
Kematian istri Jack membuat dirinya begitu terpuruk dimana istrinya yang sangat ia cintai harus meregang nyawa pasca melahirkan dan yang lebih menyedihkan lagi anaknya juga tidak bisa tertolong. Jack sangat terpukul sekali kala itu, hingga selama empat tahun ia menutup dirinya kepada wanita manapun. bayang-bayang istrinya masih saja terlintas di benaknya. Tapi tidak untuk akhir-akhir ini Jack lebih banyak tersenyum, bahkan karyawan di kantor nya pun heran tak biasanya mr.jack membalas sapaan dari mereka. Kini Almira yang sudah pulang ke apartemen nya membersihkan diri, sudah ada mama yang menyiapkan makan malamnya. Almira senang ia bisa makan bersama lagi dengan mama dan papanya.
" Nak sudah kamu pikirkan tentang lamaran Jack."
" entahlah ma, aku akan menjawab setelah yakin ma. Dari awal pertemuan dengan Jack tidaklah baik ma, aku selalu kesal dengannya. sampai sekarang Jack selalu menggangguku."
" kesal mu mungkin karena cinta."
" ya ampun mama, Almira juga baru kenal masa udah jatuh cinta gitu aja".
Setelah makan malam Almira masuk kamar, terlintas lagi nama Jack dalam benaknya. sungguh membuat nya ingin selalu menutup dalam-dalam Jack dalam pikirannya.
" astaghfirullah, mungkin kah ini takdir bagiku. dulu aku menyia-nyiakan Azzam yang selalu baik dengan ku. kini aku ketemu Jack yang selalu bikin aku kesal. " Almira menutup wajahnya dengan bantal. untuk malam ini Almira mulai berniat untuk shalat istikharah meminta petunjuk sama Allah.
***
Mobil yang biasa di gunakan Azzam kini berhenti tepat di depan rumah Abah, ada Aisha yang masih menunggu. Sang suami pun pulang malam karena ada urgent, Abah dan umma menemani di ruang keluarga. Hamdan pun belum pulang katanya ia ada kunjungan perusahaan cabangnya di Bandung.
" Assalamu'alaikum" Azzam memasuki rumah Abah dengan membawa sedikit cemilan yaitu martabak tapi kali ini yang di bawanya martabak dengan sedikit gula. Karena Abah tidak bisa konsumsi gula terlalu banyak.
" wa'alaikumsalam" jawaban dari semua penghuni rumah. Azzam menyalami semua nya juga sang istri tak lupa ia mencium keningnya.
" bawa apa mas kok hangat" kantong yang di bawa Azzam tersenggol tangan Aisha.
" martabak kesukaan Abah"
" emang anak Abah ini tau aja yang Abah mau " Abah senyum-senyum melihat kantong yang di bawa azzam.
" biar umma yang siapkan Aisha, biarkan suamimu bersih-bersih dulu kamu temani."
" iya umma " Aisha dan Azzam naik ke atas. dan saat di depan foto yang terpajang di kamar itu Azzam berhenti.
" kamu tetap sahabat terbaikku sampai kapanpun, semoga nanti kita di pertemukan lagi di akhirat kelak".
" aamiin, selalu doakan saja mas. mas Hanafi pasti juga ikut bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya"
__ADS_1
" iya sayang,,, kamu liat fi Aisha hamil sebentar lagi kita akan punya anak dan hebatnya lagi dalam perut Aisha ada dua bayi. kita bagi ya satu buat aku yang satu nanti buatmu" Azzam tertawa sambil mengelus perut Aisha.
" astaghfirullah mas emang kue bisa di bagi " keduanya terkekeh. kemudian Aisha menyiapkan baju untuk suaminya. Azzam masuk kamar mandi, sebelumnya Azzam melarang Aisha kali ini semasa hamil untuk menyiapkan air. karena Azzam takut jika Aisha terpeleset. kurang lebih 20 menit akhirnya mereka turun ke bawah menemui Abah dan umma. Terdengar pula suara mobil berhenti di halaman, sepertinya Hamdan yang pulang.
" mungkin itu Hamdan ma " umma membukakan pintu betul ternyata Hamdan yang pulang.
" assalamu'alaikum ma"
" wa'alaikumsalam " Hamdan masuk kemudian duduk berkumpul bersama Aisha dan Azzam terlihat sekali rasa lelahnya.
" wah ada kopi juga martabak pas banget ini" Hamdan langsung melahapnya.
" ya ampun Hamdan cuci tangan mu dulu nak " umma meneriaki Hamdan.
" sudah ma tadi sebelum masuk Hamdan cuci tangan di luar. enak sekali ma beli di mana ini ". Hamdan tanpa terasa sudah habis dua potong.
" dekat rumah sakit " Azzam kemudian menyeruput kopi manisnya.
" pulang sampai larut Ndan banyak pekerjaan". tanya Aisha.
" tadi berkunjung ke cabang perusahaan yang ada di Bandung kak, ada masalah sedikit di sana"
" ya ampun ma biarkan Hamdan lulus dulu baru pikirkan istri."
" kelamaan " Aisha dan azzam begitu juga Abah terkekeh kala melihat hamdan di sudutkan.
" sudah-sudah kita makan martabak nya, Aisha dan Azzam ke sini bukan mau liat kalian bertengkar." ucap Abah.
" kopinya enak sekali ma, pas bener" Hamdan kembali menyeruput kopi nya.
" rencana lahiran di mana sha "
" di rumah sakit aja ma, sama dokter Almira "
" di mana aja yang penting bayimu dan ibunya sehat"
__ADS_1
" iya ma, rasanya Azzam ngga sabar " ucap Azzam.
" apalagi Abah pingin gendong cucu "
" Hamdan juga bah pingin ada yang panggil uncle "
" bayinya cuma dua jangan di pakai untuk rebutan, umma juga pingin gantiin popok cucu "
perbincangan mereka berakhir di pukul 21.30 semuanya masuk kamar masing-masing.
***
Di waktu sepertiga malam ada seorang Azzam yang berdoa untuk keselamatan dan kesehatan istri dan bayinya. ada Almira yang sedang menentukan pilihan untuk masa hidupnya juga ada Zakia yang sangat resah atas lamaran yang di ajukan umma dan Abah. Bersujud memohon petunjuk atas keresahan dalam hati. Setelah berdoa Azzam melantunkan ayat suci Al Quran nya hingga waktu subuh, Aisha tadi bangun ikut shalat empat rakaat saja kemudian ia kembali tidur. Almira tidur lagi tapi dalam mimpinya seolah ada Jack yang membawa cincin pernikahan untuk nya. Zakia masih terjaga hingga subuh melantunkan ayat suci Al Quran nya dan berdzikir.
" astaghfirullah..." Almira terbangun tatkala perasaan nya suara Jack membangunkan nya.
" ya Allah ini hanya perasaan ku saja karena mimpi itu, ya Allah apa itu petunjuk Mu untuk ku. aku akan tetap berkali-kali meminta petunjuk mu ya Allah sebelum aku mengambil keputusan". Jack mempunyai wajah blasteran, ibunya orang Indonesia namun ayahnya orang Amerika.
Almira kemudian menuju kamar mandi berwudhu kembali untuk melakukan shalat subuh. Azzam membangun kan istrinya setelah pulang dari masjid dekat rumah Abah. Aisha menggeliat kala suaminya menciumnya, mengelus kepalanya Azzam selalu pelan-pelan membangun kan Aisha.
" sayang sudah subuh shalat dulu"
" masih ngantuk mas,"
" mau tidur lagi,."
" aw.." Aisha berteriak kala terasa perutnya ada yang menendang nya.
" ada apa sayang.. " Aisha malah terkekeh membuat Azzam heran
" ini mas anakmu suruh bundanya bangun, ia tak ingin bundanya tidur lagi ".
" MasyaAlloh nak sudah bangun juga," Azzam mengelus perut istrinya kemudian meletakkan telinganya di perut Aisha.
" iya ayah bunda belum shalat subuh " keduanya cekikikan kala Aisha menirukan suara anak kecil. Aisha kemudian bangun dan melaksanakan shalat, Azzam melanjutkan dzikir paginya. Setiap pagi mereka melakukan jalan pagi, Azzam selalu setia menemani sang istri. perutnya semakin membesar dua bulan lagi melahirkan. Kebahagiaan dua insan itu akan sempurna tatkala hadirnya buah hati mereka.
__ADS_1
_____
bersambung