Titip Istriku

Titip Istriku
pemakaman


__ADS_3

Azzam menangisi tak bisa menyimpan lagi air matanya membuat yang lainnya bingung tapi tidak dengan Hamdan pasti ada sesuatu yang terjadi. Hamdan berlari mendekati Azzam dan tubuh Hanafi, Hamdan bertanya kepada Azzam untuk memastikan apa yang terjadi sebenarnya kenapa Azzam tertunduk lesu dan menangis.


" kak ada apa? jangan bilanga kalau..." Hamdan berhenti berbicara saat Azzam mengangguk kan kepalanya.


" innalilahi wa innailaihi rojiun, kak Hanafi" Hamdan berteriak menggoyangkan tubuh Hanafi seperti tidak percaya itu cepat terjadi.


Aisha pun ikut berlari menggoyangkan tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa lagi itu.


" mas bangun mas bangun... mas Hanafi..." Aisha sudah lemas ia menangis menumpahkan air matanya tanpa peduli di sekitar terus menggoyangkan tubuh Hanafi memintanya agar bangun.


Abi mendekat menenangkan Aisha agar sabar bisa lebih tenang, namun Aisha tak sanggup kepalanya seperti berputar dan ia pingsan. dengan sigap Abi menangkap anak perempuan nya itu, tapi apalah daya Abi tak akan kuat membopong Aisha.


melihat Abi yang menepuk-nepuk pipi aisha agar sadar Azzam dengan sigap langsung membopong tubuh Aisha tanpa peduli dia bukan mahram, yang ia ingat ia seorang dokter dan menolong orang yang butuh pertolongan. Azzam membawanya ke bangsal dekat ruangan Hanafi.


Ruangan itu penuh dengan duka, semua menangis umma sempat pingsan juga dan di angkat oleh Hamdan. Tangisan demi tangisan, dokter yang merawat Hanafi pun ikut menangis. Kesedihan memenuhi ruangan itu, Aisha dan umma yang saat ini sedang pingsan. 30 menit berlalu saat Hanafi sudah di nyatakan meninggal.


Para perawat langsung mengurus jenazah yang akan di bawa pulang keluarga nya.


Aisha juga mulai siuman, ada umi dan Abah mendampingi Aisha.


" bi... mas Hanafi bi" abinya hanya mengangguk saja.


" yang kuat nak, ikhlas. Hanafi tidak akan suka jika kamu meratapi kepergian nya. kamu lihat tadi Hanafi pergi dalam keadaan tersenyum, wajahnya bersinar ia bahagia menemui Rabb Nya nak." ucap umma kembali menguatkan Aisha.


Aisha lemas berjalan menuju ruangan jenazah Hanafi yang sudah di tutupi dengan kain putih, ia mencoba tegar untuk melihat jenazah suami. Aisha di papah oleh Abi dan umi. apalah daya Aisha masih lemas matanya belum berhenti mengeluarkan air mata. Azzam yang melihat dari balik pintu pun ikutan sedih melihat kini sahabat nya sudah menjadi jenazah.


Pengurusan jenazah dirumah sakit selesai dan akan dibawa pulang oleh keluarganya.

__ADS_1


Kesedihan menyelimuti semua orang, Hamdan sangat terpukul dengan kematian kakaknya. Tiba dirumah sudah cukup ramai, zidan dan Zakia ikut menyiapkan tempat.


umma di papah oleh Abah karena syok keadaan nya lemah, Aisha tak lepas dari genggaman orang tuanya kemudian Zakia mendekat untuk ikut mendampingi Aisha.


Proses demi proses telah terlewati dari memandikan jenazah, mengkafani dan mensolati kini tinggal mengantar jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Semua ikut dalam pengantaran jenazah tak terkecuali, Aisha di dampingi oleh zakia. Pemakaman hari ini di barengi hujan gerimis, langit yang syahdu sesuai dengan keadaan hamba yang sedang bersedih.


Setelah selesai semua beranjak pulang, Aisha, Zakia, Zidan, Hamdan dan Azzam masih berada di pusara makan Hanafi. semua terus mendoakan bahkan Aisah seakan kakinya sulit untuk beranjak, setelah ia pamit dari makam itu tinggallah Azzam yang masih ingin berbicara di makam sahabatnya.


" Hanafi beginilah takdir itu, pertemuan ku dengan mu setelah sekian lama yang singkat ini membawa luka dalam diriku. aku harus kehilanganmu untuk selamanya, dan apa yang menjadi permintaan terakhir mu akan aku jalani mengikuti alur kehidupan. Pernikahan itu di dasarkan cinta bukan karena kasihan atau keterpaksaan maafkan aku sahabat jika memang Allah akan menjodohkan ku dengan istrimu kelak aku akan mencintainya sepenuh hati dan jiwaku. Istirahat lah kamu tenang di sana, kamu sahabat terbaikku yang pernah aku miliki. aku pamit fi" Azzam berusaha menahan air matanya agar tak jatuh ia lalu pergi meninggalkan makam.


Azzam kembali kerumah Abah karena di sana masih banyak pelayat yang datang, rekan kerja Abah dan Hamdan, teman-teman Hanafi, teman Aisha dan sanak saudara yang lainnya.


Terlihat Hamdan sedang berdiri di samping rumah dekat kolam renang, ia merenung mengingat kakaknya yang telah pergi. Tanpa sengaja Zakia ingin mengambil kaos kaki yang ia jemur, tadi basah karena pas membersihkan meja makan tertumpah air. Zakia selalu membawa ganti kaos kaki yang tiap hari ia kenakan di tasnya, karena memang sering terjadi insiden yang tidak sengaja seperti ini. Zakia melihat Hamdan yang sedang duduk di tepi kolam itu.


" Aku masih tidak percaya secepat ini, berat sekali buatku" ucap hamdan.


" lihat lah Abah, umma dan kak Aisha mereka juga bersedih jika bukan kamu yang menguatkan siapa lagi" entahlah Zakia juga dengan dirinya selalu ingin menenangkan Hamdan setiap kali melihat kesedihan nya.


Zakia kemudian pergi begitu saja, Hamdan menoleh melihat kepergian Zakia.


"Dia bisa menenangkan ku tapi tak mungkin bisa ku miliki, ia sudah milik orang lain" batin Hamdan.


Hamdan sudah lega rasanya kemudian ia ikut masuk dan menemui tamu yang lainnya.


Aisha masih syok ia dari tadi tidak berbicara pikirannya masih membayangkan sewaktu ia masih bersama Hanafi.

__ADS_1


" Kak minum dulu, perut kakak dari tadi belum terisi apapun" pinta Zakia.


Aisha menggeleng.


" Kak Hanafi akan sedih jika melihat kakak bersedih, ayo minum kak. kakak harus ikhlas kak biarkan kak Hanafi lancar dalam perjalanan nya menemui RabbNya" Aisha akhirnya minum setelah Zakia merayunya.


Setidaknya satu gelas air meski sedikit demi sedikit bisa masuk dalam perut Aisha.


Azzam melirik Aisha ia mengingat pesan Hanafi, entahlah ia tak ingin mengutarakan nya. Setelah ini ia akan kembali ke Amerika menyelesaikan pendidikan nya. Tiba-tiba terdengar suara salam dan anak kecil yang datang. Asma memang sangat lucu selalu menghipnotis semua orang. Hajar bersama Ghazwan suaminya bertakziah setelah mendengar kabar dari Zakia.


Pagi tadi asma merengek ingin bertemu Zakia, ternyata Zakia ada di rumah Hanafi.


" kakak cantik,." asma memanggil Aisha langsung berhamburan memeluknya.


" MasyaAlloh sayang pelan-pelan jangan lari" asma tersenyum ia bercerita saat dia akan ke sini tadi, bahwa ia ingin bertemu kakak cantik.


" kakak cantik, itu kenapa Tante itu menangis"


tanpa Zakia jawab, asma langsung menemui Aisha dan menghapus air matanya.


Semua mata tertuju pada asma yang berceloteh, membuat Aisha akhirnya tersenyum.


________


bersambung...


kakak readers bantu like, komen tentang novel ini, beri hadiah dan vote ya kakak.

__ADS_1


trimakasih


__ADS_2