Titip Istriku

Titip Istriku
kepergian Hanafi


__ADS_3

Azzam sudah sampai di Indonesia, kemudian ia naik taksi pulang ke rumah mama Raisa. mama Raisa menyambut anaknya dengan suka cita, segera mama Raisa ingin menyajikan makanan untuk Azzam tapi azzam menolak.


" maaf ma, Azzam harus pergi dulu nanti Azzam makan dirumah mama simpan dulu ya. Azzam pergi dulu, Azzam sayang mama"


Azzam langsung menyambar kunci mobilnya bergegas melajukan mobil dengan sedikit cepat.


Sudah sampai di rumah sakit Azzam langsung mencari keberadaan Hanafi. kondisi Hanafi yang saat ini buruk sudah di kabarkan Hamdan lewat pesannya saat Azzam pun bertanya lewat pesan kepada Hamdan.


" bagaimana Hanafi sekarang Hamdan" tanya Azzam dengan nada menuntut ingin segera mengetahui kabar baiknya.


" kak Hanafi masih belum sadarkan diri kak Azzam, tadi detak jantungnya sempat berhenti" Hamdan menceritakan semua yang telah terjadi.


" baiklah aku akan menjenguknya" ucap azzam.


" Kak tidak boleh dijenguk, tidak ada siapapun yang boleh masuk saat ini". Azzam tersenyum.


" aku seorang Dokter Hamdan, kamu lupa" Hamdan pun tersenyum dan memukul kepalanya sendiri bahwa benar ia lupa jika Azzam dokter.


Azzam menemui semua keluarga yang masih menunggu di depan kamar dimana Hanafi di rawat.


" nak Azzam, kapan sampai di Indonesia nak" sapa Abah.


" baru saja Azzam sampai bah" Azzam mencium tangan dengan takzim semuanya tak terkecuali orang tua Aisha, kepada Aisha Azzam hanya menelangkupkan tangannya saja. Azzam pamit masuk ke dalam untuk melihat keadaan sahabatnya.


" Hanafi aku datang bangunlah fi, ayo kita jalan-jalan lagi. aku akan mengantarmu kemanapun bangunlah fi" Azzam menitikkan air mata nya melihat Hanafi tidak bangun tak ada reaksi. Azzam terus membisikkan kata-kata di telinga Hanafi berharap Hanafi merespon dan lekas sadar.


hampir 30 menit Azzam didalam, kemudian ia keluar ruangan berniat menemui dokter yang merawat Hanafi.


" Assalamu'alaikum dok..."


" wa'alaikumsalam, dokter azzam kapan kamu pulang" dokter tampak terkejut melihat kedatangan Azzam.


" barusan dok, maaf dok saya mau tanya keadaan pasien yang bernama Hanafi. bagaimana kelanjutannya dok" tanya Azzam.

__ADS_1


" Sulit dok, penyakitnya di ketahui memang sudah stadium 4 dan nak Hanafi terlambat memeriksakan. " ..


" Apa tidak ada cara lain dok " Azzam meyakinkan Dokter.


" Kamu juga seorang Dokter, dokter Azzam pasti tahu sendiri jawabannya. kami sudah melakukan semaksimal mungkin." Azzam menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.


" Ya Allah Hanafi"


" kamu mengenal nak Hanafi?" tanya dokter.


" Dia sahabat saya dok, kami selalu bersama semasa SMA"


" Andai saja hal itu diketahui dari awal mungkin tidak akan seperti ini, tapi mungkin memang takdir yang sudah Allah gariskan" Azzam mengangguk kemudian ia pamit pergi dari ruangan dokter.


Azzam berjalan sempoyongan ia menemui keluarga Hanafi, Azzam tidak ingin terlihat lesu ia langsung tersenyum melihat semuanya. Keadaan Hanafi masih sama ia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, semua alat bantu sudah di sematkan pada tubuhnya. Mungkin akan sadar sekitar 5 jaman, akhirnya Azzam pamit untuk pulang terlebih dahulu. Semenjak ia sampai dari Amerika Azzam belum makan dan membersihkan diri. Azzam pulang sepanjang jalan hanya Hanafi yang ada di pikirannya, apakah ia akan kehilangan sahabat nya padahal waktu bersama baru sebentar mereka belum lama menghabiskan kebersamaan setelah sekian lama terpisah.


sesampainya dirumah, Azzam langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri kemudian ia turun makan bersama mama Raisa.


" Kamu dari mana zam pulang langsung pergi saja" tanya mama Raisa.


" ke rumah sakit, siapa?" tanya mama sedikit terkejut, mama kira Azzam pergi menemui kekasihnya karena terlalu terburu-buru tadi sampai tidak istirahat dulu setelah perjalanan.


" Hanafi masuk rumah sakit ma" Mama menghembus nafas kasar.


" Mama kira kamu menemui Monica zam" ungkap mama Raisa.


" ih mama perempuan lagi yang di omongin, udah mama jangan jodohin Azzam sama pilihan mama yang seperti itu. Monica bukan tipe Azzam ma, tipe Azzam hampir sama dengan tipe Hanafi wanita yang menutup auratnya" jelas Azzam.


" Hanafi sakit apa, masih sama hubungan nya dengan penyakit nya yang lama"


" iya ma, kankernya sudah menyebar"


" innalilahi, astaghfirullah " mama terkejut.

__ADS_1


" jadi kamu bela-belain cepat pulang demi Hanafi"


Azzam mengangguk mendengar tebakannya mama Raisa. Mama Raisa pun geleng-geleng kepala melihat anaknya memang sedikit aneh. disuruh nyari pendamping malah ambil study lagi sekarang fokus ke sahabatnya.


" ma setelah Maghrib Azzam ke rumah sakit, Azzam akan ke rumah sakit menemani Hanafi" Mama Raisa mengangguk ia juga mengingat saat Azzam sakit Hanafi menunggunya hingga satu Minggu lebih.


Setelah shalat Maghrib Azzam bergegas menuju rumah sakit, ia akan menunggu Hanafi semalaman menginap di sana.


Sesampainya di rumah sakit tinggal Hamdan, Aisha dan Abi Aisha. yang lainnya pulang untuk bersih diri dan istirahat di rumah.


Tak kunjung sadar hingga lebih dari lima jam, Azzam selalu mengecek kondisi sahabatnya perhatian nya melebihi dokter yang merawatnya.


****


Pagi ini hujan gerimis mengawali hari, mungkin semua makhluk masih banyak yang berselimut. Tapi tidak dengan Azzam yang selalu terjaga untuk sahabat nya, sesekali ia memejamkan mata beberapa menit saja. Azzam tidak keluar dari ruangan itu.


Sekitar pukul 7 pagi tangan Hanafi bergerak menandakan ia siuman, Azzam langsung menghampiri sahabatnya itu memeriksa detail kondisi Hanafi.


Hanafi sedikit demi sedikit membuka matanya, membuat Azzam senang bahwa Hanafi sadar. Hanafi memberitahu Abi, Hamdan dan Aisha, mereka pun menghampiri. Hanafi sudah sempurna membuka matanya tapi masih dalam keadaan bantuan pernafasan.


Hamdan menghubungi kedua orang tuanya dirumah, abahpun bergegas datang ke rumah sakit. Kakak Aisha tidak ada yang bisa datang yang di Yogya masih punya anak bayi jadi tidak bisa pergi yang di luar negeri jauh tidak bisa hadir masih dalam keadaan hamil tua.


" A i sha..." dengan suara terbata Hanafi memanggilnya.


Aisha mendekat memeluk Hanafi, Hanafi mengelus kepala Aisha.


" Ikh las kan ma s, A bah, um ma, A bi, u mi, Ham dan ikhlaskan Hanafi" suaranya tercekat semuanya menangis tanpa terkecuali.


" Az zam... jan ji..." Azzam mendekati ia menggelengkan kepalanya dan air mata pun jatuh mengalir mendengar ucapan Hanafi yang terbata. Hanafi berusaha mengangkat tangannya mberikan kelingking nya agar bertautan dengan Azzam, Azzam menerima tak bisa menolak permintaan Hanafi.


Hanafi tersenyum, ia kemudian melihat semua seisi ruangan itu dan tersenyum manis wajahnya terlihat sangat bahagia tampan bersinar pagi hari itu.


Tak lama Hanafi memejamkan matanya seperti tertidur. Azzam kaget melihat Hanafi yang diam saja, Azzam memeriksa Hanafi. ia jatuh duduk menangis tanpa bersuara. yang lainnya pun bingung dengan sikap Azzam.

__ADS_1


_______


bersambung....


__ADS_2