
Hanafi dan azzam sudah puas berjalan-jalan, azzam memutuskan untuk mengantar Hanafi pulang. lagian Hanafi juga tidak boleh terlalu lelah ia harus banyak istirahat.
" tidak mampir dulu zam"
" tidak fi maaf. lain kali lagi ya."
" katanya kamu libur"
" iya aku memang libur tapi sekalian mau mengantar mama pergi"
Hanafi mengangguk ia melambaikan tangan nya, Azzam berlalu pergi.
Sesampainya di rumah mamanya sudah siap untuk pergi, Azzam pun tidak masuk rumah terlebih dahulu langsung mengantar mama nya.
Ternyata mama Raisa pergi ke acara arisan teman-temannya. Mama memaksa Azzam untuk masuk bersama mamanya, padahal Azzam sudah bilang tidak tertarik dengan acara itu. Ternyata benar dugaan Azzam mama Raisa mengenalkan Azzam dengan teman-teman arisannya. Ada satu teman mama Raisa namanya Tante Mayang membawa anak gadisnya di acara itu. Azzam di perkenalkan, sebenarnya Azzam tidak tertarik sama sekali apalagi wanita itu tidak sesuai kriteria Azzam ia yang tidak mengenakan hijab bajunya sedikit terbuka dengan gaunnya.
" Namaku Monica anak mama Mayang"
" hmmm..." Azzam tak mengindahkan uluran tangan Monica.
" sombong sekali anak ini, liat aja nanti" batin Monica.
" kata Tante Raisa kamu seorang Dokter wah pasti senang sekali wanita yang ada di samping mu, selalu di obati penuh dengan cinta" ucap Monica.
" benar sekali apa katamu, maaf aku permisi" Azzam pergi mengambil minuman kemudian ia duduk di kursi dekat makanan yang tersedia.
tak kenal lelah Monica pun mengikuti Azzam membuat Azzam sangat tidak nyaman.
" Apa kau sudah menikah" tanya Monica.
" sudah, ada yang lain"
" aku tau mama Raisa sudah mengatakannya dan sekarang kamu adalah seorang duda." Raisa terus mendekati Azzam.
__ADS_1
" kamu sudah tau kenapa harus bertanya lagi"
" aku hanya ingin memastikan saja untuk mengenal mu lebih jauh"
" kamu ingin mengenal ku lebih jauh, sebelumnya maaf aku sudah punya calon lagi untuk ku jadikan istri"
" sebelum janur kuning melengkung masih ada harapan"
Azzam benar-benar kesal terus saja di dekati oleh Monica, apalagi bajunya yang membuat gunung kembar sedikit kelihatan itu. Membuat Azzam banyak beristighfar beberapa kali dalam hatinya.
Mau tidak mau Azzam terus menanggapi semua pertanyaan Monica meski kadang hanya di jawab anggukan oleh Azzam atau deheman.
Acara arisan selesai akhirnya akan pulang membuat Azzam lega ia langsung mendekati mamanya mengajak segera pulang.
" Ayo ma pulang, Azzam lelah sekali besok Azzam masih bertugas" Kemudian mama Raisa berpamitan dengan temannya karena sedikit ditarik oleh Azzam.
" Bagaimana Monica zam dia cantik kan"
tanya mama Raisa.
" umur kamu sudah kepala tiga zam, mama juga ingin punya cucu supaya tidak kesepian di rumah. apalagi kamu akan pergi lagi ke Amerika, mama sendirian lagi dirumah"
" Azzam ingin fokus mengambil spesialis dulu ma belum ingin memikirkan menikah lagi, tolong jangan paksa Azzam ma".
" sebelum pergi ke Amerika kamu bisa menikah dulu zam supaya mama punya teman dirumah, dan Monica siap menunggu mu"
" jangan paksa Azzam ma, Azzam mohon biarkan takdir yang membawa Azzam menemukan cinta sejati Azzam yang mau menjadi istri Azzam dengan ikhlas dan juga menyayangi mama" mama Raisa tampak kesal Azzam tak pernah mau wanita yang mama Raisa pilihkan.
sesampainya di rumah Azzam langsung mandi membersihkan dirinya dan beristirahat tidur di ranjang.
Saat memejamkan mata, wajah Aisha istri Hanafi terbayang, Azzam menggeliat bangun lalu duduk.
" Astaghfirullah ada apa aku ini setiap aku kepikiran jodoh wajah Aisha istri Hanafi yang datang, dia masih istri Hanafi ya Allah hilangkan dari pikiran ku" lalu Azzam merebahkan badannya lagi dan menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
***
Sudah cukup satu bulan Azzam menggantikan tugas yang biasa merawat Hanafi kini ia harus benar-benar pergi melanjutkan kan studynya menjadi dokter spesialis bedah.
Waktu satu bulan itu ia habiskan untuk menemani Hanafi. ia pun berjanji akan pulang satu bulan sekali dan datang menjenguk Hanafi, mama nya yang sendiri juga membuat Azzam kepikiran. Mama Raisa, Azzam ajak untuk ke Amerika tapi mama Raisa tidak mau, ia hanya ingin dirumah saja. Azzam membayar seseorang untuk menemani mamanya di rumah.
Azzam datang kerumah Hanafi untuk pamit bahwa ia besok akan pergi.
Azzam memeluk erat Hanafi berpamitan untuk pergi dalam hati ia memohon kesembuhan Hanafi.
" fi besok aku akan pergi, kamu harus janji padaku kamu harus sembuh. satu bulan lagi aku akan datang menjenguk mu, kita jalan-jalan lagi" Azzam masih memeluk Hanafi tapi ia tidak bisa menahan air matanya basah mengalir tanpa ia sadari.
" zam kamu juga harus berjanji padaku, aku ingin kamu berjanji jika terjadi sesuatu padaku kamu laksanakan permintaan terakhir dariku." Azzam makin mengencangkan pelukannya.
" jangan bicara seperti itu fi aku mohon, kamu harus sembuh" Hanafi tidak menangis sama sekali ia tegar dan sudah siap jika Allah akan memanggilnya kapanpun. Hanafi menepuk punggung Azzam agar ia berhenti menangis.
Azzam melepas kan pelukannya.
" jangan cengeng zam, kenapa kamu sekarang cengeng sekali. padahal kamu dulu tidak pernah takut hukuman guru." Hanafi tertawa Azzam pun ikut tertawa dan menghapus air mata nya.
Hamdan melihat itu semua di balik pintu ia pun ikut menitikkan air mata, Azzam pun merasa bahwa kakaknya cepat atau lambat akan meninggalkan nya.
Azzam pamit juga kepada Abah dan umma, dan berkata agar Azzam tidak lupa menghubungi nya di Indonesia. Azzam mengangguk itu pasti tak akan ia lupakan.
" Kak Azzam jadi pergi ke Amerika"..
Hamdan menghampiri Azzam.
" iya jadi Hamdan jaga baik-baik Hanafi ya Ndan, ingatkan ia selalu untuk semangat agar lekas sembuh"
" itu pasti kak" Azzam menepuk bahu Hamdan.
mereka berbincang menghabiskan harinya saat ini, menghabiskan kopi yang sangat di sukai Azzam buatan umma. tak lupa puding kesukaan keduanya di hadirkan, kebetulan Aisha membuatnya tadi.
__ADS_1
waktu sudah sore Azzam pamit. Azzam harus menyiapkan semuanya malam ini karena besok pagi sekali ia akan berangkat ke bandara. ia pergi naik ke mobil, di dalam mobil Azzam lagi-lagi menangis mengingat sahabatnya.
vonis dokter bahwa umur Hanafi hanya tinggal beberapa bulan lagi, obat yang di berikan sudah tidak bereaksi sempurna. saat diketahui penyakitnya sudah ke taraf stadium 4. hal itu hanya diketahui oleh hamdan saja, orang tuanya tidak mengetahui. Azzam mengetahui hal itu tapi ia yakin bahwa akan ada keajaiban, sahabatnya akan sembuh meski kemungkinan nya kecil. sebenarnya Azzam sangat ingin merawat Hanafi tapi itu tak bisa, beasiswa yang di dapat Azzam mengharuskan untuk cepat pergi. Azzam pun tidak ingin menunda kesempatan itu.