Titip Istriku

Titip Istriku
lebih baik


__ADS_3

" Hamdan " terdengar suara yang memanggil nya.


" Zidan, maaf sudah merepotkan mu "


" tidak pak ini sudah menjadi tugas saya, ini berkas yang harus di tanda tangani hari ini" Zidan menyerah kan semua berkasnya.


Setelah selesai Zidan meminta izin untuk ikut menjenguk Hanafi sejenak. Hamdan mempersilahkan, menunjukkan tempat dimana Hanafi di rawat. Hamdan melanjutkan langkahnya masuk dalam masjid yang ada di rumah sakit itu.


" Assalamu'alaikum pak " langsung menyalami orang tua yang menjadi bos Zidan saat ini, pak Wahyu sudah menganggap seperti anaknya sendiri.


" wa'alaikumsalam nak Zidan, "


" Bagaimana keadaan pak Hanafi pak "


" minta doanya ya Zidan semoga Hanafi lekas pulih, belum sadar selepas operasi nmudah-mudahan sebentar lagi "


" Aamiin semoga pak Hanafi lekas sehat" Zidan melihat Hanafi yang masih menutup matanya.


tidak lama Zidan pamit karena harus kembali ke kantor banyak yang harus di kerjakan, apalagi pekerjaan nya akan dobel Hamdan dan pak Wahyu tidak bisa ke kantor karena sedang menunggu Hanafi.


Zidan bertemu dengan Zakia, Zakia langsung mencium tangan kakaknya itu. seperti sepasang suami istri memang jika tidak tau hubungan mereka sebenarnya. Zidan dan Zakia sangat dekat, mereka hanya dua bersaudara kedekatan nya pun membuat iri semua orang. Zidan yang sangat menyayangi adiknya, melindungi adiknya tak rela ada seekor lebah pun yang hinggap.


Hal itupun tidak luput dari pandangan Hamdan yang melihat keduanya. Saat Zakia mencium tangan Zidan dan saat Zidan mengelus kepala zakia. Hamdan langsung berfikir bahwa itu adalah istri zidan, Hamdan mengenal Zidan sebagai karyawan ia tidak tau status Zidan yang sebenarnya.


" oh jadi wanita itu istrinya Zidan, beruntung sekali kamu Zidan " hati Hamdan seperti tercabik melihat semuanya di depan mata, wanita yang membuat nya gelisah selama ini.


***


diruang rawat inap itu, ada yang sedang berjuang membuka matanya setelah istirahat cukup lama. Aisha merasakan pergerakan suaminya yang telah sadar.


" A i sha..." begitu ucapan pertama kali yang keluar dari bibir Hanafi. suaranya terbata-bata sangat lemah, Aisha menggenggam tangan nya dengan lembut.

__ADS_1


" Alhamdulillah mas sudah sadar, Aisha disini mas selalu disini menemani mas "


" ma af... Aisha " Hanafi tampak menjatuhkan air matanya.


" tidak mas, jangan minta maaf mas Hanafi tidak salah apapun ". Aisha menghapus air mata yang jatuh dipipi Hanafi.


" mas jangan banyak bicara dulu, mas masih lemah istirahat lah kami disini. semua disini ada Abah, umma juga Hamdan mas lihatlah mereka sangat menyayangi mas." Aisha tetap berusaha tegar tersenyum manis di hadapan suaminya. Hanafi mengedipkan matanya menandakan jawaban iya.


Umma, Abah dan Hamdan mendekati Hanafi tidak ada yang boleh terlihat sedih semuanya tersenyum saat mendekati Hanafi. kemudian Dokterpun datang untuk memeriksa keadaan pasien.


" Nak Hanafi Alhamdulillah sudah sadar , banyak istirahat jangan banyak bicara dulu." Hanafi masih di bantu dengan oksigen, keadaan nya masih sangat lemah disarankan agar tidak banyak bicara terlebih dahulu.


" Kakak semangat ya, puding yang dibikin kak Aisha masih ada di kulkas nanti Hamdan habisin. kakak cepat sehat." Hamdan membisikkan di telinga Hanafi, menggoda agar tidak tegang suasananya. Hanafi tersenyum mendengar adiknya dan mengedipkan matanya menandakan jawaban iya.


" Cepat sehat sayang, umma dan Abah selalu disini." umma mengelus kepala anak sulung nya itu yang tampak lemah terbalut banyak selang infus.


***


Aisha membawa makanan dan akan menyuapi Hanafi sebelum meminum obat.


Aisha masih berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya.


" mas makan dulu ya, di habisin" Aisha sekalipun tidak berwajah sedih, ia selalu berusaha tenang dan kuat di hadapan suaminya. Tidak ada sikap atau pun wajah yang terlihat khawatir ataupun sedih bahkan selalu tersenyum manis.


" iya, adek sudah makan belum." tanya Hanafi.


" sebentar lagi umma membawakan makanan kesini, sekarang mas Hanafi makan dulu." Aisha mulai menyuapkan sendok demi sendok. Hanafi berhenti makan dan memegang tangan Aisha saat Aisha akan memasukkan makanan dalam mulut suaminya itu.


" Dek, mas minta maaf" Hanafi menatap lekat istrinya itu, tetap dengan wajah yang tampak tenang.


" Mas ngga ada yang perlu di maafkan, mas tidak salah apapun. Habiskan dulu makanannya mas minum obat baru kita bicara lagi" . Aisha kembali menyuapi Hanafi, kali ini makanannya habis. Aisha senang melihatnya, berharap suaminya lekas pulih dan semangat untuk kesembuhannya.

__ADS_1


Aisha kembali membereskan alat makan dari rumah sakit, mencuci tangan lalu memberikan obat agar Hanafi minum. Mengelap bekas makan suaminya menggunakan tisu di bibir Hanafi.


" Dek,,"


" hmmm iya mas". Aisha menyelimuti kaki suaminya kembali.


" Dek Aisha pasti sudah tau semuanya dengan keadaan mas, maaf dek harus membuat mu repot merawat mas". Aisha mendekat memegang tangan suaminya dan mengecupnya.


" jangan minta maaf terus mas ngga ada yang perlu di maafkan, semuanya sudah menjadi suratan takdir yang harus kita jalani. Allah memilih kita karena Allah tau kita kuat, dalam setiap kesabaran dan usaha kita di situ akan ada pahala yang berlipat mas. Mas harus kuat dan semangat untuk sembuh, kita tidak boleh menyerah mas. Usaha semaksimal mungkin, kita harus semangat." Aisha mengecup kembali tangan suaminya. Hanafi mengelus kepala Aisha .


" iya mas akan berjuang, kita serahkan semuanya sama Allah" Hanafi balik mencium tangan istrinya.


" Bismillah semuanya atas izin Allah mas, kita akan sama-sama melewati". Keduanya tersenyum dengan semangat dalam hatinya. Cinta yang begitu tulus karena Allah. cintailah sekadar nya saja jangan melebihi cintamu kepada Rabbmu, karena semua nya fana kita akan pergi meninggalkan ataupun ditinggalkan.


Kemudian Hamdan masuk setelah melaksanakan shalat duhanya. ia melihat kakaknya yang sudah lebih baik, Hamdan sangat bahagia perasaannya.


" Kak udah enakan"


" iya, kakak takut puding kakak kamu habisin" Hamdan, Hanafi dan Aisha tertawa.


umma datang membawa kan sarapan untuk Hamdan dan Aisha tak lupa juga puding kesukaan kedua anaknya dibawa.


Ketiga anaknya menyalami umma dengan takzim.


" gimana keadaan mu sayang" tanya umma


" Alhamdulillah umma sudah lebih baik, maafkan Hanafi umma"


" maaf, untuk apa ngga ada yang perlu di maafkan. Anak umma hebat kuat dan tegar. fokuslah dengan kesembuhan mu sayang, jangan berpikir yang tidak perlu dipikirkan. ini umma bawakan puding kesukaan mu, ayo di makan." umma menyerahkan puding dan menyuapi Hanafi. umma memerintahkan Hamdan dan Aisha untuk sarapan terlebih dahulu.


***

__ADS_1


__ADS_2