
Hamdan lekas menyelesaikan pekerjaannya sebelum ia pulang ke kantor, ia sangat lelah sekali. Kiran nampak sudah bersiap pulang begitu juga dengan zidan.
" Kelihatan lelah sekali sih bos, kalau lelah kenapa kamu tadi ke kantor " tanya Zidan berjalan menghampiri hamdan.
" Mau balik rasanya kok males, apalagi soal umma yang selalu ngomongin hal itu melulu. males aku Zidan" Zidan mengerut kan keningnya mencoba untuk menebak pikirannya sendiri.
" Mungkin ada hal penting yang umma ingin katakan padamu, ngga ada salahnya kamu mendengar kan dulu atau menuruti apa yang umma perintah kan" Zidan menasehati bos muda nya itu.
" Andai saja bisa aku lakukan sekarang mungkin ngga akan menunggu, apa yang di inginkan umma itu soal hidupku. Aku bukan seperti kak Hanafi yang selalu mengiyakan keinginan umma."
" memang apa yang umma inginkan dari dirimu, pasti hal serius ya. memang orang tua itu selalu ingin yang terbaik untuk anaknya" ucap Zidan kembali sambil jalan.
" Umma ingin aku menikah dengan wanita pilihan umma." Zidan menahan rasanya ia ingin tertawa apalagi melihat tampang lesu bos mudanya itu.
" Baguslah kenapa ngga mau"
" kamu itu zidan, pernikahan itu sakral menurut aku. dan aku ingin menjalani nya dengan wanita yang benar aku cintai, karena menikah itu untuk selamanya seumur hidup bukan untuk sebentar. Aku menginginkan rumah tangga yang di dalamnya penuh cinta dan kasih sayang. "
" iya memang betul apa yang kamu katakan, menikah itu tidak hanya ngasih makan anak orang, ada hal yang perlu di bangun dalam rumah tangga itu. sakinah mawadah warahmah kan tujuannya, mungkin sulit jika di jalaninya tidak dengan cinta" Zidan terpikir siapa yang akan jadi istrinya nanti, bahkan sampai sekarang ia tidak punya wanita yang dekat dengannya. Hanya zakia yang selalu ngikutin kemanapun, wajar jika banyak orang beranggapan itu istrinya. mereka pun tinggal di kota ini baru.
" nah itulah Zidan umma begitu mendesak ku tiap waktu, semenjak kak Aisha sudah ngga ada di rumah itu ia menginginkan teman lagi."
" apa ngga wanita yang kamu taksir gitu " Hamdan melirik Zidan sebelum melanjutkan langkahnya ia sejenak berhenti di ikuti oleh zidan.
" ada seseorang"
" nah itu, pepet lah lamar jangan sampai keduluan orang"
" masalah nya bukan itu zidan, sepertinya tidak mungkin ia ku miliki"
" loh kenapa...."
" dia sudah milik orang lain"
__ADS_1
" what apa maksud mu kamu menyukai istri orang ".
" sudah-sudah aku ngga mau bahas ini, ayok antarkan aku pulang". Zidan pun menuju parkiran bergegas akan pulang, hamdan bersama nya.
drrrrttttt...
" assalamu'alaikum kak" terdengar suara dari ujung telepon.
" wa'alaikumsalam kenapa kia"
" kenapa kia kamu dimana belum pulang"
" belum kak, kak zidan udah pulang belum bisa jemput KIA"
" iya sayang tunggu di situ kebetulan kakak mau pulang ini"
"oke kia tunggu, assalamu'alaikum"
" wa'alaikumsalam" Zidan menutup teleponnya lalu menengok ke arah Hamdan yang sedang memegang pelipisnya mendengar Zidan menyebut KIA sayang, Hamdan cemburu akut yang tersembunyi.
" ngga usah kasihan kia menunggu lama, jemput kia dulu ngga apa-apa" dalam hati ingin melihat wanita itu tapi ia cemburu melihat Zidan dan kia. Akhirnya Zidan belok ke arah kampus kia. Diperjalanan tak ada obrolan kia diam, Zidan juga diam ia memberi isyarat kepada kia agar diam karena saat itu Hamdan tertidur di mobil karena lelah. sesampainya di depan rumah kia melihat umma sedang menyirami tanaman bunga kesayangan umma, umma pun menoleh ketika melihat mobil berhenti di depan rumah. mau tak mau zidan pelan-pelan membangun kan Hamdan yang sebenarnya ia tak tega terlihat sangat lelah. kia turun sebentar melihat umma dan mendekati kemudian mencium tangan umma yang sudah keriput itu.
" Assalamu'alaikum umma"
" wa'alaikumsalam sayang, MasyaAlloh sama Zidan"
" iya itu ngantar bos hamdan".
" mampir dulu yuk tadi umma bikin puding kesukaan Hamdan" tanpa mendengar jawaban iya, umma menarik tangan Zakia untuk masuk ke dalam. Zidan yang melihatnya mengikuti masuk ke rumah umma, hamdan jalan dengan sempoyongan masuk ke dalam rumah ia melihat umma dan kia yang sedang menikmati puding nya mereka tertawa renyah seperti anak dan ibu akrab sekali. Dulu waktu masih ada aisha di rumah umma sering sekali mengobrol berdua seperti itu, semenjak Aisha pergi umma terlihat sangat kesepian. Hamdan tersenyum melihat kedekatan mereka.
" Hamdan, Zidan kesini cepet kita makan puding dulu segar sekali rasanya. iya kan kia" di jawab anggukan oleh kia dengan senyuman manisnya di balik cadar itu. Zidan dan hamdan pun menghampiri umma dan kia bergabung ikut makan puding itu.
" Hamdan kalau calon istrinya seperti kia ini bagaimana"
__ADS_1
" uhuk...uhuk... " Hamdan terbatuk-batuk, Zakia spontan mengambil kan minum untuk Hamdan.
" pelan-pelan Hamdan jangan terburu-buru, makan puding bisa keselek" Zidan menepuk punggung Hamdan.
" kalian lanjutkan saja habiskan puding nya ya, maaf aku lelah sekali ingin istirahat" Zidan mengangguk, Hamdan langsung berlalu naik ke atas.
" hayuk kita habiskan yang satu ini baru kalian boleh pulang, Hamdan itu begitu kalau umma bicarakan soal wanita dia menghindar terus." Mereka bertiga sangat lahap menghabiskan puding lezat itu.
****
" sayang bangun shalat dulu keburu Maghrib nanti" Azzam membelai wajah istrinya yang masih terlelap terlihat sangat lelah.
" emang jam berapa mas, Aisha masih ngantuk sekali" Aisha mencoba membuka matanya yang berat.
" udah jam setengah lima, hayuk bangun dulu" Aisha langsung terbelalak terbuka matanya, Aisha biasa melakukan shalat awal waktu. ia selalu merasa bersalah jika shalat sampai ia undur.
" astaghfirullah mas kenapa ngga bangunkan Ais dari tadi mas" Aisha langsung turun dari ranjang mengikat rambutnya ingin beranjak ke kamar mandi.
" tadi udah mas bangunkan pas adzan tapi sayang masih enak di alam mimpi, mas ngga tega liat kamu lelah jadi mas biarin tinggal mas shalat dulu.
" ya Allah mas lain kali jangan gitu ya, siram Aisha pakai air kalau ngga bangun" Aisha bergegas masuk ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Azzam geleng-geleng melihat istrinya yang tadinya sangat lembut semenjak hamil ini tingkahnya sedikit aneh, tiba-tiba sering marah-marah membuat Azzam kewalahan. kalau minta sesuatu harus di turuti. Tapi Azzam mengerti ini adalah hal sangat mereka tunggu kehadiran si buah hati, bukti cinta mereka berdua. Berharap semuanya berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Azzam berjanji pada dirinya akan lebih siaga lagi terhadap istri yang sangat di cintai nya itu.
____
bersambung...
happy weekend kakak readers semua trimakasih sudah setia dengan novel ini.
dukung author untuk berkarya lebih baik lagi. dengan kakak rajin like, komen, kasih hadiah ataupun vote.
dukungan kalian sangat berarti buat author.
__ADS_1
salam sayang dari author *Fenitri azzukhruf* 🥰🥰🥰.