
"Sayang nanti siang aku akan makan siang dengan Miko, boleh kan?" Nana mengedipkan matanya kepada Lilo saat sarapan.
"Buat apa lagi dia bertemu denganmu? Dia akan menikah sayang" jawab Lilo acuh.
"Aku ingin ngobrol dengannya mengenai pernikahannya, ku mohon" Nana memelaskan pandangannya ke arah Lilo.
"Biarkan aku makan siang bersamanya juga"
"Ayolah sayang, jangan seperti itu. Aku ingin bicara berdua dengannya. Lagipula ada Rachel yang akan ikut bersama dengan ku. Kau tak perlu khawatir"
"Aku tak percaya pada pria itu, ia selalu berusaha mengambil perhatian mu"
"Percayalah padaku, aku berjanji tidak akan menyentuhnya" Nana mengangkat kedua jarinya membentuk tanda 'suwer'.
Lilo menatap Nana, Nana memohon dengan sangat kepada Lilo.
"Ini hanya obrolan persahabatan antara aku dan Miko, aku sudah sangat lama bersahabat dengannya. Aku ingin berperan penting dalam pernikahannya, aku sangat bersalah padanya tidak mengundang saat kita menikah. Ku mohooonn"
" Baiklah baiklah, jika memang kau ingin membantu pernikahannya asal bukan kau yang menjadi pengantinnya nanti" Lilo menatap tajam Nana.
"Tentu saja sayang, aku kan sudah menikah dengan pria paling tampan didunia" Lilo tersenyum, ia menunjuk pipinya. Nana langsung mencium pipi suaminya. Lalu Lilo menunjuk keningnya, Nana mencium kening suaminya. Ditambah dengan menunjuk pipi sebelahnya, Nana mencium pipi sebelahnya. Terakhir ia menunjuk bibirnya.
"Apa mau tambah minum lagi?" Nana pura-pura tak paham dan menuangkan air kedalam gelas Lilo.
♥️♥️♥️
Siang itu Miko sudah menunggu Nana di caffe tempat biasa mereka bertemu, Nana ditemani Rachel datang ke sana. Nana langsung duduk, makanan sudah tersedia. Nana memesankan makanan untuk Rachel dan dia duduk tak jauh dari Nana dan Miko duduk.
"Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa menikah secepat ini?" tanya Nana penuh penasaran.
"Setidaknya aku memberitahumu sebelum aku menikah"
"Ooh jadi kau menyindirku? Seharusnya aku tidak datang siang ini" ujar Nana dengan nada bercanda, Miko tertawa.
"Sebelumnya ada yang ingin aku tanyakan padamu, Nana" Miko menatap mata Nana, Nana santai saja ditatap penuh cinta oleh Miko.
__ADS_1
"Kau boleh bertanya apapun padaku" kata Nana sambil tersenyum, Miko berusaha mengendalikan dirinya saat melihat senyum Nana. Senyum yang selama ini selalu dipuja olehnya.
"Apa kau benar-benar bahagia dengan tuan muda itu?" nada bicara Miko sangat serius.
"Kenapa kau bertanya begitu? Apa kau melihat aku sedang berakting dihadapan mu saat bersama suamiku?"
"Tidak, aku hanya ingin memastikan kau hidup bahagia dan benar-benar dicintai oleh suamimu" ucap Miko lalu menyuap makanannya.
"Apa yang akan kau lakukan bila aku berpura-pura?"
"Aku akan membawamu saat ini juga, pergi jauh dimana tidak seorang pun mengenal aku dan kau" Miko tertawa, padahal apa yang dikatakannya adalah hal yang serius. Nana menendang kaki Miko.
"Jangan bercanda terus, bila suamiku mendengarnya dia bisa langsung menombakmu" Miko merentangkan tangannya seperti orang yang akan ditembak.
"Aku tidak berani melakukannya, karna kau benar-benar bahagia dengannya. Iya kan?" Miko memastikan sekali lagi.
"Ya kau benar, aku sedang sangat berbahagia saat ini. Suami yang baik, ibuku sehat, mami juga sangat menyayangiku, si kecil dalam kandunganku dan kau, sahabat yang sangat berharga bagiku akan menikah. Aku merasa kebahagiaan ku lengkap" Nana tersenyum lagi, matanya berkaca-kaca karna haru.
"Terima kasih Nana, kau telah menjadikanku seseorang yang penting dalam hidupmu"
"Ehem ehem" Rachel berdehem, membuat Nana takut dan segera melepaskan tangannya.
"Apakah dia mata-mata suamimu?" Bisik Miko, Nana mengangguk sambil tersenyum usil.
"Cepat habiskan makanannya, nanti aku akan memintamu menceritakan tentang calon istrimu" kata Nana sambil menyuap makanannya.
♥️♥️♥️
Miko sudah selesai dari pekerjaannya, ia hendak pulang. Di depan kantornya, ada Bunga yang menunggu Miko.
"Ada apa?" Miko menghampiri Bunga.
"Mantan kekasihku mengajakku untuk kembali padanya" Bunga mengatakanya dengan nada sedih.
"Lalu?"
__ADS_1
"Bisakah kita bicara ditempat lain?"
Miko mengangguk, ia mengajak Bunga ke taman tempat ia bertemu Bunga waktu itu.
"Dia datang menemuiku ditempat ku mengajar, ia memohon padaku untuk kembali padanya" Bunga menundukkan wajahnya, Miko paham situasinya.
"Dan kau ingin kembali padanya?" Miko bertanya sambil tersenyum. Bunga menoleh ke arah Miko, ia menggeleng.
"Tidak, aku sudah tidak ingin bersamanya lagi. Dia sudah mengkhianatiku, bukan kah seorang pengkhianat memiliki kemungkinan untuk kembali berkhianat?" mata Bunga menatap tajam kearah Miko meminta jawaban.
"Ya kau benar" Miko menatap ke arah lain, ia memandang ke arah taman yang ramai dengan pengunjung sore itu.
"Jadi aku benar kan? Untuk tidak menerimanya kembali?" Miko mengangguk tanpa menoleh ke arah Bunga.
"Apa kau marah?"
"Tidak, mengapa aku harus marah? Kau bertindak benar. Apakah kau sudah memaafkannya?"
"Ya aku sudah memaafkannya, aku berkata padanya jangan menemuiku lagi karna aku akan menikah" Bunga mengucapkannya sambil tersipu malu.
"Aku juga tadi siang menemui wanita yang aku cintai" ujar Miko, Bunga menatap Miko. Ada seburat kesedihan dimata Miko.
"Aku hanya ingin memastikan dia bahagia dan tidak tersakiti oleh suaminya, dan aku mengatakan padanya jika suaminya menyakitinya aku akan membawanya saat itu juga" Miko tertawa, menertawakan kebodohannya.
"Kau tahu? Aku lebih bodoh darimu mengenai ini. Bahkan saat melihat senyumannya aku hampir tak dapat mengendalikan diriku"
Bunga mencoba memahami hati Miko, ternyata didunia ini bukan hanya dia yang menderita karna tak bisa bersama dengan oraang yang dicintainya. Bunga sadar, diatas langit masih ada langit dan dibawah bumi masih ada dalamnya lagi.
"Jangan bersedih Miko, ada aku disini. Kita akan menikah untuk mengisi kekosongan hati kita masing-masing bukan untuk melarikan diri dari perasaan yang tak terbalas"
Miko menatap Bunga, ia terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Bunga memegang pipi Miko, menghapus segala kesedihan yang ada dihati Miko.
"Terima kasih karna ada di sampingku saat ini Bunga" Miko memegang tangan Bunga yang masih menempel di pipinya. Bunga mengangguk.
"Bagaimana bila kita makan es krim sebelum kau mengantarku pulang?"
__ADS_1