
Dengan perasaan sangat bahagia Zidan akan mengabari keluarganya. Turun dari motor tampak wajah yang berbinar, masuk ke rumah langsung memeluk ibunya yang sedang berada di dapur menyelesaikan masakannya.
" Kamu kenapa Zidan kayak dapat jodoh aja bahagia apa sedih, nangis kok sambil senyum-senyum" ibunya langsung membalikkan badan dan menghapus air mata anak sulungnya itu.
" Umi terimakasih atas setiap doa yang umi panjatkan disetiap sujudmu, hari ini Zidan sangat bahagia. Allah mengabulkan doa Zidan umi, besok kita pindah" jelas Zidan masih menitikkan air matanya.
" Pindah, pindah kemana. apa maksudmu nak?" sahut ayah yang masih duduk di atas kursi roda nya mendekat menjalankan kursi roda yang udah bisa di stel sendiri itu.
" Abi, kita akan pindah kerumah yang lebih dekat dengan kantor dan Zakia juga akan lebih dekat ke kampus. Pak Hamdan membeli rumah dan kita diminta untuk tinggal disana"
Hamdan duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Abi.
" Nak apa itu tidak terlalu berlebihan, sayang uangnya buat bayar kontrak jika lebih mewah. Uangmu saja sudah pas-pasan untuk berobat Abi, biaya sekolah zakia dan untuk kita sehari-hari" Dengan raut wajah Abi yang sedih mengingat ia yang sudah tidak bisa memberikan nafkah untuk keluarganya.
" tidak Abi kita tidak di minta untuk membayar biaya sewanya. Sebenarnya Zidan sudah menolak karena menurut zidan, Zidan baru beberapa bulan bekerja di situ tapi banyak sekali fasilitas yang sudah di berikan. Tapi Hamdan memaksa untuk membawa kalian di tempat yang lebih layak. "
" Baik sekali bosmu itu nak, memangnya dia pernah ke sini. kenapa umi ngga tau Zidan." tanya ibu.
" Kemarin saat Zidan ketemu zakia di jalan setelah pulang meeting dengan klien, Hamdan meminta menyuruh mengantar zakia pulang, pak Hamdan tidak membiarkan zakia naik taksi jadi kita ngga masuk umi hanya di depan saja"
" MasyaAlloh nak Alhamdulillah, tapi nak Abi ngga mau hanya karena kamu anak Abi teman baik Wahyu sampai kamu di fasilitasi seperti ini. Abi ingin bertemu dengan Wahyu dan Hamdan, Abi ngga mau merepotkan mereka nak. Dengan kamu di beri pekerjaan saja itu sudah merasa cukup nak. Abi bersyukur sekali, Abi bisa berobat, zakia bisa sekolah dan kebutuhan sehari-hari kita tercukupi"
" kalau memang itu keinginan Abi Zidan antar Abi ke rumah pak Wahyu nanti selepas Maghrib ya bi Biar Zidan pesan taksi dahulu." meraih ponsel yang ada di saku celana dan mencari aplikasi untuk memesan taksi.
" Ya sudah kamu mandi sebentar lagi adzan Maghrib" Zidan mengangguk dan berlalu ke kamarnya.
***
__ADS_1
" Sudah siap Abi, sebentar lagi taksi datang." Zidan manggil-manggil Semuanya. Mereka sudah bersiap semua ikut Abi, umi dan zakia.
taksi sudah sampai di depan rumah mewah milik pak Wahyu bos Zidan itu, ada satpam yang menghampiri ketika mereka sampai.
" Cari siapa pak, oh mas Zidan silahkan mas semua ada di rumah"
" terimakasih pak"
Satpam menelepon rumah mengabari jika ada Zidan dan keluarganya, pak Wahyu pun tampak terkejut dengan kedatangan mereka.
" Assalamu'alaikum"
" Wa'alaikumsalam... MasyaAlloh sahabat ku ayo semua masuk, senang sekali kalian datang ke sini. kenapa tidak mengabari terlebih dahulu Zidan, kan dirumah bisa siap-siap sekalian makan malam" pak Wahyu langsung memeluk sahabatnya itu dan membantu mendorong kursi rodanya.
Mereka banyak berbincang menceritakan masa muda mereka, tertawa sampai tidak peduli dengan penghuni lainnya.
Tak lama umma datang membawa minuman zakia langsung bergegas membantu wanita paruh baya itu. hati umma berdesir "MasyaAlloh wanita salihah, semoga Hamdan jadi jodohmu nak" batin umma.
" Tidak jeng hanya minuman saja dan makanan kecil"
Terlihat ada Hanafi dan Aisha turun, tampak Hanafi yang sudah lebih sehat dari sebelumnya. Kini Hanafi total istirahat dan fokus dengan kesembuhan nya.
" Zidan kapan kamu datang, pak bu" Hanafi menyalami semuanya kecuali Zakia ia hanya menangkupkan tangannya. begitupun Aisha ia semua ia Salami dengan takzim kecuali Zidan.
" Barusan kak. Hamdan mana kenapa tidak kelihatan."
" Ada di dalam kamarnya, sebentar lagi mungkin turun " Terlihat Hamdan turun keluar dari kamarnya.
__ADS_1
" Ada tamu, sudah dari tadi Zidan" matanya melihat Zakia sungguh berdesir hati Hamdan. Zakia yang selalu menunduk tidak memandang lawan jenis yang bukan muhrim.
" Kenapa ketemu dia, ingat Hamdan ia istri zidan" batin Hamdan dalam hatinya.
Setelah menyalami orang tua Zidan dan Zidan serta zakia ia menangkupkan tangannya sedikit melirik mata zakia karena hanya memang mata zakia yang terlihat, Hamdan duduk di samping umma.
" Begini Wahyu kedatangan saya kemari saya sangat berterima kasih atas apa yang sudah kamu berikan kepada anak saya Zidan itu lebih sudah dari cukup, tapi maaf rumah yang kalian berikan kepada kami itu terlalu berlebihan mengingat Zidan baru beberapa bulan Bekerja di perusahaan kalian"
" Rumah, apa maksud mu Bambang, saya tidak mengerti ucapan mu itu"
" Zidan bilang kalian memberikan kami rumah untuk di tinggali tanpa harus menyewa, makanya kami datang ke sini. menurutku ini berlebihan jangan bilang kamu kasihan sama aku yang duduk di kursi roda ini"
" Hamdan apa maksud nya" Hamdan menggaruk-garuk kepalanya lalu menjelaskan kepada seluruh keluarganya. bahwa niatnya tidak lebih hanya membantu Zidan agar tak kejauhan ke kantor, karena Hamdan kuliah seluruh pekerjaan pasti Zidan yang akan menghandle. Hamdan tidak bisa terlalu fokus di kantor karena juga ingin menyelesaikan kuliahnya tanpa kendala.
Pak Wahyu mendekati sahabat nya itu kemudian merangkul nya.
" Tindakan Hamdan benar, saya sudah tidak bisa ke kantor terus kamu Taukan saya sudah tua dan ngga bisa duduk lama karena aku menderita sakit pada punggung ku. Terimalah itu bukan karena kamu sahabat ku tapi memang itu pantas untuk Zidan, pekerjaan nya luar biasa dan ia jujur. saya harap Zidan bisa menghandle semuanya, tolong bantu kami." Permintaan pak Wahyu.
" Kami tidak ingin terus merepotkan"
" kalian sama sekali tidak merepotkan justru kami yang selalu merepotkan nak Zidan. Terimakasih sahabat sampai kapanpun kamu tetap sahabatku" pak Wahyu pun menyunggingkan senyumnya.
" Terimakasih sekali Wahyu..."
" Sudah, sudah ayo di minum dan makan cemilannya. semua sudah jelas terimalah Zidan pemberian kami, itu prestasi kamu bukan kasihan kami" umma tersenyum sambil menyodorkan lagi makanannya.
Obrolan demi obrolan terlewati hingga larut malam, akhirnya Zidan dan keluarganya pamit. Pak Wahyu memerintahkan sopirnya untuk mengantar, pak Wahyu tidak menerima penolakan.
__ADS_1
Semuanya sudah gamblang lega buat pak Bambang dan esok mereka akan mulai berkemas untuk pindah. Cuti yang di berikan Hamdan pun tidak di ambil karena zidan tidak ingin meninggalkan kantor. zakia dan ibunya yang berkemas karena tidak terlalu banyak barang yang mereka bawa.
_____________________