Titip Istriku

Titip Istriku
dokter baru


__ADS_3

Bukannya membaik tetapi keadaan Hanafi semakin lemah saja, wajahnya pucat. meskipun itu Hanafi berusaha untuk tersenyum menguatkan keluarga nya dan dirinya. Sakitnya sudah tidak dirasakan lagi karena seringnya ia merasakan efek obat dan kemoterapi sudah tidak lagi sesuai harapannya.


Hari ini ia akan di rawat lagi dirumah sakit untuk melakukan kemoterapi. Seperti apa yang di katakan dokter bahwa kali ini ada dokter pengganti bukan ia lagi hanya untuk sementara.


" sudah siap berangkat kak" ucap Hamdan sambil membereskan apa yang akan di bawanya.


" iya tunggu kak Aisha sebentar mengambil sesuatu yang tertinggal di kamar" setelah menunggu akhirnya Aisha keluar dan siap berangkat ke rumah sakit.


" oh ya hari ini dokternya baru ya "


" iya dokter bilang akan menggantikan dokter untuk sementara." Hamdan mengangguk kemudian ia fokus mengendarai mobil nya.


Sesampainya di rumah sakit Hanafi langsug melakukan perawatan, dokter belum datang menemuinya ia masih menangani pasien yang baru saja mengalami kecelakaan.


" Tunggu ya pak, dokter sedang ada pasien darurat. Bapak istirahat dulu kemungkinan kemoterapi akan di lakukan siang nanti" Hanafi mengangguk.


Hamdan pamit, ia akan pergi ke kantor hari ini ada pertemuan dengan papanya anita. ia akan kembali kerumah sakit siang nanti.


" Kak Hamdan pamit dulu ya mau ke kantor"


" iya Hamdan hati-hati " ucap kedua kakak nya itu.


Hamdan langsug berlalu meninggalkan rumah sakit.


Kunjungan dokter sudah tiba waktunya, Hanafi masih dalam kondisi masih di infus. Seperti biasa sebelum kemoterapi harus diadakan perawatan supaya tubuhnya stabil.


Dokter datang tersenyum kepada pasien langsug memeriksa Hanafi, dokter baru sebagai pengganti sementara dokter yang lama saat ini yang menangani.


" kita adakan kemoterapi nanti siang ya pak, setelah darah bapak normal dan kondisi nya stabil. Sekarang banyak istirahat dahulu."


Hanafi tertegun seperti mengenal dokter itu, teman lamanya. Ia penasaran akhirnya langsug menyapa dokter pengganti itu.


" Azzam,,, bukankah kamu Azzam..." dokter itu tersenyum mungkin saja pasien melihat nama tag yang dipakai di baju nya.


" iya nama saya azzam pak.."


" Azzam Mahardika anak dari bapak Yusuf Mahardika bukankah kamu, lulusan SMA taruna" Dokter Azzam mengerutkan keningnya mengingat wajah pasien yang begitu familiar ini.


" Astaghfirullah, Hanafi benarkah kamu Hanafi" Azzam seperti tak percaya dirinya ketemu sahabat lamanya.


Saat itu dirinya harus melanjutkan kuliah kedokteran nya dan Hanafi ke Mesir, sudah hilang kabar mereka karena di saat di Mesir Hanafi kehilangan handphone nya.


" Iya aku Hanafi teman SMA "


Azzam langsung menitikkan air matanya, di samping air mata bahagia juga air mata kesedihan. Bahagia ia bisa bertemu sahabat lamanya dan sedih melihat keadaan Hanafi yang pucat keplaa tanpa rambut.

__ADS_1


" Aku ngga percaya bisa bertemu dengan mu Hanafi setelah sepuluh tahun lamanya".


" Kamu apa kabar Azzam?" tanya Hanafi.


" seperti yang kamu liat, alhamdulilah aku baik"


" kamu sendiri Hanafi kenapa bisa seperti ini" raut wajah Azzam berubah menjadi sendu.


" seperti yang kamu lihat juga Azzam, Allah menyayangi ku memberi ujian kepada ku"


" Semoga Allah mengampuni dosamu dan segera Allah angkat penyakit mu."


" aamiin" ucap Azzam.


" Dokter Azzam, wah aku ngga percaya kamu bisa sukses begini jadi dokter. Padahal aku inget dulu waktu sekolah kamu selalu hilang menjadi buronan pak Ahmad" Hanafi tertawa.


" Kamu masih ingat saja Hanafi, haha..." Azzam tertawa lepas.


" Bagaimana tidak ingat semua memori kita saat SMA masih melekat di kepala ku meskipun aku sakit kanker otak."


Hanafi tersenyum terlihat bahagia kali ini tertawa nya lepas.


Aisha pun ikut bahagia melihat suaminya tertawa lepas seperti tidak ada beban.


" Hanafi maaf aku tidak bisa lama, nanti setelah aku selesai memeriksa pasien dan tidak ada yang darurat aku kembali kesini. kamu punya hutang padaku, ceritakan hidupmu selama kita tidak bersama."


" aku ngga pernah menerima penolakan. okey, minum obatmu tepat waktu dan istirahat lah." Hanafi mengangguk.


Azzam pamit ia akan menyelesaikan tugasnya terlebih dulu.


" Siapa mas" tanya Aisha.


Aisha bertanya setelah melihat azzam sudah keluar dari ruangan nya.


" Dia Azzam sahabat mas dari SMA "


" Dokter pengganti itu sahabat mas, jadi mas mengenal nya"


" hmmm... iya kami terpisah saat kami harus melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Azzam di paksa ayahnya untuk melanjutkan di kedokteran."


" Syukurlah mas jadi kita akan lebih mudah kembali untuk berkomunikasi" Hanafi mengangguk.


***


Pertemuan bisnis antara papa Anita dan hamdan lancar tidak ada hambatan, rencana bekerja sama pun terjalin. Proyek yang di tawarkan papa Anita lumayan sangat menguntungkan perusahaan Hamdan.

__ADS_1


" Terimakasih nak Hamdan sudah memenuhi undangan kami" ucap papa Anita.


" Iya pak sudah menjadi tugas saya, ini bisnis hasilnya akan menyangkut masa depan banyak orang".


" meskipun masih terbilang muda pemikiran mu sangat brilian sekali" puji papa Anita.


" Saya tidak sendiri pak ada orang hebat yang selalu mendampingi saya" sambil menepuk pundak zidan bawahannya itu. Zidan tersenyum, selalu Hamdan tak pernah sombong ia selalu bawa Zidan dalam hal ini .


" Baiklah pak terimakasih juga atas kerjasamanya mudah-mudahan agar cepat terlaksana dan mbawa hasil yang baik"


Hamdan pamit permisi mengundurkan diri, karena ia tak ingin lama membuang waktu setelah pertemuan dengan papa Anita ia kembali ke perusahaan menyelesaikan pekerjaan yang lainnya lagi kemudian ia harus segera ke rumah sakit.


" Zidan kamu pimpin rapat hari ini saya harus pergi ke rumah sakit, bahan meeting sudah ada di dalam map ini. Silahkan kamu sampaikan kepada karyawan kita, keputusan yang terbaik kamu yang memutuskan. saya percaya padamu zidan".


" Bapak tidak keberatan dengan keputusan yang saya ambil nanti apa tidak sebaiknya bapak saja yang memimpin itu akan lebih baik"


" Tidak keputusan mu adalah keputusan ku dan selalu itu yang terjadi bukan. Saya harus ke rumah sakit kak Hanafi hari ini kemoterapi saya harus menemaninya" ucap Hamdan menjelaskan.


" Bagaimana keadaan pak Hanafi" tanya zidan.


" Entahlah aku tidak tega melihat nya, semakin hari makin lemah saja kak Hanafi. doakan ya Zidan kak Hanafi lekas sehat kembali"


" saya selalu mendoakan untuk kesembuhan pak Hanafi, semoga Allah segera mengangkat penyakit nya."


" aamiin terimakasih kasih Zidan, ini berkas semua ada disini saya harus segera pergi" Hamdan menyerahkan semuanya kepada Zidan.


Hamdan segera membereskan pekerjaannya ia sesegera mungkin pergi kerumah sakit lagi.


***


Sesampainya di rumah sakit Hamdan berjalan menyusuri lorong, ia cepat ingjn sampai di mana Hanafi di rawat.


" Jangan lari lexa nanti kamu jatuh " teriak ibu-ibu kepada anaknya.


brugh...


benar anak yang berumur sekitar tujuh tahun itu menabrak orang yang sedang berjalan.


seorang wanita yang di tabraknya terjatuh, buku yang ia bawa jatuh berserakan. Mengetahui itu Hamdan langsug terkesiap membantu anak kecil itu lalu ikut merapihkan buku wanita itu.


" Mama bilang jangan lari, ayo minta maaf"


Hamdan menyerahkan anak kecil itu ke orang tuanya.


" Kak Hajar....

__ADS_1


_____________


__ADS_2