
" Titip istriku zam, aku tidak tau sampai kapan akan bertahan. esok atau lusa aku akan pergi, bukannya aku tidak percaya dengan keajaiban. aku percaya hanya saja aku takut tidak bisa meninggalkan pesan terakhir ku." luluhlah buliran air mata Hanafi yang selama ini ia pendam.
Diluar ada Hamdan yang tadinya ia ingin masuk tapi tidak jadi mengurungkan niatnya itu. Hamdan mendengar kata-kata kakaknya yang menitipkan istrinya kepada azzam.
" Hanafi apa yang kamu katakan, aku tidak mengerti. jangan seperti ini Hanafi aku tidak mungkin bisa" azzam meninggikan suaranya sedikit.
" Tolong aku azzam kabulkan permintaan ku, cintai Aisha, lindungi dia hiduplah bahagia bersamanya. aku percaya padamu" ucap Hanafi lagi.
" fi..."
" ku mohon zam kamu sahabat ku jangan tolak permintaan ku zam. anggap ini permintaan terakhir ku " Hanafi memotong ucapan Azzam yang ingin menolak permintaan Hanafi. Azzam pun sudah tidak bisa berkata lagi langsug memeluk Hanafi ia pun ikut mengeluarkan air mata. kenapa sahabat nya harus bicara seperti itu, pertemuan mereka justru malah membuat kesedihan di hati Azzam.
Hamdan mendengar nya iapun menangis di balik pintu kamar rawat inap yang di tempati Hanafi.
" Berjanjilah kepada ku fi bahwa kamu akan semangat berusaha untuk sembuh, aku hanya sebentar dsini aku tidak bisa merawatmu terlalu lama. sebenarnya aku ingin mendampingi mu hingga kau sembuh. tapi bulan depan aku akan pergi melanjutkan untuk sekolah spesial bedah. Kamu harus janji kalau kamu akan sembuh, saat aku pulang aku selalu akan bertemu dengan mu fi" Hanafi mengangguk mendengar penuturan sahabat nya.
" kabulkan permintaan ku azzam jika hal itu akan terjadi"..
" maaf Hanafi aku tidak bisa berjanji"
" kalau begitu kabulkan permintaan ku sebagai sahabat mu untuk terakhir kalinya" azzam menghembus nafas berat ia tak mau membalas lagi ucapan Hanafi.
Terdengar suara pintu di buka, keduanya terdiam menghentikan pembicaraan. Hamdan langsug ikut nimbrung seolah ia tidak tau barusan yang terjadi.
" Belum ada jadwal makan sore buatmu kak"
" belum mungkin sebentar lagi" ucap azzam.
" oh ya kak azzam bagaimana kabar orang tua kakak" tanya Hamdan.
" Alhamdulillah mama baik sehat, papa sudah meninggal lima tahun yang lalu"
" maaf kami tidak tau, turut berdukacita ya kak" azzam tersenyum dan mengangguk.
Azzam pamit karena ada pasien yang harus di kunjungi. ia akan ikut menjaga Hanafi malam nanti bersama Hamdan agar Aisha bisa pulang untuk beristirahat. pasalnya Aisha agak ngga enak badan ia bersin-bersin daritadi.
saat keluar Azzam berpapasan dengan Aisha, Aisha menunduk menandakan hormat tidak langsung menatap Aisha. Azzam mengingat hal yang barusan terjadi memang ada perasaan yang aneh saat bertemu Aisha, pandangan pertama nya langsung membuat hatinya beedesir.
" Kak Aisha pulang saja, seperti nya kak Aisha kurang sehat biar aku yang menunggu kak Hanafi" ucap hamdan.
__ADS_1
" Kakak ingin menunggu mas Hanafi dan" Aisha kekeh padahal ia tidak enak badan.
" Aisha pulanglah istirahat dirumah, kalau kamu sakit nanti siapa yang akan merawatku. biarkan mas sama Hamdan nanti Azzam juga akan menunggu mas malam ini. jadi pulang lah biar pak supir yang menjemput mu"
" tapi mas..." Hanafi mengangguk agar Aisha setuju.
Akhirnya Aisha tidak bisa membantah karena memang ia lagi ngga enak badan.
***
Azzam minta izin kepada mamanya bahwa malam ini ngga akan pulang, ia akan ikut menjaga Hanafi. Mama nya Azzam pun mengerti, diingatnya sewaktu Azzam sakit Hanafi yang menunggu sampai satu Minggu.
Malam itu azzam menunggu Hanafi, ketiga laki-laki itu berbincang banyak. Hamdan pun selalu membuat suasana menjadi hidup. ada banyak canda dan tawa, setelah pukul 10 malam Azzam meminta Hanafi untuk beristirahat. Azzam tidur di sofa begitu juga dengan Hamdan.
ditengah malam sekitar pukul 02.30 Hanafi bangun, ia akan melakukan shalat tahajud itu kebiasaan rutinnya. Azzam yang belum tidur setelah ia melakukan shalat malam pun melirik Hanafi.
didalam doanya Hanafi mendoakan seluruh keluarganya dan kebaikan untuknya.
" ya Allah aku ikhlas dengan takdir ini, matikan aku dalam keadaan Husnul khatimah. ya Allah jangan biarkan hatiku merisaukan segala hal yang sudah Engkau atur. Jaga seluruh keluarga ku dan juga istri ku, jika memang Engkau akan cepat memanggilku aku titip istriku berikan pendamping yang mencintainya melebihi cintaku padanya. Aku tau ya Allah Engkau sangat menyayangi ku, ampuni segala dosa-dosa ku. Aku berlindung kepada Mu dari segala hal yang Engkau larang".
Azzam mendengar doa Hanafi ia merasa sangat sedih, sahabat nya akan mengalami hal seperti ini. Di rumah Aisha pun shalat malam dan mendoakan suaminya, lalu mengaji hingga adzan subuh berkumandang.
Hamdan bangun begitu juga dengan Azzam, mereka tidak keluar kamar melainkan shalat berjamaah dengan Hanafi.
Di pagi hari Azzam mengajak Hanafi berjalan menyusuri taman rumah sakit, keduanya banyak cerita seperti belum habis bahan cerita mereka. Masa lalu nya SMA yang sangat menyenangkan, masa-masa paling indah kalau orang bilang.
Aisha datang ia masuk ke kamar inap dimana Hanafi di rawat, tak melihat seorang pun. kemudian ia keluar kamar didapatinya Hamdan dari kamar mandi belakang.
" mas Hanafi kemana ndan di dalam tidak ada"
" lagi jalan-jalan sama kak Azzam di taman" Aisha hanya ber oh saja kemudian mencari keberadaan suaminya.
" Assalamu'alaikum selamat pagi mas, pagi dok"
" wa'alaikumsalam pagi sayang" Aisha mencium tangan Hanafi. Azzam pun membalas salam dan hanya mengangguk saja.
" mas kenapa merepotkan dokter Azzam, bukankah dokter azzam akan bekerja. maaf ya dok sudah merepotkan".
" tidak apa-apa mbak, bagiku tidak merepotkan Hanafi sahabat saya"
__ADS_1
" panggil saya Aisha saja dok jangan panggil mba, terasa lebih tua saja saya" Aisha tersenyum, senyumnya yang sangat manis pun menghipnotis Azzam. Azzam langsug berpaling dan pamit karena ia akan menjalankan tugasnya.
Hanafi melihat gelagat azzam, Hanafi pun tersenyum pasalnya mana ada laki-laki yang tidak menyukai aisha. ia cantik, baik, sopan, penyayang dan cerdas senyumnya sangat manis membuat laki-laki manapun selalu ingin melihat senyumnya.
" Dokter Azzam baik ya Aisha"
" iya mas baik sekali ia mau menunggu mu semalaman"
" ia sahabat ku sayang kami dulu selalu melakukan apapun bersamaan"
" senang ya mas punya sahabat baik seperti dokter Azzam"
" kelak istrinya pasti akan bahagia"
" dokter azzam belum punya istri mas"
" dokter azzam duda sayang ia berpisah setahun yang lalu dengan istrinya"
Aisha hanya membulatkan bibirnya saja tanda mengerti.
" kamu tidak ingin kepo mendengar ceritanya"
tanya Hanafi.
" tidak mas, untuk apa itu kehidupan pribadi mereka. setiap orang punya cerita hidup masing-masing"
" dan ujian masing-masing" Hanafi berucap membuat Aisha melihat wajah suaminya.
" Sudah yuk kita ke kamar lagi, nanti dokter datang memeriksa mas ngga ada di ruangan" Hanafi menggangguk lalu kursi roda di dorong untuk masuk ke dalam.
***
" Mama kenapa mama sendiri yang antar baju Azzam, kenapa tidak menyuruh sopir saja"
" Mama ingin menjenguk sahabatmu Hanafi"
" oh ya sudah mama tunggu ya, Azzam bersih-bersih dulu nanti Azzam antar"
Mama Raisa menunggu Azzam.
__ADS_1
_______
bersambung...