
"pesan apa mas..?" tanya Aisha.
" Hmmm itu ..." Hanafi kikuk menjawab.
" Hanafi minta aku menjenguknya setiap hari sebelum aku pergi ke Amerika" ucap azzam sedikit menutupi pesan Hanafi yang menyuruh azzam menikahi Aisha setelah kepergiannya.
" oh kirain ada yang serius, iya dokter Azzam sebelum dokter pergi sebaiknya seperti itu bisa menjenguk mas Hanafi setiap hari semenjak ada dokter mas Hanafi punya semangat lagi" ia melirik suaminya yang saat ini sudah bersiap untuk pulang.
Azzam pun tersenyum mengiyakan ucapan Aisha. Azzam membantu Hanafi untuk segera naik ke mobil, ia akan mengantarkan Hanafi pulang.Azzam berjanji pada dirinya sendiri akan selalu merawat Hanafi sebelum ia pergi untuk melanjutkan studinya.
Sesampainya dirumah, Abah dan umma sudah menunggu, menanti anak kesayangannya pulang. Abah dan umma akan berusaha selalu tegar apapun nanti yang akan terjadi semua adalah kehendak Nya kita tak bisa mengelak karena semua sudah di tulis di lauhul Mahfudz.
" Kamu azzam apa kabar?" suara laki-laki paruh baya itu menghentikan langkah Azzam.
" Alhamdulillah Abah baik, bagaimana keadaan Abah" tanya balik Azzam.
" begini azzam, Abah ada masalah di punggung"
" Abah sakit, kenapa tidak berobat" tanya Azzam minta penjelasan.
"sudah Azzam, Abah sudah berobat mungkin memang sudah tua harus istirahat ngga boleh lagi capek mengejar dunia." Abah tersenyum senang melihat sahabat nya Hanafi kini kembali itu akan membuat Hanafi lebih semangat lagi.
" terimakasih sudah mengantarkan Hanafi nak Azzam, jangan lupa sering main kesini ya. bagaimana kabar keluarga kamu nak" tanya umma
" Alhamdulillah baik umma, papa meninggal mama sehat" ucap azzam.
" innalilahi maaf nak umma ngga tau, ngga ada yang kasih kabar ke umma".
" papa meninggal saat di Amerika umma saat bertugas disana, azzam masih kuliah waktu itu. memang kontak kami hilang jadi kami ngga bisa menghubungi Hanafi. Baru kali ini bertemu tapi keadaan begini." sedih azzam mengingat sahabatnya dalam keadaan sakit.
" Kita tidak akan tau skenario Allah Azzam, kita hanya menjalankan menerima dengan ikhlas." Azzam mengangguk.
Hanafi sudah naik keatas bersama Aisha, Karena memang azzam meminta Hanafi untuk beristirahat. Azzam pun kemudian pamit untuk kembali ke rumah sakit karena memang hari ini ia ada jadwal jaga.
" menurut mu, Azzam itu bagaimana Aisha, " tanya Hanafi membuat kening Aisha mengkerut.
" maksud mas gimana kok tanya Aisha".. Aisha yang masih sibuk merapikan kamarnya dan pakaian yang ia bawa dari rumah sakit itu..
" maksud mas dilihat dari pandangan kamu bagaimana" tanya Hanafi kembali.
__ADS_1
" Dokter Azzam baik mas, itu yang ku tau karena Aisha memang baru mengenalnya
" ucap Aisha...
" tampan, cerdas dan baik hatinya..." ucap Hanafi.
Aisha tampak berfikir apa yang ucapkan Hanafi ia hanya mengangguk saja tidak ingin melanjutkan obrolan nya.
" istirahat mas jangan banyak berfikir dan banyak bicara supaya mas cepat pulih" Hanafi tersenyum lalu memejamkan matanya.
Sampai di rumah sakit Azzam masuk ke ruangan nya untuk istirahat sejenak, entah kenapa ia kepikiran dengan apa yang Hanafi ucapkan. Wajah Aisha pun terbayang olehnya.
" astaghfirullah..." Azzam mengusap wajahnya dengan kasar, ia berfikir tak boleh memikirkan wanita yang sudah menjadi istri orang lain.
Ngga Azzam ngga Hamdan sama-sama memikirkan wanita milik orang lain, tapi yang salah Hamdan tidak tau kenyataan sebenarnya.
" Dok... dok..." panggil suster namun Azzam tidak sadar bahwa ada suster yang menghampiri nya.
Akhirnya suster memberanikan diri menepuk bahu azzam.
" astaghfirullah,,, ada apa sus bikin saya kaget"
Azzam seperti akan meloncat kaget dengan panggilan suster dan tepukan bahunya.
" maaf sus.."
" ada pasien dok kecelakaan darurat"
Azzam menggeliat langsung mengambil alat nya dan berjalan cepat menuju UGD.
suster ikut berlari mengikuti dokter Azzam yang masih dalam keadaan gugup.
***
Hamdan setelah dari kampus ia pulang karena sudah di kabari oleh Aisha kalau ia pulang di antar oleh dokter azzam.
Setelah Hamdan melihat kakaknya sedang istirahat Hamdan kemudian melajukan motornya pergi ke kantor, sebenarnya hari ini ia tidak akan berangkat ke kantor entah kenapa hatinya ingin kesana.
Lagi-lagi di kantor ada Zakia, Zidan sengaja menjemput Zakia karena sepulangnya ia akan mampir dulu ke supermarket untuk beli bahan makanan dirumah yang sudah habis.
__ADS_1
ibunya sedang tidak enak badan jadi Zakia harus membeli nya, Zidan selalu mengantar kemana Zakia pergi.
Zidan membawanya ke kantor dahulu untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang.
Zakia masih sibuk dengan buku yang ada di tangannya, ia duduk di sofa ruangan Zidan.
" Kirain ngga ke kantor pak, tadi bapak sepertinya sudah izin."
" Iya saya tadi memang tidak akan ke kantor, kebetulan kak Hanafi di antar oleh dokter Azzam". Hamdan melirik Zakia yang terus asyik dengan bukunya.
" Pekerjaan sudah saya selesaikan semua pak" ucap Zidan.
" apa kamu mau pergi?"
" iya setelah selesai aku akan belanja ke supermarket, semua bahan dirumah makanan habis." Hamdan mengangguk.
" bisa minta tolong panggilkan Wati untuk membuat kanku kopi, seperti biasa ya"
" siap pak." Hamdan tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan nya.
" Wati dimana dia, kemana semuanya ngga ada ya" kebetulan tidak ada satupun di pantry.
" Ada apa kak" tanya Zakia.
" Hamdan memintaku memanggil Wati untuk membuatkan kopi, tapi di pantri tidak ada siapapun"
" sini biar Zakia aja yang bikin kak, dimana pantrinya" Hamdan kemudian menunjuk pantri yang tidak jauh dari ruangan.
" kopi tidak banyak gula dan di kasih susu dan mocca sedikit" Zakia mengangguk dan menyelesaikan kopinya.
Setelah selesai Zidan yang mengantarkan kopi ke ruangan Hamdan. Terlihat Hamdan memikirkan sesuatu, membuat Zidan bertanya.
" kenapa Hamdan ada yang kamu pikirkan, soal pekerjaan insyaAlloh saya siap membantu"
" bukan soal kerjaan tapi kak Hanafi, kankernya sudah menyebar aku tak tega melihatnya, terimakasih kamu selalu membantuku kalau tidak ada kamu apalah jadinya perusahaan Abah"
" Sabar Hamdan, kita hanya perlu ikhtiar dan perbanyak doa. Allah akan berikan yang terbaik untuk kita, semoga akan ada keajaiban pak Hanafi segera sembuh" Zidan menepuk bahu Hamdan untuk menenangkan, ternyata seberat itu pikiran Hamdan. keluarga nya tidak ada yang tau hanya dia saja yang melihat hasil cek lab.
" Pulanglah Zidan nanti keburu sore, sebentar lagi aku juga pulang setelah menghabiskan kopi ini"
__ADS_1
" baiklah kalau begitu saya pamit ya Hamdan, kamu jangan banyak pikiran ngga baik untuk kesehatan mu juga" Hamdan tersenyum senang mempunyai partner kerja yang baik dan jujur.
" kopinya enak sekali, seperti bukan buatan Wati. biasanya Wati tak seenak ini membuat kopi" Hamdan menghabiskan kopi sampai tak tersisa.