." Jack mengangguk ia memeluk Almira dengan sangat erat.
Di ruangan itu setelah shalat ashar Azzam masuk lagi ke ruangan, masih sama yang di dapati nya Aisha masih dalam keadaan tertidur. Azzam menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, ia lelah sekali tidak sengaja Azzam terlelap lagi. Aisha mulai mengerjapkan matanya ia bangun, Aisha mendapati suaminya yang tertidur ia tak ingin membangunkannya, Aisha mengusap kepala Azzam. Azzam menggeliat merasakan ada sentuhan lembut di kepalanya, Azzam memegang tangan Aisha yang masih berada di kepala Azzam. Azzam mendelik bahagia mendapati istrinya bangun, ia memeriksa istrinya kini Azzam mencium kening Aisha. Aisha mencoba membuka alat yang berada di mulut dan hidung bantuan pernafasan alias oksigen. Azzam membantu nya dan melayangkan senyuman manis untuk istrinya, Aisha tersenyum.
" mas..."
" iya sayang jika kamu lemah jangan banyak bicara dulu ya" Aisha mengusap perutnya yang kini sudah tidak membesar lagi.
" anak-anak ada di inkubator, di rawat oleh suster. kamu tenang cepat pulihkan dirimu supaya bisa bertemu dengan anak-anak." ucap Azzam. Aisha mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan suaminya. Azzam memencet lagi tombol yang berfungsi memanggil dokter. Almira pun lekas ke ruangan, tidak dengan Dokter Vito kini Almira yang datang.
_____
bersambung
__ADS_1
like dan komentar tentang novel ini ya kak.