
" sebenarnya mas sangat merindukan mu dek, peluk mas lebih lama lagi "
Hanafi semakin mengencangkan pelukannya begitupun Aisha membalas pelukan dari sang suami. berkali-kali Hanafi mengecup kening istrinya hingga ke kelopak mata Aisha yang indah, hidung yang mancung, pipi merona hingga berhenti di bibir Aisha yang manis. keduanya terbuai dengan indahnya cinta mereka.
Hanafi tetap belum kuasa untuk menceritakan semuanya, sebenarnya malam itu sebelum mereka memadu kasih Hanafi sangat ingin berbicara tetapi rasanya tercekat mulutnya tak kuasa berbicara lagi.
Hanafi terbangun ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Hanafi bergegas bangun untuk membersihkan diri dan akan melaksanakan shalat tahajud, kegiatan rutin yang hanafi jarang tinggalkan. Melihat Aisha yang tertidur pulas Hanafi tak ingin menganggu tidur kekasih halalnya itu.
rakaat demi rakaat di lewati semakin lama dalam sujud terakhir nya. tak tau doa apa yang dilantunkan oleh Hanafi disujud terakhirnya shalat malamnya.
Selesai melakukan salam Hanafi berdzikir, kemudian mengangkat kedua tangannya hendak mengadu kepada sang khalik atas semua kegundahan dalam hidupnya.
" Ya Allah yang maha pengasih maha penyayang, yang memberi kami kehidupan dan kematian, pemberi rezeki dan kebahagiaan. hamba yang lemah dan tak berdaya kecuali atas izinMu. ikhlaskan hati ini atas semua yang telah Engkau tetapkan ya Allah, semua sudah di takdirkan bagaimanapun kami tak akan bisa berlari. Kuatkan selalu hati kami, berikanlah seribu kesabaran untuk diriku. Ya Allah ketika telah waktunya tiba mudahkan bibir ini untuk memberitahu istri dan kedua orang tuaku ya Rabb. berikanlah keikhlasan untuk mereka, tak ada yang lebih baik dari ketetapanMu. Jaga istriku dan orang tua ku serta semua orang yang aku sayangi, matikanlah aku dalam keadaan husnul khatimah kuserahkan semuanya kepadaMu. Hamba akan terus berusaha ikhlas dengan semua ketetapan ini. Aamiin ya rabbal alamin"
meneteslah air mata Hanafi yang selama ini ia bendung tak ingin penderitaan nya ia bagikan ke semua yang ia sayangi.
Tanpa ia ketahui ternyata Aisha juga menangis di balik selimutnya mendengar semua doa suaminya, Aisha masih berpura-pura tidur ia juga tak ingin suaminya sedih. Aisha berharap suaminya segera mengatakan kepadanya agar cepat dilakukan pengobatan dengan pendamping nya tak perlu di sembunyikan lagi.
Kembali Hanafi bersujud kepada Rabbnya.
Hanafi menghampiri Aisha yang ia tau masih tertidur. Hanafi mengelus kepala istrinya dengan lembut seraya berkata, " yang kuat istriku kamu wanita terbaik istri salihaku "
air mata kembali menetes.
tampak Aisha yang menggeliat, terganggu dengan sentuhan lembut sang suami. Hanafi pun segera menghapus air matanya.
" mas, udah bangun..." sambil mengucek matanya.
" udah mas juga sudah shalat, mandilah dan shalat setengah jam lagi adzan subuh " Aisha mengangguk dan berlalu ke kamar mandi.
Hanafi menyibukkan diri berdzikir dan membaca Al Qur'an, menunggu Aisha yang masih mbersihkan dirinya.
***
" Mas mau kemnaa kenapa rapi sekali, mas baru saja tiga hari yang lalu keluar rumah sakit apa tidak sebaiknya mas istirahat dulu sampai mas sembuh total" tanya Aisha yang mendapati Hanafi sudah dalam keadaan rapi.
__ADS_1
" mas akan mulai masuk kampus dek, sudah cukup lama meninggalkan pekerjaan." Hanafi nampak sibuk menata semua buku dan berkas yang akan di bawanya.
Aisha sedang merapikan ranjangnya sambil sesekali melirik suaminya itu. Dan tepat di kaki Aisha melihat map yang tergeletak jatuh tepat di kakinya. Aisha melihat semua isinya, ternyata itu hasil Rontgen dari rumah sakit.
" mas apa ini "
Hanafi menoleh dan terkejut mendapati instrinya sudah memegang map itu. Hanafi tak pernah mengeluarkan dari tas kerjanya karena ia tau Aisha tak pernah mbuka sesuatu tanpa seizinnya.
" Oh bukan apa-apa dek, sini mas bawa "
Aisha sudah mengetahui semua, hanya saja Aisha ingin suaminya yang mengatakan langsung. semenjak sakit Hanafi tidak diperbolehkan pulang terlebih dahulu oleh orang tuanya dan itu di setujui oleh Aisha.
***
Sudah ada satu Minggu Hanafi berangkat beraktivitas seperti biasa, itupun tidak berangkat dan pulang sendiri ada pak supir yang setia menemani. Dan keesokan harinya setelah melakukan aktivitas yang sangat melelehkan Hanafi merasa sakit kepala lagi.
Dan tiba-tiba iapun jatuh pingsan saat keluar dalam kantor ingin segera pulang karena pelajaran usai.
Semua orang mendekat melihat kejadian itu, bahkan Hamdan yang masih didalam kelas mendengar kabar itu terkejut dan lari.
" pak Hanafi pingsan dan sekarang ada di Uks "
Hamdan langsung berlari menuju ruang UKS.
disana ia melihat tubuh kakanya yang terbaring pucat. Hamdan langsung memanggil semua orang yang ada disana meminta bantuan agar kakaknya bisa segera di bawa ke rumah sakit.
" tolong saya pak, bawa kakak saya ke mobilnya "
" ada apa dengan Hanafi nak hamdan"
" kakakku sakit harus segera di bawa ke rumah sakit pak "..
pak Tarman selaku satpam di kampusnya segera membantu Hamdan membawa Hanafi masuk ke mobil. Hamdan langsung mengemudikan mobil Hanafi ke rumah sakit dan motor Hamdan ditinggalkan, sebelumnya hamdan menelepon untuk Tomi agar membawa motornya pulang ke rumah. Hamdan menitip kan kunci motornya pada pak Tarman.
sesampainya di rumah sakit perawat segera membawa Hanafi ke UGD. Dokter yang biasa menangani Hanafi langsung sigap memeriksa nya. Hamdan masih sibuk menelepon kakak iparnya Aisha agar segera menyusul ke rumah sakit.
__ADS_1
" Aisha ada apa kenapa kamu panik, " tanya umma melihat kegelisahan menantunya setelah menerima telepon.
saat itu umma dan Aisha sedang berada di ruang tengah membicarakan tentang masakan kesukaan masing-masing keluarga.
karena memang Aisha sejak menikah bersama Hanafi tak tau makanan kesukaan Anggota keluarga nya itu. saat itu Aisha tak lama tinggal dirumah mertuanya selepas menikah, ia langsung di bawa Hanafi ke rumahnya.
" mas hanafi dibawa ke rumah sakit umma " raut wajah Aisha masih tampak panik.
" kenapa dengan Hanafi, tadi pagi ia terlihat sehat "
" iya ma, Aisha pamit ke rumah sakit dulu ma"
Aisha langsung bergegas mengambil keperluannya dan berangkat di antar supir.
sesegera mungkin umma mengabari Abah, Abah langsung pulang menjemput umma untuk ke rumah sakit.
sesampainya Aisha di rumah sakit ia hanya melihat Hamdan yang berdiri di depan ruang UGD.
" bagaimana keadaan mas Hanafi dek " tanya Aisha.
" masih ditangani dokter kak belum berkabar hingga detik, kita berdoa kak semoga kak Hanafi baik-baik saja"
" aamiin" ucap Aisha.
pintu ruang UGD dibuka tampak dokter keluar dari dalam.
" bagaimana dok, " tanya langsung Hamdan.
" maaf saya harus katakan pada kalian, saya ingin kalian menandatangani persetujuan operasi. ini ngga bisa di tunda lagi kanker nya sudah cukup menyebar" ucap dokter dengan sangat beratnya menyampaikan kabar ini.
" lakukan yang terbaik dok " semuanya menoleh ke arah suara, ternyata Abah dan umma yang datang. mereka mendengar semua yang dokter katakan, kabar yang sangat memukul kedua orang tua yang sudah tidak muda lagi itu.
umma hanya menangis merasa terpukul dengan kabar itu.
" lekas lakukan tindakan operasi dok, saya ayahnya saya akan tanda tangani" bijaknya ucapan Abah membuat semuanya diam.
__ADS_1
bersambung...