
" Di ujung sana rumahnya kak " Zakia menunjuk rumahnya.
" Kamu tinggal disini, lingkungan nya sejuk sekali"
" Iya kak, ini rumah bos kakak saya di mana kakak bekerja kami di minta menempati" ucap Zakia.
" Wah baik sekali bos kamu ya, eh bos kamu kan pak Wahyu abahnya Hamdan"
" iya betul kak"
" pak Wahyu itu memang baik sekali, sayang aku yg tidak jadi menjadi menantunya" ucap hajar sembari tersenyum.
setelah sekian menit mobil hajar sampai di depan rumah Zakia. Zakia turun dan berpamitan, hajar tak bisa mampir karena suaminya sudah menunggu.
***
" Assalamu'alaikum kak"
" Wa'alaikumsalam Hamdan kamu sudah datang" Hamdan mengangguk.
" kemo nya belum di lakukan kak" tanya Hamdan kepada Aisha terlihat Hanafi yang masih tertidur.
" belum, mas Hanafi harus menormalkan darahnya dan tubuhnya belum stabil "
" Sudah bertemu dengan dokter kak"
" sudah tadi mas Hanafi sudah di periksa dan di sarankan banyak istirahatkan makanya tertidur mungkin efek obat yang di suntikkan di infus tadi.
Hamdan mengamati wajah kakaknya yang terlihat kurus itu. Wajah yang pucat kepala yang sudah tidak berambut.
Setelah berapa jam dokter pun datang menemui pasien, kala itu Hanafi sudah tersadar bangun dari tidurnya.
" Bagaimana sekarang sudah lebih baik teman" Hamdan mendongak melihat wajah sang dokter ternyata ia mengenal nya.
" Kak Azzam.." azzam mengernyitkan dahinya mengingat wajah Hamdan.
" Kamu Hamdan bukan, "
" iya kak aku Hamdan"
" wah kamu sudah besar ternyata Hamdan " azzam memeluk Hamdan.
" jadi dokter pengganti itu kakak"
" iya kakak sementara di tugaskan disini selama dokter melakukan seminar"
" kebetulan sekali kak, beri kak Hanafi semangat dan lakukan yang terbaik untuk kakakku"
__ADS_1
" itu pasti Hamdan kamu Taukan bagaimana persahabatan kita dulu" hamdan tertawa mengingat dua kakak yang seumuran itu selalu melakukan apapun berdua.
Disaat azzam ingin bolos selalu mengajak Hanafi, padahal Hanafi tidak mau tapi Azzam selalu memaksa.
" Bagaimana kamu masih kuliah atau sudah lulus, kakak liat dari pakaian kamu. kamu sudah jadi pebisnis" azzam melihat seluruh tubuh Hamdan.
" Aku masih kuliah kak, aku juga bekerja membantu Abah di kantor."
" Wah kamu hebat bisa melakukan dua hal dalam satu waktu".
" Abah sakit zam punggungnya tidak bisa duduk lama atau berdiri lama, Abah jatuh waktu itu" jelas Hanafi.
" Abah Wahyu..."
" Iya makanya mau tidak mau Hamdan harus mengurus kantor Abah. kamu lihat sendiri aku tidak bisa" kembali Hanafi bersuara.
" kamu akan sembuh Hanafi, lebih semangat lah untuk kesembuhan mu"
" Boleh aku tanya siapa wanita yang selalu menemani mu, apakah dia istri mu Hanafi"
" iya dia istriku" Aisha menangkupkan tangannya memberi salam perkenalan dan di balas oleh Azzam.
" Baiklah sudah saatnya kita lakukan kemoterapi saat ini, kamu sudah siapkan Hanafi"
" InsyaAlloh sudah "
dua Suster mendorong bangsal pindah ke ruangan kemoterapi, Aisha dan Hamdan mengekorinya sampai ke ruangan itu.
Kemoterapi di lakukan, Aisha dan Hamdan menunggu di luar. Dokter melakukan pekerjaan dengan maksimal mungkin.
***
Selesai kemoterapi pasien sudah istirahat kini Hanafi tinggal pemulihan saja.
Hamdan membantu Hanafi yang ingin bersandar di kepala ranjang.
" Gimana kak masih sakit" tanya Hamdan.
" kakak tidak apa-apa" Hanafi selalu berusaha bahwa tidak apa-apa padahal sakit yang ia rasakan sehabis kemoterapi itu sangatlah lumayan.
kali ini Hanafi memang tampak baik, sepertinya dia memang tak merasakan sakit hanya lemas saja.
" Hanafi bagaimana sudah mendingan, masih pusing" tanya Azzam sang Dokter.
Aisha izin keluar untuk melakukan shalat ashar Hanafi di temani sahabatnya dokter Azzam. Hamdan tadi masih ke musola untuk sholat asar.
Hanafi dan Azzam bercerita tentang dirinya semasa dulu SMA, mereka bener best couple saat itu menjadi idola cewek-cewek.
__ADS_1
" Azzam bagaimana kehidupan mu, kamu belum cerita sudah nikah atau belum" tanya Hanafi.
" alhamdulilah sudah fi..." jawab Azzam.
" Kalau sempat perkenalkan kepada kami zam biar kenal sama istriku"
" maaf tidak bisa Hanafi..." Hanafi bingung.
" kenapa tidak bisa, sebentar saja biar kenal sama istri ku siapa tau nanti bisa akrab seperti kita."
" maunya si begitu fi maaf aku tidak bisa" azzam jadi mengingat istrinya padahal ia sudah mulai move on tidak lagi memikirkan istrinya yang dulu.
" apakah tidak tinggal di Indonesia zam " Hanafi seperti memaksa agar azzam bercerita tentang kehidupan nya.
Azzam menghembuskan nafas berat, lagi-lagi ia harus membuka kisahnya yang sudah lama ia tutup. Azzam mencintai istrinya tapi keadaan yang mengharuskan mereka berpisah.
" Kamu memaksaku untuk bercerita zam, istriku sekarang ada di Amerika tapi kami tidak bersama lagi kami berpisah."
" kenapa" Hanafi kaget azzam belum selesai bercerita.
" Sebenarnya tidak ada masalah yang pelik fi, aku bertemu dia saat kami masih sama-sama kuliah. setelah lulus aku menikahinya kami menjalani hidup dengan kasih sayang. Aku bingung saat itu fi, mama memintaku untuk kembali ke Indonesia karena mama sendiri di sini. Mama tak punya siapapun selain aku, kamu taukan aku tak punya saudara dan papa meninggal saat aku masih kuliah. Istriku tidak mau tinggal di Indonesia ia memilih disana karena karirnya, dengan karirnya yang semakin sukses kami jadi sedikit komunikasi yang membuat kami sedikit demi sedikit cinta di antara kami terkikis. Aku hanya ingin dia mengurangi aktivitas nya agar kita punya keturunan tapi istriku tidak ingin karirnya menurun. Aku sudah berkorban meninggalkan mama sendirian di Indonesia, tapi bukannya ia memperbaiki hubungan kita justru kita semakin renggang akhirnya aku pulang menuruti keinginan mama. Istriku meminta cerai kepada ku fi, akupun menandatangani surat cerai itu dengan sudah lama aku pertimbangkan. Sekarang aku sudah tidak punya pasangan, doakan aku dapat yang lebih baik fi" jelas azzam panjang lebar menceritakan.
" Sabar ya zam mungkin perjodohan kalian hanya sampai disini saja. kalian belum berjodoh pasti nanti kamu dapat ganti yang lebih baik lagi. maaf aku membuka lukamu yang lama ".
" Tidak apa-apa bro, aku kangen masa-masa ini. Senang sekali aku bisa bertemu dengan mu, kamu harus semangat buat sembuh ya fi"
" kamu tau kan fi kanker sudah menyebar kemana-mana dan kamu juga tau hidupku tak akan lama lagi" ucap Hanafi sambil tersenyum.
" Jangan putus asa ngga ada yang ngga mungkin bagi Allah kita manusia di wajibkan ikhtiar."
" Itu pasti aku sudah berikhtiar begitupun keluarga ku, orang-orang di sekitar ku semua memberi semangat kepada ku"
" Aku ingin tau Hanafi yang penuh semangat seperti dulu" Hanafi tersenyum dan mengangguk.
" kamu belum ingin nikah lagi zam"
" Ya nanti kalau sudah di berikan jodoh yang baik aku pasti menikah lagi."
" Kamu sahabat ku, jika aku meminta sesuatu kepada mu apakah kamu mau mengabulkan permintaan ku zam. anggap ini permintaan ku yang terakhir".
" kamu ngomo apa fi, dari dulu kamu sahabat ku dan dari dulu kamu selalu mengabulkan permohonan ku terlebih saat kamu selalu mengerjakan tugas ku. jika aku bisa akan aku kabulkan fi. apa yang kamu inginkan meskipun di ujung dunia akan aku datangi" ucap Azzam.
" janji ya zam" Azzam pun mengangguk.
" Titip istriku zam......
___________
__ADS_1
lanjut ke part selanjutnya....