
" Aisha maukah kamu menikah dengan ku, aku melamar mu" tanpa basa basi lagi Azzam mengatakan nya.
deg
dada Aisha seperti di hantam batu, jantung nya mulai berdetak kencang. Aisha bingung mau ngomong apa ke Azzam, seperti tidak akan percaya hal ini.
" Aku tidak perlu jawabanmu sekarang Aisha, lebih baik laksanakan shalat malam minta petunjuk kepada Allah."
" maaf dok,, eh mas Azzam" Azzam tersenyum saat ada panggilan mas untuk nya.
" Sudah jangan dipikir kan sekarang, kamu jaga kesehatan dan minta petunjuk Allah. aku serius dengan apa yang ku utarakan barusan. aku ingin tahu jawabanmu setelah aku pulang dari Amerika. bulan depan aku ujian terakhir menyelesaikan pendidikan ku " ucap Azzam.
" apa itu tidak menggangu pikiran mu saat kamu melaksanakan ujian, bulan depan itu lama mas. kamu tidak ingin cepat tau jawabannya."
" aku akan jadikan penyemangat ku, aku tidak ingin kamu menerima ku karena keterpaksaan. aku ingin kamu juga melakukan shalat istikharah seperti yang aku lakukan selama setahun terakhir ini, jawablah sesuai apa kata hatimu dan memang jika kita menjadi pilihan Allah semua akan di mudahkan jalannya." Azzam nampak tetap gugup badannya terasa dingin, tapi ia lega sudah mengutarakan maksudnya.
" Kembalilah nanti setelah selesai dengan study mu, akan kulakukan semuanya dengan petunjuk Allah dan aku akan berikan jawaban sesuai dengan hatiku"
" mungkin sulit bagimu Aisha, di tinggalkan orang yang kita cintai. tapi apakah kamu akan larut dalam kesedihan terus, kau dan aku sama kehilangan seorang sosok Hanafi." ucap Azzam mengingat Hanafi, wajahnya berubah jadi sendu.
" mas Hanafi adalah kenangan terindah ku tak akan mungkin aku menghapus nya dalam diriku, aku hanya takut jika nanti pendamping ku tak bisa menerima kenyataan itu. " jelas Aisha.
" Hanafi juga sahabat terbaikku, jika bukan dia aku gak akan mungkin melakukan ini"
" maksud mas Azzam" aisha mengerut kan keningnya masih menyimpan tanya.
" Sudahlah jangan di pikirkan, terimakasih kamu sudah mau menemuiku. aku pamit Aisha lusa aku akan terbang lagi ke Amerika."
" semoga berhasil mas dengan nilai yang terbaik, aku menunggu mu"
deg
" apa yang Aisha katakan, dia bilang menunggu ku" batin Azzam.
Azzam tidak ingin bertanya lagi, takut harapannya sirna ia lalu pamiit pergi keluar kafe.
__ADS_1
Aisha melihat kepergian Azzam, ia senyum-senyum sendiri seperti dapet hadiah.
" Ada apa bu senyum-senyum sendiri habis dapet kado apa" tanya salah satu karyawan nya yang kini dekat dengan Aisha.
" Tidak apa-apa, masa' aku di suruh cemberut nanti kabur pelanggan ku"
Karyawan dan Aisha pun tertawa terkekeh.
***
Azzam pergi ke makam Hanafi ingin mengunjungi makan sahabatnya, selalu itu yang di lakukan Azzam ketika pulang ke Indonesia.
" Fi maaf aku baru bisa mengutarakan permintaan mu kepada Aisha, aku takut fi. takut keinginan mu tak berbalas, dan maaf aku jatuh cinta dengan istrimu. setiap aku mendengar namanya jantungku berdetak, apalagi saat aku dekat dengannya makin tak karuan rasanya fi. Kamu sahabat ku yang terbaik fi, doakan aku. bulan depan aku akan ujian semoga setelah aku selesai dan pulang ke Indonesia Aisha memberikan Jawaban yang aku dan kamu harapkan." Azzam mengusap pusara Hanafi.
" Hamdan yakin kak Aisha akan menerima kakak, aku akan membantu mu" Azzam menoleh ternyata ada Hamdan di belakangnya.
" Hamdan sejak kapan kamu disini," Azzam sedikit terkejut.
" semenjak kak Azzam berbicara dengan kak Hanafi" Azzam tersenyum malu.
" Setahun terakhir ini aku berusaha untuk tidak mengingat, tapi bayangan Aisha selalu hadir dan aku lakukan shalat minta petunjuk Allah ternyata Allah kembali membawaku kesini. Aku telah melamar Aisha"..
" Alhamdulillah, lalu bagaimana jawaban kak Aisha". Hamdan penasaran dengan jawabannya.
" Aku tidak mau langsung dia memberi jawaban terlalu cepat, aku ingin setelah aku ujian dan kembali lagi ke Indonesia Aisha memberikan jawaban yang membuat nya tidak ragu sedikitpun. Sekali lagi jangan katakan kepada Aisha kalau ini permintaan Hanafi, aku takut dia menerima ku karena itu bukan karena hatinya yang mau." ucap azzam kepada Hamdan agar semuanya berjalan dengan semestinya tanpa ada campur tangan pihak lain.
" Semoga kak Aisha bisa mendapatkan kebahagiaan nya, itu pasti juga yang diinginkan kak Hanafi" Azzam mengangguk.
" Kenapa kamu kesini jam segini ngga ke kampus atau ke kantor" tanya Azzam heran melihat Hamdan berada di makam di jam kerja.
" Selalu yang aku lakukan kak, pikiran ku tenang jika sudah kemari. aku juga lagi kacau kak dengan perasaan ku, ingin rasanya ku hilangkan tapi sulit ia selalu memenuhi bayang-bayang ku kak" azzam sudah mengira bahwa Hamdan sedang jatuh cinta.
" kenapa tidak kamu lamar saja, tampang macho tapi kok pengecut". ledek Azzam pada adik sahabatnya itu.
" masalah nya lain kak lebih pelik"..
__ADS_1
" maksudnya" tanya Azzam heran.
" ia sudah milik orang lain" azzam kaget.
" kamu jatuh cinta sama istri orang Ndan, yang benar saja. masih banyak di luar sana wanita lain kamu pasti bisa dapetin yang lebih. kamu punya segalanya Hamdan." Azzam masih heran dengan Hamdan.
" ngga tau kak, perasaan itu muncul tiba-tiba walaupun aku belum pernah melihat wajahnya. matanya selalu terbayang dipikiran ku apalagi jika ingat dengan suaranya. aku seperti naif kak mbayangkannya"
" Hamdan ada-ada saja kamu ini, jangan bermain-main api jika kamu takut dengan panas." Hamdan sudah maksud apa yang Azzam bicarakan.
kemudian keduanya pergi meninggalkan makam, Hamdan kembali ke kantor dan Azzam kembali pulang.
***
Aisha menjalani hari-hari nya dengan baik, ia sudah lebih menerima akan takdirnya. Tapi tidak dengan umma semenjak kepergian Hanafi umma sering sakit-sakitan. Aisha pun tidak tega meninggalkan rumah mertuanya itu, Aisha memutuskan untuk tetap tinggal disana sembari mengurus mertuanya. akhirnya ia memilih kesibukan untuk ikut mengelola kafe milik keluarga Hanafi.
" Aisha umma mau ngomong sesuatu"
" iya umma " Aisha dengan telaten mengurus mertuanya.
" nak sudah lama kamu menjanda masa iddahmu pun sudah lewat. menikahlah lagi nak cari kebahagiaan mu, apa beberapa calon yang melamar mu belum ada yang cocok nak" tanya umma yang masih dalam pembaringan.
" InsyaAlloh kini Aisha sudah menemukan yang cocok umma, Aisha sudah beberapa kali minta petunjuk Allah benar dia yang selalu muncul" ucap Aisha sambil mengingat mimpi nya semalam, dimana Hanafi menyatukan tangan Aisha dan Azzam. Hanafi memberikan cincinnya kepada azzam untuk dipakai kan ke jari Aisha. Hingga akhirnya Aisha yakin bahwa itulah petunjuk agar menerima Azzam.
" lalu nak tunggu apalagi, lakukan segera itu akan lebih baik."
" Aisha masih menunggunya kembali ma"
" ia sedang pergi nak"
" iya umma insyaAlloh bulan depan akan kembali" umma merasa lega mendengar Aisha akan menikah lagi meski nanti ia akan ditinggal oleh Aisha. umma harus ikhlas kebahagiaan Aisha lebih penting, umma pun berusaha untuk sehat agar tidak selalu tergantung dengan Aisha.
________
bersambung...
__ADS_1