
semakin hari perut Aisha semakin besar dan ia sudah sangat kesulitan untuk berjalan. kini Azzam tak pernah lengah dengan istrinya itu, perhatian nya semakin lebih lagi begitu juga dengan mama Raisa. Abi dan umi lebih sering menghubungi Aisha, umma dan Abah yang paling semangat dengan kehamilan Aisha. Meski Hanafi sudah tiada umma dan Abah menganggap Aisha adalah anaknya, jadi hubungan mereka tidak terputus bahkan sangat dekat. kasih dan sayang umma tidak pernah luntur, kebaikan Aisha selalu teringat olah umma. waktu Hanafi sakit tak pernah sedikitpun Aisha mengeluh ia merawat Hanafi dengan tulus itulah yang membuat umma dan Abah hingga sampai sekarang masih sangat menyayangi Aisha. Tak ada kata mantan menantu bagi umma yang ada adalah seorang anak.
" mas Aisha boleh menginap ke rumah umma ". Azzam masih memakai kemejanya dan Aisha membantu merapikan baju suaminya, kebiasaan yang tak pernah terlupa dari awal menikah hingga saat ini.
" Boleh sayang asal jangan lelah ya,"
" iya mas, pingin banyak ngobrol sama umma. Aisha kangen". padahal umma sering mengunjungi nya tapi aisha tidak puas, nasihatnya umma itu membuatnya Aisha tenang.
" oke tunggu mas pulang ya, nanti mas antar sayang istirahat di rumah jangan lelah"
" mas hari ini Aisha jadwal periksa ke dokter Almira, setelah dari rumah sakit mas antar Aisha ke rumah umma".
" astaghfirullah mas lupa sayang, sudah buat janji sama Almira"
" Aisha sudah mengirim pesan mas dan Aisha minta pagi ini bertemu dengan dokter"
" oke, tapi Almira bisa"
" Alhamdulillah bisa mas, mas harus dinas pagi tidak "
" bisa di atur sayang selama tidak ada operasi, kamu dan dua bocah yang ada di sini lebih penting buat mas." Azzam mengelus lalu mengecup perut Aisha yang sudah nampak membesar.
" mas, Aisha masih cantik kan sekarang Aisha lebih gemuk sudah ngga seksi lagi"
" siapa yang bilang, mas senang sayang kamu lebih berisi. Buat mas istri mas ini tetap cantik, istri dokter Azzam ngga ada yang bisa menggantikan nya di sini sudah tertutup oleh bidadari bernama Aisha" Azzam menunjuk dadanya. Aisha wajahnya merah merona ia malu setiap suaminya merayu.
" terima kasih mas, Aisha mencintai mas"
" sama-sama sayang, mas juga sangat mencintai Aisha kamu adalah kehidupan ku"
" udah yuk kita turun sarapan izin sama mama Raisa"
" Selain menyayangi ku, Aisha juga menyayangi mama menghormati mama selain izin dengan suami sayang juga izin sama mama. itu membuat mas makin mencintai mu sayang ".
" keridhoan ku atas ridho mu mas, dan ridho mu atas ridho mama."
" i love you Aisha"
" i love you to mas, udah yuk ngegombalnya Aisha udah laper mas " Azzam mengecup singkat bi*** Aisha membuat Aisha tersipu malu lagi-lagi Azzam membuat nya melayang.
Keduanya turun dari atas di bawah sudah ada mama Raisa yang menyiapkan makanan. semenjak hamil Aisha tidak di izinkan ke dapur oleh mama Raisa, jika ke dapur itupun hanya melihat mama dan bibi memasak. Aisha bosan jika harus berdiam diri saja, tapi apalah daya mama tidak mengizinkan apalagi setelah tau bayi yang ada di kandungan Aisha kembar.
" pagi ma" sapa Azzam mencium kening mamanya.
" pagi sayang, sudah rapi Aisha juga"
" iya ma jadwal kontrol "
" mama ada acara arisan hari ini, Aisha sama Azzam. kamu ngga dinas pagi kan zam"
__ADS_1
" bisa di atur ma buat istri dan anak tersayang " mama tersenyum bahagia semenjak ada Aisha Azzam lebih banyak tersenyum.
" ma, Aisha minta izin malam nanti mau menginap ke rumah umma. setelah ke Dokter Almira Aisha mau langsung ke sana "
" iya sayang yang penting jangan lelah ya banyak istirahat, mama ngga mau kenapa - napa dengan mu dan cucu mama"
" insyaallah ma Aisha akan menjaganya dengan baik "
" ya sudah yuk sarapan kamu yang banyak Ais supaya sehat selalu sampai melahirkan nanti, mama ngga sabar pingin gendong cucu"
" iya ma insyaallah Ais sehat selalu, jangan khawatir ma suami Ais kan dokter"
" dokter itu profesi nya di sini tetap anak mama dan suami, kamu tetap menjaga dirimu " Aisha dan Azzam tersenyum mereka melanjutkan sarapannya.
Aisha dan Azzam berangkat bersamaan stelah berpamitan dengan mama Raisa. sebelum nya mama kembali memberi wejangan mewanti-wanti anak dan menantunya itu agar berhati-hati. Aisha dan Azzam sudah terbiasa mereka tak akan bosan karena doa dan ridho orang tua itu penting.
Hari ini Aisha dan Azzam akan menginap di rumah umma, itu permintaan Aisha katanya ingin sekali menginap di rumah umma. Azzam pun tak pernah menolak keinginan Aisha ia mengantarkannya setelah memeriksa kan kandungan Aisha. Kali ini Aisha sudah tidak sering lagi ke kafe, Aisha hanya memantau dari kejauhan. kafe ia percaya kan kepada Rini dan Salwa, karyawan yang di bilang sangat jujur dan rajin. Hamdan sesekali hanya mengecek nya saja, kafe semakin ramai saja ia pun menambah karyawan baru.
sesampainya di rumah sakit semua staf menyapa azzam dan Aisha, seluruh staf rumah sakit sudah mengenal Aisha karena keramahan nya kepada seluruh staf Aisha disukai dari pekerja biasa seperti OB hingga pekerja yang lain. Aisha dan Azzam berjalan menuju ruangan Dokter Almira, di sepanjang jalan Azzam tak pernah melepaskan genggaman istrinya mereka yang melihatnya ikut bahagia mengiringi kebahagiaan dua pasangan suami istri itu.
" assalamu'alaikum pagi dok"
" wa'alaikumsalam nyonya azzam " keduanya cekikikan tiap kali mendengar panggilan itu.
" sehat sha, wah kehamilan mu sudah semakin besar saja "
" Alhamdulillah sehat Almira seperti yang kamu liat"
" MasyaAlloh liat bayi kalian semuanya sehat, bikin gemas saja" Azzam dan Aisha melihat mereka tersenyum Azzam mencium kening aisha sesekali mencium tangan Aisha sudah menjadi kebiasaan yang membuat Almira pun tidak cemburu lagi karena rasa cinta yang dulu sudah hilang terhadap Azzam.
" lihat sayang lucu nya mirip siapa ya kira-kira" ..
" mirip ayahnya lah zam masa mirip aku" mereka terkekeh mendengar penuturan Almira.
" semoga sehat selalu sampai proses melahirkan ya "..
" aamiin terimakasih Almira " ucap Aisha yang masih melihat ke arah monitor dua bayi mungil terlihat disana.
Setelah nya Almira memberi resep obat dan vitamin untuk di tebus di apotik. Mereka berbicara sejenak Almira memberi banyak saran untuk Aisha agar lancar proses kelahirannya, umur 7 bulan itu cepat menuju 9 bulan tinggal 2 bulan lagi Aisha melahirkan. posisi bayi sudah pas, air ketuban bagus semuanya bagus. selama proses kehamilan Aisha sangat menjaga gizinya itupun Almira juga memantaunya.
" assalamu'alaikum kejutan..."
" wa'alaikumsalam" jawab ketiga orang yang masih di ruangan Almira, mereka kaget ada orang yang tiba-tiba masuk tak biasanya. jika ada karyawan pasti mereka ketuk pintu terlebih dahulu.
" Mama..."
" sayang apa kabar mama kangen sekali " keduanya saling berpelukan Azzam dan Aisha menyaksikan Almira bertemu ibu nya.
" kapan mama datang kenapa tidak kabari almira dulu, biar Almira jemput ke bandara "
__ADS_1
" tadi pagi sayang penerbangan mama pagi ke Indonesia"
" Mama sendiri mana papa "
" Mama sama papa, papamu langsug ke kantor"
" dasar papa ini selalu gila dengan kerjaan"
" iya sama seperti kamu, smpai kamu pun mengorbankan hidup mu"
" ma..." Almira memberi isyarat dengan sorot matanya ke arah Azzam dan Aisha. Almira tidak ingin mama meneruskan ucapannya ada Azzam dan Aisha di sini.
" apa kabarnya ma " meskipun sudah bukan mertuanya lagi Azzam sangat menghormati mama Almira. Azzam mencium tangan mama Almira, mama Almira heran apalagi melihat wanita yang bersama Azzam di sampingnya.
" kenalkan ma ini Aisha istri Azzam"
" Aisha Tante.." Aisha menjabat tangan mama Almira.
" Azzam, istri, ini mama masih heran pasalnya mama ngga pernah tau kabar selanjutnya tentang Azzam"
" iya ma ini istri Azzam, Aisha " Azzam memegang tangan Azzam.
" ma jangan syok gitu, "
" kalian ..." Mama masih heran dengan dua insan itu, mereka adalah mantan tapi ada di ruangan ini dan seperti nya akrab sskali itulah yang membuat mama heran.
" MasyaAlloh kamu sudah menikah lagi zam dan ini istrimu sedang hamil". Mama mengelus perut Aisha kemudian menitikkan air mata, ia membayangkan jika itu Almira. mungkin ia bahagia akan segera punya cucu tapi dulu Almira menunda kehamilan hingga sekarang mama Almira belum mempunyai cucu.
" iya ma ini istri Azzam sedang hamil"
" Alhamdulillah Tante "
" panggil mama sayang jangan panggil Tante kamu sama seperti Almira anggap Tante ibumu juga"
" terimakasih ma " mama Almira tersenyum senang.
" aku yakin kamu wanita yang punya hati yang lembut, mama tak menyangka kalian bisa berteman dan kamu bisa menerima Almira"
" Aisha memang sangat baik ma ia tak pernah menganggap Almira adalah musuhnya, kami bersahabat"
" baguslah mama suka itu, kalian semua anak mama sekarang ya. Aisha berkunjung lah ke rumah mama, Azzam ajak istri mu ke rumah mama kenalkan dengan papa mu"
" InsyaAlloh ma, maaf ma Azzam dan Aisha izin pamit. Azzam sebentar lagi praktek sebelumnya mau antar pulang Aisha dulu"
" iya nak, mama boleh peluk Aisha" Aisha tanpa ragu langsung memeluk mama Almira.
" semoga kalian bahagia selalu"
" aamiin makasih ma" keduanya berpamitan dengan mama almira.
__ADS_1
_____
bersambung