Titip Istriku

Titip Istriku
jadwal ke dokter


__ADS_3

" ibu... Zidan berangkat kerja dulu ya. nanti kalau sudah selesai berkemas kabari zidan, mungkin Zidan kerja akan sampai siang."


" iya nak hati-hati dan fokuslah bekerja jangan sampai mengecewakan pak Wahyu".


Zidan mengangguk lantas melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


kembali ibu dan zakia membereskan semuanya, kebetulan hari ini Zakia tidak ada mata kuliah.


" jangan sampai ada yang tertinggal Zakia"


"iya Abi"


***


Hari ini ada jadwal Hanafi kontrol ke dokter, Hamdan dan istrinya Aisha sudah siap mengantar Hanafi. Aisha terus menunjukkan sikap tenangnya agar Hanafi pun tampak lebih tenang.


" Mas kita manusia hanya bisa menjalani semua adalah kuasa Allah, yang penting kita terus ikhtiar jangan menyerah"


" iya sayang bismillah mas akan berjuang untuk sembuh, jika pun hasilnya lain kita harus ikhlas mungkin itu yang terbaik dan Allah selalu menyayangi kita."


" Jangan pikirkan ynag lain mas, pikirkan tentang kesembuhan mu tak ada yang tak mungkin bagi Allah." Aisha menggenggam erat tangan suaminya.


" Kakak harus kuat dan terus berusaha jangan menyerah, Hamdan yakin kakak sembuh. Hamdan lelah kak harus kerja ke kantor dan kuliah". ucap Hanafi menyemangati kakaknya.


" Dek kamu pasti bisa menjalani semua ini, kakak yakin dengan kemampuan mu. Jangan bilang lelah, kakak yakin kamu pasti lebih sukses dari kakak."


" Aamiin" jawab Aisha mengaminkan ucapan suaminya.


" Hamdan mau kakak juga membantu Hamdan kak. Abi ngga mungkin sering ke kantor kak, keadaan Abi yang tidak memungkinkan. Hamdan bersyukur ada Zaidan yang bisa di andalkan, ia pekerja keras dan jujur."


" Alhamdulillah, bersyukur lah selalu ada jalan keluar ataupun solusi setiap kesulitan kita.".


Hamdan mengangguk mengiyakan ucapan kakaknya, tapi sekarang setiap Hamdan melihat Zidan ada rasa cemburu ketika mengingat Zakia. Meskipun hanya bertemu sekilas rasa dalam hati Hamdan sudah tumbuh merekah, sebenarnya Hamdan ingin melupakan tapi sulit jika ingat matanya.


sesampainya di rumah sakit Hanafi di temani Aisha langsug masuk keruangan dokter keluarga mereka.


Dokter langsung menyambut dengan sangat ramah kemudian langsung memeriksa Hanafi.


" Bekas luka operasi sudah membaik, keadaan mu juga sudah lebih membaik. kita jadwalkan untuk kemoterapi ya nak Hanafi supaya lebih cepat mati akar kankernya." dokter tersenyum dengan sangat ramah agar pasien bisa tenang.

__ADS_1


" Baik dok saya sudah siap untuk lakukan kemoterapi."


" nak Hanafi harus semangat sembuh supaya mepercepat proses kesembuhan"


setelah satu jam berlalu dokter menyarankan apa yang harus di lakukan pasien. Aisha menyimak dengan sangat serius saran dokter.


" Terimakasih dok " ucap Aisha.


" minum obat yang teratur, banyak istirahat dan jangan stres. tenangkan pikiran supaya saraf otak tidak tegang yang akan menimbulkan rasa sakit." dokter menjelaskan apa yang harus di lakukan pasien.


" baik dok kita permisi dulu, trimakasih." dokter tersenyum dan berjabat tangan dengan Hanafi.


Keduanya keluar dari ruangan tersebut, Hamdan masih menunggu di luar. lagi-lagi Hamdan melihat sosok wanita itu.


Matanya mengikuti arah kemana wanita itu berlalu, sampai tak sadar kakaknya memanggil.


" Hamdan ayo kita pulang, Hamdan..." Hanafi menepuk pundak adiknya itu.


" Eh kak sudah selesai " Hamdan nampak kaget.


" Kenapa kamu melamun, apa yang kamu lihat sampai di panggil tidak menyahut." Hanafi celingukan mencari apa yang hamdan perhatiankan hingga membuatnya melamun.


" Tidak kak, ngga apa-apa. hayuk kita pulang, sudah selesai kan" Hamdan kikuk takut aksinya tadi di sadari oleh kakak dan iparnya.


" ada apa kak" Hamdan terkejut kakaknya minta berhenti seperti ada sesuatu yang penting.


" kamu mau ke kantor atau kampus" tanya Hanafi.


" ada jam kampus nanti kak satu mata kuliah setelah nya Hamdan mau ke kantor" jawab Hamdan.


" kakak ingin jalan ke mall situ" sambil menunjuk salah satu perbelanjaan di kotanya.


" inget kata dokter kakak ngga boleh lelah" ucap hamdan yang masih mengkhawatirkan kakaknya.


" iya mas, ada yang penting mau di beli biar nanti Hamdan pulang kampus saja di belikan. titip ke Hamdan, mas harus banyak istirahat." Aisha juga mengkhawatirkan suaminya.


Seharusnya Hanafi banyak istirahat tidak boleh terlalu lelah.


" kenapa kalian menganggap ku lemah seakan-akan aku benar-benar tidak bisa kemana-mana" Hamdan dan Hanafi saling pandang merasa terkejut dengan ucapan Hanafi, tak biasanya ia bicara sedikit meninggi dan marah.

__ADS_1


" mas.." Aisha mengelus lengan suaminya menenangkan.


" Baiklah kak hanya sebentar saja ya Hamdan tunggu ngga boleh lebih dari 15 menit"


" kalau kamu mau pergi, pergi saja Hamdan kakak biar naik taksi nanti." ucap Hanafi serius.


" Tidak kak, masih ada waktu. Hamdan tunggu." Hamdan tetap akan menunggu takut ada apa-apa dengan Hanafi, kondisinya masih belum benar-benar fit.


Hanafi tersenyum merasa senang ia bisa masuk ke mall itu, ia ingin membelikan sesuatu untuk Aisha.


" Baiklah kakak masuk dulu,... ayo sayang" Aisha mengikuti kemana suaminya pergi.


Hamdan berhenti di suatu tempat dimana di sana terdapat alat sholat. Aisha mengerutkan keningnya,


" apa yang mau di cari mas Hanafi" gumam Aisha.


" yang ini kamu suka" sebuah sajadah ia tunjukkan kepada Aisha.


" iya mas itu bagus cantik" jawab Aisha belum tau maksud suaminya akan membeli sajadah itu untuk siapa.


Hanafi melanjutkan lagi memilih tasbih.


Setelah semua beres Hanafi membayar nya.


Mereka berjalan berpegangan tangan tidak peduli pasang mata yang cemburu akan keromantisannya. memang ya kalau sudah sama pasangan bagaikan dunia milik berdua yang lain ngontrak😄.


" mau es krim dek, atau mau beli cemilan apa"


Aisha mengangguk tanda setuju, kebetulan sudah lama ia tak meminum es krim juga cemilan di rumah tinggal sedikit. selama di rumah mertuanya Aisha hanya di rumah. ia tak pernah pergi ke manapun, terkadang saat malas membuat makanan cemilan ia ambil stok cemilan sambil menonton film yang ia sukai. setelah selesai keduanya keluar mencari mobil yang mereka naiki tadi, syukurlah Hamdan mendapat parkiran tak jauh dari mall.


" mau..." Hanafi sambil menyodorkan es krim yang di belinya.


" kenapa tanya, mau lah.." Hamdan langsug menyerobot mengambil yang berada di tangan kakaknya.


" apa yang kakak beli, hanya es krim"


" Kakak beli sajadah dan tasbih, nanti jika kakak sudah tidak ada. Kangen sama kakak Aisha jangan lupakan Allah untuk selalu bersujud dan ini tasbih selalu berdzikir lah di saat hati kita tidak tenang yang dikuasai oleh amarah. Semua sudah tertulis dan menjadi takdir untuk kita, terimalah dan ikhlas akan takdir mu. lanjutkan hidupmu karena hidup tidak sampai di sini. kakak ingin aisha bahagia selalu"


" aamiin... tapi kita tidak boleh juga mendahului takdir. terus berprasangka baik kepada Allah" ucap Aisha.

__ADS_1


" kakak ini ngomong apa, jangan bilang lagi meninggalkan. Kakak harus yakin pasti sembuh," Hamdan berhenti melahap es krimnya saat kakaknya berkata seperti itu, dadanya terasa sesak. Begitupun Aisha ia juga merasa sesak dadanya tapi ia menahan agar tak mengeluarkan air mata.


Hamdan mengemudi kan mobilnya kembali pulang kerumah orang tua nya.


__ADS_2