
Dari awal Azzam sudah memutuskan untuk tinggal di Indonesia, karena memang mamanya yang tinggal sendiri. Papa sudah meninggal lima tahun yang lalu.
pesawat mendarat di Indonesia pukul 2 siang, sudah ada Hamdan yang menunggu kepulangan kakaknya. Hamdan sudah menganggap Aisha dan Azzam adalah kakaknya, umma dan Abah menjadikan Aisha sebagai anaknya.
hari ini mereka pulang ke rumah Abah terlebih dahulu, sebelum pamit untuk tinggal ke rumah mama Raisa. Bagaimana pun juga Azzam tetap ingin tinggal bersama mama Raisa, walaupun Abah dan umma meminta mereka tinggal di sana.
Umma bahagia sekali melihat Aisha dan Azzam pulang, wajah keduanya juga terlihat bahagia. melewati bulan madu yang tidak sengaja di rencanakan, awalnya hanya ingin menghadiri wisuda Azzam tapi mereka gunakan untuk sekalian bulan madu.
" gimana nak sehatkan" tanya umma.
" Alhamdulillah umma kita berdua sehat "
" Alhamdulillah berarti umma bisa segera punya cucu dong" Aisha dan Azzam tersenyum malu, umma menggoda dua pasang suami istri itu.
Umma menyuruh mereka berdua istirahat pastinya lelah setelah perjalanan jauh.
Aisha dan Azzam berjalan menuju kamar yang dulu di singgahi Aisha dan Hanafi.
Foto pernikahan Azzam dan Aisha sudah jadi kini Azzam akan memasang di dekat foto Aisha bersama Hanafi.
Azzam tak ingin membuang kenangan itu, baginya itu sangat berarti.
" Aku letakkan foto kita di samping foto kamu dan Hanafi, jangan di buang ya. aku merindukan nya, dia sahabat terbaikku." wajahnya sendu berasa ingin menangis.
Aisha mendekat dan me*eluk suaminya dari belakang yang sedang berdiri memandangi foto mereka, membuat Azzam ada kedamaian merasakan p*lukan Aisha.
" InsyaAlloh mas Hanafi bahagia di sana mas, ia mendapatkan sisi terindah dari RabbNya"
" iya sayang, kita akan selalu mendoakan nya" Azzam berbalik menghadap aisha dan mencium kening Aisha.
" Kita istirahat dulu Ais pasti kamu lelah, biarkan dulu barang-barangnya di situ nanti kita bereskan setelah bangun "
Aisha mengangguk dan berjalan menuju ranjang begitu pula dengan Azzam.
" Hamdan kamu mau pergi lagi "
" ngga ma Hamdan lelah mau istirahat, di kantor sudah selesai ada Zidan juga. ngga ada jam ke kampus juga ma"
__ADS_1
" umma mau ngomong sama kamu ".
sambil duduk di ruang keluarga menikmati cemilan oleh-oleh yang di bawa Aisha.
" ngomong apa umma, tiap hari juga ngomong sama Hamdan. Yang penting jangan ngomongin jodoh umma, Hamdan males."
" Nyesel nanti kamu, pilihan umma selalu baik kan contohnya kakak kamu Hanafi umma pilihkan wanita saliha yang juga sayang sama umma. meskipun Hanafi sudah pergi Aisha masih sayang sama umma".
" iya ma Hamdan tau, Hamdan masih ingin fokus kuliah dulu juga bisnis Hamdan ma. Kalau Hamdan menikah fokusnya nanti terbagi kasihan istri Hamdan ma, kenapa umma memaksa Hamdan."
" umma takut wanita itu di lamar orang lain."
" umma percaya jodoh kan, kalau jodoh nanti pasti Hamdan di pertemukan."
" iya tapi kita juga harus ikhtiar"
Hamdan menghembus nafas kasar ingin naik ke atas menuju kamarnya.
" tuh anak di omongin kok malah pergi aja, anak sekarang memang."
" Semoga umma tidak terus menekanku, emang gampang mencintai seseorang. jika hidup berumah tangga apa jadinya." gerutu Hamdan dalam kamarnya.
Ia menutup mukanya menggunakan bantal terbersit mata zakia yang teringat.
" agrrhhh..." Hamdan merutuki kebodohannya.
****
Seperti biasa mereka makan malam bersama saat masih sama-sama berada dirumah. setelah itu mengobrol di ruang keluarga sambil nonton televisi sejenak.
" umma Abah, Azzam ingin minta izin mau membawa Aisha kerumah mama." ucap Azzam ketika ada sela Azzam untuk berbicara.
" secepat itu nak, umma sebenarnya berharap kalian bisa tinggal di sini." ucap umma dengan wajah sendunya.
" Aisha seorang istri ma, kewajiban istri adalah mengikuti suaminya kemanapun berada. kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan semoga kalian bahagia. Bawalah istrimu kemanapun Azzam asal tempat yang baik untuk nya, jaga dia sayangi dia cintai dia seperti Abah memperlakukan nya" ucap Abah.
" InsyaAlloh Abah, Azzam akan menjaga selayaknya Abah menjaga Aisha. Aisha sekarang tanggung jawab Azzam bah, Azzam mau aja tinggal di sini tapi kasihan mama sendirian dirumah bah. Tapi kami janji akan sering kesini menginap di sini bah." jelas azzam meyakinkan penghuni rumah besar itu.
__ADS_1
" tapi kak Aisha akan tetap mengelola kafe kan, Hamdan ngga mungkin melakukan nya sendirian. Hamdan sudah habis waktunya di kantor dan kampus. Hamdan ingin kuliah Hamdan tetap prioritas mendapatkan nilai maksimal." Hamdan mengharapkan bisnisnya jalan kuliah pun jalan.
" InsyaAlloh semua tergantung dengan mas Azzam." Aisha melihat Azzam suaminya, ia tidak ingin memutuskan sendiri semua keputusan ada di tangan suaminya. Aisha selalu tetap ingin berbakti mengabdi kepada suami.
" mas masih mengizinkan mu Ais, asal jangan terlalu lelah. biarkan karyawan semua yang mengerjakan kamu hanya mengawasi saja. Mas ngga mau kamu kenapa-napa kan katanya mau cepat bikinin cucu buat umma dan Abah" goda Azzam kepada istrinya.
" mas..." Aisha mencubit pinggang Azzam yang saat itu mereka duduk di kursi berdampingan.. semuanya tertawa melihat tingkah malu-malunya Aisha.
" iya kak betul kata kak Azzam, Hamdan juga pingin cepet punya ponakan. iyakan umma Abah juga pingin cepat punya cucu." Hamdan sangat semangat walau pun dulu Hanafi belum bisa menanamkan bibitnya, harapan Hamdan Aisha bisa punya anak sama Azzam.
" iya umma Abah rindu sama anak-anak kecil, biar ramai." suasana malam itu sangat bahagia, kebahagiaan yang sudah lama di rindukan.
" jadi rencananya besok kalian pindah." tanya umma
" iya ma karena mas azzam juga akan cepat bekerja, Alhamdulillah kemarin sudah di hubungi untuk berkerja di rumah sakit Nasution".
" Baiklah jika itu memang keputusan kalian, semoga kalian bahagia selalu. Abah sama umma hanya bisa mendoakan." ucap Abah.
" Hamdan gimana kamu setujukan"
" setuju apa ma, "
" setuju mama jodohkan"..
" astaghfirullah ma apa ngga ada yang lain yang di bahas, Hamdan itu benar-benar ingin fokus dengan dunia Hamdan yang sekarang. Perasaan jangan di paksakan ma nanti jadinya malah ke paksa ngga baik Lo ma" Hamdan kusut pusing dengan tekanan mamanya yang tiap hari ngomongin jodoh.
" kan lebih baik dari pada kamu di luaran sana sama temen cewek kamu yang ngga bener".
" Hamdan masih punya iman ma, masak umma meragukan keimanan Hamdan kan umma sendiri yang mendidik Hamdan. meski suka keluar Hamdan ngga pernah yang namanya sampai kelewatan."
suara Hamdan sedikit meninggai.
" tapi kamu janji bakal bawakan umma seperti apa yang umma mau"
" bah pusing aku umma mulai lagi " bukannya Abah menolong justru mereka menertawakan wajah Hamdan yang kusut tertekan oleh umma...
waktu sudah malam semuanya berlalu masuk ke kamar masing-masing.
__ADS_1
_______
bersambung...