Titip Istriku

Titip Istriku
kontrol


__ADS_3

Langit begitu terlihat sangat cerah menandakan mentari yang sedang tersenyum di pagi hari. Semoga selalu ada kebahagiaan di keluarga besar Abah Wahyu.


"Sudah buat janji sama dokter fi, hari ini kamu jadi kemoterapi" ucap Abah saat berada di meja makan bersiap untuk sarapan pagi.


" sudah bah, Hamdan yang mengatur semuanya" jawab Hanafi yang baru saja duduk.


" kamu harus yakin dengan dirimu sendiri, punya semangat untuk sembuh akan lebih mempercepat kesembuhan mu" jelas Abah yang masih menunggu umma mengambilkan makanan nya di piring Abah.


" insyaallah bah Hanafi akan selalu berusaha untuk sembuh, doakan Hanafi bah "


" nak di dunia ini semua orang melewati ujiannya masing-masing, Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hambanya. Allah menyayangi mu, dengan penyakit mu menghapus dosa-dosamu. Tapi disini bukan kamu untuk menyerah, berjuang lah demi kami. Serahkan semuanya kepada Allah maksimal kan usaha, mengenai hasil Allah lebih tahu dan berhak." nasihat umma mulai duduk siap untuk makan bersama.


Aisha mengelus lengan suaminya dan menyunggingkan senyum menguatkan Hanafi bahwa selalu ada orang-orang yang menyayangi nya.


Hamdan datang langsung ikut sarapan pagi, sekitar jam 8 pagi mereka akan menemui dokter. sebelum di adakanya kemoterapi akan ada cek fisik pasien, jika stabil akan di lakukan langsug kemoterapi. Jika masih belum stabil akan di lakukan perawatan terlebih dahulu. Pasalnya akhir-akhir ini Hanafi semangat menjalani hari-hari nya, ia pasrahkan semuanya kepada sang pemilik diri. Aisha selalu tegar mendampingi suaminya.


Pak Wahyu hari ini akan mengecek perusahaan nya, kabar yang di peroleh saat ia menelepon Zidan perkembangannya lumayan pesat. Hamdan menjalani perusahaan nya dengan sepenuh hati, ia sadar kalau bukan ia siapa lagi yang turun tangan.


" Abah nanti mau ke perusahaan, Hamdan kamu hari ini temani kakakmu saja."


" iya bah "


" jika kamu sibuk tidak apa-apa Hamdan, kakak sama kak Aisha saja " Hanafi telah menyelesaikan makanannya.


" Tidak kak, di perusahaan sudah ada zidan yang siap bantu Abah. hari ini ngga ada yang penting di kantor juga ngga ada meeting." jelas Hamdan.


ia ingin selalu mengantar kemanapun kakaknya pergi, di setiap pengobatan Hamdan selalu ingin mendampingi. Supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari, ataupun jika ada yang perlu di diskusikan Aisha punya teman diskusi untuk memutuskan sesuatu.


" Baiklah, semangat Hanafi Abah pergi ke kantor dulu. Abah yakin kamu pasti sembuh."


" trimakasih bah"

__ADS_1


Abah pergi dengan diantar sopir, umma tidak ikut akan menunggu di rumah saja. Hamdan melarang umma ikut karena gejala sakit jantung nya takut ada apa-apa. Mengingat saat tau kabar tentang Hanafi umma pinsan harus di rawat semalam.


" Kita berangkat kak supaya tidak kesiangan" ucap Hamdan.


kemudian Aisha dan Hanafi menyusul langkah Hamdan menuju mobil yang akan membawanya ke rumah sakit.


Hamdan menengok ke belakang melihat sepasang suami istri itu.


" jadi obat nyamuk lagi nih aku, dasar emang jones aku" gerutu Hamdan melihat kakaknya duduk di belakang semua. Hamdan bagaikan sopir saja.


" Makanya Ndan buruan cari pasangan, pacaran setelah menikah itu indah banget Lo" goda kakaknya Hanafi, Aisha dan Hanafi pun tertawa melihat raut wajah Hamdan yang tampak kesal.


" Hamdan masih kuliah kak mau selesai kan dulu"


" masih kuliah dan menikah itu tidak di larang Hamdan, jika sudah ada yang cocok di hatimu langsug lamar saja. Abah dan umma pasti setuju." Nasihat Hanafi untuk adiknya.


" sayang kak orang yang cocok di hati Hamdan sudah milik orang lain." Hanafi dan Aisha saling pandang kemudian tertawa meledek.


" kamu suka sama istri orang, ngawor kamu Ndan kenapa dulu ngga kamu lamar duluan jadi keduluan orang lain kan"


" Bisa-bisanya kamu itu suka sama orang yang udah punya suami".


" ngga tau kak, kebetulan pas ketemu aku menatap matanya dan hatiku langsug saja bergetar. Sudah aku coba ngelupain tapi tetap saja ada di bayang-bayang pikiran ku." sambil membayangkan mata cantik Zakia.


" Wanita itu tau kamu menyukai nya, kamu mengenal nya." tanya Hanafi.


" Tidak kak, aku hanya kebetulan bertemu saja." Hanafi geleng-geleng kepala mendengar curhatan adiknya.


" Nasibmu jelek sekali Ndan." Hanafi semakin mendekat kan duduknya dengan Aisha.


" Semoga ada gantinya yang lebih baik untuk mu Hamdan, yang baik untuk yang baik" ucap Aisha menyemangati adik iparnya.

__ADS_1


" Hamdan baru kali ini liat perempuan yang benar-benar mengagumkan dengan tatapan matanya saja. Hamdan mau fokus kuliah dulu kak, biarkan takdir yang membawa arus." keputusan Hamdan untuk fokus dengan kuliah dan perusahaan abahnya.


" Ikuti kata hati mu, fokus dengan apa yang ada di depan mata saja dulu".


" Siap kakak, kalau pacaran jangan di dalam mobil ya kak. jones iri." Aisha dan Hanafi kembali tertawa.


Pasalnya tak ada yang mereka lakukan hanya duduk berdekatan saja.


" Mumpung kakak bisa berduaan dengan istri kakak, ngga tau kan sampai kapan bisa kayak gini. kita ngga tau takdir, suatu saat entah kapan kita yang akan meninggalkan atau kita yang di tinggal kan." Hanafi kembali mengingat penyakit nya yang sudah di nyatakan stadium empat, kemungkinan sembuh hanya 20% saja.


" Kakak jangan ngomong begitu lagi ya, Hamdan ngga suka kakak ngomong seperti itu. Kakak pasti sembuh." Hamdan ngga suka dengan kata-kata Hanafi.


" InsyaAlloh Hamdan kita akan bersama selamanya" Aisha menguatkan.


" Aamiin" semua mengaminkan.


***


Pak Wahyu sudah sampai dikantor, semua karyawan sangat menghormati nya. Pak Wahyu bos yang bijak juga disiplin ia menyayangi semua karyawannya sering memberi bonus jika proyek yang mereka kerjakan berhasil.


" selamat pagi pak" semua karyawan menyapa bos besarnya itu.


pak Wahyu mengangguk berlalu masuk keruangan kerjanya. Zidan tidak mengetahui jika pak Wahyu akan ke kantor, ia sibuk dengan berkasnya tidak menyambut bos besarnya itu. Zidan orang yang penuh tanggung jawab, meski bos tidak berada di kantor ia tetap profesional mengerjakan kerjaannya. yang ia tahu hari ini Zidan tidak datang ke kantor karena akan menemani kakaknya, kemarin Hamdan sudah memberitahu kepada Zidan.


" Sibuk nak Zidan " Zidan mendongak mendengar seseorang memanggil iapun mengenal suaranya.


" Oh pak Wahyu kapan datang, maaf pak saya tidak tahu jika bapak akan datang." Zidan mendatangi orang paruh baya itu lalu menyalami dan mencium punggung tangannya dengan takzim.


" Baru saja, aku melihat mu sedang sibuk, lanjut kan saja saya hanya melihat-lihat sebentar hari ini."


Pak Wahyu berlalu masuk keruangan nya yang sudah lama tak ia datangi.

__ADS_1


_________


bersambung....


__ADS_2