
Lilo pulang terlambat, Nana sedikit khawatir. Karna tadi pagi Lilo agak perang dingin dengan maminya.
*Flashback pagi*
"Jangan sentuh kotak makan itu bila nantinya kalo berikan kepada beruang itu" Nyonya Jean berkata dengan ketus kepada Lilo.
"Mi, ini masih pagi. Aku tidak ingin berdebat"
"Kau ituu.... "
"Sudahlah mi, tidak apa-apa. Setidaknya Lilo tidak membuang bekal dari Nana" Nana tersenyum pada nyonya Jean.
"Kali ini akan mami biarkan. Tapi kalau besok kau mengulanginya, mami akan memecat beruang itu" Mami melirik ke arah Panda, Panda hanya menunduk.
Lilo masuk ke dalam mobil, tidak mau perdebatan semakin panjang.
*Back On*
Cekrek...
Lilo masuk ke dalam kamar, Nana berusaha menyambut Lilo dengan tersenyum. Lilo mengabaikannya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Nana heran.
"Apa aku berbuat kesalahan?" Nana mulai berpikir.
Lilo keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Nana ingin membantu mengeringkan rambut Lilo, tapi Lilo menepis tangan Nana. Tanpa berkata apa-apa Lilo keluar dari kamar.
"Dia kenapa sih, kalau aku berbuat salah kenapa tidak mengatakan apapun" Nana mendengus kesal.
Malam itu Lilo tidur diruang kerjanya.
__ADS_1
*** 123 ***
Akhir pekan, Nana berjanji akan berkunjung ke rumah ibunya. Nana tidak membawa serta Lilo karna Lilo masih bungkam tidak mengajaknya bicara sejak hari itu bahkan Lilo selalu tidur diruang kerjanya. Nana juga memutuskan untuk tidak mengganggu Lilo.
"Hallo Nana, kau dimana?" Miko menelpon diujung sana.
"Aku sudah dijalan menuju rumah ibu"
"Apa kau bersama suamimu?"
"eeemm tidak, suamiku sedang sibuk akhir-akhir ini. Aku tidak mau mengganggu pekerjaannya. Tapi kau tak usah khawatir, sahabat-sahabatku juga akan datang. Aku akan mengenalkanmu pada mereka"
"Baiklah, kita bertemu disana"
Nana menutup teleponnya, ia tidak mau ibu dan para sahabatnya tahu kalau ia dan Lilo sudah beberapa hari tidak bertegur sapa.
"Ibuuuu, aku dataaang" Nana membuka pintu rumahnya. Ibu menyambut kedatangan putrinya, Ibu memeluk Nana lalu mencari keberadaan Lilo.
"Dia sedang sibuk bu, maaf aku tidak bisa mengajaknya" Nana menjawab dengan cuek lalu masuk ke dalam rumahnya.
"Kau tidak sedang bertengkar dengan suamimu kan?" Ibu sangat penasaran. Nana malas menjawab, Nana memeriksa isi kulkas.
"Ibuuu, kenapa dikulkas tidak ada minuman dingin?"
Ibu tidak menjawab, Ibu sepertinya sedang ngobrol dengan seseorang. Nana menghampiri ibu, ternyata Miko sudah datang. Ibu terlihat akrab dengan Miko mereka duduk diruang tamu tanpa menghiraukan Nana, tak lama Amel dan Kinan juga datang. Mereka bertiga saling berpelukan. Amel menangkap kehadiran Miko.
"Itu siapa? Kau tidak sedang berselingkuh disini kan?" Amel berbisik. Nana mengibaskan tangannya.
"Ayuk masuk, Ibu sedang asik dengan pacar lamanya" Nana menyindir Miko, Ibu tidak menghiraukan masih asik ngobrol dengan Miko.
"Na, siapa pria itu? Kenapa kau datang bersamanya?" Amel bertanya lagi.
__ADS_1
"Itu Miko temanku dari kecil, dulu dia juga tinggal dilingkungan ini. Setelah ayahnya cukup sukses dia pindah ke Kota G"
"Kenapa kau tak bilang punya teman setampan dia?" Kinan agak berteriak, Nana menutup mulut Kinan dengan tangannya. Amel juga melotot ke arah Kinan.
"Sulit aku menjelaskannya, karna setelah dia pindah aku sulit berkomunikasi dengannya. Jadi aku tidak pernah menghubunginya duluan" Nana menjelaskan.
"Apa dia mantan kekasihmu?" Kali ini Kinan berbisik, Nana menggeleng. Amel memukul kepala Kinan pelan.
"Kau itu, Nana belum pernah berpacaran dengan siapapun. Tuan muda tampan itu adalah laki-laki pertama yang menyentuh Nana eeeh..." Kinan dan Amel tiba-tiba saling bertatapan dengan usil lalu mereka melihat ke arah Nana dengan tatapan yang sama sambil mengangkat kedua alisnya. Nana merasa ada sesuatu yang mencurigakan dari tatapan kedua sahabatnya, merekapun menariknya masuk ke kamar Nana.
*** 123 ***
Hampir seminggu Lilo masih bungkam, Nana sudah tidak tahan.
"Apakah aku salah kepadamu? Apa kesalahanku? Kenapa kau diam terus selama ini?" Nana memberondong Lilo dengan pertanyaan saat Lilo masuk ke dalam kamar setelah pulang bekerja.
Lilo melihat malas ke arah Nana, ia tahu istrinya marah. Lilo masih diam tak menjawab, lalu berjalan ke arah kamar mandi. Nana mencegahnya, ia merentangkan tangannya.
"Jawab aku, jangan diam saja. Kita seperti pasangan yang sedang bertengkar, tapi aku tak tau apa salahku"
Lilo diam saja, ia membaringkan tubuhnya di sofa.
"Kau benar-benar membuatku kesaaaal, apakah sekarang kau menjadi tuan muda yang tampan dan bisu? Bila memang aku salah, katakan apa salahku" Nana mulai sedikit merengek saking kesalnya.
Lilo memilih tetap diam, ia berjalan ke arah pintu keluar. Lagi-lagi Nana menghadangnya.
"Jawablah akuuuuuuu, aku tidak ingin selamanya begini. Aku bukan patung yang ada dikamarmu, aku juga bukan Panda yang bisa mengerti arti diammu itu
Mari kita selesaikan masalah ini dan berbicara sedikit" Nana mulai frustasi.
Lilo menghela napas panjang, lalu mulai membuka suaranya.
__ADS_1
"Apakah kau masih berdarah?"