Titip Istriku

Titip Istriku
Hanafi kembali dari rumah sakit


__ADS_3

Ada sekitar satu Minggu Hanafi di rawat di rumah sakit, saatnya dokter memperbolehkan pulang untuk rawat jalan. Dan dokter menyarankan untuk segera melakukan kemoterapi, agar akar penyakit tidak semakin menyebar.


" Alhamdulillah, akhirnya sudah sampai rumah juga." Aisha menghembuskan nafas lembut menghirup udara segar yang ada di sekitaran rumah mertuanya.


Kamar Hanafi selalu di bersihkan setiap hari, jadi masih terlihat rapi dan bersih. hanya saja suasana lebih beda, terasa dingin saat dimasuki sudah beberapa waktu tidak di tempati.


" Kakak istirahat ya Hamdan harus ke kantor " ucap hamdan saat membawakan koper milik kakaknya diantarkan ke kamarnya.


Hanafi tersenyum dan mengangguk ia merasa melihat Hamdan yang sekarang terlihat dewasa. Hamdan pergi karena hari ini ada pertemuan dengan kliennya. Abah sudah menyerahkan semua ke Hamdan, sesekali saja Abah pergi ke kantor. Abah ingin Hamdan terbiasa dengan dunianya yang sekarang, menjadi mahasiswa dan pekerja.


" Mas istirahat dulu saja, Aisha kebawah". Aisha akan meletakkan baju kotor yang tadi belum sempat ia cuci saat dirumah sakit. Hanafi bersandar di kepala ranjang memandangi seisi kamarnya belum ingin merebahkan tubuhnya...


" kamu memang wanita yang kuat Aisha, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu.


batin Hamdan saat melihat foto pernikahan nya yang menempel di dinding kamar.


ceklek.


" mas kok belum istirahat " Aisha merapikan bantal menepuk-nepuk agar suaminya segera istirahat.


" Aisha, terimakasih" Aisha mendekat mengelus pipi suaminya yang tampak kurus itu dan tersenyum.


" Trimakasih untuk apa mas, Aisha hanya menjalankan kewajiban Aisha mas ngga perlu berterima kasih. Balaslah setiap apa yang Aisha lakukan dengan semangat mu untuk segera sembuh. Semua merindukan mu mas Aisha juga umma, Abah dan Hamdan" Aisha membaringkan tubuh suaminya dengan sangat pelan lalu mengecup kening suaminya.


" istirahat lah " Karena efek obat yang di minum Hanafi tak lama kemudian tertidur.


Aisha segera merapikan semua bawaan yang ia bawa selama beberapa hari di rumah sakit.


***


Hamdan melajukan motor kesayangannya pergi ke kantor, Zidan sudah menunggunya karena berkas semuanya sudah siap dan mereka akan pergi ke sebuah restoran di mana ada janji bersama kliennya.


Hamdan dan zidan pergi, dengan Zidan sebagai supir bos mudanya. Dari tadi Hamdan hanya diam saja mengingat kejadian di rumah sakit di mana Zidan bersama adiknya yang di ketahui Hamdan adalah istrinya.


" astaghfirullah kenapa aku pikirin istri orang " batin Hamdan seraya beristighfar.


" Pak kita sudah sampai...pak..." Hamdan masih berada dalam lamunannya hingga mobil berhenti dan ada yang memanggilnya pun ia tidak dengar.


" pak Hamdan.." Hamdan terlihat kaget mendengar suara Zidan yang memanggil sedikit keras.


" eh iya Zidan..ada apa"


" kita sudah sampai".

__ADS_1


Kedua nya lalu turun menuju meja di mana sudah ada yang menunggu di sana.


" selamat siang pak Hamdan senang bertemu denganmu" Mereka berjabat tangan langsung membahas rencana bekerja sama.


Setelah selesai akhirnya Hamdan langsung pamit ia tidak bisa berlama-lama mengobrol hal yang tidak penting, karena Hamdan harus membagi waktunya antara kuliah dan kerja nya.


" Baiklah pak terimakasih atas kerjasamanya saya pamit, maaf tidak bisa lama menemani anda untuk ngopi disini" pamit Hamdan.


" Saya senang sekali bisa bekerja sama dengan anda, anda masih muda tapi luar biasa perusahaan anda saya yakin akan berkembang pesat"


" aamiin trimakasih pak, semua ini tak lain atas izin Allah juga asisten saya yang luar biasa ini" Hamdan menepuk pundak zidan.


Hamdan dan zidan langsung keluar dari restauran bergegas kembali ke kantor. Di ujung sebuah kafe Zidan melihat Zakia berdiri di depan kafe seperti menunggu sesuatu, akhirnya Zidan memberhentikan mobilnya.


" Maaf pak sebentar saya keluar dulu" Hamdan mengiyakan ia mendongak ke depan ternyata ada Zakia yang sedang berdiri.


Tak lama Zidan masuk dan ingin langsung melesat kan mobilnya.


" Zidan kenapa dia kamu tinggal"


" Maaf pak biarkan saja sedang menunggu taksi lewat, saya sedang bekerja tak ingin korupsi waktu pak" Zidan mestarter mobilnya.


" Tunggu Zidan antarkan pulang dulu, baru kita ke kantor" ucap Hamdan.


Entah kenapa hatinya peduli akan wanita yang ia anggap istrinya Zidan padahal seharusnya cemburu.


Zidan akhirnya keluar dan berbicara kepada Zakia, masuk kedalam mobil dengan mengucapkan salam. Hamdan menjawabnya dengan jantung yang tak karuan berdetak..


Mobil dilajukan lagi yang masih dikemudikan oleh zidan, Zakia duduk di belakang. tak ada kata-kata yang keluar karena Zidan sedang fokus menyetir dan Hamdan fokus dengan pikirannya. Suara Zakia begitu lembut saat mengucapkan salam membuat hati Hamdan yang langsung berdesir.


tak perlu waktu lama mobil tiba di depan rumah yang sangat sederhana. Zakia turun dan berpamitan tak lupa ia mencium tangan kakaknya.


" permisi pak terimakasih atas tumpangannya, assalamu'alaikum.." Hamdan menjawab salam. Dari dalam mobil Hamdan melihat sosok wanita istimewa itu baginya.


mobil melaju lagi menuju kantor dengan kecepatan sedang.


" Zidan kamu tinggal disini"


" iya pak saya pindah waktu itu alhamdulilah menemukan kontrakan ini, lumayan pak bisa untuk orang tua juga"..


" Jadi kamu tinggal dengan orang tuamu juga, kenapa tidak ke tempat yang lebih layak lagi kasihan keluarga mu".


" ini sudah cukup layak untuk kami pak, alhamdulilah kami bersyukur sekali. Dan Alhamdulillah pak Wahyu menerima saya bekerja di perusahaan beliau, saya bisa membawa ayah saya untuk berobat".

__ADS_1


" Tinggallah di tempat yang lebih layak kasihan ayahmu yang sedang sakit, akan lebih nyaman jika di tempat yang lebih baik"


" insyaallah doakan saya bisa nabung lebih banyak lagi untuk membahagiakan orang tua saya" Hamdan terenyuh dengan Zidan ia mempunyai istri tapi masih ingin membahagiakan orang tuanya juga.


Sesampainya di kantor Hamdan langsung masuk ke ruangan nya. Tampak ia langsung menelepon seseorang.


" Bagaimana ada tidak rumahnya saya ingin membeli nya"


" ada Hamdan nanti saya kirimkan alamat dan foto rumahnya kamu bisa langsung cek"


" okey setelah saya pulang dari kantor saya langsung kesana" Hamdan melanjutkan pekerjaan nya hingga sampai jam 16.30.


" Zidan sebelum pulang kamu ikut saya dulu ya"


" baik pak," begitulah Zidan selalu menuruti perintah atasannya tanpa harus bertanya terlebih dahulu.


Hamdan membawa motor gedenya diikuti Zidan dengan motor maticnya yang ia beli beberapa hari yang lalu.


Mengikuti arah kemana bosnya pergi, begitupun Hamdan yang masih terus mencari alamat itu.


Sekitar 30 menit mereka sampai, di komplek rumah minimalis tapi cukup besar dengan tiga kamar, ruang tamu,ruang keluarga, dapur, depan ada teras dan garasinya. Hamdan masuk lalu melihat-lihat, pemilik rumah itu menunjukkan semuanya hingga kebelakang.


" Zidan bagaimana dengan rumah ini"


" Bagus Hamdan komplit tempat nya strategis dan ruangannya cukup memadai"


" Kamu suka"


" suka, kamu mau beli rumah ini"


tanpa menjawab Hamdan langsung membicarakan harga rumah kepada pemiliknya, tanpa harus lama Hamdan mentransfer dari harga kesepakatan.


" Zidan ambil ini, besok ajaklah keluarga mu pindah dirumah ini" Hamdan memberikan kunci rumah langsung kepada Zidan.


" Apa maksudmu, saya tak sanggup membayar kontrakan nya"


” tempati lah tak perlu membayar kontrakan, pakailah uangmu untuk menyembuhkan ayahmu dan untuk keluarga mu. Jangan menolak ini perintah atasan" Hamdan menggunakan kekuasaannya agar Zidan tidak menolak.


" Tapi saya... kalian baik kepada saya memberikan pekerjaan dengan gaji yang bisa dibilang lebih dari cukup sekarang malah memberikan tempat tinggal. Ayah pasti sangat senang" Zidan menitikkan air matanya.


" Sudah jangan sedih, saya memberi reward kamu karena kamu memang pantas. kamu bekerja dengan baik walaupun tak ada saya dan Abah kamu menjalankan perusahaan dengan baik juga. Saya yang sangat berterima kasih Zidan, kamu sangat jujur semoga selalu ada pekerja lain seperti mu" jelas Hamdan.


" Terimakasih pak Hamdan"

__ADS_1


" Tetap panggil saya Hamdan, ,,, baiklah saya mau pulang duluan, segera ajak keluarga mu pindah. besok kamu boleh ambil cuti untuk pindahan dulu." Hamdan memeluk Zidan tanda persahabatan mereka.


Akhirnya Hamdan pulang dan Zidan masih berdiri tak percaya dengan yang ada di depan mata ini.


__ADS_2