
Nana jatuh terguling dari tangga darah segar mengalir dari bagian bawahnya, Lilo menjatuhkan piring yang dibawanya dan segera mengangkat istrinya.
Panda segera menuju mobil Nana, Rachel sangat terkejut.
"Cepat nyalakan mobil menuju rumah sakit!!" perintah Lilo, suaranya sangat kalut.
Mami menangis sejadinya, Bik Yana menenangkan mami. Memeluk mami dari belakang, mami memegang tangan Bik Yana sambil meruntuki dirinya yang tak dapat menemani Nana ke rumah sakit.
"Nana... " pekiknya miris.
Rachel mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal, Panda duduk disebelahnya dengan wajah yang sangat khawatir.
"Cepat Rachel...!!!" teriak Lilo, Nana tidak bergerak membuat Lilo bertambah gusar.
"Bertahanlah istriku, bertahanlah.... Jangan tinggalkan aku" tangis Lilo pecah, ia memeluk istrinya erat.
Panda menelpon dokter Berta memberitahukan kondisi Nana. Jalanan agak ramai karna jam para pekerja berangkat ke kantor. Rumah sakit sudah terlihat. Lilo keluar dari mobil, ia menggendong istrinya berlari menuju rumah sakit. Panda mengikuti Lilo dari belakang.
"Bertahanlah nona" doa Rachel untuk Nana, air matanya menetes melihat Lilo dan Panda yang berlari menuju rumah sakit.
"Dokter dokter!!!! Selamatkan istri dan anakku!!!" Teriak Lilo, para perawat membantu Lilo menaruh Nana di ranjang rumah sakit yang tersedia di UGD.
Lilo dan Panda ikut mendorong Nana hingga akan memasuki ruang operasi, dokter Berta sudah menunggu disana.
"Kau tunggu disini" ujar dokter Berta, Lilo memaksa untuk masuk.
"Bila kau didalam kau bisa mengganggu konsentrasi ku, diamlah disini!!!" bentak dokter Berta.
Panda menahan tubuh Lilo untuk tidak memaksa masuk, dokter Berta menutup pintu ruang operasi. Lampu didepan ruang operasi menyala.
Lilo bersimpuh didepan ruang operasi, menangisi keadaan istrinya. Masih terbayang kebahagiaannya semalam merencanakan pakaian si kecil bersama istrinya.
"Tuan duduklah dulu, dokter Berta akan memberikan merawat nona muda dengan baik" ujar Panda.
__ADS_1
"Tidaaak!!!! Aku ingin menunggunya disini! Jangan menggangguku!" Bentak Lilo, isaknya masih terdengar sangat menyayat hati.
Panda mundur, ponsel Panda berbunyi. Telpon itu dari mami Lilo yang ingin mengetahui keadaan Nana.
"Bagaimana keadaan menantu dan cucuku?" tanya mami sambil terisak.
"Nona muda sedang berada diruang operasi, dokter Berta menanganinya"
"Mana Lilo?" Panda menatap tuan mudanya yang masih bersimpuh didepan ruang operasi sambil meratapi pintu ruangan itu.
"Tuan muda.." Panda tak sanggup melanjutkan kata-katanya, ketegarannya seolah runtuh melihat keadaan Lilo yang sangat memilukan.
Panda berlari kearah tuan mudanya, memeluk Lilo dari belakang.
"Tuan bersabarlah, nona muda adalah wanita yang kuat" ujarnya ikut menangis.
"Nana... Nana... maafkan aku...!!" pekiknya menyesal atas apa yang menimpa istrinya.
♥️♥️♥️
"Ya Tuhaaan, selamatkan putriku..." isaknya saat menerima telpon dari mami.
"Maafkan aku tak bisa menjaganya dengan baik" suara mami terdengar lirih, dipadu dengan isakannya yang tak henti.
"Jangan berkata begitu nyonya..." Ibu menguatkan mami yang sepertinya merasa sangat bersalah.
"Huuuu Nana... Nana..." pekik mami lirih, tak lama terdengar suara histeris Bik Yana. Mami pingsan.
Ibu menutup telpon mami, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ibu mengusap air matanya dan membuka pintu.
"Rachel?"
"Saya kemari untuk menjemput nyonya" ujar Rachel, ia masih terlihat tenang. Ibu berhambur ke pelukan Rachel, karna tak kuat menahan dirinya.
__ADS_1
"Dia memang anak yang menyebalkan tapi jika ia sakit aku akan sangat khawatir" Isak Ibu, Rachel memeluk ibu. Ia menahan dirinya untuk tidak terbawa perasaan.
Tubuh ibu melemas, hampir saja ia terjatuh. Rachel menahannya dan membawa ibu ke dalam.
"Nyonya apakah anda sudah siap? Kita akan menyusul nona ke rumah sakit" Ibu terlihat termenung, air mata membanjiri pipinya.
"Dia itu memang gadis bodoh, bahkan dia sangat ceroboh. Bagaimana bisa dia terjatuh dan membahayakan dirinya juga cucuku" Ibu terisak lagi namun masih terlihat termenung. Rachel memegang kedua pundak ibu untuk menenangkannya.
"Mari kita lihat keadaan nona dirumah sakit" ujar Rachel. Ibu menatap nanar kepada Rachel lalu mengangguk.
Ibu mengganti pakaiannya, menyiapkan beberapa pakaian yang akan dia gunakan karna ia bermaksud menjaga Nana dirumah sakit. Tak lama ibu keluar dari kamar, ibu berjalan lunglai hampir saja ibu jatuh lagi.
"Nyonya biarkan saya membawa barang bawaan nona" Rachel menopang pundak ibu sambil membawa tas besar yang ibu bawa.
Rachel mendudukkan ibu di kursi depan, agar ia dapat menjaga ibu lebih mudah. Sepanjang perjalanan Ibu hanya termenung dengan air mata yang terus menetes. Rachel sangat iba melihat kondisi ibu. Setelah sampai dirumah sakit, Rachel membukakan sabuk pengaman ibu.
"Nyonya, maafkan saya" ucap Rachel lalu ia memeluk ibu Nana erat. Ibu menangis sejadinya dipelukkan Rachel.
"Menangis lah nyonya lepaskan semuanya. Saya mohon, jangan perlihatkan air matamu didepan nona muda. Agar ia bisa kuat bertahan" bisik Rachel, ibu mengangguk-angguk paham.
"Kau benar, menantuku juga butuh dukungan dariku. Bila aku terlihat seperti ini pasti ia akan bertambah terpuruk" Ibu berusaha menghapus air matanya. Ia melihat ke arah Rachel.
"Apa hatimu terbuat dari batu hinggal kau bisa setegat itu?"ucap ibu heran.
♥️♥️♥️
Lampu ruang operasi padam, dokter Berta keluar dari ruangan tersebut. Lilo segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istriku??" kata Lilo lirih.
"Operasi berjalan dengan baik, anakmu lahir prematur Lilo. Kau harus bersabar" ujar dokter Berta sambil menghela napas.
"Bagaimana keadaan istriku!!??" teriak Lilo.
__ADS_1