
" asma sayang jangan begitu sama Tante, kasihan Tante Aisha. " asma duduk di pangkuan Aisha sambil mengusap air mata Aisha .
" Tidak apa-apa mba" ucap Aisha yang akhirnya mengeluarkan kata-kata yang tadinya diam seribu bahasa.
" Kata mama kita ngga boleh nangis terus Tante, nanti jadi pusing terus matanya jadi kayak mata panda. asma ngeri Tante. Tante jangan nangis ya, plissssss" wajah lucu asma membuat Aisha tersenyum lagi lebih lebar.
" Tidak sayang Tante tidak akan nangis lagi" asma mencium Aisha.
memang asma ini selalu akrab dengan siapapun meski orang yang baru ia kenal atau tahu. itu membuat orang tuanya khawatir karena mudah sekali di ajak orang. Tingkah lucunya bikin orang gemas terhadap nya, terkadang ucapannya seperti orang dewasa.
***
Kini rumah mulai sepi satu persatu orang pergi meninggalkan rumah duka. Aisha naik ke atas menuju kamarnya, ia tak ingin diikuti siapapun kini dirinya sudah lebih tegar.
Azzam pun pamit pulang ia akan datang malam nanti di acara tahlilan.
Aisha masuk ke dalam kamarnya, ingin menahan tangisnya tapi ia tak bisa. Jatuh lagi ketika melihat foto pernikahan nya dengan Hanafi, mimpi hidup bersama musnah. takdir telah memisahkan nya, hanya satu ikhlas.
" mas, begitu cepat kamu pergi mas bahkan satu benih pun tidak tertanam di rahimku. kenangan indah bersamamu tak akan pernah terlupakan, untuk keinginan mu itu akan aku coba untuk menerima orang lain lagi dalam hidupku. terima kasih atas cintamu dan kasih sayang mu, kamu mewarnai setiap hari-hari ku" Aisha memaksakan senyumannya di depan foto hanafi yang terpajang di meja dekat ranjang.
Aisha lanjut membersihkan diri karena dari tadi belum bersentuhan dengan air, badannya lengket. Aisha melanjutkan untuk shalat asar, ia bersujud kepada RabbNya meminta hati nya di beri keikhlasan. meminta ampunan atas dosa suaminya, memohon agar suaminya di terima amal ibadahnya dan di tempat kan di tempat yang terbaik.
tahlilan di laksanakan malam hari sehabis shalat Maghrib, semua berkunjung dari saudara maupun tetangga untuk mendoakan Hanafi.
****
satu Minggu telah berlalu atas kepergian Hanafi meski kesedihan masih ada dalam diri masing-masing. semuanya akan move on untuk melanjutkan kehidupannya masing-masing. begitu pun Azzam ia akan kembali ke Amerika, masa libur tujuh hari nya sudah lewat ia sudah menambah tiga hari..
Sebelum pergi Azzam berpamitan dengan keluarga Hanafi, esok ia akan kembali ke Amerika. Keluarga Hanafi meminta maaf dan berterima kasih kepada azzam.
Azzam pamit dan pergi dari rumah Hanafi, Hamdan mengantar sampai depan.
" kak ingat pesan kak Hanafi" Azzam menoleh kepada Hamdan terkejut, yang ia tau tak ada seorang pun yang tau hal itu karena sewaktu Hanafi mengatakan nya hanya ada dia dan Hanafi.
__ADS_1
" Apa maksudmu Hamdan" azzam menyanggah.
" Kak Aisha wanita saliha dan baik hati, kak Hanafi tidak ingin ada seorang pun yang menggantikan nya selain kak azzam. Aku mendengar semuanya kak." Azzam menghela nafas.
" Tak tau Hamdan kakak bingung, seperti tak mungkin Aisha menerima kakak. Kakak akan pergi menyelesaikan pendidikan kakak dulu. jika memang takdir akan mempersatukan kita pasti kakak kembali meminang Aisha "
" apa tidak sebaiknya kakak bicarakan dengan kak Aisha dulu sebelum kakak pergi, agar kak Aisha menunggu kakak." ucap Hamdan berharap.
" tidak Hamdan, tolong jangan beritahu Aisha atau siapapun soal ini. kakak ingin semuanya mengalir saja, bukan karena keterpaksaan. jodoh pasti bertemu Hamdan" azzam tersenyum. Hamdan mengangguk mengiyakan permintaan Azzam.
Azzam dan Hamdan berpelukan tanda perpisahan.
" Kakak pergi jaga Abah dan umma"
" juga kak Aisha kak," Azzam kembali tersenyum, Hamdan menggoda Azzam.
***
Hari demi hari yang di lalui Azzam adalah bayangan Hanafi, sesekali bermimpi bertemu dengan nya. Kuliah azzam lancar tanpa kurang sedikit pun, ia fokus saat belajar.
" Assalamu'alaikum umi" telepon dari sebrang.
" wa'alaikumsalam, gimana kabarnya kamu nak" tanya umi.
" Alhamdulillah baik mi, umi sendiri bagaimana" tanya balik Aisa.
" Alhamdulillah umi dan Abi juga baik, nak umi mau ngomong sesuatu. Sudah ada satu tahun Hanafi meninggal nak, apa kamu tidak ingin cepat menikah lagi, masa indahmu sudah lama habis nak" umi mengkhawatirkan Aisha yang kini menjadi janda.
Pastinya akan banyak fitnah yang akan tertuju kepada janda, apalagi disana ia tinggal di rumah mertuanya ada Hamdan selaku adik ipar. walau tidak terjadi sesuatu tapi yang namanya netizen selalu senang membesarkan berita.
" insyaallah umi iya Aisha akan menikah lagi, tapi Aisha belum dapat jodoh yang tepat. setiap ada yang melamar Aisha selalu melakukan istikharah minta petunjuk Allah tapi belum ada yang Allah pilihkan untuk Aisha umi" Aisha menjelaskan.
" nak ini ada seseorang lagi yang datang melamar mu nak, sudah berapa orang Abi tolak karena kamu tidak menerima nya"
__ADS_1
Aisha janda yang tidak memiliki anak, banyak sekali yang ingin menikahinya ngga hanya seorang duda bahkan bujangan pun banyak.
karena memang Aisha wanita yang cerdas juga cantik banyak yang menyukainya.
" iya umi sebutkan namanya biar Aisha lakukan shalat istikharah disini" akhirnya umi
memberitahu Aisha, dan lagi Aisha melakukan shalat istikharah.
Di laki-laki yang kesekian kalinya tak ada satupun nama yang muncul dalam ikhtiar shalat istikharah nya, justru terakhir ini nama Azzam muncul dalam mimpinya dan seketika Aisha bangun terperanjat.
" astaghfirullah Azzam, nama itu tak ada dalam daftar orang yang mengkhitbahku" Aisha kemudian bangun mengambil air wudhu dan tilawah untuk menenangkan hati dan pikiran nya.
Azzam pulang terbang ke Indonesia. ia akan melaksanakan apa yang menjadi pesan terakhir sahabat nya, sebelumnya pun Azzam selama satu tahun itu melakukan shalat istikharah meminta petunjuk dari sang pemilik hati tapi tetap yang muncul nama Aisha. dalam mimpinya muncul wajah Aisha dan terakhir membuat Azzam yakin pulang ke Indonesia mimpinya bertemu Hanafi. dalam mimpi itu Hanafi memberikan cincinnya untuk Azzam agar diberikan kepada Aisha.
Hari itu Azzam menemui Aisha di kafe milik Hamdan, Azzam benar-benar bingung mengawali pembicaraan nya. Aisha menemui Azzam duduk di antara pengunjung yang lain,tapi Azzam memilih meja pojok.
" bagaimana kabarnya" kata awal yang muncul dari Azzam.
" Alhamdulillah baik dok" jawab Aisha lebih santai, Aisha tidak sampai kepikiran dengan mimpinya jadi ia pikir Azzam kesini hanya mampir minum.
" saya ada perlu dengan mu " Azzam benar-benar bingun mau ngomong apalagi ia sangat gugup...
" silahkan dok ada yang bisa saya bantu"
" panggil aku Azzam jangan dokter, disini saya sedang tidak bertugas" Aisha tersenyum , Aisha pun merasakan jika Azzam gugup.
" Aisha maukah kamu menikah dengan ku , aku melamar mu" tanpa basa basi lagi Azzam langsug mengatakan nya...
_________
bersambung
tunggu Jawaban Aisha di part selanjutnya ya reader.
__ADS_1
jangan lupa like, komentar, kasih hadiah dan vote.🥰