
waktu berlalu begitu cepat sudah saatnya Hanafi kemo lagi untuk yang ke lima kalinya, dokter sudah melakukan hal yang maksimal.
Hanafi juga sudah berikhtiar mencari kesembuhan, rutin meminum obat bahkan obat herbal juga menjadi langkahnya. Apa yang dikatakan dokter tak pernah lewat sedikitpun. Setelah kemoterapi itu Hanafi begitu gelisah ia ingin bertemu semua orang yang terdekatnya. Badannya terasa panas semua sekujur tubuhnya berasa sudah remuk.
Hamdan memanggil abah, umma, Aisha bahkan mertua nya yang tidak tahu dengan hal ini Aisha berikan kabar agar datang ke rumah sakit.
begitu sampai rumah sakit umi dan Abi syok mengetahui keadaan Hanafi. Aisha tak pernah menceritakan kesedihannya pun kepada kedua orang tuanya.
" nak kenapa kamu simpan rapat-rapat semua nya, Abi dan umi bahkan tidak tau sama sekali. hanya mimpi buruk umi yang selalu terpikir. beberapa kali umi bermimpi kamu datang kerumah dalam keadaan menangis."
ucap umi.
" maafkan Aisha umi, Aisha tidak ingin umi dan Abi kepikiran" wajah Aisha sendu kemudian umi memeluknya.
Semuanya masuk Hanafi pun tersenyum, Aisha berada di samping Hanafi. Abi memeluk menantunya untuk menguatkan, umi yang tidak bisa mengontrol emosinya ia sudah menangis sejadinya.
" Abah, umma, umi, Abi, Aisha dan hamdan. Kalian semua adalah orang yang sangat berarti untuk Hanafi, Hanafi hanya ingin minta maaf atas segala dosa dan khilaf selama ini. Terimakasih atas perhatian dan juga kasih sayang kalian semua." Hanafi tetap tersenyum ia tidak menangis sedikitpun.
" tidak ada yang perlu di maafkan nak, kamu adalah anak umma dan Abah yang sangat baik. kebanggaan umma dan Abah,"
" ikhlaskan Hanafi bah, umma Hanafi minta semuanya mengikhlaskan Hanafi"
" mas, kenapa ngomong begitu mas. berkatalah yang baik agar menjadi doa" ucap Aisha mencoba menenangkan Hanafi.
" Aisha, kamu pendamping yang di pilihkan Allah untuk mas. Abah dan ummma mengkhitbahmu untuk mas, tak ada penolakan sedikitpun darimu untukku. terimakasih sudah menerima mas, merawat mas tanpa kamu mengeluh apapun. pesan mas setelah mas pergi nanti jangan larut dengan kesedihan, mas ingin melihatmu juga bahagia dari sana. berjanjilah sama mas menikahlah lagi kelak, raih kebahagiaan mu. Hanya itu pinta terakhir mas." Hanafi masih tampak terus tersenyum ia tidak ingin kesedihan di hadapkan pada keluarganya, ia akan bahagia pergi menemui RabbNya.
Tidak ada yang bisa menahan air mata keluar dari mata masing-masing, yang awalnya akan tegar di depan Hanafi tapi tak ada yang kuasa menahan bulir air mata luluh berjatuhan tanpa permisi.
" Abah dan umma akan tetap menyayangi Aisha sebagai anak kami, jangan khawatir nak Abah dan umma bertanggung jawab atas Aisha. Kamu fokus dengan kesehatan mu, kamu harus sembuh supaya kami juga lekas punya cucu" ucap Abah.
Harapan demi harapn orang tua, mertua dan terlebih lagi istri menginginkan Hanafi sembuh. ingin melihat kebahagiaan mereka dan keluarga kecilnya.
__ADS_1
***
Amerika.
Sudah satu bulan Azam menjalani pendidikannya, ia tidak pernah menyia-nyiakan waktu agar ia lekas selesai dalam pendidikan nya itu. Pagi siang sore hanya buku yang menjadi temannya, bahkan praktek lebih sering ia lakukan agar cepat terpenuhi nilainya. entah mengapa kini Azzam tidak tenang pikirannya, perasaan nya ingin pulang. padahal Azzam sudah menjadwalkannya bahwa ia akan pulang lusa. Tapi hatinya sungguh tidak sabar ingin segera pulang, setelah ia pikir dan di pertimbangkan akhirnya Azzam mengurus tiketnya esok ia akan pergi pulang ke Indonesia.
Di bantu dengan tekhnologi aplikasi Azzam cepat mendapatkan tiketnya, ia akan terbang esok jam 11 siang.
" entahlah kenapa aku kepikiran Hanafi beberapa hari ini, semoga kamu baik-baik saja" Azzam akhirnya terlelap.
Pagi sekali Azzam bangun ia menyiapkan apa yang akan di bawa terbang ke Indonesia. ada jadwal satu Minggu dalam setiap bulannya untuk libur dan itu akan ia manfaatkan untuk menjenguk ibunya.
Pesawat akan lepas landas pukul 11, Azzam harus tiba di Bandara sebelumnya agar tidak tertinggal. pukul 10 Azzam sudah tiba di bandara. menunggu tidak terlalu lama akhirnya pemberitahuan untuk pesawat tujuan Indonesia, penumpang di persilahkan naik satu persatu.
***
Suara monitor terdengar keras membuat perawat yang sedang berada di ruangan itu panik, ia menekan tombol untuk memanggil dokter. entah apa yang terjadi tadi baik-baik saja, tidak ada masalah tapi kini tiba-tiba Hanafi kejang.
Dokter mengambil alat untuk memacu detak jantung Hanafi agar kembali normal.
semua orang yang menunggu pun ikut panik, tidak tau apa yang telah terjadi di dalam.
Dokter masih berusaha dengan maksimal, kucuran keringat di dahi dokter membuat perawat kewalahan untuk mengusapnya.
Kerja keras dokter berhasil kini detak jantung pasien kembali normal, membuat dokter yang bertugas menjadi lega. Hanya saja Hanafi lemah belum bisa membuka matanya, belum sadar.
Dokter keluar dari ruangan setelah merasa keadaan kritis nya terlewati.
" Ada apa dok" tanya Aisha mendekati dokter meminta penjelasan.
" tidak apa-apa, pasien sudah melewati masa kritis nya" Aisha merasa lega pikiran nya sedikit tenang.
__ADS_1
Hamdan yang melihat raut wajah dokter yang menunjukkan bahwa keadaan tidak baik-baik saja diam-diam mengikuti dari belakang menghampiri dokter diruangan nya.
" nak Hamdan " dokter terkejut mendapati Hamdan sudah ada di belakangnya.
" katakan pada saya ada apa dok" dokter mempersilahkan Hamdan duduk agar lebih rileks. Hamdan masih dengan tegang ingin cepat mendengar penjelasan dokter.
" detak jantung Hanafi tadi tiba-tiba berhenti, sekarang ia telah melewati masa kritis nya. Tubuhnya seperti sudah tidak lagi mau menerima obat tubuhnya lemah" dokter mengusap wajahnya.
" lakukan yang terbaik dok"
" itu pasti nak Hamdan"
Hamdan pun ikut lemas tubuhnya mendengar itu. ia sudah tidak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya.
Hamdan keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang lesu ia menuju masjid yang berada dirumah sakit itu.
Duduk di depan masjid dengan pilu, menutup wajahnya dengan kedua tangan nya. tanpa Hamdan sadari ada sosok Zakia di samping nya yang juga sedang duduk menunggu sesuatu.
" ikhlaskan hanya itu yang terbaik, tidak perlu larut dalam kesedihan apapun yang di tetapkan Allah itu lebih baik" Hamdan kaget mendengar suara yang ia mengenalnya.
Hamdan membuka tangannya menoleh kemudian melihat ke samping ternyata ada Zakia yang sedang duduk dengan jarak satu meter darinya.
" Aku masih belum percaya hal ini, begitu cepat rasanya"
" manusia tidak akan ada yang percaya jika dalam dirinya tidak ada iman" kata-kata itu membuat Hamdan terkesiap.
" apa yang harus aku lakukan"
" bersujud lah kepada Allah minta yang terbaik, jika hal itu yang diinginkan Allah ikhlaskan. Karena manusia menjalani hidup bukan apa yang dia inginkan, tapi kenyataan yang harus diterimanya."
Hamdan mengangguk lalu mengambil air wudhu kemudian masuk ke masjid tanpa menghiraukan Zakia masih duduk di situ.
__ADS_1